NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Dua Pernikahan, Satu Hari

"Urusan dia, biar saya yang urus."

Namun selama beberapa hari berikutnya, Bram tidak menggunakan pangkat atau kekuatan untuk mendatangi Rendra. Ia hanya meminta Wahyu memastikan dokumen pernikahan selesai tepat waktu dan menyimpan bukti bila Rendra kembali mengganggu.

Sikap itu membuat Laras semakin yakin telah mengambil keputusan yang benar.

Tiga hari sebelum akad, mereka datang ke KUA untuk pemeriksaan terakhir. Petugas memastikan status cerai Laras telah tercatat, izin pernikahan dari satuan lengkap, wali dan saksi siap, serta mahar telah disepakati.

"Resepsi kecilnya setelah akad di Gedung Flobamora, ya?" tanya petugas.

Ratih yang ikut bersama mereka mengangguk. "Hanya keluarga, rekan satuan, dan beberapa orang dari peternakan."

Laras melirik daftar undangan yang sudah dua halaman penuh. "Definisi kecil Bunda berbeda dari saya."

"Kalau seluruh kenalan Bunda di Jakarta datang, baru namanya besar."

Bram menyerahkan pulpen kepada Laras. "Kalau ada nama yang tidak kamu inginkan, coret."

Tidak ada satu pun anggota Keluarga Kusnadi di dalam daftar. Laras tidak perlu mencoret apa pun.

Setelah dari KUA, Bram mengajaknya melihat kendaraan pengantin. Sebuah mobil hitam sederhana telah dihias minimalis. Di belakangnya akan ada beberapa kendaraan keluarga, satu mobil untuk Ratih, dan kendaraan rekan satuan yang datang sebagai tamu, bukan pasukan upacara.

"Bunda ingin menyewa lebih banyak," kata Bram. "Saya menolak."

"Kenapa?"

"Kita menikah, bukan pawai kekuatan. Tapi jalur dari KUA ke gedung melewati jalan sempit. Wahyu mengatur urutan kendaraan supaya tidak memblokir lalu lintas."

Di bagasi tersimpan payung, air minum, sandal cadangan, kotak obat, dan satu tas kecil berisi alat kerja Laras.

"Untuk apa alat veteriner saya dibawa saat menikah?"

"Pak Yohanes bilang kamu mungkin tetap berhenti kalau melihat ternak sakit di tepi jalan. Lebih baik siap."

Laras menahan senyum. "Mayor mulai mengenal saya."

"Saya membaca laporan kejadianmu."

"Itu tidak sama dengan mengenal."

Bram menutup bagasi. "Kalau begitu, saya masih belajar."

Mereka melanjutkan ke rumah dinas yang akan ditempati setelah akad. Bangunannya tidak mewah, hanya rumah satu lantai dengan halaman kecil, dua kamar, dapur bersih yang jarang digunakan, dan teras menghadap deretan pohon asam.

Satu kamar sudah dikosongkan. Di dalamnya terdapat meja kerja baru, rak buku, serta lemari logam untuk menyimpan obat dan alat veteriner.

"Mayor menyiapkan ruang praktik?"

"Bukan praktik. Kamu bilang butuh tempat membaca laporan dan menyimpan peralatan. Pasien hewan tidak boleh masuk asrama tanpa izin."

Laras mengusap permukaan meja. Tidak ada hiasan romantis, tetapi setiap benda dipilih berdasarkan hal yang benar-benar ia perlukan.

"Kamar utama di sebelah," kata Bram. "Kalau kamu ingin tidur terpisah, saya pakai sofa sampai kita membeli ranjang untuk kamar ini."

"Tidak perlu sofa. Kita punya dua kamar dan bisa mengaturnya setelah menikah."

Bram tidak menekan lebih jauh. Ia menyerahkan dua kunci rumah, satu untuk Laras dan satu cadangan.

Di teras, Pak Sutrisno dan Pak Yohanes datang membawa surat pernyataan resmi tentang penanganan PMK. Mereka juga membawa daftar dua belas pekerja yang meminta izin menghadiri akad.

"Bu drh. menyelamatkan mata pencarian kami," kata Pak Sutrisno. "Kami ingin datang sebagai keluarga peternakan."

Surat itu mencantumkan peran Laras, jam kerja, tim Dinas, serta kronologi penanganan. Setelah diunggah ke grup koperasi, fitnah tentang hubungannya dengan Pak Yohanes mulai kehilangan tenaga. Beberapa ibu yang sempat ikut menyebarkan pesan bahkan menghapus unggahan mereka.

"Tidak perlu semua pekerja meninggalkan kandang," kata Laras. "PMK masih diawasi. Bagi jadwal. Enam orang hadir akad, enam tetap bertugas, lalu bergantian saat resepsi."

Pak Yohanes mengacungkan jempol. "Bahkan hari menikah masih mengatur kandang."

Jumlah tamu mereka bertambah, bukan karena Laras mengejar kemewahan, melainkan karena orang-orang yang pernah bekerja bersamanya ingin berdiri di pihaknya.

Di rumah Bu Marni, persiapan bergerak dengan cara berbeda.

Di sisi lain kota, Vania menatap pesan tentang tanggal akad Laras yang beredar di grup WhatsApp.

Nama gedung dan jam resepsi tercetak jelas pada undangan digital yang diteruskan seseorang dari koperasi.

"Mereka memakai Gedung Flobamora," katanya kepada Rendra.

Rendra sedang memeriksa rincian biaya pernikahan mereka sendiri. Setelah perceraian selesai, Bu Marni terus mendesaknya segera menikahi Vania agar omongan tetangga berhenti. Rendra belum sepenuhnya yakin, tetapi kabar Laras akan menikah lebih dulu menusuk harga dirinya.

"Kita sudah memesan aula rumah makan," katanya.

"Kecil sekali. Tamu rumah sakit pasti membandingkan." Vania duduk di sampingnya. "Gedung Flobamora punya dua aula. Kita bisa mengambil aula satunya pada hari yang sama."

"Untuk apa hari yang sama?"

"Bukan sengaja sama. Itu tanggal baik dan semua kolega sedang tidak jaga." Vania tersenyum. "Kalau kebetulan bertemu, setidaknya semua orang melihat kita juga bahagia."

Bu Marni langsung setuju. "Bagus. Biar Laras tahu Rendra tidak kehilangan apa pun setelah menceraikannya."

"Biayanya lebih mahal," kata Rendra.

"Vania punya banyak kenalan terpelajar. Masa pernikahan dokter kalah dari pernikahan perempuan yang baru kerja di kandang?"

Kalimat itu mengenai titik yang tepat. Rendra akhirnya menelepon pengelola gedung.

Aula kecil masih tersedia pada tanggal tersebut, tetapi uang muka harus dibayar hari itu juga. Untuk menutup biaya, Bu Marni mengurangi anggaran catering dan dekorasi.

"Yang penting gedungnya," katanya. "Makanan bisa cari paket murah."

Rendra membaca daftar menu termurah dan mengerutkan kening. "Harganya terlalu rendah. Vendor ini punya dapur di mana?"

"Teman arisan Mama pernah pakai," jawab Bu Marni. "Katanya porsinya banyak."

"Ada izin usaha dan pemeriksaan kebersihan?"

"Kamu dokter, bukan petugas catering. Jangan cari masalah baru."

Vania melihat foto menu yang dikirim vendor. Beberapa ulasan mengeluhkan makanan datang dingin, tetapi ia menutup layar sebelum Rendra sempat membaca. Jika biaya makanan membengkak, gaun dan dekorasi yang ia inginkan harus dipangkas.

"Kita minta mereka masak pagi-pagi dan kirim sebelum tamu datang," katanya. "Pasti aman."

Rendra masih tampak ragu, lalu notifikasi tentang daftar tamu Laras muncul di ponselnya. Ada pejabat satuan, pengurus koperasi, tim Dinas, dan beberapa tokoh lokal. Harga dirinya kembali mengalahkan kewaspadaan.

"Pesan saja," katanya.

Vania tidak keberatan. Yang ia inginkan adalah pintu masuk yang sama, tamu yang sama-sama melihat, dan kesempatan berdiri sebagai pengantin di depan Laras.

Dalam ingatan kehidupan sebelumnya, Laras selalu kalah darinya. Perempuan itu seharusnya datang dengan pakaian sederhana, menatap Rendra dengan penyesalan, lalu sadar bahwa posisinya telah digantikan.

Kali ini pun Vania yakin hasilnya tidak akan berbeda.

Dua hari sebelum akad, pengelola Gedung Flobamora menelepon Wahyu untuk mengonfirmasi pembagian pintu masuk. Ada dua acara pernikahan pada hari yang sama, satu di aula utama dan satu di aula samping.

Wahyu membaca nama pemesan kedua, lalu terdiam.

`dr. Rendra Kusnadi dan Vania Puspita.`

Ia segera membawa daftar itu kepada Bram.

"Komandan, perlu kita pindahkan lokasi?"

Bram membaca nama tersebut tanpa perubahan wajah. "Tanyakan kepada Laras."

Laras yang sedang memeriksa nota catering memandang daftar dua acara. Ia bisa menebak siapa yang sengaja memilih tanggal dan gedung yang sama.

"Tidak perlu pindah," katanya. "Kita memesan lebih dulu dan tidak mengambil milik siapa pun."

Ratih menatapnya khawatir. "Kamu yakin, Nak?"

"Saya datang untuk menikah dengan Bram, bukan menonton pesta mereka."

Bram mengangguk sekali. "Jadwal tetap. Jalur kendaraan dipisah sampai pintu gedung."

Secara teknis, kedua rombongan tidak perlu berhadapan.

Namun pada hari pernikahan, satu pintu masuk yang sama akan menunggu mereka.

1
aku
hitung ras!!! smpe tuntas pokoknya!! 🌹
aku
jgn di tolongin. biarin2.
aku
mamvuss!! pecat sekalian pecat!! yess /Curse/
aku
duh pengen kuikat tuh pegawai di kursi baru mulutnya sumpal pke kaos kaki /Scream//Curse/
aku
bagus laras, tegas!!
aku
modelan vania sm rendra n emaknya tuh manusia yg halal disantet 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!