NovelToon NovelToon
One Piece : Sistem In The Shinobi World

One Piece : Sistem In The Shinobi World

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Sistem / Naruto
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Seorang penggemar anime tiba-tiba terbangun di sebuah pulau terpencil di dunia Naruto. Saat kebingungan mencari jalan keluar, sebuah sistem misterius muncul.

One Piece System.

Dengan sistem ini, ia dapat memperoleh karakter-karakter dari dunia One Piece sebagai bawahannya. Namun, untuk mendapatkan mereka, ia harus membangun reputasi dan pengaruh.

Bajak laut, Angkatan Laut, hingga tokoh-tokoh besar One Piece—semuanya bisa menjadi bagian dari kekuatannya.

Di dunia Naruto yang penuh konflik, ia harus menentukan jalannya sendiri.

Membangun kekuatan dari balik bayangan, atau menjadi legenda yang dikenal seluruh dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Peluang di Antara Puing

Rian menahan napasnya di balik semak-semak tebing karang, menjaga agar posisinya tetap tak terlihat. Matanya meneliti setiap pergerakan dua pria di pantai utara itu.

Pria bernama Jiro melompat turun dari perahu, memegang seutas tali rami lalu mengikatkannya pada batang kayu terdampar yang tertanam di pasir. Ia berpaling pada temannya yang berpenutup mata.

"Ario, kamu jaga perahu ini," perintah Jiro seraya menunjuk ke arah bangkai kapal kayu di atas karang. "Aku akan naik ke kabin utama untuk memeriksa apa ada peti emas atau koin Ryo yang tertinggal. Kalau melihat bendera patroli Kirigakure di garis cakrawala, langsung tiup peluit."

"Cepatlah, Jiro," balas Ario seraya mendarat di pasir basah. Ia membetulkan posisi kantong kain di punggungnya. "Tempat ini terlalu dekat dengan zona patroli Desa Kabut. Aku tidak mau leherku dipenggal ninja Kiri cuma demi beberapa keping perak."

Jiro tidak menjawab lagi. Ia menyibak semak pantai dan mulai memanjat bebatuan karang licin menuju lambung kapal yang kandas.

Rian, yang mengamati dari jarak sekitar dua puluh meter di atas tebing, mengagumi kebetulan ini. Musuhnya terpisah secara alami.

"Satu orang menjaga perahu, satu orang berada di dalam kabin kapal..." Rian menganalisis situasi di dalam kepalanya. Intelligence bernilai 14 membuatnya mampu berpikir dingin dan terstruktur di bawah tekanan.

Kekuatan fisiknya yang hanya berada di angka 8 membuat pertarungan langsung dua melawan satu sangat berisiko. Namun, memisahkan sasaran dan memanfaat keunggulan kejutan adalah cerita yang berbeda.

Ario berjalan mendekati sebuah batu karang besar di tepi pantai, menyandarkan punggungnya di sana seraya mencabut sebatang rumput kering untuk digigit. Parang pemotong kayu di pinggangnya terkulai begitu saja.

Rian mulai bergerak. Ia memanfaatkan kelenturan tubuh yang dipelajari dari Rokushiki: Kami-e (Basic) untuk mengontrol setiap tumpuan berat badannya. Langkah kakinya menyusuri celah batu karang tanpa menimbulkan gesekan kerikil sedikit pun.

Ia turun dari tebing utara secara memutar, berlindung di balik bayang-bayang batu karang besar tepat di belakang posisi Ario berdiri.

Rian menggenggam erat gagang Basic Hunting Knife di tangan kanannya.

Saat jarak mereka tinggal tiga meter, tumit Rian memijat serpihan cangkang kerang kering di atas pasir.

Krik.

Suara halus itu sudah cukup untuk mengejutkan Ario yang berada dalam kondisi waspada. Pria berpenutup mata itu berbalik seketika, matanya membelalak kaget melihat sosok Rian yang berpakaian koyak berdiri sangat dekat darinya.

"Siapa kamu?!" pekik Ario terperanjat. Tangannya dengan refleks memegang gagang parang di pinggang dan menariknya keluar, mengayunkannya secara melintang ke arah leher Rian.

Tebasan parang itu cepat dan liar, didorong oleh kepanikan.

Di saat kritis tersebut, Rian mengaktifkan Kami-e.

Seketika, persepsi Rian terhadap pergerakan udara di sekitarnya mengajam. Tubuhnya mengendur seperti helai kertas ringan. Saat mata bilah parang yang tajam melaju menuju lehernya, tubuh Rian meliuk ke belakang secara alami, membiarkan tebasan baja itu melintas hanya beberapa milimeter di atas dadanya tanpa menyentuh selembar kain pun.

Ario kehilangan keseimbangan akibat dorongan tebasannya sendiri yang luput menghantam angin.

[Stamina berkurang: 7 → 5]

Mengabaikan rasa lelah mendadak di persendiannya, Rian tidak menyia-nyiakan ruang terbuka tersebut. Ia melangkah maju menembus pertahanan Ario, menghantamkan bagian bawah gagang pisau berburunya yang keras tepat ke arah tulang rahang bawah Ario sekuat tenaga.

Bugh!

Bunyi benturan tumpul bergema. Ario mengerang kesakitan, matanya mendelik saat kesadarannya mendadak gelap. Pria itu ambruk ke atas pasir basah, tak bergerak, dengan parangnya terlepas dari genggaman.

Rian berlutut cepat, mengambil parang jatuh milik Ario dan menyimpannya di dekat kakinya. Napasnya sedikit memburu. Penggunaan Kami-e secara mendadak terbukti sangat menguras stamina fisiknya yang terbatas.

"Ario?! Suara apa itu?!"

Teriakan Jiro terdengar dari balik dinding kayu bangkai kapal di atas karang. Langkah kaki terburu-buru bergedebuk di atas papan kayu, menandakan Jiro sedang berlari turun dari kabin utama.

Rian bertindak cepat. Daripada bersembunyi kembali, ia berdiri tegak di samping tubuh Ario yang pingsan.

Tangan kirinya merogoh saku pakaian dan mengeluarkan pelindung dahi Kirigakure tergores (hitai-ate) yang baru saja ditemukannya. Rian memegang plat logam tersebut di depan dadanya sedemikian rupa sehingga ukiran tiga garis gelombang khas Desa Kabut memantulkan sinar matahari langsung ke arah Jiro yang baru saja muncul dari celah lambung kapal.

Jiro melompat turun ke pantai dengan parang terangkat, namun langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap dua hal: temannya yang tergeletak tak berdaya, dan kilatan plat logam ninja di tangan pemuda di depannya.

Wajah Jiro seketika pucat pasi. Warna darah seolah terdesak keluar dari kulitnya.

"Pelindung dahi... Kirigakure?!" bisik Jiro dengan suara bergetar hebat. Lututnya gemetar hingga parang di tangannya terancam terlepas.

Di era Desa Kabut Berdarah, reputasi ninja Kirigakure di mata masyarakat sipil dan penjarah laut adalah sosok pembantai dingin tanpa ampun. Bagi seorang penjarah biasa seperti Jiro, bertemu dengan survivor bertopeng dingin yang memegang simbol Kiri adalah vonis mati.

Rian memanfaatkan keunggulan psikologis ini sepenuhnya. Dengan skor Intelligence 14, ia mengatur intonasi suaranya menjadi dingin, datar, dan tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.

"Satu langkah lagi," kata Rian pelan namun tajam, "dan kepalamu akan berpisah dari tubuhmu seperti temanku di bawah ini."

Jiro langsung menjatuhkan parangnya ke pasir dan berlutut mengangkat kedua tangannya ke udara.

"A-Ampon, Ninja-sama! Ampun!" ratap Jiro dengan tubuh gemetaran. "Kami cuma penjarah kecil dari wilayah pesisir! Kami tidak tahu pulau ini adalah tempat persembunyian atau wilayah operasi Anda! Tolong jangan bunuh saya!"

Rian melangkah mendekat dengan tenang, menjaga pisau berburunya tetap mengarah ke leher Jiro.

"Jawab pertanyaanku dengan jujur jika ingin tetap bernapas," ujar Rian dingin. "Dari mana asal perahu itu dan di mana pelabuhan pemukiman terdekat dari pulau ini?"

Jiro menelan ludah dengan susah payah, tidak berani menatap mata Rian. "Pe-perahu itu milik kami... Kami berlayar dari Pulau Ren, sekitar sepuluh mil laut ke arah barat daya! Di sana ada pelabuhan bebas tempat para pedagang, nelayan, dan penjahat kecil berburu barang bekas! Itu pemukiman terdekat dari gugusan pulau ini!"

"Pulau Ren..." Rian mencatat nama tersebut di dalam memorinya. Informasi ini sangat cocok dengan gambaran titik kepulauan yang tampak di peta sistemnya.

"Apakah ada pasukan patroli Kirigakure yang berjaga di Pulau Ren?" tanya Rian lagi.

"Ti-tidak ada secara resmi, Ninja-sama!" jawab Jiro cepat. "Pulau Ren terlalu kecil untuk ditempati markas Kiri, tapi kadang-kadang ada Nukenin (ninja pelarian) atau pemburu hadiah yang singgah di sana."

Rian mengangguk pelan. Informasi tersebut cukup baginya untuk menyusun rencana berikutnya.

Ia tidak membunuh Jiro maupun Ario. Selain karena tidak ada alasan praktis untuk melakukannya, mengeksekusi dua orang yang sudah menyerah tidak memberikan keuntungan apa pun bagi situasinya saat ini.

Menggunakan tali rami sepanjang delapan meter yang ada di Inventory-nya, Rian memerintahkan Jiro untuk mengikat kakinya sendiri sebelum Rian mengikat tangan pria itu dan menyandarkannya di batu karang bersama Ario yang belum sadarkan diri. Ikatan tersebut dibuat cukup kuat untuk menahan mereka selama beberapa jam, namun cukup longgar agar mereka bisa membebaskan diri setelah Rian pergi jauh.

Rian kemudian menggeledah perahu kayu milik kedua penjarah tersebut. Di dalam perahu, ia menemukan:

1 buah kantong kulit berisi air bersih (sekitar 2 liter).

3 potong roti gandum kering yang masih layak makan.

1 buah parang biasa (Parang milik Jiro).

Ia memindahkan seluruh perbekalan tersebut beserta parang milik Ario ke dalam perahu.

Denting berdenting nyaring terdengar di dalam kepala Rian.

[ACHIEVEMENT UNLOCKED: Tactical Advantage]

Mengalahkan dan mengintimidasi musuh bersenjata tanpa mengalami luka menggunakan strategi dan kemampuan dasar.

Reward: +50 System Point.

[SISTEM NOTIFIKASI: Perekrutan Aset Terkonfirmasi]

Memperoleh Sarana Transportasi Laut: Perahu Layar Kayu Kecil (1).

Rian tersenyum tipis seraya membuka panel statusnya untuk memastikan seluruh data terbarui secara konsisten.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

SYSTEM STATUS

Nama: Rian Usia: 20 Level: 1

Strength: 8 Speed: 7 Vitality: 8 Stamina: 5 (Tercetus akibat penggunaan Kami-e) Intelligence: 14

System Point: 200 SP (150 + 50) Reputation: 0

Skills:

Rokushiki: Kami-e (Basic)

Characters: -

Inventory:

Basic Hunting Knife (1)

Kapak Besi Kecil (1)

Kompas Kuningan (1)

Tali Tambang Rami (Sisa 3 meter)

Pelindung Dahi Kirigakure Tergores (1)

Jurnal Pelayaran Kuno (1)

Parang Biasa (2)

Kantong Air Kulit (2 Liter)

Roti Gandum Kering (3)

Uang Tunai: 12.000 Ryo

Perahu Layar Kayu Kecil (1)

Achievement:

First Survival

World Discovery

Tactical Advantage

Organization: - Territory: -

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Dengan total 200 SP di tangannya, Rian kini memiliki cukup poin untuk membeli kemampuan navigasi dasar dari Shop demi memastikan perjalanannya melintasi lautan tidak tersesat.

Ia membuka menu Shop kategori Skill.

[SYSTEM SHOP - CATEGORY: SKILL]

Navigation (Basic) - Cost: 100 SP

"Beli Navigation (Basic)," perintah Rian tegas.

[Membeli Skill: Navigation (Basic)... Berhasil.] [Sisa System Point: 100 SP]

Seketika, gelombang informasi mendalam membanjiri pikiran Rian. Pengetahuan tentang cara membaca arus laut, memperkirakan kecepatan angin melalui kibaran layar, membaca kompas kuningan secara presisi, serta memanfaatkan sudut matahari untuk menentukan arah berlayar meresap sempurna ke dalam ingatannya.

Rian memotong tali pengikat perahu di pantai utara, lalu mendorong perahu kayu kecil itu ke air dangkal.

Ia memakan satu potong roti gandum kering dan meminum sedikit air untuk memulihkan staminanya yang tergerus, kemudian memanjat naik ke atas perahu.

Dengan menaikkan layar abu-abu lusuh dan memegang kemudi kayu di bagian belakang, Rian mengarahkan perahunya membelah gelombang pantai utara pulau terpencil tersebut, menuju lautan lepas ke arah barat daya—menuju Pulau Ren.

Pulau kecil tempat ia pertama kali terbangun perlahan mengecil di garis cakrawala di belakangnya. Perjalanannya untuk membangun reputasi di dunia Shinobi baru saja dimulai.

1
SR07
kebetulan sekali ygy🗿
SR07
anak buah dogo🗿,itu udh jadi bawahan lu, panggilan yang cocok harusnya anggota fraksi atau apapun itu asal cocok🗿
SR07
masih heran kenapa MC nya malah summon karakter di kapal dah, kan seharusnya itu rahasia yang tidak boleh diketahui 🗿
SR07
langsung Balik modal😅
SR07
iya lah jir, lu dipantai brok bukan kamar, pertanyaan macam apa itu, kalau lu bangun di kamar yang beda baru pertanyaan gitu🗿
Tahir Muhammad
upp terus
Rem Suzuki
upp terus thor
Sub Zero
lanjut bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!