NovelToon NovelToon
Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.

Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.

Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.

Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.

Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.

Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15: Peringatan Tegas dari Noval

Waktu istirahat makan siang, Azka sedang berada di dalam ruangannya yang tenang, duduk sendiri, membuka perlahan kotak bekal yang sejak pagi sudah ia letakkan di pojok meja.

Aroma hangat langsung menyapa begitu tutup dibuka. Di dalam, tersaji nasi putih pulen dengan lauk sudah dikenal sejak lama, ayam goreng balado. Salah satu makanan kesukaannya.

Potongan daging ayam digoreng renyah, dibalut sambal merah menggoda, tersusun rapi dilengkapi potongan mentimun segar di samping. Sentuhan khas tangan Visha terasa dalam setiap detail kecil.

Terdapat rasa hangat tak hanya berasal dari makanan, tapi dari perhatian yang dikemas dalam kotak sederhana itu. Namun baru saja sendok pertama hampir menyentuh bibir, terdengar ketukan pelan dari arah pintu.

Gerakannya terhenti sejenak. Suapan masih belum sempat masuk ke dalam mulut.

Awalnya ia menduga kalau Noval menjadi orang yang mengetuk pintu tersebut. Namun tidak disangka, bukanlah Noval.

“Kayla?”

Ia datang dengan polos, tersenyum, membawa dua gelas kopi dari kafe langganan.

“Masuk.. Ada apa?”

Setelah dipersilakan, Kayla langsung memberikan satu gelas kopi yang dibawanya tadi untuk Azka.

“Nih, Pak. Sebagai ucapan terima kasih dari saya karena sudah adil di rapat tadi,” ucapnya bernada manja sambil melemparkan senyum.

Untuk menghargai, Azka menerima kopi tersebut, meletakkannya tepat di sebelah kotak bekal makan.

“Makasih ya,” jawab Azka.

Yang terjadi kemudian membuat Azka dilema. Rupanya Kayla tidak hanya membawa kopi saja, ia juga mengeluarkan sandwich dari tas kecil yang dibawanya.

“Pak, saya numpang makan di sini ya, sekalian kita ngobrol,” ujar Kayla.

Tentu saja Azka tak berkutik. Ia tidak mungkin menolak dan mengusir Sesilia yang tentu akan menyinggung. “Iya, boleh,” jawab Azka singkat.

Kayla kemudian mengomentari masakan yang disiapkan oleh Visha, “Widih, ayam goreng balado nih, Pak? Pasti sedap sekali.”

Azka hanya menanggapi dengan senyuman sambil menyantap makanan yang ada di hadapannya itu.

Untuk mengganti topik pembicaraan, Azka mempertanyakan tentang bagaimana rencana Kayla menghadapi Dito dan Wawan yang pasti akan kembali menyerangnya saat rapat nanti.

Tapi uniknya, Kayla mengaku tidak merasa takut. Ia bahkan tak punya strategi khusus. Ia meyakini kalau apa yang dilakukannya sudah benar, jadi tidak perlu banyak bermanuver.

“Saya hanya perlu mempertahankan konsep yang telah dimatangkan. Selebihnya, saya mengandalkan penilaian Pak Azka,” ungkapnya sambil melempar bola panas sebagai pengambil keputusan.

“Haha, kamu ini, sepertinya memang hobi membuat orang pusing,” canda Azka.

Kayla menanggapi santai, “Salah mereka juga. Saya sediakan cara yang mudah, tapi mereka mempersulit. Pusing sendiri kan jadinya.”

Obrolan terus berlanjut membahas berbagai hal. Tak terasa waktu istirahat telah selesai.

Mereka kemudian jalan berdampingan menuju ruang rapat. Melewati beberapa koridor yang membuat mereka terlihat oleh beberapa pegawai.

Tampak akrab, pandangan para pegawai menjadi tidak biasa. Namun sepertinya Azka dan Kayla tak terlalu memperhatikan karena terlalu asik ngobrol berdua.

***

Setelah masuk ke dalam ruang rapat, mereka berpisah. Azka menuju kursinya di depan sedangkan Sesilia agak menyamping.

Azka meletakkan segelas kopi yang sedari tadi dibawa olehnya. Gelas berwadah sama dengan milik Sesilia. Kini meja rapat memiliki dua gelas serupa di atasnya.

Tak berapa lama, Azka membuka rapat lewat pernyataan yang membungkam semua divisi. Azka seakan ingin menyudahi rapat tersebut dengan cepat.

“Baiklah, semua sudah berkumpul. Kita langsung pada intinya saja. Saya sudah mempertimbangkan semua aspek yang telah dibahas. Saya menilai bahwa metode dari Bu Sesilia dapat menyederhanakan alur kerja. Kita sangat membutuhkan pendekatan efektif, terarah, mudah diawasi, dan yang paling penting, efisien,” pungkasnya.

Menyanggah pernyataan Azka, kepala divisi site engineer, Dito mempertanyakan tentang apa yang membuat Azka yakin atas konsep tersebut.

“Apa jaminannya kalau perencanaan itu akan berhasil?” tanya Dito.

Seketika saja Azka yang memang sudah banyak berbicara dengan Sesilia sebelumnya, justru memberikan tantangan.

“Bu Sesilia, saya ingin kamu menjawab pertanyaan Bapak Dito,” ujarnya.

Merasa diberikan kesempatan, Sesilia tidak menyia-nyiakannya.

“Saya yakin seribu persen konsep yang ada pasti akan sesuai ekspektasi. Selama mendapatkan dukungan dari seluruh divisi, no drama. Saya bisa menjamin dengan jabatan saya,” tegasnya.

Gemuruh seisi ruangan rapat spontan terdengar karena tidak menyangka kalau Sesilia akan seberani itu.

“Saya akan mengundurkan diri jika dalam dua bulan kedepan, konsep perencanaan ini gagal,” sambungnya lagi.

Dito tak mengira kalau Sesilia akan berbuat sejauh itu mempertaruhkan jabatan di perusahaan. Ia pun seperti tidak punya alasan untuk membantahnya lagi.

Sedangkan Wawan yang memang dari sebelumnya sudah tidak percaya diri untuk berdebat, hanya bisa mensyukuri ia tak mengambil langkah lebih jauh melawan Sesilia.

Meski sedikit terkejut atas ucapan Sesilia, tapi Azka berusaha tetap tenang. Ia kemudian memimpin agar rapat bisa berlanjut ke langkah berikutnya.

“Oke, saya anggap persoalan drama sudah selesai. Sekarang kita bisa membahas terkait teknis pelaksanaannya,” kata Azka sambil berdiri lalu menunjuk layar digital yang memang telah terpampang dari awal rapat.

“Bisa?!” tegas Azka.

Beberapa menjawab Azka, tapi hanya sedikit. “Bisa!?” Azka meninggikan suaranya agak berteriak.

Sontak saja seluruh pegawai yang berada di dalam ruangan, termasuk Dito dan Wawan meresponnya dengan lantang, “Bisa!”

Selang beberapa waktu, rapat pun akhirnya selesai, Azka seperti biasa langsung meninggalkan ruangan.

Tapi kemudian Sesilia menyusul. Ia kembali mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Azka.

“Sekali lagi, terima kasih ya Pak. Saya pasti tidak akan mengecewakan bapak,” ujarnya.

“Itu sudah menjadi tugas saya di sini. Tidak perlu sungkan,” jawab Azka penuh wibawa.

Azka dan Sesilia masih tidak menyadari bahwa mata-mata sinis menatap ke arah mereka.

Untungnya Noval segera datang. Ia minta waktu untuk berbicara dengan Azka. Mereka kemudian menuju ruangan, meninggalkan Sesilia di koridor.

Begitu berada di dalam ruangan, Noval mengungkapkan kekhawatirannya.

“Kamu sudah tahu kalau sedang jadi perbincangan hangat di kalangan anak kantor, Pak?” tanya Noval.

“Maksud kamu?” Azka masih belum paham.

Noval menatapnya, memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan. Tapi kemudian Azka menangkap maksud Noval kurang tepat.

“Oh, saya paham. Mengenai rapat tadi. Saya tidak punya maksud lain karena membela Sesilia. Saya hanya bekerja sesuai porsi saya sebagai pimpinan proyek,” jelasnya.

“Kita juga sudah diskusi dan kamu setuju,” lanjutnya.

Menghela nafas panjang, Noval meluruskan. “Bukan itu pak. Tapi kedekatan kamu sama Sesilia,” ucap Noval.

“Apa kamu lupa? Katanya ingin menghindari Sesilia supaya tidak jadi masalah di kemudian hari, tapi sekarang?” sambungnya lagi.

Tapi ternyata Azka sudah memiliki alibi untuk hal tersebut. Ia sudah menduga Noval cepat atau lambat pasti akan mengungkit masalah ini.

“Oke, jadi begini, Val. Saya sudah putuskan kalau tidak akan menghindari Sesilia. Tapi juga bukan berarti saya memiliki hubungan sama dia. Saya mencoba lebih santai saja. Tetap komunikasi baik, tapi tidak menggunakan perasaan, hanya sekedar profesionalitas,” pungkas Azka meyakinkan.

“Saya hanya mencoba untuk memberikan batas baru antara saya dan Sesilia. Itu saja,” lanjutnya lagi sambil berdiri mendekat ke arah Noval.

Azka kemudian memukul pelan bahu Noval pertanda agar ia tidak lagi merasa khawatir. Namun karena Noval tidak percaya dengan ucapan Azka. Ia kembali mengingatkan.

“Saya punya firasat buruk, Pak. Kamu hanya berlindung dari kata profesional. Mulut boleh berkata semaunya, tapi mata tidak akan pernah bohong,” ujarnya.

Noval kemudian beranjak lalu pamit keluar ruangan, “Saya permisi dulu, Pak.”

1
Nanda Jambi
kenangan terindah pasti ada dalam setiap ingatan terdalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!