NovelToon NovelToon
Putri Mafia

Putri Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Edina Gonçalves

Fernando Garcia Sanchez punya segalanya: kerajaan bisnis teknologi yang disegani, dan sebuah organisasi kriminal yang tumbuh jauh dari mata dunia. Yang tak ia punya hanyalah seseorang yang mencintainya tanpa peduli nama keluarganya.

Maka suatu malam, sang Don menyamar sebagai bartender di klub malamnya sendiri. Di tengah hujan deras, ia bahkan tak sanggup membuka sebuah payung, dan seorang gadis asing menyeberangi jalan hanya untuk menolongnya.

Carolina Gomes Santos, gadis Brasil yang merantau ke Madrid, tak menanyakan harta, pekerjaan, atau nama belakangnya. Ia hanya mengeringkan wajah pria itu dengan handuk kecil, lalu tersenyum.

Sejak malam itu, Fernando tak lagi bisa menyangkal bahwa ia telah jatuh. Namun pria yang ia kenal sebagai "Jorge" menyimpan kebohongan yang cepat atau lambat akan meledak. Dan Carolina sendiri, tanpa ia sadari, membawa rahasia yang jauh lebih besar dari kebohongan mana pun: sebuah masa lalu yang sengaja dihapus, dan mimpi-mimpi tentang ibunya yang terus memperingatkan bahwa hidupnya akan berubah drastis.

Ketika kebenaran terungkap satu per satu, cinta mereka diuji oleh pengkhianatan, musuh lama yang tak pernah berhenti mengintai, dan keputusan sulit antara kedamaian dan kekacauan.

Bisakah seorang pria yang terbiasa mengendalikan segalanya mempertahankan satu-satunya hal yang tak ingin ia kehilangan?

Dan apa jadinya jika wanita yang ia pilih ternyata bukan sekadar gadis kafe biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mobil Van

POV Carolina

Lama sekali aku mengira kebahagiaan itu hal sederhana, jenis yang datang perlahan dan menetap dalam hidup kita tanpa minta izin. Di samping Jorge, aku mulai memercayainya.

Aku bahagia.

Mungkin lebih bahagia daripada yang pernah kukira bisa kurasakan.

Aku makin mencintai Jorge setiap hari, dan perasaan itu tumbuh justru karena bersamanya aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku tak perlu berpura-pura punya hidup yang lain, tak perlu menyembunyikan mimpi atau kesulitanku, dan tak perlu cemas memikirkan apa yang akan ia pikirkan jika tahu aku tak punya keluarga kaya, nama keluarga terpandang, atau apa pun yang bisa mengesankannya. Bagiku, Jorge hanyalah Jorge, pria yang muncul di depan tempat kerjaku, membuatku tertawa saat aku lelah, memperhatikan hal-hal kecil, dan mengubah hari biasa menjadi sesuatu yang istimewa.

Tapi dalam beberapa minggu terakhir, ada yang berubah.

Jorge mulai membatalkan janji kencan di menit-menit terakhir, kadang menghilang dua atau tiga hari lalu muncul seolah tak ada apa-apa, selalu dengan alasan soal pekerjaan. Awalnya aku terganggu, tapi aku berusaha tak terlalu menuntut, karena aku tahu ia bekerja keras dan, seperti aku, punya tanggung jawab.

Aku terlalu menyayanginya untuk mengubah setiap ketidakhadiran menjadi pertengkaran.

Karena berpikir begitulah aku memutuskan membiarkan beberapa hal berlalu.

Sampai hari ketika Catarina dan aku diserang di depan perusahaan.

Aku masih ingat kekacauan itu dengan perasaan aneh di dada. Kami hanya dua karyawan yang hendak masuk kerja, tanpa musuh yang diketahui dan tanpa alasan jelas bagi siapa pun untuk menyerang kami seperti itu. Catarina dan aku melawan karena sudah belajar bela diri sejak di Brasil dan tak akan diam menunggu orang-orang itu berbuat sesuka hati pada kami.

Setelah semuanya usai, Miguel mencoba menjelaskan situasinya, tapi alasannya terdengar begitu lemah sampai aku yakin, selama beberapa detik, ia menyembunyikan sesuatu.

Siapa yang akan menyerang dua karyawan tanpa alasan?

Pertanyaan itu bertahan di kepalaku beberapa hari, tapi karena tak menemukan jawaban, aku memilih melepaskannya.

Pada masa itu aku juga menyadari hal lain.

Catarina berubah setiap kali menyangkut Santiago.

Sahabatku berusaha menyembunyikannya, tapi aku terlalu mengenalnya untuk tidak melihat cara matanya mencari Santiago setiap kali kami memasuki suatu tempat, atau bagaimana ia jadi lebih berhati-hati memilih kata ketika Santiago muncul.

Dan, anehnya, Santiago juga tampak tertarik padanya.

Aku geli melihatnya, apalagi Catarina selalu bilang ia tidak percaya hal-hal semacam cinta, tapi cukup Santiago muncul untuk membuatnya melupakan separuh keyakinannya sendiri.

Aku hanya bilang dia pantas menjalani cinta yang indah, seperti yang kupikir sedang kujalani bersama Jorge.

Saat itu aku belum tahu betapa salahnya aku tentang kehidupan yang ia jalani.

Ketika Jorge mengajak bertemu dan bilang ada yang perlu dibicarakan, aku merasakan sedikit cemas.

Aku tak tahu persis apa yang harus kuharapkan dari percakapan itu.

Restoran yang ia pilih pun membuatku tak nyaman begitu kami tiba. Tempatnya terlalu mewah untuk orang sepertiku, dan aku tak mengerti kenapa ia memilih tempat seperti itu untuk percakapan antara kami.

Kuamati sekeliling, berusaha menyembunyikan rasa tak nyamanku.

"Jorge, tempat ini mahal sekali."

Ia hanya menatapku beberapa detik.

"Harus di sini."

Saat itulah aku sadar ada yang tidak beres.

Percakapan itu dimulai dengan cara yang tak kuduga. Ia serius, jauh berbeda dari pria yang kukenal, dan aku punya kesan bahwa setiap kata yang ia tunda justru membuat hatiku makin sesak.

Lalu datanglah kebenaran.

Namanya bukan Jorge, melainkan Fernando.

Fernando Garcia Sanchez.

Presiden Vértice Technologies, atasanku.

Pria yang namanya muncul di berita dan majalah bisnis, meski ia jarang memberi wawancara atau tampil di depan umum.

Aku menatapnya tanpa bisa menemukan kata-kata.

Bukan sekadar karena ia kaya atau berkuasa. Yang menyakitkan adalah kebohongannya.

Kenapa ia tidak memberitahuku nama aslinya?

Kenapa ia harus menciptakan identitas untuk mendekatiku?

Kenapa aku harus mengetahui bahwa pria yang kucintai bukan siapa yang ia katakan?

Aku meninggalkan restoran itu dengan hati yang terluka dan kepala yang sepenuhnya kacau.

Aku harus pergi sebelum mengucapkan sesuatu yang kelak kusesali.

Tapi aku tak sampai jauh.

Ketika hendak memanggil taksi, dua pria muncul.

Semuanya terjadi terlalu cepat.

Satu mencengkeram lenganku, sementara yang lain mendorongku kuat-kuat ke dalam van. Aku mencoba melawan, tapi aku kalah cepat dari mereka, dan sebelum sempat berpikir, aku sudah berada di dalam.

Jantungku berpacu.

Aku tak tahu siapa orang-orang itu, tak tahu ke mana mereka membawaku, dan saat itu yang bisa kupikirkan hanya bahwa hidupku telah berubah menjadi kekacauan yang tak kumengerti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!