NovelToon NovelToon
SISTEM OF HER HEART

SISTEM OF HER HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Cintapertama
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Tatapan Di Balik Kaca Mata

​Langkah kaki teratur bergema di lantai marmer saat pria tinggi berjas gelap itu menghentikan pergerakan seluruh orang di dalam ruangan wawancara.

​Setiap ketukan sepatunya terdengar seperti detak jarum jam yang menghitung mundur akhir dari sebuah kehidupan.

​Pria itu melangkah maju dengan postur tegak sempurna. Kacamata berbingkai perak bertengger di tulang hidungnya yang mancung, menyembunyikan sebagian sorot matanya yang tajam bak pemangsa.

​Dorko, yang beberapa detik lalu bersikap layaknya seorang raja yang berkuasa penuh atas nasibku, kini terlihat menyedihkan.

​Kepala HRD itu melompat berdiri dari kursi kulitnya hingga lututnya nyaris membentur pinggiran meja kaca. Wajahnya kehilangan seluruh rona darah.

​"Pak... Pak Sakti," gagap Dorko dengan kepala menunduk dalam, bahkan tidak berani membalas tatapan pria jangkung di hadapannya. "Kami sedang melangsungkan sesi wawancara tahap akhir."

​Sakti tidak memedulikan keberadaan Dorko sama sekali. Ia seolah menganggap pria paruh baya itu hanyalah perabotan usang yang tak pantas mendapat perhatiannya.

​Perhatian Sakti sepenuhnya tertuju kepadaku.

​Tatapan matanya menyapu penampilanku. Dari kemeja putihku yang masih meneteskan air sisa hujan, celana bahan hitamku yang kusut, hingga bahuku yang menegang kaku mempertahankan postur tubuh.

​Antarmuka hijau di dalam pandanganku mendadak berkedip dengan kecepatan luar biasa. Sistem A.U.R.A bereaksi jauh lebih agresif dibandingkan saat memindai Dorko sebelumnya.

​[Mengidentifikasi Subjek Utama: Sakti.]

​[Jabatan: Chief Executive Officer Vanguard Corp.]

​[Status Emosi: Terkendali Penuh, Sulit Diprediksi. Lapisan Pertahanan Psikologis Sangat Tinggi.]

​[Peringatan Sistem: Tingkat Ancaman Dominasi Subjek Berada di Level Maksimal. Inang Disarankan Menjaga Kontak Mata.]

​Aku mematuhi instruksi sistem di kepalaku. Aku membalas tatapan tajam di balik kacamata perak itu tanpa berkedip.

​Aku menolak menunjukkan rasa gentar meskipun lututku di bawah meja terasa lemas melihat kehadirannya.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​"Intuisi krisis," suara bariton Sakti akhirnya memecah keheningan mutlak di ruangan itu.

​Nada suaranya rendah, datar, namun memiliki gaung otoritas yang membuat dinding ruangan ini seakan menyempit.

​Sakti melangkah mendekati meja kaca pemisah. Jari-jarinya yang panjang dan kokoh menyentuh permukaan meja.

​"Saya mendengar kalimat itu dari luar pintu. Sebuah klaim yang sangat berani dari seorang kandidat yang bahkan tidak memiliki pakaian layak untuk menghadiri wawancara eksekutif."

​Sakti menarik kursi di sebelah Dorko dan duduk dengan gerakan lambat yang penuh perhitungan. Dorko segera menyingkir ke sudut, membiarkan atasannya mengambil alih seluruh kendali.

​"Klaim tanpa pembuktian hanyalah omong kosong dari orang putus asa," lanjut Sakti tanpa melepaskan kuncian matanya dariku. "Dan Vanguard Corp tidak mempekerjakan pembual."

​Aku mengangkat daguku sedikit, menantang dominasinya secara terbuka. "Saya tidak pernah membual tentang kemampuan saya, Pak."

​Sakti menyeringai tipis. Sebuah senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.

​Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Dorko tanpa menoleh. Dorko yang gemetar segera memahami isyarat tersebut. Ia buru-buru mengambil sebuah map tebal berwarna merah dari dalam tas kerjanya dan meletakkannya di telapak tangan Sakti.

​Sakti melempar map merah itu ke tengah meja kaca di antara kami. Berkas-berkas di dalamnya berhamburan keluar.

​Deretan angka, grafik, dan tabel neraca keuangan anak perusahaan memenuhi pandanganku.

​"Itu adalah salinan draf pembukuan keuangan dari divisi logistik kami untuk kuartal ketiga," ucap Sakti dengan nada menguji. "Laporan ini sudah disetujui oleh tiga manajer keuangan lulusan universitas elit yang baru saja Anda hina."

​Sakti mencondongkan tubuhnya ke depan. Kilatan cahaya lampu ruangan memantul di lensa kacamatanya, menyembunyikan ekspresi aslinya.

​"Jika Anda memang memiliki intuisi krisis seperti yang Anda banggakan, temukan celah dalam laporan itu. Saya beri Anda waktu tepat enam puluh detik. Gagal, dan Anda akan diusir dari gedung ini oleh tim keamanan."

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Dorko tersenyum meremehkan dari sudut ruangan. Ia jelas tahu bahwa laporan tersebut adalah dokumen tingkat tinggi yang mustahil dipahami oleh staf administrasi rendahan sepertiku hanya dalam hitungan detik.

​Aku tidak membuang waktu untuk merasa terintimidasi. Waktu enam puluh detik sudah mulai berdetak di kepalaku.

​Nyawa Ibuku bergantung pada angka-angka di atas kertas itu.

​Aku memusatkan seluruh fokusku pada lembaran kertas yang berserakan di atas meja. Jaraknya sedikit terlalu jauh dari jangkauan mataku, dan huruf-hurufnya dicetak dalam ukuran yang sangat kecil.

​Sistem A.U.R.A segera merespons kebutuhan mendesakku. Teks hijau menyala kembali memenuhi retinaku.

​[Memulai Pemindaian Visual. Titik Fokus: Dokumen Pembukuan Divisi Logistik.]

​[Mengaktifkan Fitur Zoom-In: Pembesaran Optik Empat Ratus Persen.]

​Sensasi panas menjalar cepat di sekitar otot mataku. Pandanganku mendadak menajam secara tidak wajar.

​Lembaran kertas yang berada lebih dari satu meter di depanku kini tampak seolah menempel tepat di depan hidungku. Setiap serat kertas, setiap titik tinta, dan setiap garis tabel terlihat dengan kejernihan absolut.

​Mata telanjangku menyapu ribuan sel angka dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, dengan kecepatan pemrosesan data yang jauh melampaui kemampuan manusia normal.

​Sistem A.U.R.A memilah data tersebut, membandingkan setiap nilai pengeluaran dengan algoritma keseimbangan finansial dalam hitungan milidetik.

​[Peringatan: Ditemukan Anomali Kalkulasi. Terjadi Manipulasi Mikro pada Lembar Ketiga.]

​Sebuah kotak merah menyala muncul di dalam pandanganku, membingkai satu baris kecil di bagian paling bawah tabel penyusutan aset.

​[Analisis Kesalahan: Beban pemeliharaan armada truk kargo dilaporkan dengan skema amortisasi ganda. Manipulasi ini menyembunyikan defisit arus kas operasional sebesar dua koma empat persen.]

​Sudut bibirku tertarik ke atas tanpa bisa kutahan. Senyum kemenangan terukir jelas di wajahku saat waktu baru berjalan tiga puluh detik.

​Aku menyandarkan punggungku ke kursi, menatap lurus ke arah kacamata Sakti dengan keyakinan tak tergoyahkan.

​"Waktu Anda masih tersisa tiga puluh detik," tegur Sakti dingin. "Menyerah?"

​"Saya sudah selesai," jawabku lugas.

​Aku mengangkat tangan dan menunjuk tepat ke lembar ketiga yang posisinya terbalik di hadapanku. Aku bahkan tidak perlu memutar kertas itu untuk membacanya.

​"Laporan ini tidak hanya memiliki celah, Pak Sakti. Laporan ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang dengan sangat rapi."

​Dorko mendengus keras dari sudut ruangan. "Tutup mulutmu! Laporan itu diaudit oleh firma eksternal. Jangan berani-berani menuduh sembarangan!"

​Aku mengabaikan gonggongan Dorko dan terus menatap Sakti yang kini mematung di kursinya.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​"Pada lembar ketiga, baris keempat dari bawah," suaraku memecah ketegangan dengan presisi mematikan. "Tim keuangan Anda memasukkan biaya pemeliharaan armada truk kargo ke dalam beban operasional bulanan."

​Sakti tidak memberikan reaksi apa pun, namun aku melihat jemarinya di atas meja sedikit menegang.

​"Namun, di lembar kelima tentang penyusutan aset jangka panjang, mereka memasukkan nilai pemeliharaan yang sama ke dalam skema amortisasi ganda. Mereka memecah angka tersebut menjadi pecahan-pecahan desimal kecil agar tidak terdeteksi oleh sistem audit standar."

​Aku mencondongkan tubuhku ke depan, membalas dominasinya dengan ketegasan yang setara.

​"Mereka menciptakan ilusi bahwa divisi logistik masih mencetak margin laba kotor yang stabil. Padahal faktanya, praktik kalkulasi mikro ini digunakan untuk menutupi defisit arus kas operasional sebesar dua koma empat persen."

​Keheningan kembali merampas seluruh suara di ruangan itu.

​Hanya suara napas Dorko yang terdengar putus-putus. Kepala HRD itu melangkah maju dengan wajah panik, berusaha menarik kertas itu untuk memeriksa kebenaran ucapanku.

​"Mustahil," gumam Dorko dengan tangan gemetar. "Bagaimana kau bisa membaca angka sekecil itu dari posisi terbalik? Ini pasti tebakan asal-asalan!"

​"Cukup," potong Sakti dengan suara rendah yang sangat mengancam.

​Satu kata dari bibir Sakti berhasil membuat Dorko membeku di tempat dan memundurkan langkahnya kembali ke sudut ruangan.

​Sakti perlahan melepas kacamata peraknya, meletakkannya di atas meja dengan gerakan sangat teratur.

​Kini, tidak ada lagi penghalang di antara kami. Mata elang pria itu menatapku secara langsung. Tatapannya begitu dalam, gelap, dan mengintimidasi. Seolah ia sedang berusaha membongkar isi kepalaku dan melihat apa yang ada di dalamnya.

​Sistem A.U.R.A kembali mengirimkan notifikasi.

​[Pemindaian Mikro Ekspresi Subjek Sakti: Terdeteksi Lonjakan Ketertarikan Kognitif Sebesar 85%. Keterkejutan Disembunyikan.]

​Ia sengaja membawa laporan yang salah itu untuk menguji kejujuran para eksekutifnya sendiri. Laporan itu adalah jebakan maut yang ia pasang, dan aku baru saja membongkarnya dalam waktu kurang dari satu menit.

​Jantungku berdegup kencang menunggu keputusannya. Aku telah mempertaruhkan segalanya di atas meja ini. Aku sudah mengerahkan seluruh batas kemampuanku dan bantuan sistem.

​Sakti berdiri dari kursinya. Ia merapikan kerah jas gelapnya yang sama sekali tidak kusut dengan gerakan perlahan.

​Ia berjalan memutari meja kaca, melangkah mendekatiku. Jarak kami kini terpangkas habis. Aku harus mendongakkan kepalaku untuk menatap wajahnya yang menjulang tinggi di dekat kursiku.

​Sakti menatap mataku tanpa berkedip. Tidak ada senyum di wajahnya, tidak ada pujian atas kecerdasanku. Ia mempertahankan raut wajah keras dan tak tertembus itu.

​Kemudian, suara baritonnya mengalir membelah kesunyian dengan otoritas mutlak.

​"Kamu diterima. Mulai besok, kamu bekerja langsung di ruanganku sebagai asisten khusus."

1
Lilik Sunaryo
TERA OH TERA
TERA itu ......

T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!