NovelToon NovelToon
Ke Grep Dengan Preman Tengil

Ke Grep Dengan Preman Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terjebak dalam Hujan

"Capek sekali," keluhnya

Jam di pergelangan tanganya menunjukkan delapan malam lewat lima belas menit. Jam kerja normalnya sebagai buruh harian lepas di pabrik pengolahan kerupuk dan makanan ringan ini sebenarnya telah berakhir sejak pukul setengah delapan tadi.

Devi Putri Maharani mengusap peluh di dahinya dengan lengan baju lusuhnya.

Gadis sembilan belas tahun yang baru beberapa bulan menyelesaikannya pendidikannya di SMA negeri kecamatan itu menghela napas panjang.

Menjadi lulusan SMA di desa yang jauh dari kota besar bukanlah hal yang istimewa. Harapan untuk melanjutnya sekolah ia harus menguburnya,Tidak ada pilihan untuknya, keuangan keluarga jangankan untuk membiayai bangku perguruan tinggi, untuk makan sehari-hari dan membayar cicilan utang saja sudah kembang kempis. Pilihan paling realistis bagi Devi adalah bekerja sebagai buruh kasar, menukar keringatnya dengan upah harian yang tak seberapa demi membantu sang ibu dan keluarganya.

Ia mulai merapikan tas kain usangnya yang tergantung di paku dinding, bersiap-siap untuk melangkah keluar dan menyusuri koridor pabrik menuju pintu gerbang. Namun, belum sempat tali tas itu bertengger di bahunya, langkah kaki berat berdentum di atas lantai semen yang dingin.

"Devi! Mau ke mana kamu? Pekerjaanmu belum selesai!"

Suara berat dan serak itu memotong heningnya gudang. Pak Joko, kepala gudang berbadan tambun dengan perut membuncit dan wajah yang selalu tampak berang, berjalan menghampirinya sambil membawa papan jalan berpenjepit kertas.

Devi memutar tubuhnya, menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk rasa hormat yang terpaksa. "Maaf, Pak Joko. Tapi shift saya sudah selesai dari jam setengah delapan tadi. Kakak saya juga mungkin sebentar lagi sampai untuk menjemput saya."

Pak Joko mendengus kasar, melempar tatapan menyipit yang penuh intimidasi. "Shift selesai? Jangan manja kamu, Devi! Kamu lihat tumpukan dus kerupuk di gudang belakang itu? Itu barang persediaan yang harus diangkut dan disajikan untuk pengiriman armada subuh besok! Anak-anak cowok yang biasa bongkar muat sedang dipindah bertugas ke pabrik cabang sejak sore. Siapa lagi yang mau membereskan kalau bukan kamu?"

"Tapi Pak ... barang di gudang belakang itu terlalu banyak untuk saya kerjakan sendiri. Dan ini sudah malam sekali, tidak ada angkutan umum yang lewat kalau kakak saya lupa jemput," bisik Devi, mencoba memberanikan diri menawar.

Pak Joko melipat kedua tangannya di dada, melangkah makin dekat hingga bau asap rokok yang menyengat dari pakaian pria itu membuat Devi merinding.

"Dengar ya, Devi. Kamu itu di sini cuma buruh harian lepas. Masih untung pabrik ini mau menampung lulusan SMA kemarin sore seperti kamu. Kalau kamu tidak mau membereskan gudang belakang sampai rapi malam ini, besok-besok kamu tidak usah menampakkan muka lagi di pabrik ini! Masih banyak orang di luar sana yang antre mau kerjaan kamu!" ancam Pak Joko dingin, tanpa ada rasa iba sedikit pun.

Kata-kata itu menghantam dada Devi bagaikan tinju yang tidak terlihat. Rasa takut akan kehilangan satu-satunya sumber penghasilan keluarga mengalahkan rasa lelah yang menggerogoti fisiknya.

Jika ia dipecat malam ini, besok ibunya tidak akan bisa membeli beras dan membayar uang kontrakan rumah mereka.

"Baik, Pak ... Saya kerjakan," jawab Devi pelan, menahan getaran di suaranya agar tidak pecah menjadi tangisan.

"Bagus. Pastikan semuanya selesai dan terkunci rapi sebelum kamu pulang!" Pak Joko berbalik arah tanpa memedulikan raut wajah Devi yang pucat, melangkah pergi meninggalkan gadis itu sendirian di area gudang yang makin sepi dan gelap.

Suara derit pintu besi gudang belakang berbunyi nyaring saat Devi mendorongnya.

Ruangan ini jauh lebih berdebu dan remang dibandingkan area depan. Hanya ada satu bohlam lampu kuning redup yang bergantung lemas di langit-langit berjarang. Tumpukan dus-dus karton besar berisi produk makanan ringan menjulang tinggi, menanti untuk ditata ulang sesuai urutan tanggal kedaluwarsa.

Devi mulai bekerja. Satu per satu dus yang berbobot belasan kilogram itu ia angkat dengan kedua tangan kecilnya. Keringat makin membasahi punggung dan pelipisnya. Jarum jam terus bergulir tanpa ampun. Pukul sembilan ... pukul sembilan lewat empat puluh lima ... hingga akhirnya mendekati pukul sepuluh malam.

Di sela-sela rasa lelahnya, Devi menyempatkan diri merogoh saku celana jins lamanya untuk mengambil ponsel pintar murah berkaca retak milik sang ibu yang ia bawa. Ia mem buka aplikasi pesan singkat, menatap layar yang menampilkan obrolannya dengan kak Raka, kakak laki-lakinya.

[Kak, Devi lembur di gudang. Kalau sudah selesai kegiatan di bengkel, tolong jemput Devi ya. Sudah malam.]

Pesan yang ia kirim sejak pukul delapan malam itu masih menyisakan ikon centang satu berwarna abu-abu. Ponsel kakaknya tampaknya mati atau kehabisan baterai.

Devi mencoba menelpon, namun hanya suara operator bernada datar yang menjawabnya bahwa nomor yang dituju tidak aktif. Rasa cemas mulai menyelinap lambat laun di dadanya. Pulang sendirian berjalan kaki di malam hari melintasi perbatasan desa bukanlah hal yang aman bagi seorang gadis muda.

Tiba-tiba, dari luar bangunan gudang, suara gemuruh angin bertiup kencang hingga membuat seng peneduh bergetar hebat.

Tidak sampai lima menit kemudian, langit malam pecah. Hujan deras tercurah bagai ditumpahkan dari langit, disertai suara dentuman petir yang bersahut-sahutan menggelegar di atas udara.

DUAR!

Kilatan cahaya putih menyambar sangat dekat dari area pabrik. Detik berikutnya, suara letupan kecil terdengar dari arah panel listrik utama, dan seketika itu pula seluruh lampu di dalam pabrik padam total.

Kegelapan pekat menyelimuti Devi dalam sekejap.

"A-astagfirullah!" jerit Devi histeris. Ia terperanjat hingga jatuh terduduk di lantai semen dingin, tak sengaja menyenggol tumpukan kardus di sampingnya.

Suasana di dalam gudang menjadi sangat mencekam. Hanya ada suara gemuruh hujan yang menghantam atap seng dengan sangat bising dan kegelapan total yang menyulitkan mata untuk melihat sejengkal pun di depan muka.

Rasa takut akan terkunci di dalam area pabrik yang sepi melingkupi pikiran Devi. Dengan tubuh gemetar, ia meraba-raba lantai, mencari ponselnya yang terlepas saat ia kaget tadi. Setelah beberapa detik meraba dengan kepanikan luar biasa, jemarinya akhirnya menyentuh casing plastik ponselnya. Ia menggeser layar dan menyalakan lampu kilat kamera sebagai penerang darurat.

"Aku harus keluar ... aku harus pulang," gumamnya pada diri sendiri, suaranya gemetar menahan takut.

Devi berlari kecil menembus koridor pabrik yang remang dituntun sinar redup lampu senter ponselnya. Pintu gerbang samping pabrik ternyata sudah tidak terkunci, ditinggalkan begitu saja oleh penjaga malam yang mungkin sedang berteduh di pos depan.

Tanpa berpikir panjang, Devi keluar menembus dinginnya malam.

Hujan mengguyur tanpa ampun. Dalam hitungan detik, pakaian Devi, kaos tipis dan celana jinsnya, sudah basah kuyup melekat di kulit. Air hujan yang dingin menusuk hingga ke tulang sumsumnya, membuat giginya berkatuk-katuk menahan kedinginan. Jalanan tanah berdusun yang menghubungkan area pabrik dengan pemukiman warga sudah berubah menjadi genangan lumpur yang licin.

Jalanan itu sangat sepi. Tidak ada lampu penerangan jalan umum, hanya kegelapan yang pekat di kiri dan kanan yang didominasi oleh pepohonan rindang dan area pesawahan. Angin malam bertiup kencang, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang menusuk. Devi mempercepat langkah kakinya, sesekali hampir terpeleset karena licinnya jalanan tanah.

"kak Budi ... kamu di mana ..." bisik Devi meratap, memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua lengan yang memucat karena dingin.

Setelah berjalan sekitar lima ratus meter menembus guyuran hujan yang makin lebat, penglihatan Devi mulai samar. Matanya kemasukan air hujan yang terus menetes dari rambutnya yang basah kuyup. Langkah kakinya makin berat. Ia sadar ia tidak akan sanggup berjalan sejauh dua kilometer lagi dalam kondisi seperti ini hingga sampai ke rumahnya.

Di tengah keputusasaannya, cahaya kilat petir menerangi sisi jalan di depan sana. Sekitar sepuluh meter dari posisinya berdiri, nampak bayangan sebuah gubuk bambu tua. Gubuk itu adalah bangunan kecil tak berdinding rapat yang biasa digunakan para petani setempat untuk berteduh dari terik matahari saat menggarap sawah.

Tanpa memikirkan hal lain, Devi berlari sekuat tenaga menuju gubuk tersebut. Ia melompat naik ke atas lantai panggung bambu yang sedikit lebih tinggi dari tanah mudarat yang berlumpur.

Walaupun sebagian atap jeraminya sudah bocor, gubuk itu setidaknya memberikan sedikit perlindungan dari paparan langsung air hujan yang menghantam dari atas.

Devi berlutut di atas lantai bambu, mengusap air hujan yang membasahi wajahnya dengan telapak tangan. Desah napasnya terengah-engah, dadanya naik turun mengandalkan sisa tenaga yang ada. Ia menyandarkan punggungnya pada salah satu tiang penyangga gubuk, memeluk kedua lututnya rapat-rapat untuk mengusir rasa dingin yang makin menyiksa.

Di saat ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang berkejaran, sebuah gesekan samar terdengar dari sudut gubuk yang tergelap. Suara itu bukan berasal dari deru hujan atau gesekan daun bambu.

Itu adalah suara hela napas seseorang.

Perasaan janggal langsung menyengat tengkuk Devi. Bulu kuduknya berdiri seketika. Dengan tangan yang tremor hebat, Devi mengangkat ponselnya yang menyisakan daya baterai sepuluh persen, lalu mengarahkan lampu senter ponsel itu ke arah sudut kegelapan di samping kirinya.

Sinar lampu redup itu perlahan menyingkap sesosok tubuh yang sedang bersandar di tiang gubuk bagian dalam.

Seorang pria.

Lampu senter itu memantulkan siluet seorang pemuda berwajah tegas namun berpenampilan sangat acak-acakan. Ia mengenakan jaket jins lusuh berhias robekan di beberapa bagian, yang saat itu sengaja dibiarkan terbuka sepenuhnya.

Di balik jaketnya yang terbuka, nampak dada bidangnya yang basah oleh air hujan, memperlihatkan garis-garis rajatan tato berwarna hitam tebal yang membentang dari leher hingga ke lengannya. Rambutnya yang sedikit panjang kelihatan basah dan berantakan menutupi sebagian keningnya.

Pria itu perlahan mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah lampu senter yang diarahkan Devi padanya. Sorot matanya sangat tajam, berwarna kelam, dan memancarkan aura berbahaya yang membuat siapa saja ingin segera melangkah mundur.

Devi membeku di tempat. Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika. Di kepalanya hanya ada satu kata yang menjerit dengan sangat keras: ("Preman!")

Pria asing itu mengusap wajahnya yang basah dengan telapak tangan yang memiliki beberapa bekas luka goresan, lalu menatap Devi yang ketakutan setengah mati di sudut gubuk.

"Siapa kamu?" suara pria itu terdengar sangat berat, dalam, dan sedikit serak menembus bisingnya suara hujan.

1
tinie
anak kota kenapa selalu dikenal anak nakal,,
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
MayAyunda: tato identik nakal kak ..terutama kalau di desa 😄😄🙏
total 1 replies
tinie
wah tua juga baru lulus SMA 21 THN
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
MayAyunda: mf kak 😄🙏
total 1 replies
tinie
miris banget
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan

milih nikah aja
MayAyunda: masih kolot kak 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!