NovelToon NovelToon
Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi
Popularitas:818
Nilai: 5
Nama Author: Arya Walker

[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]

Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Dari Sekte Widow

Derap kaki kuda bergema di sepanjang jalan berbatu saat rombongan kavaleri kecil yang dipimpin oleh Kapten Jon meninggalkan gerbang barak.

Di belakangnya ada, Simon, Shade, Gogo, Jack, dan Tomi memacu kuda mereka dengan saksama.

Awalnya, Simon mengalami kesulitan besar. Dulu dia tidak pernah menaiki kuda, sekarang ia terpaksa menunggang kuda, dan itu adalah pengalaman yang sepenuhnya asing baginya.

Namun, ia segera menenangkan diri, dengan bantuan sistem, ia mulai menyelaraskan ritme tubuhnya dengan gerakan kuda di bawahnya.

Setiap kali ia berhasil menstabilkan pelananya, ketrampilan barupun akhirnya muncul juga dalam panel.

[ Penjinak Hewan (Pemula) 34/100 ]

Simon memilih seekor kuda dengan corak yang unik, setengah hitam dan setengah putih yang memancarkan aura liar namun cerdas.

Kuda itu tampak menyukai ketenangan Simon yang dingin.

Simon menepuk leher hewan itu dengan lembut.

"Aku akan menamaimu Zen," bisiknya pada kuda itu.

Zen meringkik pelan, seolah menyukai identitas barunya.

......

Beberapa jam kemudian, rombongan tersebut sampai di perbatasan utara. Suasana di sini berubah drastis.

Udara menjadi sangat dingin dan menusuk tulang, sementara hamparan salju tipis mulai menutupi tanah berbatu di bawah.

Pohon-pohon pinus yang gundul berdiri tegak seperti barisan kerangka yang mengawasi mereka.

"Selamat datang di wilayah Utara yang sebenarnya," ucap Kapten Jon dengan nada yang berat.

"Tempat ini tidak pernah memaafkan kesalahan kecil apa-pun."

"Dinginnya bukan main... Dan juga aku tidak menyangka perbatasan bisa sesepi ini," gumam Gogo sambil merapatkan jubahnya.

"Sepi berarti berbahaya, Gogo. Kudengar Sekte Widow dikenal karena penyergapan mereka yang senyap," timpal Tomi sembari menghunus sedikit pedangnya untuk memastikan senjatanya tidak membeku.

Saat mereka menyusuri jalur logistik utama, pemandangan mengerikan tersaji di depan mata.

Sebuah gerobak pembawa logistik hancur berkeping-keping, kayu-kayunya patah dan muatannya berserakan di atas salju yang kini ternoda warna merah pekat.

Kapten Jon segera melompat turun dari kudanya dan memeriksa puing-puing tersebut.

Di balik roda gerobak yang patah, ia menemukan seorang prajurit yang tergeletak lemas.

Perutnya robek besar, dan napasnya terdengar terengah- engah di tengah genangan darah yang mulai membeku.

"Kapten... Jon?" bisik prajurit itu dengan mata yang sudah mengabur.

"Bertahanlah! Apa yang terjadi di sini?" tanya Jon, mencoba menekan luka prajurit itu dengan tangannya yang gemetar.

"Sekte... Widow... mereka menyerang seperti hantu. Tidak ada peringatan... tolong... Kapten... ini sangat sakit... akhiri ini... kumohon..." pinta prajurit itu dengan ratapan yang memilukan.

Jon tertegun, tangannya kaku.

Membunuh rekan sendiri adalah beban mental yang berat baginya.

Namun, Simon melangkah maju tanpa ragu.

Sebagai seseorang yang telah mengalami pahitnya dikhianati dan melihat kekejaman dunia, ia tidak memiliki ruang untuk keraguan emosional yang tidak perlu.

Ia menghunus belatinya dan dengan satu gerakan cepat yang akurat, ia menusukkannya tepat ke jantung prajurit tersebut, menghentikan penderitaannya seketika.

"Simon! Apa yang kau lakukan?! Dia adalah kawan kita!" teriak Jack dengan wajah pucat dan marah.

Simon membersihkan darah di belatinya dengan ekspresi yang sangat dingin dan tenang.

"Dia sudah menderita, Jack. Lukanya mematikan dan bantuan medis tidak akan sampai tepat waktu di tempat terpencil seperti ini," jawab Simon.

"Membiarkannya perlahan membeku sampai mati di tengah rasa sakit adalah kekejaman yang lebih besar. Aku hanya mengakhirinya dengan cepat."

Suasana menjadi sunyi senyap. Kapten Jon berdiri perlahan, menatap Simon dengan pandangan yang rumit.

"Simon benar, membiarkannya mati perlahan hanya akan membuatnya lebih menderita," kata Kapten Jon sembari menghela napas berat.

Dengan bantuan Gogo dan Jack, mereka segera menggali lubang di tanah perbatasan yang membeku untuk menguburkan jasad prajurit malang itu dengan layak.

Baru saja gundukan tanah terakhir diratakan, suara desingan tajam membelah udara dingin.

Syuut!

Sebuah anak panah menancap tepat di batang pohon di samping kepala Jack.

"Serangan mendadak! Semuanya berlindung di balik pohon!" teriak Kapten Jon dengan waspada

Simon segera melesat di balik pohon pinus besar.

Di balik pohon mata Simon menyipit tajam, memindai setiap pergerakan di balik semak-semak salju di depan.

Anak panah terus menghujani posisi mereka untuk beberapa saat, menciptakan suara ketukan kayu yang konstan di tengah kesunyian hutan perbatasan.

Ketika suasana mulai tenang, sekelompok orang perlahan muncul dari kegelapan pepohonan.

Mereka adalah anggota Sekte Widow. Mereka mengenakan jubah hitam lusuh dengan tudung kepala yang menyerupai cadar wanita janda, dihiasi sulaman benang merah berbentuk jaring laba-laba di bagian dada.

Wajah mereka pucat dan cekung, memancarkan aura fanatik yang mengerikan.

Rombongan sekte itu melangkah maju dengan percaya diri, mengira panah-panah mereka telah menghabisi target.

"Periksa jasad-jasad itu. Pastikan tidak ada yang tersisa. Kita butuh jantung mereka untuk ritual malam ini," ucap salah satu anggota sekte dengan suara yang dingin.

"Kurasa mereka mati seketika. Tidak ada yang bisa selamat dari hujan panah beku kita di tempat terbuka seperti ini," sambung anggota lainnya sembari tertawa sinis.

Di balik pohon, Tomi berbisik kepada kapten Jon dengan tangan mencengkeram gagang pedang.

"Haruskah kita menyerang sekarang, Kapten?"

"Tunggu sebentar lagi, mari perhatikan gerakan mereka. Biarkan mereka mendekat," balas Kapten Jon dengan nada rendah.

Ketika anggota sekte itu sampai di lokasi dan hanya menemukan tanah yang baru digali tanpa ada mayat rombongan Simon, salah satu dari mereka berteriak kaget,

"Tidak ada jasad! Ini jebak—!"

"Sekarang!" raung Kapten Jon.

Kapten Jon melesat keluar dari persembunyiannya.

ia segera memacu Benih Kehidupannya.

Dan Qi Pertempuran yang transparan namun pekat menyelimuti pedangnya, memancarkan tekanan yang kuat.

Dengan satu tebasan horizontal yang membawa gelombang energi, kepala anggota sekte yang berteriak tadi langsung terlepas dari tubuhnya sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya.

Melihat rekan mereka tewas seketika, nyali anggota sekte lainnya menciut.

"Mundur! Mereka masih hidup!" teriak pemimpin mereka.

Namun, Simon dan yang lainnya tidak memberikan celah.

Simon bergerak seperti bayangan hitam di atas salju yang dingin menampilkan gerakan yang menawan.

[ Pernafasan Ular Hitam +3 ]

[ Teknik Pedang Silang +2 ]

Setiap yang di lewati Simon adalah mayat dan Simon mengunakan pedangnya untuk menebas mereka.

[ Teknik Pedang Silang +3 ]

Shade juga tampil dengan mewah, gerakannya seperti kilat kuning, membantai musuh satu persatu. Shade mempraktikan teknik pernafasan singa kuning yang dimana sama seperti Simon yang memiliki gerakan yang cepat.

Jack juga tidak kalah, ia membunuh sang pemanah terlebih dahulu mengunakan teknik pernafasan serigala.

Tomi membantu kapten Jon di sampingnya melihat melalui 360 Drajat mengunakan teknik pernafasan elang.

Melihat anak buahnya mati satu persatu, pemimpin sekte itu segera melarikan diri.

Namun Gogo, dengan kekuatannya yang meningkat, berhasil menerjang dan menangkap pemimpin sekte mereka yang mencoba melarikan diri ke semak-semak.

Ia menyeret pria berpakaian hitam itu dengan kasar dan melemparkannya ke hadapan Kapten Jon.

"Katakan, di mana tempat persembunyian kalian?!" tanya Kapten Jon dengan nada dingin yang mengancam.

Anggota sekte itu justru meludah ke arah baju zirah Kapten Jon dengan tatapan penuh kebencian.

Jack, yang tersulut emosinya, langsung menghunus pedangnya.

"Brengsek kau! Beraninya kau menghina Kapten!"

Jon menahan lengan Jack dengan tangan kirinya.

"Tenang, Jack. Biar aku yang menanganinya," ucap kapten Jon dengan tenang namun ada rasa kebencian yang dalam.

"Dimana tempat persembunyian mu."

Jon mengulang pertanyaannya dengan suara yang lebih berat, namun tawanan itu hanya menyeringai dengan gila.

"Coba Tebak?"

Tanpa banyak bicara, Jon mengayunkan pedangnya.

Srat!

Satu tangan tawanan itu terputus di pergelangan tangan.

"Ahhhh, tangankuu!!"

Teriakan melengking bergema di seluruh hutan, sementara darah mulai bercucuran menodai salju putih di bawahnya.

"Katakan di mana tempat persembunyian kalian," tuntut Jon lagi.

"Bunuh aku saja! Tidak akan aku katakan sedikit pun!" raung pemimpin sekte itu di tengah rasa sakitnya.

Jon tidak menunjukkan belas kasihan.

Ia menebas tangan yang satunya lagi. Teriakan kedua kembali terdengar lebih menyayat hati.

"Sekali lagi kamu tidak mengatakannya, kepalamu lah yang putus!"

Tawanan itu mendongak, matanya menatap tajam dengan niat membunuh yang murni ke arah Kapten Jon, menolak untuk menyerah.

Melihat tidak ada informasi yang bisa didapat, Kapten Jon segera mengayunkan pedangnya dalam satu gerakan bersih, memenggal kepala tawanan tersebut hingga tewas seketika.

Simon mengamati pemandangan berdarah itu dengan wajah datar, Simon sudah lama terbiasa dengan kekejaman dunia ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!