Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pesisir laut Tidebay
Malam di Tidebay bergulir dalam hening. Tak ada gempuran ombak memekakkan telinga, samudra di balik tebing karang bergulung begitu tenang, seolah menyimpan rapat-rapat segala bahaya yang pernah terjadi di masa lalu.
Di sudut pinggiran kota pesisir itu, berdiri sebuah panti asuhan sederhana. Di sanalah seorang gadis tumbuh besar tanpa pernah mengetahui dari mana ia berasal.
Perlahan, malam yang panjang melarut dalam sapuan pendar keemasan surya yang terbit sabar di ufuk timur. Namun, ketenangan pagi itu terbuyarkan di sebuah kamar kecil berukuran dua kali tiga meter.
"Hah... hah..."
Napas Airyn memburu. Gadis itu tersentak bangun, terduduk kaku di atas Kasur tipisnya. Peluh dingin menetes perlahan dari pelipis, membasahi wajahnya yang pucat. Dengan jemari gemetar, ia meremas dada, mencoba mengencangkan napas dan menenangkan pikirannya yang kalut.
Hanya mimpi, tegasnya pada diri sendiri. Itu cuma mimpi buruk biasa.
Mimpi aneh itu sudah menghantuinya selama beberapa bulan terakhir. Awalnya hanya datang sesekali, tetapi belakangan ini, kejadian berdarah dalam tidurnya berulang hampir setiap malam.
"Tenanglah, Airyn... cuma mimpi," bisiknya pelan, mencoba menyapu sisa kecemasan.
Ia beranjak bangkit dari tempat tidur kayu yang berderit. Langkah kakinya membawa tubuhnya mendekati jendela kayu. Saat daun jendela didorong pelan, hawa dingin pesisir merasuk masuk. Langit di luar masih dihiasi remang fajar.
Ritual paginya pun dimulai. Airyn melangkah menuju meja kecil di sudut ruangan, membuka lacinya, dan mengeluarkan mangkuk berisi bubuk arang racikan yang sudah digiling halus. Setelah mencampurnya dengan sedikit air hingga membentuk pasta pekat, ia mulai mengusapkannya secara merata ke setiap helai rambutnya.
Perlahan, warna asli surainya yang berona biru serenity terang tenggelam di balik warna hitam pekat.
Airyn menatap pantulan dirinya pada cermin retak di dinding. Di dunia tempat ia tinggal, memiliki rambut biru terang adalah sebuah keanehan besar. Membalurinya dengan racikan arang adalah satu-satunya jalan keluar. Walau terasa kotor dan tidak nyaman, ia harus bertahan. Itu jauh lebih baik daripada dilirik curiga atau menjadi bahan bisik-bisik warga.
Bukan hanya rambutnya yang aneh, warna matanya pun sama. Di saat mayoritas penduduk Tidebay memiliki iris cokelat tanah atau biru laut, Airyn justru terlahir dengan iris mata berwarna emas kekuningan. Warna itu sudah cukup mencolok. Jika warna rambut aslinya sampai terlihat, orang-orang bisa saja mencapnya sebagai monster atau lebih buruk, dijadikan makhluk langka yang bisa diperjualbelikan.
Siapa yang mau nasib tragis seperti itu terjadi? Sudah cukup rasa sakit dari olokan masa kecilnya saat teman-temannya menjulukinya 'Mata Kucing' karena manik emasnya yang seakan berpendar misterius di dalam gelap.
Setelah menyelesaikan ritual pewarnaan rambut dan memastikan penampilannya aman, Airyn mengenakan apron kusam yang warnanya mulai memudar. Sebelum melangkah keluar, jemarinya menyentuh kalender kecil yang tertempel di dinding kayu.
Ia menandai satu tanggal. Lusa, usianya resmi menginjak delapan belas tahun. Artinya, masa tinggalnya di panti asuhan ini akan segera berakhir.
Senyum tipis terukir di bibirnya. Tabungan yang ia kumpulkan dari hasil keringat bekerja di kedai sebentar lagi cukup untuk menyewa kamar kecil di dekat dermaga. Jika ia terus bekerja keras, mungkin dalam beberapa tahun ke depan ia bahkan bisa membuka tokonya sendiri.
Dengan semangat baru, Airyn mendorong pintu kamar dan berjalan menuju pintu depan.
"Pagi, Kak!" sapa seorang anak kecil yang sedang merapikan tas sekolahnya di lorong.
Airyn menoleh, matanya berbinar hangat. "Pagi, Eli! Sudah siap mau berangkat sekolah?"
"Iya, Kak!" balas gadis kecil berumur tujuh tahun itu ceria.
"Mau berangkat bareng tidak?" tawarnya.
"Wah, asyik!" Eli melompat kecil kegirangan.
Saat mereka bersiap melangkah ke ambang pintu, suara langkah kaki terdengar dari kamar samping. Seorang wanita paruh baya bertubuh agak tegap keluar dengan wajah datar. Dialah Madam Ruby, pemilik panti asuhan tersebut.
"Kapan kamu resmi pindah, Airyn?" tanya Madam Ruby tanpa basa-basi.
"Dalam beberapa hari lagi, Madam," jawab Airyn sopan.
"Baguslah. Setidaknya beban panti ini bisa sedikit berkurang," ujar wanita itu ketus sebelum berbalik menuju dapur.
Airyn hanya menyunggingkan senyum tipis. Sama sekali tak ada rasa sakit hati atau tersinggung di dadanya. Ia sangat bersyukur karena selama bertahun-tahun Madam Ruby telah memberinya atap untuk berteduh dan kesempatan mengenyam pendidikan. Airyn tahu, Madam Ruby hanya berwatak keras, bukan berarti hatinya jahat.
Airyn menggandeng jemari mungil Eli dan melangkah keluar menyambut udara pagi.
"Kakak... tidak apa-apa?" tanya Eli pelan sambil menengadah. Wajah lugunya memancarkan rasa khawatir.
Airyn tertawa kecil, mengacak rambut Eli gemas. "Kakak sama sekali tidak apa-apa, Eli."
Jarak sekolah dari panti tidak jauh, hanya beberapa ratus meter menelusuri pemukiman batu. Sesampainya di depan gerbang kayu sekolah, Eli berjinjit dan mendaratkan kecupan hangat di pipi Airyn sebagai tanda terima kasih, lalu berlari gembira bergabung dengan teman-temannya.
Airyn melambaikan tangan sebelum memutar langkah menuju area dermaga.
Cuaca pagi itu sangat bersahabat. Cahaya matahari memantul indah di atas permukaan air laut. Para nelayan lokal mulai sibuk merapat ke tepian, menurunkan keranjang-keranjang berisi ikan segar hasil tangkapan semalam.
"Pagi, Paman Marco!" seru Airyn ramah saat melintas di depan sebuah kedai kayu bernuansa hangat.
Pria tua berusia lima puluhan yang baru saja melepas gembok pintu kedainya itu menoleh. "Pagi, Airyn! Kau ini selalu saja tiba sangat pagi!"
"Seperti biasa, Paman! Aku bantu menyiapkan tempat, ya," ucap Airyn cepat, langsung menerobos masuk tanpa menunggu izin.
Paman Marco hanya tertawa kekeh sambil menggelengkan kepala. Ia paham betul, mencegah gadis rajin itu bekerja sama saja seperti menahan ombak.
Dengan sigap, Airyn mulai membuka jendela-jendela kayu agar hawa laut menyegarkan ruangan, menyapu lantai, merapikan deretan kursi, dan tak lupa menyeduhkan secangkir kopi hitam hangat kesukaan Paman Marco.
Setelahnya, Airyn bergerak ke dapur belakang untuk mulai mengadoni roti panggang, sementara Paman Marco menyambut para pelanggan di area depan sambil menikmati kopi racikan Airyn.
Tak butuh waktu lama, aroma harum roti yang baru matang mulai menyeruak, mengundang para pekerja dermaga dan warga sekitar untuk berdatangan.
"Airyn! Rotinya sudah siap?" panggil Paman Marco dari balik meja kasir.
"Sudah, Paman! Ini baru diangkat!" Airyn keluar dari dapur membawa nampan berisi roti panggang khas Tidebay. Roti polos bertekstur lembut dengan perpaduan rasa gurih dan manis yang pas.
Paman Marco membungkus roti-roti itu dengan cekatan untuk pelanggan yang terburu-buru, sementara beberapa warga memilih duduk santai menikmati roti hangat diiringi teh seduhan Paman Marco.
Hari berlalu cepat dalam kesibukan yang hangat hingga tanpa terasa senja mulai membayang di ufuk barat. Waktu tutup kedai pun tiba.
Airyn sedang sibuk mengepel sisa noda di lantai, sementara Paman Marco duduk di meja kasir sembari menghitung kepingan koin hasil penjualan hari ini.
"Airyn, kemari sebentar!" dipanggilnya gadis itu.
Airyn menyandarkan pelnya dan menghampiri sang pemilik kafe. "Ada apa, Paman?"
Paman Marco menyodorkan beberapa keping koin perak berkilau ke atas telapak tangan Airyn.
Mata emas Airyn membelalak kaget. "Eh? Paman, bukankah ini terlalu banyak? Sesuai kesepakatan awal, upah harian ku kan hanya beberapa koin perunggu."
"Ini bonus," potong Paman Marco mantap sambil tersenyum hangat. "Kau bilang sedang mengumpulkan uang untuk menyewa kamar di dekat sini, kan? Anggap saja ini hadiah kecil dan bantuan dari laki-laki tua ini."
"Tapi saya tidak enak, Paman..." Airyn berusaha mengembalikan koin-koin itu.
"Aish, anak ini! Terima saja!" dorong Paman Marco menolak serahan Airyn. "Justru aku yang harus berterima kasih karena kau selalu bekerja keras membantuku di sini."
"Beneran, Paman?" tanya Airyn memastikan dengan mata berbinar. Dibalas anggukan yakin dari pria tua itu.
Rasa bahagia yang membuncah tak sanggup Airyn sembunyikan lagi. Dengan tambahan koin perak ini, tabungannya bukan lagi sekadar cukup untuk menyewa kamar beberapa bulan, ia bahkan bisa mengamankan sewa tempat tinggal hingga satu tahun ke depan!
Setelah menyelesaikan sisa pekerjaan dan mengunci kafe bersama Paman Marco, Airyn melangkah pulang. Langit Tidebay telah berganti menjadi abu-abu keunguan dipayungi jingga senja.
Di sepanjang jalan batu, Airyn melangkah ringan sambil sesekali bersenandung kecil. Angin malam pesisir yang bertiup lembut menerpa wajahnya terasa begitu menyejukkan.
Tak butuh waktu lama, ia tiba di panti asuhan dan langsung masuk ke kamarnya. Ia menanti dengan sabar hingga malam kian larut dan seluruh penghuni panti tertidur lelap.
Saat suasana benar-benar hening, Airyn berjingkat menuju kamar mandi belakang. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang segar, lalu membiarkan air mengalir membasahi rambutnya. Perlahan tapi pasti, lapisan warna hitam arang itu luntur terbawa air, melarut di lantai batu, hingga akhirnya memperlihatkan kembali surai biru muda terang yang begitu indah dan berkilau.
Ada rasa lega luar biasa yang membuncah di dadanya setiap kali ia bisa melepaskan penyamaran itu.
Setelah mengeringkan tubuh dan membungkus rambut birunya dengan handuk tebal, Airyn kembali ke kamar kecilnya.
Hari yang panjang telah usai. Esok pagi hari baru telah menanti—sebuah langkah yang makin dekat menuju kebebasan dan kehidupan barunya sendiri.