Suara gemericik air hujan yang menabrak kaca jendela kamar menjadi satu-satunya dentang yang memecah keheningan di dalam ruangan bernuansa minimalis itu. Riana duduk di tepi tempat tidur berukuran king size, jemarinya meremas pinggiran sprei satin yang dingin. Di sudut ruangan lain, berdiri seorang pemuda berpostur jangkung yang sedang merapikan kerah kemeja hitamnya di depan cermin besar. Dialah Reza, sosok pria yang sejak dua bulan lalu secara sah menyandang status sebagai suaminya.
Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk hidup di bawah satu atap tanpa suara. Dua bulan berjalan seperti rentetan hari tanpa warna, di mana keberadaan satu sama lain dianggap layaknya bayangan yang tak memiliki wujud. Pernikahan ini bukanlah impian yang dianyam oleh cinta, melainkan sebuah simpul paksaan yang dijahit oleh warisan janji masa lalu.
Nenek moyang dari kedua keluarga besar mereka pernah membuat kesepakatan tertulis puluhan tahun lalu, sebuah amanah keluarga yang tak boleh dilanggar oleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernyataan Yang Mengusik
Reza tersentak kecil, dengan cepat menguasai dirinya kembali dan melempar pandangannya kembali ke layar ponsel. Guratan dingin langsung menyelimuti raut wajahnya seperti biasa.
"Gak ada. Jangan percaya diri," sahut Reza pendek, memutus pembicaraan dengan nada tak acuh.
Riana hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman sarat akan pemakluman. Ia tahu betul reputasi dirinya di kalangan teman-teman seangkatannya di semester dua. Banyak mahasiswa yang berusaha mendekatinya atau meminta nomor ponselnya saat jam istirahat kuliah, namun Riana selalu menolak dengan halus tanpa menyakiti perasaan siapa pun. Bagi Riana, fisik yang menawan adalah anugerah, tetapi menjaga sikap dan kehormatan diri adalah hal yang jauh lebih utama—terutama dalam situasi rumit yang sedang ia jalani saat ini.
Riana berjalan menuju sisi tempat tidurnya, lalu menarik selimut hingga sebatas dada. Ia mematikan lampu meja di sisinya, membiarkan ruangan hanya diterangi oleh lampu tidur yang remang-remang.
Di sisi lain kasur, Reza merenung dalam diam. Pikiran-pikiran kecil mulai mengusik ketenangannya. Ia tahu Riana populer dan banyak dikagumi di prodi mereka. Kebesaran hati Riana yang tidak pernah sombong meskipun memiliki paras cantik dan berasal dari keluarga kaya raya adalah hal yang diam-diam sulit diabaikan oleh Reza.
Namun, ego dan rasa gengsi yang tinggi, ditambah dengan keberadaan Sela yang selama ini mendampinginya di kampus, membuat Reza memilih untuk terus mengunci rapat-rapat pintu hatinya. Ia menegaskan pada dirinya sendiri bahwa pernikahan ini hanyalah formalities di atas kertas demi menuruti keinginan orang tua mereka, tak lebih dari itu.
Suara deru nafas yang teratur dan halus dari sisi kanan tempat tidur menjadi pertanda bahwa Riana telah benar-benar terlelap. Keheningan malam kian pekat, menyisa bayang-bayang remang dari lampu tidur yang memancar di sudut ruangan. Reza masih terjaga, memegang ponselnya dengan cahaya layar yang meredup, sibuk berbalas pesan singkat dengan Sela yang menceritakan rencana akhir pekan mereka.
Namun, di tengah denting ketukan jemarinya di layar ponsel, gerakan kecil dari Riana mengalihkan perhatiannya. Tubuh Riana berbalik perlahan, menghadap ke arah sisi tempat tidur Reza. Rambut hitamnya yang bergelombang tersebar acak di atas bantal, membingkai wajah cantiknya yang kini tampak begitu polos dan damai tanpa sisa ketegangan.
Reza tertegun. Jemarinya membeku di atas layar ponsel.
Dalam lelapnya, Riana terlihat begitu memesona. Garis wajahnya yang tegas namun lembut, bulu matanya yang lentik, serta bibir alaminya yang sedikit terbuka menciptakan pemandangan yang tak pernah Reza bayangkan sebelumnya. Tanpa ekspresi dingin atau tatapan defensif yang biasa wanita itu tunjukkan di balik benteng pertahanannya, Riana tampak begitu rapuh sekaligus menawan.
Layar ponsel di genggaman Reza meredup lalu mati secara otomatis, memperjelas bayangan Riana di balik remangnya kamar. Untuk beberapa saat, pesan dari Sela tak lagi dihiraukannya. Ada desakan aneh di dalam dada Reza—sebuah kejujuran yang enggan ia akui bahwa wanita yang secara sah menjadi istrinya ini memiliki daya pikat yang sanggup meruntuhkan pertahanan dirinya jika ia tak waspada.
Reza memiringkan tubuhnya, menatap Riana dari jarak yang hanya terpaut beberapa puluh sentimeter. Ini adalah jarak terdekat yang pernah ada di antara mereka tanpa diiringi perdebatan dingin atau batasan ucapan. Reza memperhatikan detail wajah Riana dengan saksama—sesuatu yang selalu ia hindari selama dua bulan terakhir demi menjaga jarak emosional di antara mereka.
Ia teringat desas-desus di kalangan mahasiswa semester dua dan empat di fakultas mereka. Beberapa temannya sempat membicarakan seorang mahasiswi baru yang menjadi perbincangan hangat karena paras cantiknya yang luar biasa dan kepribadiannya yang ramah. Saat itu Reza tidak terlalu peduli, tetapi malam ini, melihat Riana tidur di sampingnya, ia menyadari bahwa setiap pujian orang-orang di kampus bukanlah hal yang berlebihan.
Riana bukan hanya cantik secara fisik, tetapi ada ketenangan yang terpancar dari dirinya—sesuatu yang sangat kontras dengan kerumitan hidup yang dipaksakan pada mereka berdua.
Reza menghela napas pendek, mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit kamar. Rasa bersalah dan kecanggungan bertarung di dalam pikirannya. Di satu sisi, ada Sela yang menunggunya dan mengharapkannya di luar sana. Namun di sisi lain, ada Riana—istri sahnya yang terikat oleh janji leluhur, seseorang yang berbagi atap dengannya tetapi selalu ia perlakukan seperti orang asing.
Dengan perlahan, agar tidak membangunkan Riana, Reza menarik selimut yang meluncur turun dari bahu Riana hingga menutupi dadanya kembali. Reza menatap wajah tidur itu sekali lagi sebelum akhirnya membelakangi Riana, memejamkan mata, dan mencoba mengusir bayangan kecantikan Riana yang mendadak mengusik ketenangan pikirannya.