'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Kel. Alena & Nelson
...~•Happy Reading•~...
Hana seperti gunung merapi yang mengeluarkan lava panas, ingat Alena hidup sendiri tanpa perlu berhati-hati menjaga perasaan Tante atau Om. Harus bekerja keras, bangun lebih pagi dan tidur setelah Keluarga Tante masuk kamar.
"Tunggu saja !" Hana balik mengancam, karena dia membutuhkan uangnya.
"Tinggal enak di tempat kost sendiri. Tidak perlu bekerja keras, bangun, tidur sesukanya, masih mau ambil bagian kami yang harus bekerja keras sebelum pergi kuliah."
"Lekas transfer sekarang, atau aku minta Kak Sanders pergi ambil." Ancam Hana yang sudah tidak bisa kendalikan emosinya.
"Apa gak dengar, aku bilang mau transfer? Nyinyir dari tadi seperti nenek-nenek." Alena makin emosi diomelin kakaknya.
"Tidak tahu diri, bergaya seperti anak gedongan. Tapi catut sana, catut sini, uang saudara sendiri." Hana mematikan telpon dan duduk terhenyak dengan nafas memburu.
Dia sudah tidak tahan dan habis kesabaran lihat gaya hidup adiknya seperti anak orang kaya, berfoya-foya. Tetapi mereka berdua harus ikat pinggang, mengatur uang yang diberikan orang tuanya untuk keperluan mereka berdua.
'Bagaimana kuliahku bisa lekas selesai, kalau kuliah bolong-bolong? Bagaimana bisa minta transport sama Tante dan Om? Kami akan seperti anak yatim piatu, padahal orang tua kami ASN.' Hana membatin dengan hati sedih, karena penghasilan orang tuanya lebih besar dari Tante dan Omnya. Apa lagi anak Tantenya masih ada yang kuliah.
"Ada apa? Mengapa duduk di situ?" Tanya Sanders yang baru pulang dari kegiatan pemuda dan melihat Hana duduk sendiri di teras.
"Lagi ingat Mama Papa di kampung, Kak. Sebentar lagi musim durian. Jadi kepingin pulang kampung." Hana tidak menceritakan pertengkarannya dengan Alena. Dia khawatir Sanders akan menemui Alena dan bertindak kasar padanya.
~•~
Di sisi lain ; Alena menggerutu berulang kali, mengetahui Hana telah mematikan telpon. 'Dasar menyebalkan.'
Dia berjalan mondar mandir dalam kamar kost sambil berpikir untuk peroleh uang dalam waktu cepat. Karena uangnya tidak cukup untuk ditransfer kepada Hana.
Dia khawatir terjadi keributan, kalau Sanders datang ambil uang di tempat kost atau kampus. Hal itu akan menjadi tranding topic di kampus dan makin ditumis oleh pihak-pihak yang tidak suka bahkan membencinya dan kehidupan pribadinya akan terekspos.
'Siapa yang bisa dimintai tolong?' Alena terus berpikir. Di saat panik, dia ingat teman-temannya. 'Hanya mereka.' Alena mengabaikan Danna dan Darcy, lalu segera telpon Arni.
"Arni, tolong pinjam uang buat aku, ya. Keluargaku ada yang kena musibah..." Alena memberikan alasan yang bisa menggugah hati Arni dan menyebut angka yang dia butuhkan.
"Alena, aku ada pegang uang, tapi itu buat keperluan kuliah. Orang tuaku lagi tidak di sini..." Arni ragu-ragu untuk meminjam, karena uang yang diberikan orang tuanya untuk kebutuhan kuliahnya selama sebulan.
"Pinjam dulu buat aku, ya. Besok sore aku kembalikan." Alena merayu dan juga mendesak, karena dia tidak mau Papanya ikut memarahi.
"Benar, besok sore?" Arni bertanya untuk meyakinkan.
"Iya, besok sore." Alena meyakinkan sambil menahan kesal, harus pinjam uang dari Arni. Kalau sama Danna, dia tidak perlu menjelaskan rinci tentang keperluannya.
Setelah Arni transfer, Alena segera transfer ke Hana. 'Besok pagi aku harus bicara dengan Papa, agar bisa mengembalikan uang Arni.' Alena membatin.
Dia mulai memikirkan cara dan alasan yang tepat untuk minta uang dari Papanya saat tiba di kantor. Agar tidak diketahui Mamanya.
Sebelum menemukan alasan yang tepat untuk merayu Papanya, tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi. Ketika melihat nama Mamanya, emosi Alena yang belum surut, kembali memuncak. "Apa lagi, Mamaaa..." Teriak Alena.
"Kau naikan suara sama Mama? Sudah transfer belum?" Tanya Mama Alena dengan suara lebih tinggi.
"Sudah. Apa Hana gak lapor?" Alena menjawab dan juga balik bertanya dengan nada kesal.
"Kau yang Mama minta lapor, kalau sudah transfer. Kenapa harus Hana?" Mama Alena jadi emosi.
"Aku sedang capek, Ma. Mau istirahat." Suara Alena melandai saat mendengar suara Papanya sayup-sayup dari jauh mendekat.
"Kalau gak percaya, cek saja sendiri sama Hana. Aku mau istirahat." Ucap Alena segera mematikan telpon, sebelum ketahuan Papanya.
'Mengapa hari ini sangat tidak sesuai prediksi? Semuanya sangat menyebalkan.' Alena mengnonaktifkan ponsel lalu masuk ke kamar mandi.
~•~
Di tempat lain ; Bu Weny yang sudah selesai membersihkan peralatan makan, lalu berjalan cepat mendekati Pak Esra yang sedang menunggu sambil menonton.
"Begini, Pa. Nel mau minta dukungan doa dari Kakeknya, karna dia mau ujian skripsi dua minggu akan datang." Ucap Bu Weny setelah duduk di samping suaminya.
"Jadi yang dia bilang mau selesaikan kuliahnya tahun ini, benar." Pak Esra senang. "Semoga dia pikirkan juga, dia harus sukses sebagai anak laki-laki satu-satunya..." Pak Esra berharap.
"Selain itu, pikirannya sedang bercabang karna ada gadis-gadis yang menggaggu konsentrasinya. Jadi dia mau menyepi di tempat Kakek sebelum..." Bu Weny menceritakan yang dikatakan Nelson tentang para gadis.
"Para gadis? Bagus'lah kalau dia mulai terganggu dengan para gadis." Pak Esra tersenyum, senang.
"Maksudnya apa, Pa?" Dahi Bu Weny berkerut.
"Aku heran, selama kuliah dia gak menunjukan mulai tertarik sama wanita. Aku jadi berpikir dia agak berbeda, seperti yang dikuatirkan, gak lazim..." Pak Esra tidak melanjutkan.
"Astaga, Papaaa... Anak kita normal. Lelaki tulen. Dia cuma gak mau kecewakan Papa. Jadi fokus selesaikan kuliah, baru pacaran. Aku justru khawatir dia menyukai gadis yang kurang baik."
"Papa tahu sendiri sifatnya, kalau suka seseorang, gak berpikir negatif tentang orang itu. Semoga dia bisa selektif memilih gadis untuk dipacari seperti memilih temannya, Angga dan Monce."
"Supaya kelak, dia gak sering ke gunung, karna menghindari ribut dengan pacar atau istrinya." Bu Weny serius berharap.
"Ya, itu juga. Tapi mengapa mereka tiba-tiba mengganggu dia hari ini? Mengapa gak dari kemarin-kemarin mereka bikin gatal hatinya?" Pak Esra tersentak dan heran.
"Aku gak pikirkan itu, Pa. Apa mungkin belakangan ini dia jarang ke kampus, jadi gak ketemu?" Bu Weny tersadar atas apa yang terjadi dengan Nelson. "Atau ada yang sengaja mengganggu konsentrasinya sebelum ujian skripsi?" Bu Weny jadi curiga dan memandang suaminya.
"Bisa jadi begitu juga. Kita harus lebih tekun berdoa buat rencananya." Pak Esra jadi serius berpikir akan wanita yang tiba-tiba mendekati Nelson.
"Iya, Pa. Dia berjuang di tempat Kakeknya untuk bisa konsentrasi, kita bantu berdoa dari sini. Semoga dia dijauhkan dari segala rencana jahat orang." Bu Weny menatap Pak Esra sambil berpikir yang sedang dialami putra mereka.
"Iya. Kita harus kuat berdoa, karna hidup saat ini mulai bergeser jauh dari norma. Bersaing sehat mulai langkah. Padahal, hukum tabur tuai tidak pernah bergeser. Apa yang ditabur, itu juga akan dituai. Entah sekarang atau nanti, akan tiba waktunya panen yang ditanam." Pak Esra berkata serius. Bu Weny meletakan jari di bibir saat mendengar suara motor Nelson dari jauh.
...~•••~...
...~•○♡○•~...