NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Harga Sebuah Pengabdian

Pagi itu, meja kerja Rhea seperti zona perang yang baru saja ditinggalkan pasukannya. Tumpukan berkas perkara perdata setinggi setengah meter menggunung di sisi kiri, mangkuk salad sisa lembur semalam belum sempat dibuang, dan cangkir kopi ketiganya hari ini sudah mendingin dengan lapisan minyak tipis di permukaannya.

Di layar monitor, draf perjanjian perusahaan multinasional yang ia revisi lima kali masih terbuka lebar, penuh dengan catatan tepi bertinta merah.

Di usianya yang menginjak dua puluh tujuh tahun, Rhea adalah penganut setia prinsip bahwa kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil. Empat tahun ia bertahan di Mahendra & Partners, firma hukum paling bergengsi di kawasan Jakarta.

Selama empat tahun itu pula, ia menukar kehidupan pribadinya dengan tumpukan map perkara. Akhir pekan, kencan, waktu tidur, bahkan libur hari raya ia pangkas habis demi mengejar posisi senior associate. Dia ingin membuktikan bahwa seorang gadis perantau tanpa koneksi keluarga konglomerat bisa berdiri tegak di lantai tertinggi gedung pencakar langit ibu kota.

"Rhea, dipanggil Pak Broto ke ruangannya. Sekarang."

Suara sekretaris depan memecah deru pendingin ruangan dan bunyi ketukan keyboard yang monoton. Rhea mengangkat wajahnya, menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Dia merapikan kerah kemeja putih dan blazer abu-abu gelapnya. Sembari bangkit, senyum tipis tersungging di bibirnya yang sedikit pucat.

Dua hari lalu, ia berhasil memenangkan sengketa lahan bernilai puluhan miliar untuk klien kakap firma ini. Pikiran rasionalnya menduga bahwa panggilan mendadak dari sang partner senior ini adalah kabar baik yang telah ia nantikan berbulan-bulan promosi jabatan, atau setidaknya bonus akhir kuartal yang cukup untuk melunasi biaya operasi katarak ibunya di desa.

Namun, begitu telapak tangannya mendorong pintu kaca patri yang tebal, atmosfer dingin menusuk pori-pori kulitnya. Ruang kerja Pak Broto luas dan megah, beraroma tembakau mahal bercampur kayu jati antik. Di balik meja kerja mahoni yang berkilat, pria paruh baya berkacamata itu duduk bersandar, tampak enggan menatap langsung ke arah pintu.

Tepat di tengah meja, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal bersegel resmi.

"Duduk, Rhea," kata Pak Broto datar, suaranya terdengar hampa tanpa kehangatan yang biasanya ia tunjukkan saat firma merayakan kemenangan kasus.

Rhea duduk tegak di kursi kulit empuk di hadapan bosnya. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat, firasat buruk mendadak menyusup ke dasar hatinya.

"Selamat pagi, Pak. Ada yang perlu saya siapkan untuk berkas sidang hari Senin?"

Tanpa menjawab pertanyaan itu, Pak Broto menggeser amplop cokelat di atas meja hingga mendarat tepat di depan jari jemari Rhea.

"Firma sedang melakukan restrukturisasi besar-besaran, Rhea," ujar Pak Broto akhirnya, pandangannya dialihkan ke jendela besar yang menampilkan pemandangan jalan raya Jakarta dari lantai tiga puluh. "Kondisi finansial pasca merger kuartal lalu tidak stabil. Manajemen pusat memutuskan untuk memangkas tiga puluh persen karyawan di divisi litigasi. Dan nama kamu ada di urutan teratas daftar itu."

Dunia Rhea terasa runtuh dalam satu detik. Rongga dadanya mendadak hampa, seperti seluruh udara tersedot habis tanpa sisa. Telinganya berdenging panjang.

"Pak? Maksud Bapak apa?" Rhea memaksakan tawa kecil yang terdengar sumbang. "Restrukturisasi? Tapi saya baru saja memenangkan kasus keluarga Hadiningrat kemarin lusa. Saya memegang rekor jam lembur terbanyak di divisi ini selama dua tahun berturut-turut. Klien-klien besar selalu mencari saya…"

"Keputusan dewan direksi sudah final, Rhea," potong Pak Broto dingin, sama sekali tidak memberi celah untuk bantahan. "Ini bukan masalah kapabilitas personal. Ini murni kalkulasi bisnis. Kami butuh menekan beban operasional, dan kompensasi untuk tingkat pengalamanmu dinilai terlalu membebani kas divisi."

"Terlalu membebani?" Rhea mencondongkan tubuhnya ke depan, jemarinya meremas kuat tepi meja kayu hingga buku-buku jarinya memutih. "Saya dibayar murah dibanding associate lain yang masuk lewat jalur koneksi keluarga! Saya mengorbankan waktu tidur dan kesehatan saya demi nama baik firma ini, Pak!"

Pak Broto menarik napas panjang, tampak jengkel karena penolakan itu. Ia melirik arloji emas di pergelangan tangannya seolah waktu berbicara dengan Rhea adalah pemborosan yang tidak berguna.

"Amplop itu berisi surat pemutusan hubungan kerja dan rincian pesangon sesuai undang-undang ketenagakerjaan. Kamu diberikan waktu sampai pukul lima sore hari ini untuk mengosongkan meja dan mengembalikan kartu akses gedung pada bagian personalia. Setelah itu, sistem keamanan akan mencabut semua hak aksesmu."

Pak Broto berdiri, menandakan pembicaraan selesai. "Semoga sukses di tempat lain."

Tidak ada jabat tangan. Tidak ada tatapan penyesalan. Tidak ada ucapan terima kasih yang tulus atas ratusan malam tanpa tidur yang telah ia dedikasikan.

Empat tahun pengabdian tanpa cacat diselesaikan dalam percakapan lima menit, ditukar dengan selembar kertas bertanda tangan basah dan cek pesangon yang hitungannya bahkan tidak akan cukup untuk bertahan hidup lebih dari enam bulan di Jakarta dengan cicilan sewa kos serta kebutuhan ibunya.

Pukul setengah enam sore.

Rhea melangkah melewati pintu putar lobi gedung perkantoran mewah itu. Kedua tangannya mendekap erat sebuah kotak kardus cokelat berisi serpihan masa lalunya cangkir kopi keramik retak hadiah ulang tahun dari sahabatnya, tanaman kaktus mini yang mulai layu, tumpukan buku undang-undang saku, dan sebuah plakat kaca bertuliskan Associate of the Year dari dua tahun lalu yang kini terasa seperti ejekan paling menyakitkan dalam hidupnya.

Di dalam saku blazer basahnya, ponsel Rhea bergetar tiada henti. Nama Zora berkedip terang di layar. Rhea menelan ludah yang terasa sepahit empedu, menggeser tombol hijau dengan ujung jari yang dingin dan gemetar.

"Rhea! Ya ampun, lu di mana sih?" Suara cempreng dan ceria sahabatnya langsung memekakkan telinga. "Gue udah di restoran steak langganan kita nih! Gue sengaja pesen tempat paling pojok biar kita bisa ngerayain kemenangan kasus sengketa tanah lu itu. Cepetan ke sini, gue udah pesen minumannya juga!"

Mendengar suara hangat itu, pertahanan Rhea yang ia bangun sekuat tenaga sejak keluar dari ruangan Pak Broto akhirnya jebol. Air matanya merebak, membakar kelopak matanya yang perih.

"Zora..." bisik Rhea parau, suaranya tercekat di pangkal tenggorokan. "Gue di-PHK."

Di seberang panggilan, suara tawa dan riuh pengunjung restoran mendadak lenyap ditelan keheningan yang panjang.

"Lu... lu bercanda, kan?" nada suara Zora berubah drastis, panik dan bingung bercampur menjadi satu. "Nggak lucu, Rhea. Lu baru aja menangin kasus puluhan miliar dua hari lalu! Mana mungkin mereka mecat lu?!"

"Gue baru aja keluar dari lobi, bawa kardus barang-barang gue," ucap Rhea, suaranya bergetar hebat menahan isak tangis yang nyaris meledak.

"Rhea, lu tunggu di lobi! Jangan ke mana-mana! Hujan badai di luar, petirnya gede banget. Gue jalan jemput lu sekarang juga!"

"Nggak usah, Ra," potong Rhea cepat. "Gue pengen jalan kaki sebentar. Dada gue sesak banget, Ra. Gue butuh udara."

"Rhea, jangan gila! Lu mau pingsan di jalan?! Tunggu gue,"

Rhea menekan tombol merah, memutuskan sambungan sepihak. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, tidak memedulikan getaran susulan yang terus berulang dari panggilan Zora berikutnya. Rhea tidak ingin dikasihani. Ia juga tidak sanggup menatap wajah siapa pun saat ini. Hatinya terlalu remuk, terlalu mendidih oleh rasa marah dan ketidakadilan yang menampar akal sehatnya. Ia membiarkan kakinya melangkah keluar dari atap kanopi lobi, langsung diterpa guyuran air hujan yang dingin menusuk tulang.

Langkah kakinya yang lunglai membawanya ke persimpangan jalan protokol yang luar biasa padat. Lampu lalu lintas di seberang jalan berganti warna.

Suara klakson yang saling bersahutan, deru knalpot bus kota, dan gemuruh petir di langit menyatu menjadi satu dengungan pekak di telinganya. Rhea melangkah ragu ke atas garis putih zebra cross, mendekap kardusnya yang sudah mulai basah dan lembek.

Pikirannya melayang jauh, matanya kosong menatap aspal basah di depannya. Ia tidak menyadari bahwa di jalur paling kanan, sebuah mobil sedan hitam mewah bermerek eropa sedang melesat kencang membelah genangan air, sengaja memacu kecepatan tinggi demi menerobos detik-detik terakhir pergantian lampu kuning ke merah.

TIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNN!

Suara klakson panjang yang memekakkan telinga merobek tirai hujan tepat di samping kanannya. Rhea tersentak dari lamunannya. Ia menoleh perlahan ke arah datangnya suara. Dua lingkaran lampu sorot putih yang menyilaukan mata menerjang lurus tepat ke arah wajahnya dari jarak kurang dari tiga meter.

Tubuh Rhea membeku seketika. Otaknya memerintahkan untuk berlari, namun tubuhnya menolak bergerak seolah tertancap kokoh ke dalam aspal jalan.

Kardus di dekapannya terlepas. Berkas-berkas perkara compang-camping berhamburan ke udara, plakat kaca Associate of the Year meluncur jatuh dan hancur berkeping-keping di atas genangan air.

BRAAAAAAAAKKKKKKK!

Benturan logam yang mengerikan menghantam pinggul dan rusuk kanannya dengan kekuatan menghancurkan.

Tubuh Rhea terlempar ke udara, menghantam kap mobil sedan itu dengan keras sebelum kepalanya membentur kaca depan hingga retak. Sedetik kemudian, tubuhnya terlempar kembali ke depan, meluncur kasar di atas aspal jalanan yang basah dan terhempas berhenti di dekat trotoar jalan.

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!