NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA TERBUKA

Siang itu, seperti biasa, Arthur sedang berbaring di sofa ruang tamu sambil mengotak-atik laptopnya. Punggungnya membelakangi pintu depan, seakan dunia luar tidak ada yang penting selain layar di hadapannya. Ia melirik jam di sudut layar, lalu menghela napas panjang. Kenapa Joe belum pulang juga? Padahal hari sudah siang bolong. Perut gue udah keroncongan minta makan nih, pikirnya sambil menahan rasa lapar yang makin menjadi-jadi.

Tak lama kemudian, terdengar suara deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan rumah. Arthur tersenyum sendiri seketika, sibuk memikirkan apa yang enak untuk dimakan siang ini. Mungkin nasi goreng pedas, atau ayam goreng dengan sambal yang gurih. Namun lamunannya terputus saat pintu depan terbuka seperti biasa — tanpa ketukan, tanpa sopan santun, persis seperti kebiasaan Joe yang tak pernah berubah.

Tanpa menoleh sedikit pun, Arthur langsung mengomel dengan nada yang sudah hafal betul.

"Dasar orang tak tahu adat! Pintu itu diketuk dulu sebelum masuk! Udah jadi kebiasaan jelek loe dari dulu, Joe!" serunya sambil tetap memandangi layar laptop.

Tapi jawaban yang terdengar bukan suara Joe.

"Akhirnya tikus yang kita cari masuk dalam perangkap. Loe bakal mampus hari ini juga."

Suara itu berat, dingin, dan sama sekali bukan milik sahabatnya.

Arthur tersentak hebat. Ia segera bangkit dari sofa dan berbalik dengan cepat. Wajahnya seketika berubah tegang. Yang berdiri di ambang pintu bukan Joe — melainkan Rey, Alex, dan enam orang bodyguard berbadan atletis dan tegap yang berwajah sangar, berdiri berbaris di belakang mereka.

Arthur menatap tajam ke arah Rey, lalu tersenyum miring tanpa rasa takut sedikit pun.

"Kalau loe bilang tikus masuk perangkap," ucapnya tenang namun penuh penekanan, "bukankah kata-kata itu lebih cocok untuk mulut loe sendiri? Ini rumah gue. Dan justru loe-lah yang baru saja masuk ke dalam perangkap."

Rey menyeringai lebar, seakan mendengar lelucon paling lucu sedunia. Namun Arthur sadar betul — jumlah mereka jauh lebih banyak. Enam orang bodyguard berbadan atletis dan tegap melawan dirinya sendirian. Ia berusaha mengulur waktu, berharap Joe segera tiba dan situasi akan berbalik.

"Tunggu dulu, apa sebenarnya maksud kalian..." kata Arthur pelan, mencoba menahan nada suaranya agar tetap tenang.

Namun Alex yang sejak tadi menatap penuh kebencian sudah tidak sabar lagi. Emosinya meledak seketika.

"Jangan banyak omong kosong! Hajar dia sampai dia setengah mati!" bentak Alex dengan wajah merah padam.

Enam orang bodyguard itu langsung menerjang bersamaan. Arthur tidak sempat berlari atau mencari senjata lain — ia harus melawan dengan kekuatan tubuhnya sendiri. Ia melompat ke samping, menghindari pukulan pertama, lalu membalas dengan satu tendangan keras ke perut orang yang paling depan. Pria itu terhuyung mundur, namun yang lain segera datang dari sisi kiri dan kanan. Arthur memutar tubuhnya, menghantam dada satu orang dengan siku, lalu menendang lutut orang lainnya hingga jatuh berlutut. Napasnya mulai memburu — mereka terlalu banyak dan tubuh mereka kuat, membuat setiap serangan terasa jauh lebih berat dari yang ia kira.

Satu per satu serangan datang bertubi-tubi. Pukulan di bahu, tendangan di perut. Arthur masih berdiri, masih melawan, namun gerakannya makin lambat. Akhirnya, salah satu bodyguard tersebut melompat mendekat dan melayangkan pukulan keras tepat ke rahangnya. Kepala Arthur terhempas ke samping, pandangannya seketika kabur. Kakinya lemas, dan tubuhnya jatuh berdebam ke lantai.

"Angkat dia! Jangan sampai jatuh begitu saja!" perintah Rey dengan nada dingin.

Dua orang bodyguard segera mencengkeram lengan Arthur dengan kuat — kekuatan mereka jauh lebih besar dari yang terlihat — memaksanya berdiri tegak meskipun kakinya gemetar dan darah menetes dari sudut bibirnya. Rey melangkah mendekat perlahan, lalu mengeluarkan sebilah pisau lipat berkilau tajam dari saku jaketnya. Ia membukanya pelan, lalu ujung pisau itu menyentuh pipi Arthur dengan lembut — seakan sedang membelai, bukan mengancam.

"Jadi, ceritakan," bisik Rey tepat di depan wajah Arthur. "Apa saja rencana loe dan Joe? Apa yang kalian rencanakan selama ini?"

Arthur menatapnya lurus di mata, lalu tiba-tiba tertawa pelan — tawa yang penuh penghinaan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia meludah tepat ke wajah Rey.

Rey tidak langsung marah. Ia justru tersenyum lebar, menyeka ludah di pipinya dengan punggung tangan. Namun detik berikutnya — SRETT! — Rey menggoreskan pisau itu dari pelipis turun ke pipi Arthur dengan satu gerakan cepat.

"AAAAAAHHH!!" teriak Arthur keras menahan sakit yang luar biasa. Darah segar segera mengalir deras membasahi sisi wajahnya.

Rey tertawa puas, begitu juga Alex yang berdiri di belakang sambil tersenyum lebar.

"Ini baru permulaan, Arthur. Hiburan kita baru saja dimulai," ucap Rey dengan nada santai namun mengerikan.

Mereka pun segera menyeret Arthur yang masih kesakitan keluar rumah, meninggalkan pintu terbuka lebar dengan keadaan yang berantakan.

 

Beberapa jam sebelumnya...

Di rumah yang luas dan tenang, Dodi duduk bersantai di ruang tamu sambil memegang segelas minuman berwarna cokelat pekat. Ia tampak tenang, namun pikirannya sedang sibuk memikirkan hal-hal yang belum ia ketahui. Tak lama, ponsel di meja bergetar. Bawahannya mengirim pesan bahwa rekaman CCTV yang diminta sudah dikirimkan. Tidak lama berselang, berkas penyelidikan tentang dua pemuda yang ia cari juga tiba.

Dodi membuka berkas itu perlahan. Ia menatap lama foto wajah Joe dan Arthur. Semakin lama ia menatap, semakin ia merasa bahwa kedua wajah itu tidak asing baginya. Seolah pernah dilihatnya bertahun-tahun yang lalu. Rasa penasaran mendesak di dadanya. Ia segera membuka akses data rahasia yang jarang ia gunakan, mencari informasi lebih dalam tentang asal-usul kedua pemuda itu.

Detik berikutnya, mata Dodi membelalak kaget. Tubuhnya tertegun seketika seakan baru saja disambar petir. Apa yang ia temukan sungguh di luar dugaan. Ia segera membuka grup obrolan berisi William, Jefri, dan Nisa, lalu mengetik dengan tangan yang sedikit gemetar — mengirimkan fakta mengejutkan yang baru saja ia temukan. Di akhir pesan, ia meminta agar mereka semua segera memberi tahu anak-anak mereka tentang hal ini.

William membalas dengan singkat — semua urusan diserahkan kepada Nisa, istrinya, karena ia sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan. Jefri kemudian menyarankan agar Dodi dan Nisa segera bertemu di Loyalty Hotel untuk membicarakan hal ini secara langsung. Dodi dan Nisa setuju. Tak lama kemudian, keduanya sibuk mengirim pesan kepada anak-anak mereka, berisi peringatan yang mendesak.

 

Di kantin kampus, Billy, Rey, dan Alex sedang duduk santai sambil menikmati makanan siang. Ponsel mereka hampir bersamaan bergetar. Setelah membaca pesan yang masuk, Alex mengusap pelan pelipisnya sambil mengerang pelan, lalu menoleh ke arah Billy.

"Gue duluan ya, Bil. Kepala gue masih pusing parah akibat mabuk tadi malam. Gue mau lanjut tidur di apartemen gue, sekalian Rey ikut gue," ucap Alex sambil berdiri dengan gerakan yang masih terasa berat.

Billy hanya mengangguk tanpa banyak bertanya. Begitu keluar dari gerbang kampus, Rey dan Alex tidak pulang ke rumah. Mereka segera menelepon enam orang bodyguard berbadan atletis dan tegap kepercayaan mereka dan menyuruh mereka berkumpul. Rencana yang mereka susun adalah menculik Arthur, membawanya ke tempat persembunyian mereka, dan memaksa mengungkap segala sesuatu yang ia sembunyikan.

Sementara itu, Joe sama sekali tidak tahu apa yang baru saja menimpa sahabatnya. Ia masih berada di kampus, sibuk dengan urusannya sendiri, tanpa menyadari bahwa bahaya besar sedang mengancam orang-orang di sekitarnya.

Setelah jam kuliah usai, Joe baru membuka pesan yang dikirim Billy. Isinya singkat — Billy akan sedikit terlambat sampai ke Loyalty Hotel, jadi Joe disarankan langsung ke sana saja karena di tempat itu sudah ada Mama Billy yang menunggunya. Joe mengangguk pelan, lalu segera bergegas menuju hotel megah itu.

Sesampainya di depan pintu masuk Loyalty Hotel, seorang bodyguard berbadan atletis dan tegap sudah berdiri menunggu seakan tahu persis kapan Joe akan tiba. Tanpa banyak bicara, pengawal itu memberi isyarat agar Joe mengikutinya. Mereka naik ke lantai paling atas — lantai yang paling eksklusif dan jarang dikunjungi orang biasa.

Sesampainya di depan pintu ruangan VIP, pengawal itu menunjuk pintu dan memberi isyarat agar Joe masuk sendiri. Joe menarik napas pelan, lalu mendorong pintu itu perlahan dan melangkah masuk.

Di dalam ruangan yang luas dan remang-remang itu, hanya ada satu orang — Mama Billy. Ia duduk santai di sofa yang empuk, memegang gelas berisi minuman berwarna merah di satu tangan, dan rokok yang menyala di tangan lainnya. Asap rokok melayang perlahan di udara, menciptakan suasana yang misterius sekaligus menggoda.

Mama Billy menoleh saat mendengar langkah kaki Joe. Senyum tipis yang penuh arti terukir di bibirnya. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Joe duduk di hadapannya.

"Mari, duduklah. Jangan sungkan," ucapnya dengan suara lembut namun berat, seakan setiap kata yang diucapkannya memiliki makna tersembunyi.

Joe melangkah mendekat dengan hati-hati, lalu duduk di sofa yang berhadapan dengannya.

Mama Billy mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap wajah Joe dengan pandangan yang tidak pernah dilepaskan sedikit pun. Tatapannya tajam namun hangat, penuh rasa ingin tahu sekaligus penuh godaan yang tersirat.

"Sudah lama sekali rasanya..." suaranya merendah, matanya meneliti setiap inci wajah dan tubuh Joe dengan jelas tanpa ragu sedikit pun. "Aku membayangkan bagaimana rasanya duduk berhadapan dengan pemuda yang tegap dan kuat sepertimu. Matamu... menyimpan banyak hal, bukan?"

Joe menelan ludah tanpa sadar, mencoba tetap tenang meskipun detak jantungnya mulai berpacu lebih cepat. "Saya hanya orang biasa, Tante. Tidak ada yang istimewa."

Mama Billy tersenyum lebar, lalu tertawa pelan — suara tawanya lembut namun merambat ke seluruh tubuh Joe. Ia bangkit berdiri perlahan, lalu berjalan melingkar melewati meja kecil di antara mereka dan berpindah duduk tepat di sebelah Joe. Jarak di antara mereka kini hanya beberapa jengkal, cukup dekat sehingga Joe bisa merasakan hangatnya kehadiran wanita itu dan mencium aroma parfumnya yang manis namun memikat.

"Orang biasa tidak memiliki tatapan seintip itu, Joe," bisiknya, kini suaranya terdengar lebih dekat dan lebih lembut, matanya menatap lurus ke manik mata Joe seakan ingin menembus pikirannya. "Tubuhmu yang tegap, bahu yang lebar... kau pasti sudah terbiasa berlatih keras, ya? Sejak kecil, mungkin? Pasti kau sudah terbiasa mandiri, bukan?"

Joe menahan napas sesaat, tubuhnya sedikit menegang karena kedekatan mereka. Suaranya terdengar sedikit lebih rendah dari biasanya. "Ya... saya sudah terbiasa mengurus diri sendiri sejak lama."

Mama Billy tersenyum makin lebar, jemarinya yang halus bergerak pelan di atas sandaran sofa tepat di belakang bahu Joe, seakan menyentuh tanpa benar-benar menyentuh.

"Begitu rupanya..." ucapnya pelan, namun setiap kata terdengar begitu jelas dan berat di telinga Joe. "Pemuda yang kuat, mandiri, dan penuh rahasia. Sungguh... kombinasi yang sangat menarik. Siapa tahu... mungkin kita bisa saling mengenal lebih dalam, Joe. Siapa tahu kau justru orang yang selama ini kucari."

Ia menatap Joe dengan senyum yang tidak pernah pudar, namun ada kilatan di matanya — campuran antara keingintahuan yang dalam dan godaan yang sengaja dibiarkan menggantung di udara yang kini terasa semakin hangat dan sempit.

Mama Billy mendekatkan wajahnya sedikit lagi, bibirnya hampir menyentuh telinga Joe, lalu berbisik dengan nada yang lembut namun penuh maksud tersembunyi:

"Kapan kita bisa bermesraan lagi, Joe? Atau haruskah Tante memanggilmu dengan sebutan putra Kevin?"

Mata Joe seketika membelalak lebar. Tubuhnya menegang kaku seakan baru saja disambar petir. Nama ayahnya — nama yang jarang disebut siapa pun — keluar begitu saja dari mulut wanita di sebelahnya. Ia menoleh dengan cepat, napasnya terhenti sejenak, lalu bertanya dengan suara yang bergetar penuh keterkejutan:

"Dari mana Tante mengetahui hal itu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!