NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Cerita yang Disembunyikan Belasan Tahun

Farhan berdiri kaku di ambang pintu. Napasnya tertahan.

"Ayah saya?" suaranya hampir berbisik. "Siapa ayah saya?"

Perempuan itu — Tante Ratna — melangkah masuk pelan, senyumnya penuh kesedihan. "Bolehkah saya duduk dulu? Ceritanya panjang dan cukup berat."

Kita semua duduk di ruang tengah. Hening. Seperti ada beban besar yang baru saja ikut masuk ke dalam rumah ini. Tante Ratna meletakkan tas di pangkuan, tangannya saling meremas, lalu menatap Farhan dalam-dalam.

"Kamu bukan anak yang ditinggalkan begitu saja, Nak. Kamu diselamatkan." Beliau berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah. "Ayahmu... beliau sahabat saya. Orang yang sangat baik, sangat tulus. Sama sepertimu."

"Terus di mana beliau sekarang?" tanya Farhan, suaranya bergetar.

Tante Ratna menunduk. "Sudah tiga belas tahun beliau pergi. Kecelakaan yang sama persis seperti yang baru saja kamu hadapi."

Farhan mundur sedikit di kursi. "Maksud Tante..."

"Malam itu hujan deras. Beliau mengemudikan mobil, sama seperti Dimas. Kehilangan kendali, menabrak pembatas jalan. Beliau tidak selamat. Ibumu... baru saja melahirkan kamu dua minggu sebelumnya. Sakit sekali, tidak sanggup menanggung beban itu sendirian. Beliau meninggalkan kamu di depan rumah pasangan yang sekarang merawatmu, dengan satu permintaan: beri kamu nama baru, hidup baru, supaya kamu tidak pernah menanggung masa lalu yang berat itu."

Saya menatap Bapak dan Ibu. Mereka menangis dalam diam, bahu naik turun menahan isak.

"Jadi nama saya..." Farhan tidak berani menyelesaikan kalimatnya.

"Nama aslimu adalah Raka. Raka Pratama." Tante Ratna meletakkan selembar foto lama di meja. "Ini ayahmu. Lihat matanya? Sama persis dengan matamu."

Farhan mengambil foto itu perlahan, seakan takut merusaknya. Di sana terlihat seorang pemuda tersenyum — matanya tajam namun lembut, senyumnya sama persis seperti senyum Farhan saat tulus.

"Raka..." ucapnya pelan, seakan mengenali dirinya sendiri. "Saya... saya Raka."

"Kamu tetap kamu, Nak," kata Ibu lembut, air mata jatuh di pipi. "Kami memanggilmu Farhan karena itu nama yang kami pilih dengan penuh kasih sayang. Bukan untuk menyembunyikan keburukan. Tapi untuk melindungi kamu."

"Kenapa tidak pernah sekalipun diceritakan sedikit pun?" tanya Farhan, matanya basah dan bingung. "Bahkan saat saya hampir hancur, saat nama saya dinilai buruk... kenapa tidak pernah dikatakan siapa ayah saya sebenarnya?"

"Karena ayahmu... beliau juga pernah dituduh, dibicarakan buruk, sama sepertimu," jelas Tante Ratna pelan. "Saat beliau pergi, banyak orang berbicara tidak baik soal beliau. Kami takut kalau kamu tahu, kalau kamu membawa nama itu... kamu akan dihakimi sebelum kamu mulai hidup. Kami ingin kamu bersih dari semua itu."

"Jadi saya dijaga dengan cara dibungkam?" Farhan berdiri, napasnya berat. "Saya dihargai dengan cara dibohongi?"

"Kami salah," kata Bapak pelan, suaranya pecah. "Kami pikir kami melindungi. Ternyata kami justru menahan kamu dari dirimu sendiri."

Farhan berjalan ke jendela, memunggungi kami. Tangan kirinya masih menggenggam foto itu erat. Tubuhnya bergetar pelan. Saya ingin menghampiri, tapi saya paham — saat ini ia harus menghadapinya sendiri dulu.

"Selama ini saya merasa ada yang hilang," ucapnya tanpa menoleh. "Seperti saya bukan milik di sini. Seperti saya tamu yang lupa harus pulang."

"Kamu tetap anak kami, Farhan," kata Ibu lembut dan tegas. "Selamanya. Tapi kami mengerti kalau sekarang kamu butuh waktu untuk mengenal Raka juga."

Farhan berbalik perlahan. Matanya merah, namun tatapannya berubah — lebih dewasa, lebih tegar. "Saya butuh waktu. Sendirian."

"Kamu mau ke mana?" tanya Bapak cemas.

"Ke taman. Tempat yang biasa saya datangi saat sedang bingung." Ia menatap saya sekilas. "Bolehkah saya mengajak Amira?"

"Tentu saja," jawab Bapak dan Ibu hampir bersamaan. "Selama kamu butuh, beliau boleh ikut."

Di jalan menuju taman, kita tidak banyak bicara. Langit mulai gelap, lampu jalan menyala satu per satu. Angin sore berhembus sejuk, membawa bau tanah yang masih basah.

Sesampainya di bangku kayu di bawah pohon besar, Farhan duduk. Foto itu masih di tangannya.

"Gue bingung, Mir," akunya pelan. "Siapa yang harus gue jadi? Farhan yang lo kenal... atau Raka yang baru aja gue dengar ceritanya?"

"Keduanya," jawab gue lembut tapi tegas. "Farhan yang baik dan tulus itu nyata. Raka yang lahir dari kasih sayang itu juga nyata. Dan keduanya... lo. Satu orang yang luar biasa."

Ia menatap foto itu lagi, lalu tersenyum tipis — sedih namun lega. "Ayah gue... beliau juga mengalami hal yang sama. Hujan, kehilangan kendali. Sama kayak Dimas."

"Mungkin itu bukan sekadar kebetulan," kata gue pelan. "Mungkin itu cara kehidupan mengingatkan — semua orang bisa jatuh. Yang penting siapa yang berani berdiri lagi."

Ia menarik napas panjang, lalu memasukkan foto itu perlahan ke saku bagian dalam bajunya. "Gue harus bangkit. Bukan buat nama baru atau nama lama. Tapi buat diri gue sendiri."

"Dan gue di sini," gue pegang tangannya pelan. "Dari Farhan sampai Raka. Gue gak kemana-mana."

Ia menggenggam tangan gue erat, lalu mendekat pelan — memberi ruang, seakan bertanya tanpa suara. "Boleh gue peluk lo?"

"Boleh."

Ia memeluk gue lembut dan hati-hati, seakan gue hal paling berharga yang pernah ia miliki. Wajahnya bersandar di bahu gue, napasnya mulai teratur kembali.

"Makasih," bisiknya. "Makasih gak pergi pas gue jadi orang yang gue sendiri belum kenal."

"Gue kenal lo," gue usap punggungnya pelan. "Gue kenal hati lo. Itu gak berubah walau nama berubah seribu kali."

Kita berdiam di situ cukup lama. Langit sudah gelap penuh, bintang mulai muncul satu-satu.

Tiba-tiba HP gue bergetar. Pesan dari Dimas:

"Gue dengar soal Farhan. Gue gak tau harus bilang apa. Tapi gue tau satu hal — dia orang paling kuat yang gue kenal. Bilang ke dia... gue bangga jadi temennya."

Gue tunjuk layar ke Farhan. Ia membaca pelan, senyum kecil muncul di bibirnya.

"Dimas..." katanya pelan. "Dia juga jalannya berat. Tapi dia tetap jalan."

"Dan lo juga," gue tambah. "Kalian berdua sama-sama belajar siapa diri kalian sebenarnya."

Ia berdiri, mengulurkan tangan. "Yuk pulang? Gue harus mulai terima semuanya. Pelan-pelan."

Gue menyambut tangannya. "Bareng?"

"Bareng."

Jalan pulang terasa berbeda. Lebih ringan, namun juga lebih dalam. Seperti beban di pundak diangkat — diganti dengan kebenaran yang kadang menyakitkan, tapi selalu menenangkan.

Di depan rumah, Farhan berhenti di bawah lampu jalan. Menatap gue lama.

"Besok..." mulai ia ragu. "Boleh gue tetap jemput lo? Sebagai Farhan... atau Raka? Atau keduanya?"

"Sebagai lo," jawab gue mantap. "Cukup jadi lo."

Ia tersenyum — senyum paling tenang yang pernah gue lihat. "Oke. Sebagai gue."

Gue baru mau melangkah masuk, tapi ia panggil pelan.

"Mir!"

Gue berbalik. "Iya?"

"Siapa pun ayah gue, nama gue, atau masa depan gue..." Ia letakkan tangan di dada, tepat di atas foto ayahnya di saku. "Satu hal gue yakin. Hati gue memilih lo. Dan itu gak bakal berubah."

Gue tersenyum, mata terasa hangat. "Gue juga."

Malam itu gue tidur dengan perasaan campur aduk. Sedih karena cerita yang berat. Tapi lega — karena akhirnya semua mulai terlihat jelas.

Namun di tengah malam, HP bergetar lagi. Bukan pesan. Panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Gue angkat pelan. "Halo?"

Suara perempuan, lembut namun tegas.

"Amira... saya ibu kandung Farhan. Saya tidak pergi karena tidak sayang. Saya pergi karena saya diancam. Dan sekarang... orang yang mengancam saya itu masih ada di dekat kalian."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!