NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Kembali ke Jakarta

Hari pertama kembali ke kantor, Rizal hanya butuh tujuh menit untuk menyadari ada yang berbeda.

Renard keluar dari lift bersama Liana. Saat seorang staf mendorong troli dokumen terlalu dekat, tangannya terangkat ke belakang bahu Liana, memberi jalan tanpa benar-benar menyentuh.

Gerakan itu kecil.

Namun Rizal melihatnya.

Bayu yang berdiri di meja penerima tamu juga melihatnya. Dimas bahkan menghentikan ketikan selama dua detik.

"Pagi, Pak. Pagi, Mbak," sapa mereka hampir bersamaan.

Liana mengangguk. "Pagi. Rapat pertama dipindah ke jam sebelas. Tolong pastikan ruangannya siap jam setengah sebelas."

"Siap, Mbak." Rizal menunggu sampai Liana lewat, lalu berbisik kepada Bayu, "Pulang dari Bali, auranya beda."

"Aura siapa?"

"Dua-duanya."

Dimas berdeham tanpa mengangkat kepala. "Kalian mau gaji bulan ini tetap utuh atau nggak?"

"Kami sedang observasi profesional," kata Bayu.

Pintu kantor Renard terbuka kembali.

"Observasi kalian bisa dipindahkan ke ruang arsip lantai dua kalau terlalu senggang."

Ketiganya langsung menatap layar masing-masing.

Liana menahan senyum saat mengikuti Renard masuk.

Di dalam kantor, ia menaruh sarapan dari pantry di sisi kanan meja Renard, jauh dari berkas kontrak. Sebelum Bali, ia selalu pergi begitu selesai menyampaikan jadwal. Pagi ini ia membuka kotak makanan, memastikan sendok tersedia, lalu mendorong gelas air ke jangkauan tangannya.

"Kamu sudah sarapan?" tanya Renard.

"Sudah."

"Apa?"

"Kopi."

Renard mendorong separuh roti panggang kembali kepadanya. "Itu minuman, bukan sarapan."

Liana tidak menolak. Ia duduk di kursi depan meja dan mengambil roti tersebut, seolah berbagi sarapan dengan atasan adalah bagian biasa dari agenda Senin.

Ketika baru menyadarinya, mereka sama-sama memilih tidak berkomentar.

***

Menjelang siang, Ci Karina datang tanpa memberi kabar lebih dulu.

Ia mengenakan setelan biru tua dan membawa dua gelas kopi, satu untuk dirinya sendiri, satu lagi yang langsung ia serahkan kepada Liana.

"Untuk orang yang berhasil membawa adikku pulang dari Bali tanpa membuat satu resort bangkrut," katanya.

"Ci, saya cuma menjalankan jadwal."

"Itu sudah mukjizat. Renard biasanya mengubah jadwal sampai orang lain ingin pensiun dini."

Dari balik meja, Renard menatap kakaknya datar. "Kamu datang untuk rapat atau menghina?"

"Keduanya."

Karina duduk di sofa. Matanya berpindah dari kaus Renard yang hari ini tidak dikancingkan terlalu tinggi ke wajah Liana yang mendadak sangat tertarik pada tablet.

"Kalian kelihatan lebih akur."

"Kami menyelesaikan pekerjaan," jawab Renard.

"Tentu. Empat hari, satu suite, banyak sekali pekerjaan."

Liana batuk karena kopi masuk ke saluran yang salah.

Renard berdiri, mengambil air putih, dan meletakkannya di depan Liana. "Pelan."

Karina mengangkat kedua alis. "Nah, itu maksudku."

"Ci Karina mau membahas apa?" Liana buru-buru mengalihkan topik.

Karina membuka map kontrak. "Evaluasi jadwal terapi. Tapi sebelum itu..."

Ia memandang Renard dengan ekspresi terlalu polos.

"Dia spesial, lho. Gimana kalau aku kenalin Liana ke orang yang bantu terapi kamu?"

Ruangan mendadak sunyi.

Jari Liana berhenti di atas layar tablet.

Renard tidak melihat kakaknya. Tatapannya justru jatuh pada Liana, tajam dan tak terbaca.

"Untuk apa?" tanyanya.

"Supaya dua orang yang sama-sama penting buatmu bisa saling kenal."

"Nggak perlu."

Jawaban Renard terlalu cepat.

Karina tersenyum tipis. "Baiklah. Cuma usul."

Ketika Renard dipanggil ke ruang rapat beberapa menit kemudian, Karina menunggu pintu tertutup sebelum mendekati meja Liana.

"Maaf," katanya pelan. "Aku cuma ingin melihat reaksinya. Aku nggak akan membuka identitasmu."

Liana mengembuskan napas. "Ci hampir bikin saya berhenti bernapas."

"Reaksi Renard lebih menarik. Dia bahkan nggak mau kalian bertemu."

"Kenapa?"

"Mungkin karena dia sudah curiga pertemuan itu mustahil."

Karina menepuk lengannya sekali, lalu pergi menyusul rapat.

Kalimat itu tertinggal seperti jarum di bawah kulit.

***

Sore harinya, sebuah surel masuk ke kotak pribadi Liana.

`Undangan Seleksi Nusantara Young Perfumer.`

Panitia mengundangnya mengikuti tahap awal berdasarkan portofolio lama yang pernah ia kirim semasa kuliah. Peserta terpilih harus membuat konsep aroma bertema ingatan kota dalam enam minggu. Pemenang seleksi mendapat pelatihan dan jalur nominasi menuju kompetisi internasional.

Liana membaca syaratnya dua kali.

Biaya seleksi ditanggung penyelenggara, tetapi semua formula wajib dibuat sendiri dan dicatat dalam buku laboratorium resmi. Tahap pertama menggunakan nomor peserta tanpa nama. Hanya finalis yang akan tampil di depan publik.

Sistem anonim seharusnya membuatnya lega. Namun Liana tahu satu keberhasilan akan membawa keberhasilan berikutnya, dan pada akhirnya ia tetap harus berdiri di depan orang banyak sebagai dirinya sendiri.

Ia teringat hidup lamanya. Setiap kali menunjukkan kemampuan, Darren selalu menemukan cara mengubahnya menjadi milik orang lain. Formula, kerja, bahkan keberaniannya pernah dipakai sebagai alat untuk mengurungnya.

Kali ini Darren tidak ada di ruangan.

Tetapi rasa takut yang ia tinggalkan masih duduk di samping Liana.

Berjalan ke depan berarti orang akan memeriksa latar belakangnya. Namanya akan muncul. Kemampuannya tak bisa lagi disembunyikan di ruang sampel setiap Jumat.

"Kenapa belum dibuka?"

Suara Renard muncul di samping mejanya.

Liana buru-buru mengecilkan jendela surel, tetapi terlambat.

"Cuma undangan seleksi."

"Aku tahu. Kenapa kamu ragu?"

"Mungkin saya belum siap."

Renard menatap judul surel, lalu menatapnya. "Di Gianyar, kamu menemukan campuran palsu dalam waktu kurang dari lima menit. Kamu lebih siap daripada orang-orang yang hanya punya keberanian untuk mendaftar."

"Kalau gagal?"

"Kamu dapat data. Kalau berhasil, kamu dapat panggung. Keduanya bukan kerugian."

Liana masih diam.

Renard menurunkan suaranya. "Kamu harus coba."

Ia kembali ke kantornya tanpa menunggu jawaban.

Liana membuka halaman pendaftaran. Jarinya baru menekan tombol `Daftar` ketika ponselnya bergetar.

Sebuah akun baru mengirim tangkapan layar percakapan Aldi dan Nadia.

Di bawahnya hanya ada satu kalimat.

`Mereka mulai bergerak lagi.`

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!