“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
semua tidak semudah yang mereka kira
Pertama Ia memberi pelajaran kepada Rian karena sudah berani bermain di belakangnya dengan membantu Celin selama ini. Kedua Ia berhasil menciptakan musuh baru untuk Celin.
"Lo denger itu? Pengkhianat. Kata yang cocok buat lo," bisik Reja dengan nada yang terdengar seperti melodi kemenangan di telinga Celin.
Reja bangkit berdiri, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Rian yang masih dikuasai amarah. "Sabar, Ri. Dunia emang keras. Lagian, lo sendiri yang bilang kan kalau dia itu pinter? Harusnya lo nggak kaget kalau dia bisa nerkam lo kapan aja demi posisi aman."
Reja menepuk bahu Rian dengan kasar, seolah-olah sedang menghibur, padahal ia sedang menaburkan garam di atas luka. Ia sangat senang membayangkan apa yang akan terjadi di sekolah besok.
Celin tidak akan lagi mendapatkan bantuan diam-diam dari Rian. Sebaliknya, Rian pasti akan menjadi orang pertama yang akan menghina dan menyulitkan Celin.
"Gue tunggu drama kalian di sekolah besok," ucap Reja sambil tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat jahat.
Ia kemudian berbalik menatap Celin yang masih terpaku. "Kerja bagus, Sayang. Lo baru aja dapet musuh baru yang paling tau kelemahan lo. Selamat menikmati neraka baru lo di sekolah."
Reja melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan siulan ringan, merasa sangat hebat karena telah berhasil mengadu domba dua otak terpintar di sekolahnya.
Sementara itu, Rian menatap Celin sekali lagi dengan tatapan penuh dendam sebelum akhirnya melangkah pergi dengan langkah yang menghentak keras.
Celin kini sendirian di tengah kemewahan yang terasa hampa. Ia menyadari bahwa uang dari Reja dan pujian dari Adrian harus dibayar dengan harga yang sangat mahal—ia baru saja kehilangan sekutu terakhirnya, dan besok, ia akan menghadapi kebencian dari satu-satunya orang yang pernah memahami dunianya.
Celin kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Ia menutup pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, membasahi kain kasa di tangannya.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dengan kasar. Celin segera menghapus air matanya dan membuka pintu. Reja berdiri di sana, melempar sebuah kartu ATM hitam ke atas tempat tidur.
"Ini buat bokap lo. Isinya lebih dari cukup buat bayar utang judinya sebulan ini," ucap Reja dengan wajah tanpa beban. "Anggap aja komisi karena lo udah bikin pertunjukan yang luar biasa tadi."
Celin mengambil kartu itu dengan tangan gemetar. "Lo puas, Reja? Lo puas bikin gue nggak punya siapa-siapa lagi?"
Reja tertawa, senyum nakal itu kembali menghiasi wajahnya. Ia maju selangkah, masuk ke dalam ruang pribadi Celin. "Gue cuma mau lo sadar, Celin. Di dunia ini, satu-satunya orang yang punya lo itu gue. Bukan Rian, bukan Kirei. Cuma gue. Sekarang, nggak akan ada lagi cokelat atau obat luka rahasia di meja lo. Besok, gue pengen liat gimana muka partner olimpiade kesayangan lo itu berubah jadi orang yang paling benci sama lo."
Pagi itu, Celin turun dari mobil Reja dengan perasaan seperti menuju tiang gantungan. Reja sengaja memarkir mobilnya tepat di depan gerbang, menunggu drama dimulai.
Saat Celin berjalan melewati koridor, ia melihat Rian sedang berdiri bersama geng Reja. Pemandangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Begitu melihat Celin, Rian tidak lagi membuang muka. Ia menatap Celin dengan sorot mata penuh kebencian.
"Eh, liat tuh," suara Rian terdengar lantang, memecah keramaian koridor. "Si jenius yang ternyata bermuka dua udah datang."
Beberapa siswa berhenti melangkah. Mereka bingung melihat Rian yang biasanya pendiam dan sopan kini berbicara dengan nada merendahkan.
"Kenapa, Li? Butuh bantuan kerjain soal lagi? Atau mau cari korban baru buat lo jual ke keluarga Bagaskara?" lanjut Rian dengan tawa sinis yang dipaksakan.
Reja yang berdiri tak jauh dari sana, bersandar di dinding sambil bersedekap, menikmati setiap detik penghinaan itu. Ia melirik Celin, memberikan tatapan yang seolah berkata,
"Welcome to the real hell, Celin."
Celin berhenti tepat di depan Rian. Ia tidak menunduk. Meski hatinya hancur, ia ingat bahwa ia sudah memegang kartu ATM dari Reja dan pujian dari Adrian. Ia sudah masuk terlalu dalam ke permainan ini, tidak ada jalan untuk kembali.
"Kalau menghina gue bikin lo merasa lebih baik atas kegagalan bokap lo jaga perusahaan, silakan, Ri," ucap Celin dingin, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar.
"Tapi jangan lupa, di olimpiade kita diajarin buat liat data, bukan pake perasaan. Data bokap lo merah, dan itu bukan salah gue."
Wajah Rian mengeras. Suasana koridor yang tadinya bising oleh bisik-bisik seketika berubah menjadi senyap yang mencekam.
Plaaakkk!
Suara tamparan itu begitu keras, mengge ma di antara dinding-dinding lorong sekolah. Kepala Celin terhentak ke samping, rambutnya menutupi sebagian wajahnya yang kini mulai memerah panas.
Sudut bibirnya terasa perih, dan denyut di pipinya seakan seirama dengan detak jantungnya yang seolah berhenti sesaat.
Kirei yang berdiri tak jauh di sana menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak horor.
"Rian! Lo gila?!" teriaknya dengan suara gemetar, hampir tidak mengenali sosok Rian yang selama ini dikenal sebagai pria paling lembut dan penyabar.
Semua siswa yang menyaksikan kejadian itu mematung. Teman-teman geng Reja—Deo, Kateo, dan yang lainnya—saling lirik dengan wajah bingung sekaligus syok.
Selama ini, mereka tahu Rian hanyalah pengikut Reja yang pendiam. Melihat Rian melakukan kontak fisik kasar kepada seorang perempuan, apalagi kepada Celin, adalah pemandangan yang tidak pernah terbayangkan.
"Ada apa sih mereka? Kok Rian sampai main tangan?" bisik salah satu siswa di kerumunan.
Reja, yang awalnya hanya ingin menikmati drama kecil, sempat tertegun sesaat melihat aksi nekat Rian. Ia tidak menyangka Rian akan senekat itu di depan umum. Namun, keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik.
Reja perlahan melangkah maju, tangannya masih berada di saku celana. Alih-alih membela Celin atau menghajar Rian karena telah menyentuh istrinya, Reja justru berhenti tepat di samping mereka. Sebuah smirk lebar dan tajam tersungkur di wajahnya.
Reja menatap Rian yang masih gemetar karena amarah dan mungkin sedikit penyesalan, lalu beralih menatap Celin yang masih mematung memegangi pipinya.
"Wah, Ri... Gue nggak tau lo punya sisi liar kayak gini," ucap Reja dengan nada santai yang mematikan. "Lo denger itu, Li? Itu suara harga diri partner olimpiade lo yang baru aja lo hancurin berkeping-keping."
Reja tidak menolong Celin. Ia justru berdiri di antara keduanya, menikmati ketegangan yang ia ciptakan sendiri.
Baginya, ini adalah mahakarya. Rian sekarang bukan hanya membenci Celin, tapi sudah melakukan tindakan yang akan membuat Rian tidak mungkin bisa kembali berteman dengan gadis itu.
Bersambung....