NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:30.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

Di tengah pagut4n yang kian dalam dan memabukkan, kilasan masa lalu yang teramat menyakitkan tiba-tiba melintas begitu saja di benak Ananda. Tragedi malam naas enam tahun yang lalu, tangisannya yang tak didengar, serta hancurnya masa depannya seolah berputar kembali.

Kesadaran Ananda tersentak hebat.

‘Apa yang aku lakukan? Pria di hadapanku ini adalah monster yang telah menghancurkan hidupku!’ batinnya menjerit panik.

Ananda tidak boleh membiarkan ini berlarut-larut. Dengan sisa tenaga dan kenekatan yang ada, ia memanfaatkan posisi bibir mereka yang masih bertautan, lalu menggigit kuat-kuat bibir bagian bawah Tristan.

"Akh!"

Tristan mengerang keras, seketika menghentikan pagut4nnya. Ia menarik kepalanya mundur sambil meringis kesakitan, memegangi bibir bawahnya yang berdenyut perih. Di saat itulah, Ananda langsung mendorong dada Tristan dengan sekuat tenaga hingga pria itu terjerembap ke belakang di atas tempat tidur.

Tanpa membuang waktu, Ananda bergegas bangkit dan berlari kencang keluar dari kamar pribadi tersebut. Ia melewati ruang kerja CEO yang kosong dan langsung menuju ke arah meja kerjanya. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah tak terbendung. Napasnya memburu, didera rasa takut, marah, dan benci pada dirinya sendiri karena sempat terbuai. Sambil terisak, ia menyentuh bibirnya yang kini terasa sedikit bengkak dan berdenyut akibat ciuman brutal tadi.

Dengan tangan gemetar, Ananda meraih blazer kerjanya dari sandaran kursi, memakainya dengan terburu-buru untuk menutupi bagian atas dress hitamnya yang sedikit longgar dan terbuka. Setelah itu, ia menyambar tas miliknya, mengabaikan semua berkas yang berantakan, dan memutuskan untuk pergi meninggalkan kantor detik itu juga.

Tepat saat ia berlari menuju lobi lift, pintu lift VIP berdenting terbuka. Kevin melangkah keluar dan seketika berpapasan langsung dengan Ananda.

"Nanda? Kau mau ke mana?" tanya Kevin heran setengah mati. Langkahnya terhenti melihat sang sekretaris menangis sesenggukan dengan penampilan yang teramat berantakan.

Ananda sama sekali tidak menghiraukan panggilan Kevin. Dengan tatapan kosong yang dipenuhi air mata, ia langsung menerobos masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka, lalu menekan tombol penutup dengan cepat. Pintu lift pun tertutup, menyembunyikan tangis histeris Ananda di dalam sana.

Melihat ada yang tidak beres, firasat Kevin mendadak memburuk. Ia segera berlari cepat menuju ruangan CEO dan menerobos masuk tanpa mengetuk pintu lagi.

Sementara itu, di dalam kamar pribadinya, Tristan masih duduk di tepi ranjang. Ibu jarinya menyentuh sudut bibir bawahnya yang mengeluarkan sedikit darah akibat gigitan Ananda. Rasa perih itu menjalar, namun anehnya, seulas senyum puas justru perlahan terukir di wajah tampannya.

‘Kau brutal juga sekarang, Itik. Kau bahkan sudah berani menyerangku balik,’ batin Tristan, matanya berkilat penuh gair4h. ‘Tapi... aku justru sangat suka dengan dirimu yang sekarang. Kau tidak mudah ditindas, tegar, dan juga sangat berani.’

Tristan terkekeh pelan, mengusap bibirnya yang masih basah oleh bekas saliva mereka berdua. Rasa manis dari bibir Ananda seolah masih tertinggal di sana, membuat kerinduannya selama enam tahun ini sedikit terobati.

BRAKK!

"Tuan! Tuan Tristan!"

Kevin menerobos masuk ke dalam kamar pribadi dengan wajah panik. "Nanda... kenapa Nanda main pergi begitu saja sambil menangis? Sebenarnya apa yang sudah terjadi di dalam sini, Tuan?!"

Tristan perlahan menolehkan kepalanya ke arah Kevin, bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, begitu Tristan menatapnya, Kevin seketika mematung di tempat. Jantung asisten pribadi itu berdegup kencang karena terkejut.

Deg!

Mata Kevin membelalak sempurna. Ia melihat dengan sangat jelas sudut bibir bawah bosnya itu robek dan berdarah. Tak hanya itu, ada sisa noda lipstik tipis yang tercetak samar di area sekitar bibirnya Tristan.

Melihat bukti nyata di hadapannya, tangan Kevin mengepal kuat di sisi tubuhnya. Amarah dan rasa kecewa mendadak bergejolak di dalam dadanya.

‘Ya Tuhan... Apa yang sudah Tuan Tristan lakukan terhadap Ananda? Mengapa bibirnya berdarah dan ada bekas lipstik? Apakah... apakah dia telah bertindak kurang ajar dan melecehkan wanita itu di saat kondisinya sedang lemah setelah bertengkar dengan Bella?’ batin Kevin meradang, tidak rela jika sekretaris yang selama ini ia kagumi telah menjadi korban kesewenang-wenangan atasannya sendiri.

*

*

Ananda melangkah terburu-buru keluar dari gedung pencakar langit Bratadikara Group, lalu segera menghentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas. Begitu pintu mobil tertutup dan taksi mulai membelah jalanan ibu kota yang padat, pertahanan Ananda runtuh total. Di kursi belakang, ia terus saja menangis tersedu menumpahkan segala rasa sesak, amarah, dan penghinaan yang baru saja dialaminya.

Namun, di tengah isak tangisnya, akal sehatnya kembali berputar. Ia tersadar bahwa ia tidak boleh terlihat rapuh dan hancur di depan sang ibu dan putra tercintanya.

‘Aku harus kuat. Aku tidak boleh membuat Ibu jantungan dan Elvano ketakutan melihat kondisiku yang berantakan begini,’ batin Ananda sembari menghapus air matanya dengan tisu.

Ia mulai memutar otaknya, mencari alasan yang logis untuk menjelaskan kepulangannya yang jauh lebih awal, serta bekas tamparan di bibir dan luka cakaran di lehernya agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Setibanya di depan rumah kontrakan sederhananya, Ananda turun dari taksi dengan hati-hati. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar halaman yang tampak sepi dan lenggang. Motor atau tanda-tanda keberadaan ibunya tidak terlihat.

"Pasti Ibu sama El sedang main ke rumah Cing Juki. Baguslah... Aku bisa sedikit lebih lega sekarang," gumam Ananda pelan, menghembuskan napasnya penuh rasa syukur.

Ia pun merogoh tasnya, mengambil kunci cadangan yang selalu ia bawa, lalu bergegas masuk ke dalam rumah untuk segera membersihkan diri dan mengobati lukanya sebelum mereka kembali.

Sementara itu, di sebuah kafe premium di kota Jakarta, suasana yang berbeda sedang tercipta. Andre dan Indra duduk berhadapan di dalam sebuah ruangan privat yang sengaja mereka pesan agar pembicaraan mereka tidak bocor ke telinga orang luar.

Andre menopang dagunya, menatap Indra dengan pandangan menuntut. Ia sudah tidak sabar ingin mengetahui perkembangan informasi soal si itik buruk rupa yang menjadi kunci keselamatan mereka dari amukan Tristan. Di seberang meja, Indra tampak gelisah. Ia ingin sekali membagikan apa yang diketahuinya, namun bayangan ancaman tajam dari Ananda yang bisa menghancurkan hubungannya dengan Feby terus membayangi pikirannya.

"Indra, lo pasti sembunyikan sesuatu dari gue. Gue kenal lo udah lama, Dra. Gue tahu elo sebenarnya elo sudah dapat informasi valid soal si itik, kan?" selidik Andre dengan mata menyipit tajam.

Indra menghela napasnya dengan kasar, mengusap wajahnya yang mendadak gusar. Ia benar-benar berada di posisi serba salah. Di satu sisi, ia takut hubungannya dengan Feby hancur karena ancaman Ananda. Namun di sisi lain, ia juga tidak mau kariernya di kepolisian tamat jika Tristan sampai bertindak nekat karena mengira dirinya menyembunyikan informasi. Setelah menimbang risiko, Indra akhirnya memilih untuk jujur pada sahabatnya itu.

"Gue emang udah tahu siapa itu si itik yang sebenarnya, Dre. Setelah gue selidiki dan bahkan bertemu langsung dengan dia kemarin... rupanya dia adalah sekretaris pribadinya Tristan sendiri di Bratadikara Group!" ungkap Indra dengan suara berbisik namun tegas.

Andre, yang tempo hari sempat bertemu langsung dengan sekretaris barunya Tristan saat makan siang di Lyon Resto, seketika melongo tak percaya. Matanya melotot. "Dra, elo yakin sama perkataan elo? Elo gak lagi bercanda atau bohongin gue, kan?!"

"Untuk apa gue bohong sama elo, Dre? Gak ada gunanya buat gue!" sahut Indra jengkel.

"Tapi... tapi kok bisa, Dra? Kenapa si itik bisa berubah sebegitu cantiknya sampai secantik bidadari gitu? Malah... atasan gue Tuan Samuel sendiri sampai tertarik dan kelihatan suka banget sama dia tanpa sadar!" tanya Andre bertubi-tubi, masih syok dengan kenyataan ini.

"Itu karena si itik telah melakukan banyak perawatan besar, dan kebetulan... dia dibantu oleh kekasih gue sendiri, Feby. Feby itu sahabat dekatnya sejak lama," jelas Indra lagi.

Lagi-lagi, Andre dibuat terkejut bukan main. Kepalanya menggeleng-geleng heran.

"Wow... kejutan apalagi ini, Dra? Jadi cewek elo itu ternyata temen dekatnya si itik? Dunia bener-bener sempit banget!"

Indra mengangguk pelan dengan raut wajah yang kembali serius. "Iya, Dre. Dan... ada satu rahasia besar lagi yang wajib lo tahu."

"Apa lagi, Dra? Ayo cepat katakan, jangan bikin gue jantungan karena penasaran!" desak Andre tidak sabar, memajukan tubuhnya ke depan meja.

"Si itik... dia sudah punya anak. Dan anak laki-laki itu... adalah anak kandungnya Tristan!"

DUAR!

Perkataan Indra barusan bak bom waktu yang meledak tepat di hadapan wajah Andre. Otaknya seketika membeku. Ia sama sekali tidak habis pikir jika kejadian naas di hotel enam tahun lalu ternyata membuahkan janin di rahim gadis yang dulu mereka rundung.

"Wah, gila... tokcer juga si Tristan, ya! Sekali tancap langsung jadi!" celetuk Andre spontan dengan tawa hambar, mencoba mencerna rasa syoknya.

Indra langsung menjitak pelan lengan Andre, merasa kesal. "Hadeuh... di saat genting dan serius seperti ini bisa-bisanya kau berkata seperti itu! Oh iya, gue punya bukti. Gue sempat ambil foto si itik sama anaknya secara diam-diam pas acara ulang tahun kemarin di mall."

Indra merogoh ponselnya, lalu menunjukkan sebuah foto di layar canggihnya. Di dalam foto itu, terlihat jelas wajah Elvano yang sedang tersenyum ceria di depan kue ulang tahun, didampingi Ananda.

Melihat guratan wajah bocah itu, Andre tersenyum lebar. Kemiripan bocah itu dengan Tristan benar-benar tidak bisa dibantah. "Dra, gue bagi fotonya! Kirim ke gue sekarang!"

"Iye, iye, nih gue kirim lewat pesan singkat," sahut Indra sambil menekan layar ponselnya.

"Eh, tapi Dra... elo yakin seratus persen kalau itu emang beneran anaknya Tristan? Maksud gue, garis keturunannya legal?" tanya Andre lagi, ingin memastikan tidak ada celah kesalahan.

"Yakinlah! Kata cewek gue, si itik itu ketahuan hamil pas dia baru pindah ke Palembang karena ikut program transmigrasi dari pemerintah. Terus, pas usia kehamilannya menginjak tujuh bulan, ada seorang pria lokal di sana yang bersedia menikahi dia secara resmi. Si itik terpaksa menerima pernikahan itu karena dia butuh identitas hukum dan status untuk bayinya nanti. Hanya saja, suaminya si itik itu meninggal dunia akibat kecelakaan di saat usia pernikahan mereka masih seumur jagung," tutur Indra panjang lebar, membeberkan cerita yang ia korek dari Feby.

Mendengar kronologi lengkap tersebut, senyum licik perlahan terbit di wajahnya Andre. Rasa takutnya hilang, digantikan oleh perasaan lega yang teramat sangat. Informasi ini adalah emas murni yang bisa menyelamatkan lehernya dari kemarahan Tristan, bahkan mungkin bisa membuatnya mendapatkan banyak keuntungan jika ia berhasil menyatukan kembali Tristan dengan anak kandungnya.

Setelah menyelesaikan pertemuan singkatnya dengan Indra dan keluar dari kafe privat tersebut, Andre berjalan menuju mobilnya dengan langkah ringan. Sambil menggenggam ponselnya yang kini sudah berisi foto bukti wajah anaknya Tristan, Andre segera mencari kontak nomor pribadi Tristan. Ia berniat menghubungi sang CEO detik itu juga untuk membocorkan rahasia besar yang akan mengubah takdir mereka semua.

Bersambung...

1
Nar Sih
gak usah dgr kata orang nanda ,yg penting diri kita
Nar Sih
alhamdulilah sdh terungkap semua☺️
Lilis Ilham
ahirnya tercapai juga cinta pertama😍😍😍
Lilis Ilham
aku ada disini tuan Tristan😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
tetangga kepo, tukang ngerumpi ga ada kerjaan bgt
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: berarti gk dimana-mana ya kak, malah sekarang sudah trend bapak-bapak ikut jadi tukang gosip juga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Ilfa Yarni
hahahaha terciduk kalian kasian kevin patah hati sebelum berkembang hahaha
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr 😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lanjut besok ya kak 😉
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh mulai dah pada julid, bilang aj iri sm Nanda ya ibu ibu
Teh Euis Tea
Nanda mirip ayu Ting Ting klu LG meluk Tristan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, kok bisa 😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
huhhh lagi lagi si Bella biang keroknya, enaknya di gantung x ya biar kapok
Teh Euis Tea
ada rahasia apa si dre? jd penasaran ini
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak gpp, ikh selow aja sama aku mah 😉😊
total 3 replies
Nar Sih
semoga dgn kejujuran dan terbongkar nya mslh ini nanda bisa memaaf kan semua
Nar Sih
mkin pensaran dgn rahasia yg kau simpan andre
Nar Sih
semoga ini pertemuan yg akan membawa ananda dan putra nya bahagia
Dartihuti
Ciieee...yang udah dapat sama" buka diri aaa ...lega,ttp ti ati cr bukti gimana busuknya si Bello😄🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
nyonya Mutia dengarin tuh kata tuan Surya, nyari pasangan tuh yang tulus jangan dilihat dari hartanya tuh kaya Bela walaupun kaya tapi hatinya jahat dan busuk,ayo Tristan selidiki lebih lanjut Bela dan hasilnya kasih tahu nyonya Mutia biar tahu betapa jahatnya Bella
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 👍🏼😉
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya kmu tau kan tristan saat nya kmu lebih berusaha agar nanda memaaf kan mu
Nar Sih
ayoo dree sgra kaaih tau kebnran nya pada tristan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😊
total 1 replies
Ilfa Yarni
waah Tristan sekarang udah terang2an bilang sayang sama Nanda eits hati2 Tristan jgn sampe keceplosan dikantor bilang sayang ya nanti kebongkar hubungan kalian sebelum wkt yg tepat selesaikan dulu urusan perusahaanmu yg kacau dan km jg hrs cari tau gmn kehidupan bella dan tingkah lakunya diluar sana agar nanti km menolaknya ada bukti klo bella itu ga pantas buat km tristan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip Bunda
total 1 replies
Aghitsna Agis
aih padahal tristan pura2 duterima pertunana itu nah nanti bongkar semua kebusukan bella dan mungkin bella sydah sering gunti ganti pasang nanti pasang lsyar tancap disana dsn thor harus langsung up juga dirunggu mks
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nanti ada saatnya si Bella di balas oleh Tristan ya kak 😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!