NovelToon NovelToon
Sebelum Aku Pergi

Sebelum Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sanayaa Irany

Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Part 1

"Brak! Brak! Brak!"

Suara gedoran kasar pada pintu kayu kontrakan itu membuat jantung Gendis serasa mencelos ke perut. Belum sempat ia merapikan kerudung instannya yang sedikit miring, pintu depan sudah terbuka paksa. Engselnya yang tua menjerit, kalah oleh tenaga beringas orang-orang di luar sana.

"Tuh, kan! Apa saya bilang! Mereka pasti lagi 'main' di dalam!"

Suara cempreng Bu Marni, tetangga sebelah yang mulutnya setajam silet, langsung memecah keheningan malam. Di belakang wanita paruh baya itu, Pak RT dan empat pemuda kampung merangsek masuk ke ruang tamu sempit berukuran 3x3 meter itu.

Wajah Gendis pucat pasi. Ia mundur selangkah, tangannya gemetar memegang baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil.

"Astagfirullah... Bu, Pak, tolong jangan salah paham dulu," suara Gendis tercekat, matanya memanas melihat tatapan-tatapan jijik yang dilemparkan warga padanya. "Saya... saya cuma menolong Tuan ini. Dia pingsan di depan pagar..."

"Halah! Alasan basi!" Bu Marni meludah ke lantai, lalu menunjuk-nunjuk wajah Gendis dengan telunjuknya yang gemuk. "Nolong kok lampunya remang-remang? Nolong kok posisi lelakinya sudah tiduran di sofa, kancing bajunya terbuka begitu? Kamu itu janda baru di sini, Gendis! Jangan bikin kotor kampung kami sama kelakuan gatelmu!"

Gendis menggeleng kuat. Air matanya mulai tumpah. "Demi Allah, Bu... Tuan ini tadi babak belur. Bajunya kotor kena tanah, saya cuma mau bersihkan..."

"Diam!" bentak salah satu pemuda. "Pak RT, lihat tuh mobil di depan. Mobil mewah. Pasti laki-laki ini orang kaya. Si Janda ini pasti mau menjebak biar dapat duit!"

Suasana makin riuh. Di atas sofa lusuh bermotif bunga, pria yang jadi pusat keributan itu mengerang pelan.

Arya merasakan kepalanya berdenyut hebat. Rasanya seperti baru saja dihantam palu godam. Samar-samar, telinganya menangkap suara ribut-ribut. Perampok? batinnya. Ia memaksakan matanya terbuka.

Pemandangan pertama yang ia lihat adalah atap plafon yang berjamur, lalu wajah-wajah asing yang menatapnya penuh amarah, dan seorang wanita berkerudung cokelat yang menangis di pojok ruangan.

Arya berusaha duduk, meski pandangannya masih berkunang-kunang. Ia meraba saku celana bahannya yang mahal. Ponselnya hilang. Dompetnya lenyap. Sialan, umpatnya dalam hati. Ia ingat mobilnya dicegat, ia diseret keluar dan dipukuli, lalu... gelap.

"Nah! Sadar juga akhirnya si Tuan hidung belang!" seru Pak RT dengan nada sinis. "Heh, Mas! Kalau mau zina, jangan di kampung kami! Sewa hotel sana! Mentang-mentang berduit, seenaknya saja ngotori kampung orang!"

Arya menyipitkan mata, menatap Pak RT dengan sorot tajam, khas seorang pengusaha papan atas yang tak suka dibentak. "Jaga bicara Bapak. Saya korban perampokan. Saya tidak kenal siapa wanita ini."

"Hah! Nggak kenal katanya?" Bu Marni tertawa mengejek. "Kalau nggak kenal, ngapain kamu tiduran di sofa dia jam sebelas malam begini? Mana Siska, yang punya kontrakan ini? Nggak ada, kan? Kalian sengaja nunggu rumah sepi, kan?"

Gendis memberanikan diri mendekat, meski lututnya lemas. "Tuan... tolong jelaskan pada mereka. Tuan tadi pingsan di depan rumah saya, saya seret Tuan masuk karena takut Tuan kenapa-kenapa di sini..."

Arya menatap Gendis. Tatapannya dingin, meneliti wanita itu dari ujung kaki ke ujung kepala. Wajah polos, air mata buaya, pikir Arya. Sebagai orang terkaya nomor sepuluh di kota ini, Arya sudah kenyang dengan modus wanita-wanita yang ingin menjebaknya demi harta. Dan skenario 'digerebek warga' adalah trik paling kuno.

"Berapa?" tanya Arya datar, mengabaikan permohonan Gendis.

Gendis ternganga. "Maksud Tuan?"

"Berapa kamu bayar orang-orang ini buat bikin drama?" Arya menunjuk warga dengan dagunya. "Saya nggak bawa uang tunai. Dompet saya diambil komplotan kalian, kan? Bilang saja mau berapa, nanti asisten saya transfer. Tapi jangan harap saya mau main drama murahan ini."

"Astaghfirullah!" Pak RT mengelus dada, wajahnya merah padam karena tersinggung. "Dasar orang kaya tidak punya adab! Sudah berbuat mesum, malah nuduh kami komplotan penipu! Warga! Panggil Pak Penghulu sekarang juga!"

"Setuju, Pak! Nikahkan saja! Biar kapok!" seru warga serempak.

Mata Gendis membelalak lebar. "Nikah? Enggak! Pak RT, saya mohon... Saya punya suami! Suami saya..."

"Suami apanya? KTP kamu statusnya Cerai Mati!" potong Bu Marni kejam. "Sudah, jangan banyak alasan. Daripada kami arak keliling kampung telanjang bulat, mending kalian dinikahkan sekarang. Sahkan, biar dosa zinanya putus!"

"Kalian gila ya?" Arya mencoba bangkit, tapi kakinya terlalu lemah, ia kembali terduduk. Rasa sakit di rusuknya membuatnya meringis. "Saya punya kekasih! Saya akan menuntut kalian semua atas penyekapan!"

"Tuntut saja kalau berani! Video kalian berduaan sudah saya rekam dan siap saya sebar ke grup warga se-kecamatan!" ancam pemuda yang memegang ponsel. "Bayangkan kalau keluarga Mas atau pacar Mas lihat video ini. Orang Kaya Mesum dengan Janda Miskin."

Arya terdiam. Rahangnya mengeras hingga terdengar bunyi gemeretak gigi.

Gea.

Nama itu melintas di benaknya. Gea adalah model terkenal. Jika video ini tersebar, reputasi Gea akan hancur, begitu juga dengan harga saham perusahaannya. Papa dan Mamanya pasti akan serangan jantung.

Arya menatap Gendis dengan nyalang. Wanita itu kini bersimpuh di kaki Pak RT, memohon-mohon.

"Pak, tolong Pak... Saya berani sumpah di atas Al-Quran..."

"Cukup!" bentak Arya.

Seketika ruangan itu hening.

Arya menarik napas panjang, menekan egonya yang rasanya ingin meledak. Ia menatap Gendis dengan sorot mata yang bisa membekukan lahar panas. Di matanya, Gendis bukan lagi penolong, tapi dalang dari semua kesialan ini.

"Oke. Kalau itu mau kalian," suara Arya terdengar rendah tapi mengerikan. "Nikahkan kami malam ini. Cepat selesaikan, sebelum saya berubah pikiran dan menghancurkan kampung ini rata dengan tanah."

Gendis menoleh cepat ke arah Arya, menggeleng tak percaya. "Tuan... jangan..."

"Sebaiknya kamu diam dan tutup mulut, ikuti saja karena memang ini maumu kan?" desis Arya tanpa melihat wajah Gendis.

"Kamu menang. Kamu berhasil menjebak saya menjadi suamimu, dasar sampah. Nikmati kemenanganmu malam ini."

Bersambung...

1
Nar Sih
semoga gk berhasil niat jht mu gea🤣
Nar Sih
terkejutt kan kmu gea ,org yg kmu hina dgn sombong nya kmu ternyata dia lah yg berkuasa atas nasib mu
Nar Sih
wah...👍gendis kta,,mu buat arya
Nar Sih
nah lo arya kesindir ngk kmu dgn kta,,gendis
Nar Sih
sebaiknya kmu pergi aja gendis,dan bnr kta alex
Nar Sih
bnr yg dikatakan ibu mu arya kmu pasti nyeseell
Nar Sih
smoga sgra terungkap kasus kecelakaan alm suami mu ya gendis
Nar Sih
gendis sakit parah ,semoga sgra sembuh
Nar Sih
wah...kta,,gendis mantap bikin arya gk bisa ngomong
Nar Sih
kini kmu nyesell arya🤣
Nar Sih
seperti nya gendhis sedang sakit ya kak ,moga ngk parah
Nar Sih
semagat gendhis💪
Nar Sih
maaf kak bru bisa lanjut bca ,sibuk dunia nyata🙏
Nar Sih
lanjutt kak
Nar Sih
hadir kak ,udah lama menghilang kakak hadir lgi karya terbaru nya👍
Sanayaa Irany: hihihi iya kak, doain lancar lancar nulis yang ini ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!