Kota Mecha, pusat teknologi tercanggih di dunia, kini menjadi incaran kota-kota luar yang iri dan ingin menghancurkannya. Demi menjaga kedamaian, pemerintah dan perusahaan Mechabest mencari pahlawan generasi baru berhati mulia untuk menggantikan para pahlawan senior yang pensiun.
Kehidupan empat sahabat—Yasing, Maul, Alfian, dan Sahla—berubah drastis ketika agen rahasia mendatangi rumah mereka dan mengundang mereka mengikuti trial khusus. Berbekal Jam Perubah berkekuatan berbasis keahlian hewan, mereka harus bekerja sama menghadapi musuh, menguasai mode robot masing-masing, dan bertahan dari petualangan yang penuh aksi sekaligus aksi kekonyolan khas persahabatan mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Kemenangan
Lampu-lampu indikator di dalam kapal angkut siluman Mechabest meredup, berganti dengan pencahayaan interior yang lebih hangat dan tenang. Suara deru mesin penerbangan terdengar halus bagaikan bisikan angin, membawa delapan pahlawan itu melayang melintasi perbatasan wilayah luar menuju zona aman Kota Mecha.
Di sudut kabin pertolongan pertama, Teh Caca tampak sudah jauh lebih bugar. Walaupun rasa nyeri akibat sengatan listrik Penasehat Parlemen masih menyisa tipis di persendiannya, stamina sang Komandan perlahan pulih berkat pertolongan medis darurat yang diberikan oleh Kelay dan Opik.
"Teh Caca, beneran udah nggak apa-apa?" tanya Sahla cemas. Dia duduk di bangku lipat samping tempat tidur darurat sambil terus memperhatikan wajah komandannya. Jilbab instannya yang tadi sempat berantakan saat aksi penyerbuan kini sudah dia rapikan kembali.
Teh Caca tersenyum hangat, mengelus pelan puncak kepala Sahla. "Gue udah jauh lebih baik, Sahla. Berkat kalian semua yang datang tepat waktu. Coba kalau terlambat sepuluh menit aja, mungkin isi otak gue udah dikuras habis sama Penasehat Parlemen itu."
"Hehe, kan ada saya, Teh!" Yasing langsung nimbrung sambil menepuk dada zirahnya yang kini sudah kembali menjadi pakaian sekolah biasanya. "Begitu denger Teh Caca ditangkap, saya langsung bilang ke Bang Pasya, 'Ayo Bang, kita ratakan itu kota!'"
Maul yang sedang bersandar di pintu kabin sambil bersedekap dada langsung melirik Yasing dengan pandangan mata plenger khasnya. "Gak usah revisi sejarah, Sing. Lu tadi di markas malah sempet panik terus mau nabrak tiang pintu gara-gara kesandung tas lu sendiri."
"Yah! Lu kenapa harus buka kartu di depan Teh Caca sih, Ul?!" semprot Yasing dengan muka merah padam, sementara Sahla dan Kelay langsung tertawa terpingkal-pingkal.
Di tengah suasana riang dan lega itu, Kelay (Clairine) yang berdiri di samping Teh Caca menatap ke arah jendela transparan kapal angkut. Di luar sana, kegelapan malam mulai terbiasa oleh pendar cahaya neon berwarna-warni yang membentang luas. Kubah pelindung Kota Mecha sudah terlihat melingkupi garis cakrawala.
"Kita hampir sampai," ujar Kelay lembut. Pashmina elegannya berkibar pelan tertiup aliran udara pendingin kabin. "Kota Mecha kelihatan tenang banget dari atas sini."
"Iya..." gumam Teh Caca pelan, matanya menatap pendar cahaya kota kelahirannya dengan pandangan dalam. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa ganjil yang terus mengusik pikirannya. Penyergapan tadi... kenapa rasanya terlalu mulus setelah pintu sel dibobol? Seolah-olah ada sesuatu yang melekat di balik kekacauan itu.
Beberapa puluh menit kemudian, kapal angkut siluman Mechabest mendarat dengan mulus di landasan helipad bagian atas Markas Pusat.
Begitu pintu hidrolik kapal terbuka, Prof. Einstein sudah berdiri menanti mereka di balik garasi angkut. Pria tua berjas laboratorium putih melayang itu menyambut mereka dengan senyum lebar dan tepuk tangan bangga.
"Selamat kembali, para pahlawan!" seru Prof. Einstein, suara beratnya bergema penuh kehangatan. "Laporan pemantauan jarak jauh menunjukkan hasil yang luar biasa! Kalian tidak hanya berhasil menyelamatkan Caca dan Opik, tapi juga berhasil melumpuhkan jaringan komando musuh!"
"Prof!" Yasing dan Sahla langsung berlari menghampiri Prof. Einstein dan melakukan penghormatan khas Mechabest.
"Terima kasih atas kepercayaan Profesor," ujar Bang Pasya sambil membungkukkan badan penuh rasa hormat. "Anak-anak menjalankan tugas sesuai dengan porsi dan strategi yang kita susun di kapal."
"Bagus, sangat bagus!" Prof. Einstein menepuk-nepuk bahu Yasing dan Maul. "Sekarang, Caca dan Opik harus segera pergi ke ruang medis untuk pemeriksaan menyeluruh. Sedangkan kalian berempat—Yasing, Maul, Alifian, dan Sahla—kalian diperintahkan untuk segera kembali ke asrama dan beristirahat total!"
"Asiiik! Akhirnya bisa tidur di kasur empuk!" seru Sahla girang sambil meregangkan kedua tangannya ke udara.
"Gua mau makan bakso lima porsi di kantin besok pagi," celetuk Maul dengan gaya datarnya, walaupun senyum puas terpancar jelas di bibirnya.
"Gua mau menyempurnakan teori penerbangan Mode Burung Hantu gua biar nggak dibilang ayam kempes lagi sama Bang Pasya!" pungkas Alifian berapi-api.
"Yaudah, yuk balik ke asrama!" ajak Yasing penuh semangat.
Setelah berpamitan dengan Teh Caca, Opik, Kelay, Bang Pasya, dan Prof. Einstein, empat remaja itu berjalan menelusuri koridor kaca menuju area Dormitori Pusat Mechabest. Langkah-langkah kaki mereka yang lelah terasa jauh lebih ringan. Malam yang mencekam di Kota Dark Mecha telah berlalu, dan mereka berhasil melaluinya sebagai satu tim yang utuh.
Sementara itu, di Ruang Komando Utama yang kini sudah sepi dari hiruk-pikuk penyerbuan, Prof. Einstein dan Opik berdiri di depan layar raksasa. Opik yang baru saja selesai menjalani pemeriksaan medis singkat langsung menghubungkan flashdrive emas hasil curiannya ke dalam pustaka data utama Mechabest.
BZZZZZT! PROCESSING DATA...
Deretan grafik, denah bangunan, serta dokumen skema teknologi milik Dark Mecha terpampang luas di layar hologram raksasa.
Prof. Einstein mengamati deretan kode tersebut dengan cermat, jari-jarinya yang keriput mengelus janggut putihnya yang tebal. Namun, semakin jauh Opik membuka lapisan enkripsi file tersebut, raut wajah sang Profesor perlahan-lahan berubah menjadi sangat serius.
"Opik..." panggil Prof. Einstein pelan, suaranya terdengar sangat berat.
"Ya, Prof?" Opik menghentikan ketikannya.
"Coba periksa log transaksi sinyal dan transfer data otomatis yang terjadi di dalam gedung parlemen lima menit sebelum ledakan terjadi," perintah Prof. Einstein.
Opik mengerutkan dahi, lalu dengan cepat menekan beberapa baris perintah pada keyboard-nya. Sebuah grafik frekuensi tersembunyi muncul di sudut layar—sebuah garis transmisi berwarna merah pekat yang mengindikasikan adanya pengiriman data berskala sangat besar keluar dari Kota Dark Mecha persis saat Yasing dan kawan-kawan sedang melancarkan aksi evakuasi.
"Ini..." Opik terperangah, matanya membelalak di balik kacamata canggihnya. "Ini bukan sinyal internal Dark Mecha, Prof! Sinyal ini berasal dari frekuensi luar yang diretas secara ilegal dari dalam area benteng musuh!"
"Apa isinya?" tanya Prof. Einstein, suaranya makin dingin.
Opik membesarkan tampilan berkas paket data yang terkirim tersebut. Begitu ikhtisar file terurai, napas Opik seolah tertahan di tenggorokan.
Paket data yang terkirim itu berisi rekaman analisis biometrik, frekuensi gelombang energi, durasi transformasi, hingga titik batas stamina dari seluruh Mecha Watch yang digunakan dalam pertempuran malam ini:
Mecha Damage (Yasing): Analisis batas toleransi benturan Mode Beruang & kecepatan tebasan Mode Serigala.
Mecha Tank (Maul): Amplitudo maksimum penyerapan energi perisai Mode Badak & daya tahan berdiri Mode Banteng.
Mecha Speed (Sahla): Kecepatan puncak lintasan lurus Mode Cheetah & fleksibilitas respon Mode Kelinci.
Mecha Fly (Alifian): Pola navigasi manuver Mode Elang & frekuensi peredam suara Mode Burung Hantu.
Mecha Poison (Pasya) & Mecha Water (Clairine): Seluruh spesifikasi daya rusak dan jangkauan serangan racun/air.
"Data kita... data anak-anak..." suara Opik gemetaran. "Semua spesifikasi kekuatan dan kelemahan zirah generasi baru kita udah dibocorkan secara detail!"
"Kepada siapa sinyal itu terkirim?" tanya Prof. Einstein tegas.
Opik mencoba melacak koordinat IP penerima paket data tersebut. Garis merah meluncur melintasi peta global, melewati Kota Dark Mecha, melewati samudra digital, hingga akhirnya berhenti di sebuah titik hitam tanpa nama di tengah wilayah pegunungan terlarang yang tak tersentuh oleh peradaban mana pun.
Di atas titik hitam itu, hanya tertulis satu nama enkripsi tingkat tinggi: PROTOTYPE OMEGA.
Prof. Einstein menghela napas panjang, memejamkan matanya sejenak. Suasana Ruang Komando yang megah itu mendadak terasa begitu dingin dan mencekam.
"Ternyata dugaan saya benar," gumam Prof. Einstein pelan. "Serangan peretasan kemarin, penangkapan Caca, hingga pertempuran di gedung parlemen... semuanya adalah bagian dari sebuah skenario besar yang dirancang oleh pihak ketiga."
"Pihak ketiga, Prof? Maksudnya ada yang sengaja memanfaatkan penyerbuan kita cuma buat mengumpulkan data pertarungan Mechabest?!" tanya Opik tak percaya.
"Tepat," jawab Prof. Einstein sambil menatap layar monitor yang menampilkan wajah-wajah Yasing, Maul, Alifian, dan Sahla dalam file profil anggota. "Mereka sengaja membiarkan kita menang dan menyelamatkan Caca, agar mereka bisa merekam seluruh kemampuan bertarung generasi baru kita dalam situasi kritis."
Opik mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas meja kontrol. "Siapa sebenarnya yang ada di balik organisasi 'Omega' ini, Prof?!"
Prof. Einstein kembali menatap pendar cahaya Kota Mecha di luar jendela besar ruangan. "Seseorang yang tahu betul bagaimana cara kerja Mecha Watch... seseorang dari masa lalu yang ambisinya pernah kita kubur rapat-rapat."
Sementara itu, di dalam bangunan Asrama Pusat Mechabest yang tenang dan nyaman.
Lampu-lampu kamar sudah diredupkan. Di dalam kamar Asrama Putra, Yasing, Maul, dan Alifian sedang tertidur lelap di atas kasur masing-masing.
Yasing tertidur terlentang dengan posisi tangan dan kaki terbuka lebar, beberapa kali bergumam tak jelas dalam mimpinya, "Cakar Singa... habisi semuanya... hehe..."
Alifian tidur dengan posisi telentang rapi, kacamatanya tergeletak di atas meja samping tempat tidur, sementara selimutnya menutupi hingga ke dada bagaikan seorang ilmuwan yang sedang dalam masa hibernasi.
Di tempat tidur sebelahnya, Maul terbangun pelan. Dia duduk di pinggiran kasur, menatap pergelangan tangan kirinya di mana Mecha Watch Tank terpasang diam. Pendar cahaya kuning halus di permukaan jam itu berdenyut lembut seirama dengan napasnya.
Maul mengusap permukaan jamnya pelan. Raut mukanya yang biasanya selalu plenger, konyol, atau sok cool, kini tampak sangat tenang dan dewasa di dalam kegelapan kamar.
Dia menoleh ke arah jendela kamar, menatap langit malam Kota Mecha yang bertabur bintang-bintang buatan dari kubah energi.
"Entah kenapa..." bisik Maul pelan pada dirinya sendiri, suaranya sangat halus agar tidak membangunkan Yasing dan Alifian. "Gua punya firasat kalau pertempuran yang sebenarnya... baru aja mau dimulai."
Di kamar Asrama Putri yang berada di blok sebelah, Sahla juga tampak belum sepenuhnya tertidur. Dia duduk di bangku meja belajarnya, merapikan jilbab-jilbab cadangannya yang tersimpan rapi di dalam lemari. Sahla menatap cermin di depannya, lalu mengacungkan tangan kirinya yang mengenakan Mecha Watch Speed berwarna biru muda.
"Aku gak boleh cepat puas," gumam Sahla mantap pada dirinya sendiri. "Mbak Kelay, Teh Caca, sama yang lain udah berjuang keras. Aku harus bisa jadi lebih cepat dan lebih kuat lagi buat melindungi mereka semua!"
Dengan tekad yang makin membara di dalam dada keempat remaja itu, malam pertama setelah misi besar di Kota Dark Mecha pun perlahan-lahan berlalu menembus fajar.
Di saat bersamaan, jauh di dalam fasilitas laboratorium tersembunyi Prototype Omega yang berada di kedalaman pegunungan terlarang...
Ruangan raksasa itu berada dalam kondisi remang-remang, hanya diterangi oleh pendar cahaya tabung-tabung kaca silinder raksasa yang berjajar di sepanjang dinding. Di dalam tabung-tabung kaca berlapis cairan nutrisi khusus tersebut, melayang berbagai komponen zirah mekanis berwarna hitam pekat dan merah darah yang memancarkan aura sangat gelap dan mengintimidasi.
BZZZZT!
Sebuah suara pemberitahuan sistem berbunyi jernih di tengah kesunyian laboratorium.
[SINKRONISASI DATA MECHABEST SELESAI. METRICS BINDING: 100%]
Sesosok pria tinggi berpakaian jubah hitam dengan aksen emas melangkah pelan mendekati layar utama laboratorium. Wajahnya tertutup oleh topeng hologram berukir simbol tengkorak mekanis.
Di belakangnya, melangkah keluar sosok misterius bertudung abu-abu yang sebelumnya mengetik di atas benteng Kota Dark Mecha. Sosok bertudung itu membungkukkan badannya penuh rasa hormat.
"Data dari delapan unit Mecha Watch milik Mechabest telah berhasil diunduh dan disinkronkan secara sempurna, Tuan," lapor sosok bertudung abu-abu itu dengan suara dingin.
Pria bertopeng hologram itu menatap layar besar di depannya. Di layar itu, model simulasi tiga dimensi dari zirah Yasing, Maul, Alifian, Sahla, Pasya, Kelay, Teh Caca, dan Opik sedang dipretandai satu per satu, memperlihatkan seluruh struktur koding, titik lemah bahan zirah, hingga algoritma perubahan mode hewan mereka.
"Luar biasa..." ucap pria bertopeng hologram itu dengan suara berat yang terdistorsi oleh modul suara digital. "Einstein selalu berpikir dialah yang paling jenius dalam menciptakan pelindung kota. Dia pikir dia bisa menyembunyikan teknologi Mecha Watch ini dari dunia luar."
Pria itu menekan satu tombol besar berlogo naga mekanis di atas konsol utamanya.
KLIK! BZZZZT!
Cahaya di dalam tabung-tabung kaca raksasa seketika menyala terang benderang! Cairan nutrisi di dalamnya mulai bergolak hebat saat arus listrik bertegangan jutaan volt dialirkan ke dalam empat zirah hitam yang berada di dalam tabung tersebut.
Empat buah jam tangan berdesain gelap—yang bentuknya sangat mirip dengan Mecha Watch milik Yasing dan kawan-kawan, namun dengan aura merah darah yang mengerikan—perlahan-lahan terangkat melayang di dalam tabung-tabung khusus.
Jam-jam itu adalah Dark Mecha Watch—zirah tiruan tingkat sempurna yang diciptakan khusus menggunakan data-data tempur generasi baru Mechabest yang baru saja dicuri!
Pria bertopeng hologram itu tertawa pelan, sebuah tawa dingin yang memantul di dinding-dinding laboratorium yang dingin.
"Biarkan anak-anak itu merayakan kemenangan kecil mereka di Kota Mecha..." bisik pria itu penuh intrik. "Mereka tidak tahu bahwa setiap gerakan, setiap tebasan, dan setiap jurus yang mereka gunakan justru menjadi bahan bakar terbaik untuk menciptakan kehancuran mereka sendiri."
Dia menoleh ke arah empat tabung kaca yang berisi zirah hitam tersebut.
"Persiapkan Pasukan Dark Mechabest," perintah pria itu dingin pada sosok bertudung abu-abu. "Saat waktunya tiba nanti, kita akan tunjukkan pada Kota Mecha... siapa pemilik sejati dari kekuatan Mecha yang sesungguhnya!"
"Siap, Tuan!" jawab sosok bertudung abu-abu mantap.
Ancaman terbesar yang belum pernah terbayangkan sebelumnya kini telah bangkit dari balik bayang-bayang. Kota Mecha mungkin telah selamat dari gempuran Dark Mecha kelas teri, namun sebuah badai pertempuran yang jauh lebih dahsyat, lebih gelap, dan lebih pribadi sedang bergerak mendekat mengincar Yasing, Maul, Alifian, Sahla, dan seluruh anggota Mechabest!