NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibuang

Bagas menggenggam erat tirai jendela ruang tunggu, matanya menatap kosong ke arah hujan yang menghantam kaca seperti ribuan jarum tajam. Di dalam ruangan itu, ia mondar-mandir tanpa henti, sepatu kulitnya berdecit di lantai keramik yang licin akibat jejak air dari orang-orang yang lalu lalang. Petir menyambar, disusul gemuruh dahsyat yang membuat lampu koridor berkedip sesaat, seolah rumah sakit itu pun ikut menahan napas bersamanya.

"Kenapa lama sekali... Dokter bilang apa tadi?" gumam Bagas, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun yang ada di sekitarnya.

Sepuluh tahun. Sepuluh tahun ia dan Larasati menunggu momen ini... melewati bertahun-tahun program kehamilan, doa yang tak terhitung jumlahnya, dan air mata yang selalu mereka sembunyikan dari keluarga besar yang tiada henti bertanya kapan mereka akan punya momongan. Malam ini, penantian panjang itu akhirnya akan berakhir. Atau justru baru saja dimulai.

Bagas duduk sejenak, lalu berdiri lagi, tak sanggup diam barang semenit. Tangannya terasa dingin, meski suhu AC ruang tunggu tidak begitu kencang. Dari balik pintu ruang bersalin, sesekali terdengar suara Larasati mengerang menahan sakit, dan setiap kali itu terjadi, dada Bagas ikut teremas hebat, seolah ia bisa merasakan sebagian dari penderitaan istrinya.

"Ya Allah, tolong lancarkan semuanya," bisiknya lirih, matanya terpejam erat sambil kedua tangan saling meremas di depan dada.

Petir kembali menyambar, kali ini disertai padamnya lampu selama tiga detik yang terasa seperti satu abad baginya. Bagas refleks berdiri tegak, jantungnya berdegup liar tak karuan. Ketika lampu kembali menyala, seorang suster keluar dengan wajah tegang, membuat perutnya semakin mual dibuat cemas.

"Suster! Bagaimana kondisi istri saya di dalam?" Bagas mencengkeram lengan suster itu, suaranya nyaris putus asa.

"Masih terus kami usahakan, Pak. Mohon bersabar sebentar lagi, ya," jawab suster itu singkat, sebelum bergegas menghilang kembali di balik pintu ruang bersalin.

Waktu terasa merangkak sangat lambat. Bagas mulai menghitung jumlah ubin di lantai, menghitung tetes hujan yang membentur kaca jendela, menghitung apa saja yang bisa dihitung, sekedar agar pikirannya tidak melayang jauh ke hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Namun di tengah kepanikan yang menggerogoti itu, sebuah suara kecil memecah keheningan panjang... tangisan bayi, lemah namun jelas, menembus tebalnya dinding ruang bersalin.

Bagas membeku sesaat, seluruh tubuhnya kaku. Detik berikutnya, air matanya tumpah begitu saja tanpa bisa ia bendung.

"Dia lahir... anakku sudah lahir," ucapnya terbata-bata, sebelum tanpa sadar kedua lututnya menyentuh lantai. Ia bersujud tepat di tengah koridor rumah sakit yang basah oleh jejak sepatu, tak peduli lagi siapa yang melihat kelakuannya saat itu.

"Terima kasih, Ya Allah... terima kasih banyak," isaknya berulang-ulang, pundaknya berguncang hebat menahan haru yang membuncah begitu besar di dadanya.

Tak berapa lama, pintu ruang bersalin terbuka perlahan. Dokter Handoko melangkah keluar dengan masker yang masih menggantung longgar di lehernya, wajahnya tampak lelah namun menyiratkan senyum tipis yang menenangkan.

Bagas langsung bangkit dari sujudnya, berlari kecil menghampiri sang dokter. "Dok! Bagaimana istri saya? Anak saya?"

"Alhamdulillah, Pak Bagas. Ibu dan bayinya sama-sama selamat. Persalinannya berjalan lancar," kata dokter itu sambil menepuk pelan bahu Bagas.

Untuk sesaat, dunia Bagas seakan berhenti berputar dalam artian paling indah yang pernah ia rasakan seumur hidup. Ia tertawa lega bercampur haru, mengusap wajahnya yang basah oleh air mata dan keringat dingin sekaligus.

"Laki-laki atau perempuan, Dok?" tanyanya tak sabar.

"Perempuan, Pak. Cantik sekali," jawab dokter itu.

"Anak perempuan... aku punya anak perempuan," gumam Bagas, senyum tak lepas dari bibirnya yang masih bergetar. "Boleh saya lihat mereka sekarang, Dok?"

Namun senyum di wajah dokter Handoko perlahan memudar. Ia menarik napas panjang, tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.

"Pak Bagas... sebelum itu, ada yang perlu saya sampaikan dulu," ucap dokter itu hati-hati, memilih kata dengan sangat berhati-hati.

Firasat buruk langsung menyergap Bagas seketika. "Ada apa, Dok? Istri saya baik-baik saja, kan? Tidak ada masalah?"

"Istri Bapak sehat sempurna, tidak ada masalah apa pun," dokter itu menjeda sejenak sebelum melanjutkan, "tapi putri Bapak... kakinya tidak terbentuk dengan sempurna. Semacam kelainan bawaan sejak dalam kandungan. Kami perlu pemeriksaan lebih lanjut, tapi kemungkinan besar putri Bapak akan kesulitan berjalan normal seumur hidupnya."

Senyum di wajah Bagas lenyap seketika, digantikan oleh raut pucat pasi yang mengerikan. "Apa... apa maksud Dokter? Cacat?"

"Kami akan bantu carikan penanganan dan terapi terbaik, Pak. Sekarang ini sudah banyak..."

"Tidak," potong Bagas cepat, suaranya bergetar hebat, bukan lagi karena haru, melainkan sesuatu yang jauh lebih kelam dan dingin. "Ini tidak mungkin terjadi. Anak saya tidak mungkin cacat."

Dokter Handoko menatapnya dengan iba. "Pak, saya paham ini berat untuk diterima, tapi..."

Bagas sudah tidak lagi mendengarkan kata-kata setelahnya. Pikirannya melayang liar... wajah ayahnya yang keras dan penuh wibawa, tatapan merendahkan para kolega bisnis keluarga, bisikan-bisikan sinis di balik punggung yang pasti akan bermunculan begitu kabar ini tersebar luas.

Keluarga Wirasena, keluarga konglomerat dengan reputasi tak bercela selama tiga generasi, kini akan punya cucu yang cacat?

Ia membayangkan wajah murka ayahnya, tatapan kecewa yang pasti akan menghantuinya seumur hidup tanpa henti. Rasa malu itu menjalar lebih cepat daripada rasa sayang yang baru saja tumbuh di dadanya beberapa menit lalu.

Malam itu, ketika Larasati masih tertidur lelap akibat obat bius yang belum sepenuhnya hilang dari tubuhnya, dan para suster sedang sibuk menangani pasien lain di ruangan berbeda, Bagas menyelinap diam-diam ke ruang bayi. Ia menggendong putrinya sendiri... bayi mungil yang matanya baru saja terbuka, menatapnya dengan polos tanpa mengerti apa yang akan segera menimpanya.

"Maafkan Papa," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh suara hujan yang masih mengguyur deras di luar sana.

Ia membungkus tubuh mungil itu dengan selimut tebal, menyusupkannya ke balik jaketnya sendiri agar tak terlihat, lalu melangkah cepat keluar lewat pintu darurat tanpa ada seorang pun yang menyadarinya. Mobilnya melaju membelah derasnya hujan, menembus pekatnya malam menuju sebuah desa terpencil yang jaraknya berjam-jam dari kota. Tempat yang ia yakin tak akan pernah ada yang mengenali wajahnya.

Roda mobil berderit di atas jalan berlumpur ketika Bagas akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah kosong. Temboknya sudah mengelupas dimakan usia, atapnya bocor di beberapa bagian. Terasnya sempit, namun cukup terlindung dari terpaan hujan malam itu.

Tangannya gemetar hebat saat meletakkan bayi itu perlahan di atas teras yang dingin dan lembap. Bayi itu mulai merengek pelan, seolah sudah merasakan ada sesuatu yang salah terjadi.

Bagas berjongkok sejenak, menatap wajah mungil putrinya untuk yang terakhir kalinya. Petir menyambar di kejauhan, menerangi wajahnya yang basah entah oleh air hujan, entah oleh air mata yang terus mengalir tanpa henti.

"Jangan salahkan Papa," bisiknya parau, hampir tak terdengar, "salahkan saja nasibmu yang terlahir cacat."

Ia bangkit, berbalik badan, lalu melangkah cepat menuju mobilnya tanpa berani menoleh lagi... meski setiap langkah terasa seperti menyeret rantai berat yang tak kasat mata. Suara tangis bayi yang kian mengeras perlahan tenggelam oleh deru hujan dan angin kencang, hingga akhirnya benar-benar lenyap ditelan gelapnya malam.

Mobil itu melaju menjauh, meninggalkan sesosok bayi mungil yang baru beberapa jam menghirup udara dunia, kini tertinggal sendirian di tengah dinginnya malam, tanpa pernah tahu bahwa dua puluh tahun ke depan, gadis kecil itu akan kembali dan membuktikan bahwa nasib bukanlah sesuatu yang bisa ditentukan oleh sepasang kaki yang tak sempurna.

1
Muft Smoker
aq cuma bisa kasih semangat buat Haruna ,, kekurangan mu gx bakal jd penghalang kesuksesan mu ,,
Ilfa Yarni
sedih aku bacany hiks klo Haruna kemakam sedih banget
Ilfa Yarni
semangat haruna wujudkan mimpimu jd orang sukses agar nenekmu bahagia diatas sana
Muft Smoker
wooah semangat trus harunaa ,,
mungkin ni langkah yg bkal jlan km bisa lebih mudah ,,
Ilfa Yarni
emang gmn cara km tes drive
Muft Smoker
test Drive ,, test Drive ,, Dy fikir si Haruna sirkuit Mandalika kali yx/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilfa Yarni
jgn coba comblangin haruna dgn laki2 lain ya vania
Sayekti 0519
bukannya tobat ,malah laknat.seharusnya ada jln untuk sadar.terima dengan niat baik
Ilfa Yarni
awas ya reynan jgn sampe luluh km
Muft Smoker
astgaaaa ,,
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
Sayekti 0519
ngerawat nenek lah.balas budi.kuliah bisa menyusul.
Muft Smoker
semoga Bagas cepat dpat karma ny ,,
Ilfa Yarni
aku ingin bagas cepat hancur jahat banget jadi manusia
Muft Smoker
tunggu karma menghampiri mu Bagas ,,
Ilfa Yarni
dasar orangtua jahat tunggu lah kehancuranmu suatu saat keboho ganmu terbongkar
Muft Smoker
semangat Haruna ,, jgn biarkan pak Bagas meremehkan mu ,,
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
Ilfa Yarni
Ya ampun ga nyangka Ada orangtua yg seperti ini aku doakan Haruna cepat jadi konglomerat Dan bagas hancur oleh perbuatannya sendiri
Muft Smoker
yakin laa reynan kalo Haruna bakal bisa melewati semua ini ,, udh banyak pahit kehidupan yg di lalui haruna ,,
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,
Ilfa Yarni
tenang aja reynan haruna akan membuktikannya klo dia bisa sukses km cukup doakan saja dan of saat nya tiba bagas akan menyesal perbuatannya
Ilfa Yarni
nah lol feeling ga ya nyonya larasati pd Haruna bahwa Haruna adalah ank kandungnya biasanya antara ibu Dan ank itu Ada ikatan bathin yg kuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!