Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Diculik Joce ke Puncak
Dua hari setelah telepon Regina, Jocelyn muncul di rumah Gunawan dengan sebuah koper kosong dan keputusan yang tidak bisa ditawar.
“Masukkan pakaian untuk dua malam.”
Vivi yang sedang membaca draf perjanjian festival menatapnya. “Kita mau ke mana?”
“Tempat yang tidak punya kontrak, suami bermasalah, atau video balet murahan.”
“Itu bukan nama tempat.”
“Puncak.”
Jocelyn mengambil draf dari tangan Vivi dan menutup laptop. “Kamu pucat, tidurmu berantakan, dan sudah dua hari membaca klausul yang sama. Kita pergi ke resort. Ada pemandian air panas.”
“Aku belum bilang pada Sebastian.”
“Bagus. Kalau bilang, dia akan membeli gunungnya.”
Vivi hampir tertawa, tetapi bayangan Pulau Zamrud membuat lelucon itu terlalu mungkin.
“Aku tidak bisa pergi begitu saja.”
“Kamu sudah berbagi lokasi denganku. Sopir keluarga ikut. Aku memesan vila privat dan mengirim identitas semua staf ke tim keamanan Kusuma.” Jocelyn menyilangkan tangan. “Aku tidak menculikmu secara sembarangan. Aku menculikmu dengan manajemen risiko.”
Argumennya sulit dilawan.
Vivi akhirnya memasukkan pakaian santai, obat, dokumen medis sindromnya, dan boneka beruang ke koper. Ia meninggalkan pesan kepada Pak Yanto bahwa ia pergi bersama Joce dan akan memberi kabar setelah tiba, tetapi tidak menyebut nama resort.
“Kalau Pak Sebastian bertanya?” tanya Pak Yanto.
“Bilang aku aman dan ingin beristirahat.”
Pak Yanto tampak ragu. “Beliau mungkin akan bertanya alamat.”
Jocelyn menyelipkan lengannya ke lengan Vivi. “Kalau begitu suruh dia meneleponku.”
Di depan rumah, sebuah SUV hitam sudah menunggu. Seorang pria tinggi bersandar di pintu pengemudi dengan kacamata hitam dan ekspresi tidak sabar.
Jocelyn berhenti. “Kenapa kamu masih di sini?”
Pria itu melepas kacamatanya. “Aku baru mendarat pagi ini dan langsung dijadikan sopir karena pengemudimu terjebak macet. Sedikit terima kasih tidak akan membunuhmu.”
“Vin, aku tidak pernah meminta bantuan.”
Vincent Kusuma mengabaikannya dan mengambil koper Vivi. “Kamu Vivi, kan? Aku Vincent. Keluargaku dan keluarga Joce berteman sejak kami kecil.”
“Aku pernah mendengar namamu,” jawab Vivi.
“Semoga bukan dari Joce. Versinya selalu mengandung fitnah.”
Jocelyn membuka bagasi lebih keras dari perlu. “Vin tinggal di luar negeri terlalu lama sampai lupa tak ada yang merindukannya.”
“Aneh. Kamu masih memakai kalung yang kubelikan.”
Tangan Jocelyn langsung naik ke rantai tipis di lehernya. “Ini cocok dengan baju.”
“Tentu.”
Ada sesuatu dalam senyum Vincent yang membuat Vivi menahan pertanyaan. Mereka bukan saudara, bukan pula keluarga serumah. Mereka dua anak dari keluarga bersahabat yang tumbuh saling mengenal, lalu belajar saling mengganggu dengan ketepatan luar biasa.
Vincent menyerahkan kunci mobil kepada sopir Kusuma yang baru tiba dengan kendaraan kedua.
“Jangan macam-macam di luar,” katanya kepada Jocelyn.
“Kamu bukan penjagaku.”
“Aku tahu. Penjagamu dibayar. Aku hanya orang yang akan menertawakanmu kalau membuat masalah.”
“Pulang sana.”
Vincent menutup bagasi, lalu menatap Vivi. “Tolong kabari kalau dia mencoba mendaki gunung dengan sepatu hak tinggi.”
“Vin!”
Vivi masuk ke mobil sambil tertawa. Untuk beberapa jam pertama perjalanan, tubuhnya terasa lebih ringan daripada seminggu terakhir.
***
Menjelang petang, Sebastian pulang ke meja makan yang hanya disiapkan untuk satu orang.
“Vivi di mana?”
Pak Yanto berdiri di samping kursi kosong. “Bu Vivian pergi bersama Nona Jocelyn ke Puncak. Beliau meminta waktu beristirahat.”
“Resort mana?”
“Beliau belum memberi alamat.”
Sebastian mengeluarkan ponsel dan menelepon Vivi. Tidak diangkat. Ia menelepon Jocelyn.
“Tenang,” suara perempuan itu menjawab. “Vivi aman.”
“Kirim alamat.”
“Dia meminta ruang.”
“Aku tidak melarangnya pergi.”
“Bagus. Berarti kamu juga tidak perlu mengirim lima mobil pengawal.”
Sebastian memandang kursi kosong. Dalam kepalanya, satu per satu kemungkinan buruk tersusun: jalan licin, staf asing, pintu kamar yang tidak aman, penyakit Vivi kambuh jauh dari rumah.
Hanya dirinya yang selalu berhasil menghentikan rasa sakit itu. Bagaimana jika serangan datang malam ini?
Ia bisa melacak mobil Kusuma. Bisa meminta timnya memeriksa seluruh reservasi atas nama Jocelyn. Bisa menempatkan orang di setiap resort tanpa Vivi mengetahuinya.
Lalu ia teringat tiga batas yang diterimanya di meja makan.
Vivi berhak menentukan ke mana pergi dan kapan pulang.
“Pastikan teleponmu aktif,” katanya kepada Jocelyn.
“Selalu.”
“Kalau kulitnya mulai sakit, hubungi aku saat gejala pertama.”
Suara Jocelyn menjadi lebih serius. “Baik.”
Sebastian menutup sambungan tanpa memperoleh alamat.
Untuk pertama kalinya, perintah “keinginan nyonya rumah lebih tinggi daripada siapa pun” terasa seperti hukuman yang ia buat sendiri.
***
Di sebuah resort di Puncak, uap hangat menutupi pemandian privat ketika Vivi menurunkan kaki ke air.
Hujan tinggal gerimis. Pepohonan basah mengelilingi dinding batu, dan udara pegunungan membuat kepalanya lebih jernih.
Sebelum masuk, Jocelyn sudah menyerahkan salinan informasi medis Vivi kepada petugas klinik resort dan memastikan tombol darurat berfungsi. Pemandian dipilih yang privat, dengan ruang istirahat tatami di sebelahnya dan pintu langsung menuju koridor layanan.
“Kalau kamu pusing, sesak, atau kulitmu mulai sakit, bilang saat gejala pertama,” pesan Jocelyn.
“Aku tahu.”
“Kamu sering bilang tahu lalu menunggu sampai hampir pingsan.”
Vivi mengangkat kedua tangan menyerah. “Baik, Bu Pengawas.”
“Lihat?” Jocelyn bersandar di sisi kolam. “Kamu butuh ini.”
Vivi hendak mengangguk.
Lalu rasa kesemutan yang terlalu familier menyusuri ujung jarinya.
Senyumnya lenyap.
Itu bukan panas air.
Itu tanda pertama sindrom lapar sentuhan akan kambuh.