Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dijebak dan difitnah oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa melarikan diri dalam keadaan terluka, Reno terpaksa menyembunyikan identitas aslinya dan menjadi menantu numpang yang dihina di keluarga Pramudya. Di mata ibu mertua dan orang-orang kota, ia hanyalah pria miskin tak berguna yang hanya bisa mencuci piring dan menerima makian.
Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa penyamaran miskin itu adalah cara Reno menguji hatinya sekaligus memulihkan teknik kultivasi kuno "Sutra Naga Kuno" demi menyelesaikan ujian kesembilan dari organisasinya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya yang matrealistis memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan wanita itu dengan seorang tuan muda kaya yang sombong, Brandon Pratama. Di hari yang sama ketika surat cerai dilemparkan ke wajahnya, masa pengasingan Reno resmi berakhir! Kelompok elit terkaya dan terkuat di dunia—Grup Naga Hitam—berlutut menyambut kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: ANCAMAN DARI SAMUDRA BARAT
Suara deru angin laut membentur tebing-tebing karang di wilayah garis pantai Samudra Barat.
Berita mengenai ancaman Aliansi Kuno Enam Negara langsung menyebar ke kalangan elit dunia dalam hitungan jam.
Di dalam ruangan komando utama helikopter pribadi yang sedang melaju menuju pesisir, Reno duduk santai sambil menatap layar monitor.
Bagas berdiri di sampingnya, membacakan laporan intelijen dengan nada suara yang amat serius.
"Tuan Muda, Aliansi Kuno Enam Negara telah mengerahkan sepuluh kapal induk dan ribuan praktisi Ranah Raja Spiritual," lapor Bagas tegap.
"Mereka mengepung wilayah perbatasan laut kita dan menuntut Tuan Muda menyerahkan Sutra Naga Kuno," tambah Bagas menjelaskan detail.
Reno meminum kopi hitam di tangannya perlahan, menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin.
"Aliansi enam negara? Mereka pikir jumlah banyak bisa menutupi kekalahan?" pukas Reno santai.
'Hadeuhhh... padahal gue cuma mau liburan tenang sama Alya, ada aja yang nyari masalah,' batin Reno menghela napas pelan.
Ponsel di saku jas Reno mendadak berdering nyaring.
Nama Alya tertera jelas di layar ponselnya.
Reno segera menguser layar ponselnya dan mengangkat telepon tersebut dengan senyum hangat.
"Halo, sayang? Kamu sudah sampai rumah?" tanya Reno lembut.
"Sudah, Reno. Tapi aku nonton berita di televisi... Katanya ada konflik besar di batas laut Samudra Barat?" suara Alya terdengar khawatir.
"Kamu nggak usah khawatir ya, itu cuma latihan militer biasa kok," dalih Reno menenangkan hati istrinya.
"Beneran cuma latihan? Tolong jangan bahayain diri kamu sendiri ya, Reno," bisik Alya penuh rasa cemas.
"Aku janji bakal pulang tepat waktu buat makan malam bareng kamu," sahut Reno mantap.
"Ya sudah, aku pegang janji kamu ya. Hati-hati di sana," balas Alya sebelum menutup sambungan telepon.
Reno memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas, lalu menatap Bagas dengan binar mata keemasan yang berkilat tajam.
"Bagas, landed tepat di atas kapal komando utama mereka," perintah Reno tegas.
"Siap, Tuan Muda!" jawab Bagas sigap.
Sementara itu, di atas geladak kapal induk raksasa milik Aliansi Kuno Enam Negara yang terombang-ambing di tengah samudra.
Enam pria berseragam komando emas berdiri bersedekap dada di dekat meriam utama.
Mereka adalah Para Panglima Tertinggi Aliansi Kuno yang masing-masing menguasai Ranah Kaisar Spiritual Tingkat Puncak.
"Apakah pemuda bernama Reno itu benar-benar bernyawa sembilan hingga berani menolak tuntutan kita?" tanya Panglima Negara Barat dengan senyum angkuh.
"Di atas lautan ini, Formasi Badai Samudra milik aliansi kita tak tertandingi oleh siapa pun!" seru Panglima Negara Utara penuh kebanggaan.
"Jika dia tidak menyerahkan Sutra Naga Kuno dalam sepuluh menit, kita ratakan seluruh kota pesisir negaranya!" ancam Panglima Negara Selatan.
Namun, sebelum ucapan Panglima Negara Selatan selesai...
Brakkkk!
Sebuah ledakan udara bertekanan tinggi menghantam tepat di tengah geladak kapal induk raksasa tersebut!
Asap hitam membumbung tinggi, menampakkan sosok Reno yang berdiri tegap sendirian di tengah kepungan ribuan prajurit elit aliansi.
Bagas mendaratkan helikopter di kejauhan, menjaga jarak aman sesuai instruksi Reno.
Panglima Negara Barat terbelalak kaget, memegang gagang pedang besarnya dengan erat.
"Sialan! Lu benar-benar berani menyusup ke kapal komando utama kami?!" bentak Panglima Negara Barat murka.
"Penyusup? Gue datang secara terhormat buat menagih janji perang kalian," sahut Reno dengan pandangan malas.
"Sombong sekali lu, Pemuda Ingusan!" jerit Panglima Negara Utara histeris.
"Aktifkan Formasi Badai Samudra sekarang juga! Cincang dia sampai tak tersisa!" perintah Panglima Negara Barat serentak.
Brakkkk!
Enam Panglima menghentakkan kaki mereka ke atas geladak baja kapal induk.
Gelombang air laut di sekeliling kapal mendadak bergulir hebat, membentuk enam pusaran air raksasa setinggi ratusan meter.
Petir menyambar-nyambar di langit mendung, membawa bau amis energi terlarang yang amat mematikan.
"Mati lu di dalam pusaran air terlarang ini!" teriak enam panglima serentak.
Enam naga air raksasa melesat turun dari langit, mengincar tubuh Reno dari segala arah dengan kecepatan suara.
*Wusss! Wusss! Wusss!*
Para prajurit aliansi di atas kapal bersorak girang, meyakini tak ada satu pun manusia yang bisa selamat dari gempuran tersebut.
Namun, Reno hanya tersenyum tipis menatap enam naga air yang menerjangnya.
Dia merentangkan kedua tangannya ke udara, memanggil seluruh potensi Sutra Naga Kuno tingkat tertinggi.
"Teknik Naga Kuno: Pembalik Samudra Agung!" pukas Reno dengan suara menggelegar bagaikan petir.
Brakkkk!
Cahaya emas murni meledak dahsyat dari dalam tubuh Reno, membumbung tinggi menembus garis awan samudra.
Aura naga emas raksasa sepanjang seribu meter menampakkan wujudnya di atas langit lautan, mengaum keras membelah gelombang air!
*Roarrrr!*
Gelombang kejut aura keemasan itu membuat enam naga air raksasa hancur seketika menjadi buih-buih kecil di udara!
power keemasan Reno merambat cepat, membalikkan pusaran air samudra hingga menghantam balik sepuluh kapal induk aliansi.
Brakkk! Pranggg!
Sepuluh kapal induk raksasa milik aliansi terombang-ambing keras, lambung baja mereka retak hebat dihantam gelombang kejut emas.
"Guaaarkkk!"
Enam Panglima Utama memuntahkan darah segar secara bersamaan, tubuh mereka terpental keras menghantam dinding meriam baja.
Kekuatan Formasi Badai Samudra milik mereka hancur total hanya dalam hitungan detik!
"T-Tidak mungkin! Ini bukan kekuatan Ranah Kaisar... Ini adalah Ranah Dewa Spiritual Sejati?!" jerit Panglima Negara Barat histeris sambil gemetaran hebat.
Keringat dingin mengalir deras membasahi seluruh tubuh enam penguasa perang tersebut.
Reno melangkah maju pelan-pelan di atas geladak baja yang sudah melengkung penyok.
Setiap pijakan kaki Reno memancarkan riak cahaya emas yang membekukan aliran air laut di sekitar kapal.
"Masih mau meratakan kota pesisir gue?" tanya Reno dingin sambil berdiri tepat di atas tubuh Panglima Negara Barat.
Panglima Negara Barat yang dulunya sangat angkuh kini membenturkan kepalanya berulang kali ke geladak baja.
"A-Ampun, Tuan Dewa! Hamba mengaku salah! Tolong ampunkan nyawa kami!" ratap Panglima Negara Barat menangis histeris.
Lima Panglima lainnya ikut tersungkur berlutut, membuang seluruh kehormatan negara mereka di hadapan Reno.
"Aliansi Kuno Enam Negara bersedia membayar ganti rugi perang dan tunduk sepenuhnya di bawah kekuasaan Anda!" jerit lima panglima serentak.
Reno menatap enam orang itu dengan pandangan datar tanpa emosi sedikit pun.
"Bagas!" panggil Reno keras.
Bagas melompat turun dari helikopter, mendarat mulus di samping Reno.
"Siap, Tuan Muda!" jawab Bagas membungkuk hormat.
"Sita seluruh wilayah tambang minyak rakitan dan aset samudra milik enam negara ini," perintah Reno tegas.
"Siap, Tuan Muda! Pelaksanaan akuisisi tingkat internasional akan selesai malam ini!" sahut Bagas mantap.
Reno membalikkan badannya, melangkah menuju helikopter pribadi untuk segera kembali ke rumah.
Namun, saat Reno baru saja melangkah naik ke helikopter, sebuah pancaran sinyal merah pekat mendadak melesat dari dasar laut terkecil.
*Wusss!*
Sebuah mutiara kuno berwarna hitam pekat keluar dari pusaran air dasar laut, melayang tepat di hadapan Reno.
Mutiara itu memancarkan suara bisikan kuno yang sangat berat dan misterius:
*"Selamat... Penguasa Baru... Kunci Segel Alam Dewa Abadi telah terbuka..."*