NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:563
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Bangku Pertama di Kelas Baru

Saat guru baru saja hendak menutup pintu kelas dan menyapa murid-muridnya, pintu itu kembali terbuka lebar dengan suara berderit keras. Semua mata seketika beralih ke arah pintu. Di sana berdiri seorang perempuan dengan seragam yang tidak dipakai sesuai aturan—kemeja dimasukkan sebagian, rok dilipat menjadi lebih pendek dari yang lain, rambut panjangnya dihiasi jepit rambut berkilauan yang tidak diizinkan sekolah. Ia berjalan masuk dengan langkah santai, kepala sedikit mendongak ke atas seolah tidak ada satu pun di ruangan ini yang setara dengannya. Tidak ada kata maaf, tidak ada sapaan sopan kepada guru.

Itu Laras. Rara langsung mengenali wajah itu sekilas—salah satu murid yang dulu di SMP selalu berbuat seenaknya, suka menyuruh teman lain seolah pelayan, dan selalu merasa segala sesuatu bisa diatur hanya karena orang tuanya pejabat tinggi. Kebiasaan buruknya dulu memang sulit diubah, dan tampaknya sampai sekarang ia masih berpikir begitu.

Laras melirik sekilas ke seluruh ruangan, lalu berjalan menuju bangku di baris depan Rara dan Aisyah. Tanpa bicara apa-apa, ia menepuk bahu teman yang sudah duduk di sana. "Pindah sana, aku mau duduk di sini," ucapnya datar, seolah itu adalah hak mutlaknya. Murid yang ditegur itu tampak bingung dan ragu, tapi Laras sudah meletakkan tas bermereknya di atas meja seolah memastikan tempat itu miliknya. Akhirnya murid itu menunduk dan pindah ke bangku lain yang masih kosong.

Rara mengerutkan kening dalam-dalam, tangannya mengepal erat di bawah meja. Hatinya rasanya panas melihat tingkah itu. Padahal baru pertama kali masuk sekolah, belum kenal siapa-siapa, tapi sudah bertingkah seolah menguasai seluruh kelas. Ia mendengus pelan, suaranya cukup terdengar jelas oleh Aisyah di sebelahnya.

Aisyah hanya diam, menatap sekilas ke arah Laras lalu kembali menunduk menata buku catatannya, tidak ikut berkomentar atau menambah keributan. Namun Rara sadar, mungkin Aisyah menganggapnya terlalu cepat menilai orang, atau malah merasa terganggu dengan sikapnya yang begitu terbuka. Rara menoleh perlahan, wajahnya penuh penyesalan.

"Maaf banget ya... aku emang responnya kayak begitu kalau ada orang yang tidak aku sukai," ucapnya pelan sekali, hampir berbisik. "Aku tahu ini baru pertama kali ketemu, rasanya kayak langsung ilfil banget lihat tingkahnya. Tapi ya sudahlah, namanya juga respons secara spontan, aku nggak bisa pura-pura senang kalau hatinya nggak begitu."

Aisyah berhenti menulis, lalu menatap Rara dengan senyum lembut dan tenang. "Nggak apa-apa kok, Rara. Perasaanmu itu wajar sekali. Setiap orang punya kenyamanan dan batasannya masing-masing. Kamu nggak perlu memaksakan diri untuk menyukai atau tersenyum pada orang yang tingkahnya memang kurang tepat. Yang penting kita tetap sopan dan nggak cari masalah duluan, itu saja sudah cukup."

Mendengar itu, dada Rara terasa lega seolah beban berat terangkat. Ia takut Aisyah menganggapnya kasar atau terlalu cepat menghakimi, tapi ternyata teman barunya ini begitu pengertian. "Terima kasih ya sudah mengerti," ucap Rara tersenyum tulus. "Aku cuma nggak suka orang yang merasa paling hebat dan meremehkan orang lain begitu saja. Semua orang itu sama di mata Tuhan kan?"

"Betul sekali," jawab Aisyah sambil mengangguk. "Nilai seseorang bukan dari jabatan orang tuanya atau harta yang dimilikinya, tapi dari tingkah lakunya dan bagaimana ia memperlakukan orang lain."

Pelajaran pun akhirnya dimulai. Namun belum berlangsung lama, Laras di depan mulai berisik. Ia berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya, membuka ponsel diam-diam, bahkan sesekali tertawa keras hingga membuat guru berhenti bicara dan menatapnya tajam.

"Laras, tolong perhatikan pelajaran, jangan berisik," tegur guru dengan nada tegas.

Laras hanya menoleh sebentar, menyunggingkan senyum sinis. "Maaf Pak, ini penting kok," jawabnya seenaknya, lalu kembali berbuat seperti semula. Rara menggelengkan kepala tak percaya. Dulu di SMP pun ia selalu begitu, merasa teguran guru tidak berlaku untuknya karena orang tuanya bisa menyelesaikan semuanya.

Jam istirahat pun tiba. Rara dan Aisyah berjalan beriringan menuju kantin, bercerita tentang hal-hal ringan sambil tertawa kecil. Belum sampai di sana, mereka melihat Laras sedang berdiri di dekat kolong pohon, sedang menyuruh seorang murid lain mengambilkan minum untuknya. "Cepatlah, aku capek berdiri di sini," ucap Laras sambil menyilangkan tangan di dada. Murid itu tampak ragu tapi akhirnya menurut saja.

Rara hendak melangkah mendekat untuk menegur, tapi Aisyah menahan lengannya pelan. "Biarkan saja dulu ya, Rara. Nanti kita yang terlihat cari masalah. Percayalah, perbuatan seperti itu lama-lama pasti akan terlihat siapa yang salah," bisik Aisyah lembut. Rara menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. Ia tahu Aisyah benar, tapi rasanya tidak enak melihat orang lain diperlakukan seperti itu.

Siang harinya saat jam pelajaran kosong, beberapa murid mulai berkenalan satu sama lain. Ternyata Laras mulai bercerita dengan suara yang cukup keras agar semua mendengar. "Ayahku kan kenal baik dengan kepala sekolah dan guru-guru di sini, jadi kalau ada apa-apa tinggal bilang saja sama aku. Nanti pasti beres kok," ucapnya sambil tersenyum bangga. Beberapa murid hanya diam, ada yang terlihat terkesan, tapi banyak juga yang hanya tersenyum kecut.

Rara hanya memutar bola matanya malas tanpa berniat menanggapi. Ia menoleh ke Aisyah yang sedang membaca buku. "Kamu nggak heran ya dengernya?" tanyanya pelan.

Aisyah menutup bukunya perlahan. "Aku cuma berharap dia sadar lebih cepat. Kekuasaan dan jabatan orang tua itu bukan untuk disombongkan atau dijadikan alasan berbuat semaunya, tapi justru harusnya lebih bisa menjaga sikap dan memberi contoh baik. Kalau terus begitu, lama-lama dia yang akan rugi sendiri. Orang lain mungkin takut karena orang tuanya, tapi bukan berarti mereka menghargai dirinya," ucapnya dengan bijak.

Rara mengangguk setuju. "Betul. Aku lebih suka dihargai karena apa yang aku lakukan, bukan karena siapa orang tuaku. Seperti kamu, meski sederhana, tapi aku merasa nyaman dan menghargaimu banget karena kamu tulus dan baik hati."

Aisyah tersipu malu mendengar pujian itu. "Kamu juga begitu kok, Rara. Kamu berani jujur pada perasaanmu, itu hal yang jarang dimiliki orang lain. Asal kita saling menjaga satu sama lain, kita pasti bisa melewati hari-hari di sini dengan baik."

Hari demi hari berlalu. Rara dan Aisyah semakin akrab, selalu bersama dari berangkat sampai pulang sekolah, saling membantu saat kesulitan pelajaran, dan saling menguatkan saat ada masalah. Sebaliknya, Laras perlahan mulai kesepian. Teman-teman yang dulu mendekat karena takut orang tuanya, lama-lama menjauh karena tidak tahan dengan sikapnya yang suka menyuruh dan merasa paling benar.

Suatu hari, saat ada tugas kelompok, tidak ada satu pun yang mau satu kelompok dengan Laras. Ia duduk sendirian di bangkunya, wajahnya merah padam menahan malu dan marah. Rara melihat itu, hatinya sempat merasa kasihan meski masih ingat tingkah Laras.

"Kita tawarkan saja masuk ke kelompok kita ya?" bisik Rara pada Aisyah. "Mungkin dia cuma belum terbiasa, kalau dia mau berubah kan nggak apa-apa."

Aisyah tersenyum bangga melihat kebaikan hati Rara. "Ayo saja. Mungkin ini cara terbaik untuk menyadarkannya."

Mereka berdua berjalan mendekati Laras. "Hei, Laras. Kalau kamu belum punya kelompok, boleh gabung sama kami kok," ucap Rara dengan nada tulus, tanpa kepura-puraan.

Laras menatap mereka berdua dengan mata terbelalak, tak percaya ada yang mau mengajaknya bergabung. Perlahan air matanya menetes. "Kenapa... kenapa kalian masih mau sama gue? Gue tahu aku jahat sama kalian," ucapnya terisak.

"Karena kita semua masih sama-sama belajar menjadi lebih baik," jawab Aisyah lembut. "Kamu bisa berubah kok, Laras. Mulai sekarang cobalah bersikap sopan dan menghargai orang lain, pasti semua akan menyukaimu apa adanya."

Laras mengangguk pelan, menghapus air matanya. Hari itu menjadi awal yang baru bagi mereka berempat. Di bangku pertama di pojok ruangan itu, bukan hanya persahabatan Rara dan Aisyah yang tumbuh, tapi juga benih perubahan dan kebaikan yang menyebar ke seluruh kelas.

Rara menatap ke arah jendela, melihat langit yang cerah. Ia bersyukur sekali keinginannya dulu terwujud, dan bahkan lebih dari itu—ia tidak hanya mendapatkan teman yang baik, tapi juga belajar bahwa kebaikan dan kesabaran bisa menyentuh hati siapa pun, sekeras apa pun tembok yang mereka bangun di dalam diri.

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!