Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.
Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.
Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 — ANOMALI DI BALIK MEJA KASIR
Cahaya matahari pagi menyusup tipis melalui celah atap seng toko kelontong kami.
Aku membongkar papan penutup toko dengan selot besi yang terasa sangat dingin di jemari.
Aroma bau pandan basah dan wangi kamboja busuk mendadak tercium dari balik karung beras.
Ningsih melangkah keluar dari dalam rumah panggung membawa mangkuk kayu berisi nasi goreng.
Ia meletakkan mangkuk itu di atas meja kasir kayu dengan raut wajah yang masih pucat cemas.
“Makanlah sarapanmu dulu, Mas, sebelum para pembeli mulai berdatangan ke toko,” bisik Ningsih pelan.
“Terima kasih banyak ya, Ningsih, kamu selalu memperhatikan kesehatanku,” jawabku tersenum kaku.
Namun betapa terkejutnya aku saat rasa nasi goreng itu berubah menjadi hambar bagaikan abu dingin.
Tenggorokanku terasa sangat kering dan mual, seolah-olah aku sedang mengunyah tanah kuburan basah.
“Kenapa nasi goreng ini rasanya agak aneh ya, Ningsih?” tanyaku berusaha menahan rasa mual.
“Aneh bagaimana maksudmu, Mas? Nasi itu baru saja kutanak tadi subuh,” tanya Ningsih heran.
“Rasanya agak hambar dan dingin di lidahku, Ningsih,” kelitku beralasan pelan.
Ningsih mengambil sedikit nasi di mangkuk, lalu mencicipinya dengan ujung jemarinya.
“Nasi ini rasanya gurih dan hangat seperti biasa kok, Mas,” kata Ningsih makin heran.
“Mungkin lidahmu yang sedang kurang fit karena kelelahan melayani pembeli,” hiburnya menenangkan.
“Bisa jadi begitu, Ningsih, lidahku mungkin memang sedang agak pahit,” sahutku mengalah.
Aku terpaksa menelan nasi goreng yang terasa bagaikan abu dingin itu demi menyenangkan hati istriku.
Sreeek!
Suara pintu pagar bambu depan halaman toko digeser kasar oleh rombongan pembeli pertama.
Pak Karso dan Bu Marni melangkah cepat mendekati meja kasir kayu dengan pandangan mata kosong.
“Pagi sekali sudah datang belanja ke toko, Pak Karso, Bu Marni?” sapaku tersenum ramah.
“Saya mau beli beras sepuluh kilo sama minyak goreng dua botol, Surya,” kata Pak Karso datar.
“Saya beli telur tiga kilo sama gula pasir dua kilo, Mas!” sambung Bu Marni terburu-buru.
“Sabar satu per satu ya, Bapak dan Ibu sekalian,” sahutku sibuk melayani pesanan mereka.
“Semua barang belanjaan di toko ini pasti mencukupi kebutuhan dapur kalian!” tambahku menenangkan.
Aku mendekati karung beras goni besar di sudut ruangan toko dengan membawa cawan seng.
Begitu cawan seng kumenyelamkan ke dalam karung beras, aroma wangi bunga kantil busuk membual tebal.
Butiran beras putih di dalam karung itu tampak berubah menjadi agak keabu-abuan dingin.
“Aneh sekali... kenapa beras di karung ini rasanya sangat dingin saat disentuh?” bisikku kaget.
“Ada apa dengan beras di karung itu, Surya?” tanya Pak Karso memperhatikan gerak-gerikku.
“Tidak ada apa-apa, Pak Karso, ini cuma beras kualitas super dari distributor kota,” kelitku cepat.
Aku buru-buru menyendok beras abu-abu dingin itu ke dalam kantong plastik bening tebal.
Pak Karso menyerahkan dua lembar uang lima puluh ribu rupiah ke atas meja kasir kayu.
Begitu jemariku tersenggol uang kertas itu, rasa dingin menusuk tulang merambat naik ke lengan.
Noda hitam berbentuk batu nisan di bawah kuku ibu jari tangan kananku mendadak berdenyut keras.
Pendar cahaya kebiruan redup memancar tipis dari balik plester kain putih yang membungkus jempolku.
“Terima kasih banyak ya, Pak Karso,” ucapku sambil menahan rasa gemetar menyengat di dada.
“Sama-sama, Surya, besok pagi saya pasti datang belanja lagi ke tokomu ini,” sahutnya kaku.
Pak Karso dan Bu Marni membawa belanjaan mereka, berbalik pergi meninggalkan toko kami.
Belum sempat aku menarik napas lega, puluhan warga desa lain sudah berdatangan mengantre panjang.
Toko kelontong kami kembali dibanjiri pembeli yang saling berdesakan memborong barang dagangan.
Ningsih sibuk membantu menimbang gula pasir dan membungkus telur dengan kantong plastik.
Namun baru beberapa menit bekerja, Ningsih mendadak memekik kaget di depan timbangan besi tua.
“Mas! Coba kamu lihat gula pasir di dalam toples kaca ini!” jerit Ningsih berbisik panik.
Aku bergegas mendekati Ningsih, memperhatikan isi toples kaca besar di atas meja kasir.
Di dasar toples kaca itu, ribuan semut hitam mati menumpuk kaku mengelilingi kristal gula.
Noda cairan hitam berbau bunga kamboja busuk mengalir keluar dari celah-celah butiran gula pasir.
“Kenapa semut-semut hitam ini bisa mati massal di dalam toples gula, Mas?” tanya Ningsih gemetar.
“Ini cuma karena hawa lembap toko kita, Ningsih,” jawabku berbohong menenangkan ketakutannya.
“Tapi cairan hitam di dalam toples ini baunya persis seperti wangi bunga kuburan, Mas!” jerit Ningsih.
“Jangan membuat pembeli takut, Ningsih, buang saja semut mati itu ke luar,” potongku menyela.
Aku buru-buru menyapu semut hitam mati itu, lalu mengganti toples gula dengan wadah baru.
Warga desa yang berdiri mengantre di depan meja sama sekali tidak memedulikan anomali gaib tersebut.
Mata mereka yang sayu dan kaku tetap menatap lurus ke arah barang-barang dagangan kami.
Mereka memborong seluruh barang di rak toko tanpa menawar harga atau meminta kembalian pecahan kecil.
Hanya dalam kurun waktu tiga jam saja, seluruh barang dagangan di toko kami habis bersih tanpa sisa.
Kotak kasir kayu penuh sesak oleh tumpukan uang kertas puluhan ribu rupiah yang dingin membeku.
Ningsih mengusap peluh dingin di dahinya, memandangi tumpukan uang hasil penjualan dengan napas lega.
“Alhamdulillah, Mas! Hari ini kita dapat uang penjualan lebih dari enam juta rupiah!” seru Ningsih.
“Toko kita benar-benar laris luar biasa melampaui toko-toko kelontong lain di desa ini,” sambungnya.
“Iya, Ningsih, rezeki ini bisa kita pakai buat modal belanja barang baru esok hari,” sahutku tersenum.
“Aku mau ke dapur dulu buat menyiapkan makan siang buat kamu dan Dedek,” pamit Ningsih berseri-seri.
Ningsih memasukkan tumpukan uang kertas dingin itu ke dalam kantong kain, lalu berjalan ke rumah.
Aku duduk sendirian di atas kursi kayu kasir toko, memandangi ibu jari tangan kananku yang dibalut.
Hawa dingin membekukan dari noda batu nisan di kuku jempolku makin menyengat menembus daging.
Srik!
Suara gesekan dedaunan kering di samping halaman toko membuatku terkejut setengah mati dan berdiri.
Ujang melangkah keluar dari balik rimbunan pohon pisang liar dengan raut wajah tegang tinggi.
“Surya! Apakah kamu merasai anomali aneh pada barang dagangan tokomu pagi ini?” tanya Ujang berbisik.
“Anomali apa yang kamu maksudkan itu, Jang?” tanyaku pura-pura tidak tahu dengan jantung berdegup.
“Beras di karungmu berbau bunga kantil dan gula pasirmu membunuh ribuan semut hitam kan, Mas?” selidik Ujang.
Aku terperanjat kaget mendengarkan rincian anomali barang daganganku dari bibir Ujang.
“Bagaimana kamu bisa tahu secara rinci tentang keanehan barang daganganku pagi ini, Jang?” tanyaku.
Ujang mendekatkan posisi berdirinya ke dekat telingaku, berbisik dengan nada suara yang sangat tegang.
“Simbah baru saja memberitahuku kalau tuah harta gaib itu sedang bekerja menyerap rezeki warga!” jelas Ujang.
“Setiap warga yang belanja di tokomu sebenarnya sedang menyerahkan energi kehidupan mereka!” lanjutnya.
“Maksudmu... warga desa memborong barang karena terhipnotis oleh energi gaib pesugihan?” tanyaku kaget.
“Iya, Mas! Penunggu Makam Keramat Panjang sengaja menggerakkan hati warga buat datang ke sini!” tegas Ujang.
“Lalu kenapa beras dan gulaku bisa berubah menjadi dingin dan berbau bunga kuburan, Jang?” tanyaku.
“Itu tanda kalau batas waktu ritual sajen Jumat Kliwon depan harus dipersiapkan lebih matang!” jawab Ujang.
“Jumat Kliwon depan kamu wajib membawa sajen yang jauh lebih besar dari kemarin!” tambahnya memperingatkan.
Darahku terasa membeku seketika mendengarkan penetapan sajen baru yang disampaikan oleh Ujang.
“Sajen apa lagi yang harus kubawa ke Makam Keramat Panjang Jumat Kliwon depan, Jang?” tanyaku.
“Kamu wajib membawa satu ekor kambing kendit hitam mulus dan tujuh liter air mawar!” tegas Ujang.
“Kambing kendit hitam mulus?” tanyaku dengan suara yang tercekat di balik tenggorokan.
“Iya, Mas! Kambing kendit dengan lingkar putih di perutnya itu adalah sajen wajib penetapan tahap dua!”
“Di mana aku bisa mendapatkan kambing kendit hitam mulus itu dalam waktu singkat, Jang?” tanyaku panik.
“Kamu bisa membeli kambing kendit itu dari peternak tua di Ujung Kulon desa sebelah, Mas,” jawab Ujang.
“Apakah uang pinjaman pesugihan ini boleh dipakai buat membeli kambing kendit itu, Jang?” tanyaku.
“Tentu saja boleh, Mas, uang itu memang disediakan buat melengkapi seluruh keperluan ritual!” tegas Ujang.
“Ingat baik-baik, jangan pernah mencoba membatalkan atau menunda sajen kambing kendit ini!” ancam Ujang.
“Kalau kamu alpa... tanda nisan di kuku jempolmu akan merambat menembus tulang lenganmu!” ancamnya keras.
Aku menelan ludah yang terasa sangat pahit dan menyiksa tenggorokan mendengarkan konsekuensi gaibnya.
“Baiklah, Jang, aku pasti akan mencari kambing kendit hitam itu sebelum Jumat Kliwon tiba,” janji pasrahku.
“Baguslah kalau kamu paham, jaga baik-baik tokomu dan jangan sampai membocorkan rahasia ini,” pesan Ujang.
Ujang menepuk bahuku keras, lalu berbalik melangkah jalan menuju kendaraan sepeda motornya.
Deru mesin motornya meraung pelan sebelum akhirnya menghilang ditelan keheningan sore perkampungan.
Sore harinya, matahari tenggelam menyiramkan warna merah keandongan yang suram di atas langit desa.
Aku berjalan menjemput Dedek di depan gerbang sekolah dasar naik sepeda motor tua.
Dedek berlari gembira menyambut kedatanganku, melompat naik ke atas jok belakang motor.
“Bapak! Hari ini teman-teman sekolah Dedek pada bercerita tentang toko kita!” seru Dedek gembira.
“Cerita apa saja yang disampaikan oleh teman-temanmu di sekolah tadi, Nak?” tanyaku tersenum kaku.
“Kata teman-teman, ibu mereka pada ketagihan beli beras sama es di toko kita, Pak!” cerita Dedek polos.
“Tapi kata Anto, beras dari toko kita kalau dimasak baunya harum seperti bunga kantil di makam,” lanjutnya.
Jantungku mendadak berhenti berdetak sejenak mendengarkan ucapan polos anak kandungku sendiri.
Anomali beras berbau bunga kantil ternyata sudah disadari oleh anak-anak sekolah di desa.
“Mungkin ibunya Anto salah mencium aroma bumbu masakan di dapurnya sendiri, Dedek,” jawabku berbohong.
“Bisa jadi begitu ya, Pak, nasi di rumah kita rasanya enak sekali kok!” sahut Dedek tertawa polos.
Malam harinya, angin dingin bertiup kencang menggoyangkan pelepah pohon pisang di samping rumah.
Kami bertiga duduk melingkar di atas tikar pandan ruang tengah sambil menikmati makan malam.
Ningsih memasak gulai ikan kakap yang harum dan sambal terasi pedas kesukaan anak kami.
Dedek makan dengan sangat lahap, menambah nasi putih dua kali sambil bercanda riang gembira.
“Makanannya enak sekali ya, Bu!” puji Dedek sambil mengunyah daging ikan goreng.
“Makan yang banyak ya, Nak, biar badanmu makin sehat dan kuat di sekolah,” sahut Ningsih tersenum.
“Terima kasih ya, Ibu! Terima kasih juga buat Bapak yang sudah bekerja keras!” seru Dedek gembira.
“Sama-sama, sayang, yang penting Dedek rajin belajar dan selalu patuh pada Orang Tua,” jawabku pelan.
Aku mengelus kepala anakku dengan tangan kiri, sementara tangan kananku tetap tersembunyi di saku.
Setiap kali membayangkan sajen kambing kendit Jumat Kliwon depan, hatiku menangis teriris perih.
Malam di luar begitu pekat, ditiup oleh angin dingin yang membawa aroma wangi bunga kantil busuk.
Aku membuka balutan kain plester putih di ibu jari tangan kananku di bawah sinar rembulan.
Di dalam kegelapan malam, noda hitam batu nisan di bawah kuku ibu jariku mendadak memancar terang.
Garis-garis hitam kebiruan berbentuk akar pohon tua perlahan-lahan merambat naik menembus kulit ibu jari.
Hawa dingin yang sangat membekukan merambat naik menembus pergelangan tangan dan siku lengan kananku.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan mendadak di pintu pagar bambu depan rumah membuatku terkejut setengah mati.
Aku bergegas berdiri melangkah menuju pagar bambu dengan jantung yang berdebar kencang.
Di balik pintu pagar bambu, berdiri seorang lelaki tua bungkuk mengenakan sarung hitam lusuh.
Wajahnya tertutup kain sarung, namun pendar dua titik mata merah menyala menatapku tajam.
Simbah—sang juru kunci Makam Keramat Panjang—berdiri membisu di depan halaman rumah panggung kami.
“Simbah... kenapa Simbah datang malam-malam begini ke rumah saya?” tanyaku berbisik gemetar.
Simbah tidak segera menjawab pertanyaanku, namun tangannya yang keriput mengacungkan sebuah tongkat kayu.
Ujung tongkat kayu itu menunjuk tepat ke arah dada dan ibu jari tangan kananku yang bernoda nisan.
“Surya... kambing kendit hitam itu sudah menunggumu di Ujung Kulon...” bisik Simbah dengan suara serak.
“Bawalah darah kambing kendit itu Jumat Kliwon depan... atau darah anakmu yang membasahi nisanku...”
Simbah berbalik jalan melayang perlahan, menghilang di dalam kegelapan kebun pisang yang pekat.
Aku terduduk lemas di atas tanah pelataran rumah dengan kucuran keringat dingin membahasi kemeja.
Ancaman perjanjian gaib di Makam Keramat Panjang kini telah merayap kian dekat menelan jiwaku.
---