NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 : Dua Dunia Yang Berbeda

    Pancaran sinar matahari pagi menembus celah tirai jendela kamar yang terbuka separuh, menyambut hari baru dengan kehangatan yang enggan dirasakan oleh pemilik ruangan. Suara dering alarm berpadu dengan kicauan burung terdengar dari luar.

Di atas kasur Queen Size dengan springbed berwarna cokelat muda itu terdapat seorang gadis yang meringkuk di balik selimut, ia hanya bergerak sedikit untuk mengeratkan kembali pelukannya pada guling.

Tidak lama dari itu suara ketukan pintu terdengar monoton dari luar pintu kamar disusul dengan suara dering alarm yang kembali menyala.

"Kia, bangun sayang. Udah jam segini, takut kamu kesiangan berangkat ke sekolahnya,"

Gadis yang dipanggil 'Kia' itu mengucek kedua matanya dengan malas sembari menguap lebar.

​"Kiara!" Suara ketukan berganti menjadi nada panggilan tegas.

​Kiara mendesah berat, ia meregangkan kedua lengannya seraya mematikan bunyi alarm yang menganggu. Sambil menggaruk lehernya yang gatal, ia menyibakkan selimut, melangkah gontai, lalu memutar kunci pintu.

​Riana—sang Mama—berdiri kaku di ambang pintu dengan pakaian kerja yang sudah rapi tanpa celah. Tatapannya menyapu penampilan Kiara dari ujung rambut sampai kaki.

​"Masih jetlag ya? Tapi ini udah mau jam enam," gumam Riana pelan. "Sana cepat mandi. Seragam barunya udah selesai di laundry sama Bi Yanti, kemarin digantung di lemari. Perlengkapan sekolah buat dibawa juga udah lengkap?"

​"Udah, Ma," jawab Kiara pendek, suaranya serak.

​"Bagus. Cepat mandi, lalu turun. Papa baru pulang semalam, jadi pagi ini kita sarapan bersama." Riana merapikan kerah bajunya sendiri, membetulkan letak jam tangannya, lalu berbalik setelah mengusap pelan lengan anak gadisnya. "Jangan buat Papa nunggu."

​Pintu kamar memutar pelan lalu tertutup. Kiara berdiri mematung beberapa detik di ruang remang itu. Senyum tipis yang getir terukir di bibirnya. Sarapan bersama, sebuah kalimat yang bukannya terdengar hangat, justru terasa seperti instruksi rapat.

...​ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

    ​Suasana di meja makan terasa seakan diselimuti es tebal. Pemandangan pertama yang menyambut Kiara adalah Dani—Papanya—yang duduk tegak di ujung meja dengan mata tertuju pada layar tablet. Di sebelahnya, Riana sibuk mengolesi roti dengan gerakan terukur. Tak ada musik, tak ada obrolan santai, hanya suara denting sendok dan desis halus mesin kopi.

​"Pagi, Pa. Pagi, Ma," ucap Kiara pelan sambil menarik kursi di depan Mamanya.

​Dani hanya berdehem pelan tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. Sedangkan Riana balas menyapa dengan gumaman.

​"Nanti begitu sampai di sekolah baru, kamu langsung menuju ruang Kepala Sekolah," ujar Dani tiba-tiba dengan suara berat dan dominan. "Papa sudah mengatur semuanya dengan pihak yayasan. Jangan membuat masalah, fokus belajar. Papa tidak mau mendengar ada laporan miring yang mengganggu."

​Kiara memegang pinggiran piringnya erat-erat. "Iya, Pa. Lagian Kiara kan memang sudah terbiasa jadi anak baru."

​Riana menghentikan gerakan pisau rotinya sejenak, menatap Kiara dengan kening berkerut. "Kia, Papa hanya mengingatkan."

​"Aku cuma jawab, Ma."

​"Jawabanmu terdengar nggak sopan," potong Dani dingin sambil mematikan layar tabletnya dan menatap Kiara lurus-lurus. "Kami memindahkan kamu ke sekolah terbaik di kota ini. Manfaatkan fasilitas itu dengan baik."

​Hening mendadak mencekam. Kiara menunduk dalam-dalam, menggigit bibir bawahnya seraya menerima uluran sepotong roti berselai dari Mamanya.

Tidak ada hangatnya rasa selai itu; yang tersisa di tenggorokannya hanyalah rasa pahit dari canggung yang menekan dada.

​Dani berdiri, merapikan Jas-nya yang licin. "Papa berangkat sekarang. Ada meeting penting jam delapan." Pria itu melangkah pergi begitu saja tanpa pamit secara personal pada anak maupun istrinya.

​Riana meneguk air putihnya, lalu menyusul berdiri. "Mama juga berangkat ya, Kia. Bilang ke Mang Ujang di depan, bawa mobilnya pelan-pelan. Have a nice day." ​Senyuman tipis menghiasi wajah Riana dengan mengusap rambut Kiara sejenak sebelum langkah kakinya menggema menjauhi meja makan. Langkah kaki yang disusul oleh derum mesin mobil yang perlahan menjauh.

​Kiara memandang dua piring kosong di seberangnya. Beginilah kehidupan Kiara Zefanya—sepi, hampa, dan serba canggung.

Memiliki orang tua lengkap tak pernah menjamin adanya pelukan hangat. Rumah bagi Kiara tak lebih dari sekadar persinggahan tiga orang asing yang kebetulan memiliki nama belakang dan alamat yang sama.

​Usai mencuci piring bekas makannya sendiri, Kiara menyampirkan tas ransel di bahu. "Sekolah baru..." gumamnya lirik pada cermin di lorong rumah. "Semoga di sana lebih baik, dan sepi ini nggak semakin mencekik."

...​ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

    ​Sementara itu, di kompleks lain, suasana sebuah rumah sederhana justru sudah ramai sejak jam enam pagi. Suara piring beradu dengan omelan bernada tinggi menggema hingga ke halaman depan.

​"Khafi Mahendra! Kalau kamu berani sentuh kunci motor itu sebelum sarapan kamu habis, Mama rantai kamu di tiang jemuran!"

​Di meja makan, pemuda jangkung bernama 'Khafi' yang baru saja mengulurkan tangan ke arah kunci motor langsung menarik jarinya kembali seraya menggaruk alisnya yang tidak gatal.

​"Ma, ampun Ma! Ini kan cuma mau mindahin kunci ke dalam saku, biar nggak ketinggalan," ringis Khafi sambil menggelengkan kepalanya pelan.

​Sang Mama—yang bernama Siska—datang dari arah dapur membawa semangkuk besar nasi goreng hangat, lalu menaruhnya keras-keras di atas meja.

Brak!

​"Enggak usah banyak alasan kamu. Emaknya Ferdi semalam telepon Mama jam sebelas malam! Katanya kamu sama anak-anak kompleks sini kumpul di jalan sepi dekat komplek enam. Suara knalpot motornya itu gerung-gerung kayak macan kesurupan!"

​Papa Khafi—Hendra—yang sedang santai membaca koran sambil menyesap kopi hitamnya mendadak terkekeh pelan dari balik kertas koran.

​"Pa! Malah ketawa!" melotot lah Siska ke arah suaminya. "Anaknya dibelain terus. Nanti kalau ditangkap polisi karena balapan liar gimana?!"

​Hendra menurunkan korannya perlahan, menatap istrinya dengan pandangan jahil. "Ya tinggal ditukar tambah sama anak tetangga, Ma. Beres, kan?"

​"Papa!" Siska menepuk bahu suaminya gemas dengan serbet dapur.

​Khafi yang sedang mengunyah nasi goreng kecapnya langsung tersedak karena tertawa.

"Pa, parah banget aku mau ditukar tambah! Ma, sumpah demi apapun, semalam tuh Khafi sama anak-anak nggak ada balapan. Cuma nyobain karburator motor si Jaka yang baru di modif sama dia. Masa nyobain motor doang dibilang balapan?"

​"Alesan! Suara gerung-gerungnya itu lho yang bikin Mama ditelpon semalaman." Siska berkacak pinggang, menatap anak tunggalnya itu dari atas ke bawah. "Kamu itu udah mau kelas dua belas, Khafi. Belajar yang bener! Jangan cuma taunya bongkar mesin, main, sama bikin Mama senam jantung tiap hari!"

​"Ya ampun, Ma..." Khafi meneguk air putihnya sampai kandas, lalu bangkit dan mendekati Mamanya. "Marahnya Mama itu kan vitamin pagi buat Khafi. Kalau sehari aja nggak ngomel, Khafi malah khawatir Mama lagi sariawan."

​"Khafi Mahendra!" Siska pura-pura mengangkat tangannya hendak menggeplak, tapi Khafi dengan cepat menyambar tangan ibunya lalu menciumnya bolak-balik dengan penuh kehebohan.

​"Pamit sekolah ya, Mama Cantik yang bawelnya sepenjuru dunia. Pamit juga Pa!"pekik Khafi seraya menyambar kunci motor dan berlari terbirit-birit ke luar pintu.

​"KHAFI!" teriak Siska dari depan pintu, namun bibirnya tak bisa menahan senyum geli melihat tingkah polah anak tunggalnya itu.

Dari dalam rumah, Hendra terkekeh menyaksikan drama pagi istri dan anaknya ini. Ia juga mulai bersiap untuk berangkat kerja.

​Di atas motornya, Khafi Mahendra memasang helm dengan tawa geli yang terpatri di wajahnya. Begitulah kehidupannya—penuh omelan, riuh, dan penuh kehangatan yang tak pernah habis.  

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!