Novel Korean ala Author ❤️❤️
Cheon-Ji-In: Terjebak di Dunia Murim
Aku Diah, tersedak air saat baca novel Cheon-ji-in hingga sadar di dunia Murim sebagai Han So-Bin, cannon fodder yang ditakdirkan mati di tangan pemeran utama pria, Kang Hyu-Jin.
Sadar bakal jadi tumbal, aku milih kabur sejauh mungkin. Tapi alih-alih dibunuh, si pendekar es itu malah ngejar aku separuh mati ke ujung dunia!
Sialnya lagi, bukannya ditebas, aku malah berakhir dicintai setengah mati sama si cowok dingin itu. Rencana awal mau bebas hidup damai gagal total, karena sekarang aku malah jadi pawang si tokoh utama!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Pedang Es di Bawah Rembulan Gangho
Suara tetesan air menggema di dalam gua, memecah keheningan malam.
Aku membuka mata dengan perlahan. Bukan langit-langit kamar kos yang akrab, melainkan atap kayu tua beraroma dupa pekat dan jerami basah yang pengap. Di tubuhku melekat jubah kain kasar berwarna biru pudar—pakaian para murid rendahan dari sebuah perguruan persilatan di dataran tengah.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Sumpah demi apa pun... Aku cuma keselek es teh pas lagi marathon baca novel Cheon-Ji-In semalam, kenapa sekarang malah terdampar di dunia persilatan begini?! Rasanya tidak masuk akal!”
Seketika, kepingan ingatan asing berdesakan masuk ke dalam benakku, mendesak kesadaran asliku sebagai Diah.
Aku kini merasuki raga Han So-Bin, seorang figuran rendahan di dunia Gangho yang ditakdirkan mati tragis sebelum cerita mencapai pertengahan.
Takdirnya sungguh sialan dan tidak adil. Berdasarkan adat istiadat leluhur dunia persilatan, aku adalah tunangan resmi dari Lee Do-Yun, pemuda terpandang sekaligus pewaris sah dari Sekte Pedang Langit Biru. Hubungan keluarga kami terjalin erat lewat perjanjian darah. Namun, tubuh asli ini justru kehilangan akal sehat karena terobsesi mengejar sang Pendekar Es, Kang Hyu-Jin, hingga berujung pada kematianku sendiri di tangan pria itu akibat fitnah keji aliran sesat.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Dih, ogah banget mati muda cuma karena bucin sama psikopat es! Mau jadi tumbal buat naikin porsi adegan mereka? Silakan saja, tapi catat: aku nggak ikutan!”
Malam ini juga, kutanggalkan lencana kehormatan Sekte Pedang Langit Biru dari jubahku. Aku mengerahkan sisa-sisa Naegong (tenaga dalam) di jalur meridian tubuh ini untuk memperkuat langkah kaki, lalu melarikan diri menembus pekatnya kegelapan hutan. Tujuanku jelas: Sekte Dewa Langit, perguruan di pegunungan utara yang terkenal keras mendidik muridnya secara mandiri dan disiplin mutlak, jauh dari jangkauan si Male Lead sialan itu.
Namun, hukum alam di dunia Murim tidak semudah itu membiarkan buruannya lolos. Baru tiga hari aku menikmati udara pelarian di luar wilayah kekuasaan sekte asal, angin malam tiba-tiba berhenti berhembus secara misterius.
Hawa dingin yang pekat, menusuk hingga ke sumsum tulang belakang, merayap naik dari tanah. Suasana hutan bambu berubah mencekam dalam sekejap mata.
Kriet...
Suara ranting patah yang begitu halus terdengar di belakangku.
Aku menahan napas seketika, memutar tubuhku perlahan dengan tangan gemetar yang mencengkeram hulu pedang kayu murahan di pinggangku.
Di hadapanku, di bawah naungan cahaya rembulan yang pucat, berdiri sesosok pria berbalut jubah putih bersih bersulam benang perak. Rambut hitam kelamnya tergerai diterpa angin malam, dan sepasang matanya memancarkan ketajaman mutlak yang mampu membekukan jiwa siapa pun yang berani menatapnya.
Kang Hyu-Jin. Sang Pendekar Es dari Sekte Pedang Langit Biru.
Suaranya meluncur rendah, dingin, membelah keheningan hutan bambu bagai bilah pedang tajam yang baru dihunus dari sarungnya:
"Han So-Bin..."
Pria itu melangkah maju tanpa suara. Di setiap jejak kakinya, tanah dan dedaunan kering langsung berubah menjadi kristal es putih yang berkilau memantulkan cahaya bulan.
"Kau pikir, sejauh apa kau bisa melarikan diri dari pandanganku?"
(Batin Diah / Han So-Bin): “Ya ampun, Gusti... Ini orang pakai cheat apa gimana sih?! Kenapa bisa melacakku sampai ke ujung dunia begini?! Padahal aku sudah ambil jalur memutar lewat lembah tersembunyi!”
Aku meneguk ludahku yang terasa kering, mencoba menenangkan debar jantungku yang berlomba dengan ketakutan. Meski raga ini milik Han So-Bin, jiwa di dalamnya adalah Diah yang tahu persis seberapa mematikannya pria di hadapannya ini. Kang Hyu-Jin bukan sekadar pendekar biasa; dia adalah lambang kematian bagi siapa saja yang menghalangi jalannya.
"Tuan Muda Kang," ucapku berusaha menjaga agar suara daruratku tidak bergetar hebat. Aku mengangkat dagu, mencoba menampilkan wibawa palsu. "Kita tidak memiliki urusan apa pun lagi. Aku sudah resmi melepaskan statusku sebagai murid di Sekte Pedang Langit Biru. Pergilah cari Choi Seo-Yeon, wanita yang seharusnya ada di sisi-mu!"
Mendengar nama itu, langkah Hyu-Jin justru berhenti. Alisnya yang sempurna berkerut tajam, dan suhu udara di sekitar kami mendadak semakin turun hingga napas kami mengepulkan uap putih di udara.
"Choi Seo-Yeon?" Suara Hyu-Jin terdengar bagai geraman rendah dari binatang buas yang terluka. "Apa peduliku pada wanita itu? Hubunganku dengan Sekte Pedang Langit Biru atau urusan dunia persilatan tidak ada artinya dibandingkan keberadaanmu di hadapanku saat ini, So-Bin."
Aku tertegun sesaat, merasa ada yang ganjil dari alur cerita yang kukenal. Di dalam novel aslinya, Kang Hyu-Jin seharusnya tergila-gila pada Choi Seo-Yeon, sang pemeran utama wanita yang lembut dan berbakat. Kenapa sekarang dialognya jadi melenceng jauh begini?
Sebelum aku sempat memikirkan kejanggalan itu lebih jauh, sesosok bayangan putih lain melesat turun dari puncak pohon bambu tinggi dengan gerakan ringan sehelai bulu.
Plak! Plak! Plak!
Suara tepukan tangan yang santai memecah ketegangan di antara kami.
Seorang pria dengan jubah brokat mewah berwarna biru safir dan putih mendarat dengan anggun di antara aku dan Hyu-Jin. Di tangan kanannya, sebuah kipas lipat bertuliskan aksara kuno dikibaskan perlahan untuk mengusir hawa dingin yang diciptakan oleh Hyu-Jin. Wajahnya tampan dengan senyum miring yang menyebalkan, memancarkan pesona seorang ningrat persilatan yang angkuh.
Lee Do-Yun. Sahabat karib Kang Hyu-Jin sekaligus... tunangan sah Han So-Bin.
"Luar biasa," puji Do-Yun dengan nada mengejek yang kental. Ia melirik sekilas ke arahku, lalu menatap tajam ke arah Hyu-Jin. "Aku mengikutimu jauh-jauh dari markas utama bukan untuk menonton pertunjukan tatap-tatapan yang memuakkan ini, Pendekar Es. Kau hampir membekukan paru-paru tunanganku dengan kekuatan esmu yang berlebihan itu."
(Batin Diah / Han So-Bin): “Duh, komplit sudah penderitaan hari ini! Kenapa tokoh-tokoh penting di novel ini malah berkumpul jadi satu di hutan terpencil begini?! Tamatlah sudah riwayat pelarianku!”
Hyu-Jin melirik Do-Yun dengan tatapan membunuh yang bisa merubuhkan gunung. Aura Qi kebiruan mulai berkumpul di sekitar jemari Hyu-Jin, membentuk bilah-bilah es tipis yang berdengung nyaring di udara.
"Tutup mulutmu, Do-Yun," geram Hyu-Jin, suaranya nyaris berbisik namun penuh ancaman kematian. "Status tunangan itu tidak pernah sah di mataku. Han So-Bin adalah milikku, dan siapa pun yang berani menghalangi jalanku untuk membawanya pulang, akan merasakan kemarahan Sekte Pedang Langit Biru yang sebenarnya."
Aku memijat pelipisku yang mendadak berdenyut nyeri. Terjebak di dunia Murim ternyata jauh lebih melelahkan daripada lembur tugas kantor di dunia asal. Di tengah kepungan dua pria paling berbahaya di dataran tengah ini, aku harus memutar otak agar bisa bertahan hidup tanpa harus menjadi tumbal romansa mereka.