Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Nial berdiri di depan jendela tinggi yang menghadap ke pusat kota. Jas hitamnya masih sempurna, dasinya lurus tanpa sedikit pun kusut meskipun jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.
Sebagian besar karyawan sudah pulang sejak dua jam lalu. Namun bagi Nial, waktu bukanlah sesuatu yang membatasi pekerjaannya.
Ia menatap pemandangan kota tanpa benar - benar melihatnya. Pikirannya sibuk.
Di belakangnya, seorang pria berdiri dengan sikap profesional. Rayden Alastair—Asisten sekaligus tangan kanan Nial selama hampir sepuluh tahun terakhir.
Tentunya Rayden mengenal bosnya itu lebih baik daripada siapa pun di perusahaan ini.
Nial Percy adalah pria yang disiplin, dingin, dan hampir tidak pernah melakukan sesuatu tanpa perhitungan. Itulah sebabnya Rayden sedikit terkejut ketika Nial tiba - tiba memanggilnya kembali ke kantor malam ini.
Tanpa agenda rapat. Tanpa dokumen penting.
Hanya … pertemuan pribadi.
Nial akhirnya berbalik dari jendela. Tatapannya tenang, seperti biasa.
“Rayden.”
“Ya, Tuan.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Rayden sudah terbiasa dengan kebiasaan bosnya yang sering berbicara seperlunya. Namun kali ini, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Tatapan Nial tampak lebih tajam, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
“Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.”
Rayden sedikit mengangkat alisnya. “Tentu, Tuan.”
Nial berjalan menuju meja kerjanya. Ia meletakkan kedua tangannya di atas permukaan meja marmer hitam, lalu menatap Rayden dengan ekspresi datar.
“Carikan aku seorang wanita.”
Rayden berkedip sekali. Hanya sekali. Namun bagi seseorang yang mengenal Nial Percy, kalimat itu terdengar … tidak biasa. Sangat tidak biasa.
“Seorang wanita?” ulang Rayden dengan hati-hati.
“Ya.” Nial menjawab singkat, seolah permintaan itu adalah hal paling normal di dunia.
Rayden berdehem pelan. “Maaf, Tuan … apakah maksud Anda—”
“Untuk kebutuhan pribadi.”
Jawaban itu datang cepat. Dan sangat jelas.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Rayden benar - benar kehilangan kata - kata. Bukan karena permintaan itu aneh.
Banyak pria kaya melakukan hal seperti itu.
Namun Nial Percy bukanlah salah satu dari mereka. Selama bertahun - tahun bekerja dengannya, Rayden belum pernah melihat bosnya berkencan dengan siapapun.
Tidak ada wanita yang datang atau pergi dari hidupnya. Hanya rumor - rumor yang sengaja dibuat oleh media. Pria itu seolah hidup hanya untuk pekerjaannya.
Tapi kenapa mendadak ia meminta hal itu?
Rayden segera menggeleng. Sebagai pria dewasa, tentu bosnya ini juga butuh menyalurkan h*sratnya.
“Apakah ada kriteria khusus, Tuan?” tanya Rayden akhirnya.
Nial bersandar sedikit di kursinya. “Tentu saja.”
Rayden menghela napas dalam hati. Ia sudah menduga.
“Wanita itu harus dewasa,” kata Nial tenang. “Bukan seseorang yang masih bermain - main dengan emosi.”
Rayden mengangguk, mencatat secara mental.
“Dia harus lincah.”
“B–baik.”
“Dan dia tidak boleh datang hanya karena uang.”
Rayden berhenti. Ia menatap Nial sejenak. “Maaf, Tuan … tapi biasanya wanita dengan tipe seperti ini memang datang karena uang.”
Nial menatapnya tanpa ekspresi. “Itulah sebabnya aku memintamu mencarinya.”
Rayden menghela napas kecil. Permintaan ini jelas tidak mudah.
“Apakah wanita itu harus tahu siapa Anda?”
Nial berpikir sejenak. “Tidak harus.”
“Dan jika dia tahu?”
“Itu tidak masalah.”
Rayden menyilangkan tangannya. “Dengan kata lain … Anda menginginkan seorang wanita yang cukup menarik untuk datang, tapi tidak cukup tertarik pada uang Anda?”
“Kurang lebih begitu.”
Rayden hampir tersenyum. Hampir. “Tuan,” katanya akhirnya, “saya tidak yakin wanita seperti itu benar - benar ada.”
Nial hanya menatapnya datar. “Kalau begitu temukan yang paling mendekati.”
Rayden mengangguk. “Baik, Tuan.”
Percakapan itu seharusnya berakhir di sana. Namun tepat saat Rayden keluar dari ruang kerja, ia tidak menyadari bahwa seseorang berdiri beberapa meter dari pintu—di koridor yang sepi.
Seorang wanita.
Wanita itu bersandar santai di dinding, kedua tangannya menyilang di depan dada.
Rambut panjangnya jatuh lembut di bahu.
Gaun hitam dengan tali tipis membingkai tubuhnya dengan elegan, membuatnya terlihat seperti bagian dari dunia glamor yang sama dengan para pengusaha elit di gedung ini.
Queen Lexian Arresta.
Ia sebenarnya ingin menemui temannya yang bekerja di gedung sebelah. Namun, karena salah membaca papan nama di lobi, ia justru masuk ke gedung ini dan naik ke lantai eksekutif.
Saat ia melangkah ragu menyusuri koridor untuk turun, langkahnya terhenti; ia tidak sengaja mendengar potongan percakapan rahasia dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Dan sekarang … Ia menatap Rayden yang baru saja keluar dari ruangan itu.
“Permisi.”
Rayden berhenti berjalan. Ia menoleh, sedikit terkejut melihat seorang wanita berdiri di sana.
“Ya?”
Queen tersenyum tipis. “Aku tidak sengaja mendengar percakapan Anda.”
Rayden langsung waspada. “Percakapan apa?”
Queen mengangkat bahu santai. “Yang tentang ... mencari seorang wanita untuk seseorang di dalam sana.”
Rayden terdiam. Beberapa detik. Tatapannya berubah lebih tajam. “Maaf, Nona. Itu percakapan pribadi dengan bos saya.”
"Begitu ya?" Queen tertawa kecil. “Tenang saja, aku tidak berniat menyebarkannya.”
Rayden tetap menatapnya dengan hati - hati.
“Kalau begitu…?”
Queen memiringkan kepalanya sedikit.
“Aku hanya penasaran.”
“Penasaran?”
“Ya.” Matanya berkilat penuh rasa ingin tahu. “Pria seperti apa yang membuat Anda terdengar begitu serius saat mencarikan wanita untuknya?”
Rayden hampir tertawa. “Percayalah, Nona … Anda tidak ingin tahu.”
“Oh?” Queen melangkah mendekat sedikit. “Justru sekarang aku semakin ingin tahu.”
Rayden menghela napas. Wanita ini jelas tipe yang suka mencari masalah.
“Bos saya bukan pria yang suka bermain - main.”
“Bagus.” Queen menjawab cepat. “Aku juga tidak suka bermain - main.”
Rayden mengerutkan kening. “Apa sebenarnya maksud Anda?”
Queen tersenyum. “Jika kau benar - benar sedang mencari wanita untuknya…” Ia berhenti sejenak. Lalu berkata dengan nada santai, “Mungkin kau tidak perlu mencari terlalu jauh.”
Rayden menatapnya. Beberapa detik, dan kemudian ia menyadari sesuatu. “Anda tidak sedang mengatakan bahwa—”
“Aku tertarik.”
Rayden menghela napas panjang. “Tertarik pada uangnya?”
Queen tertawa kecil. “Aku bahkan belum pernah bertemu langsung dengannya.”
“Lalu?”
Queen mengangkat bahu. “Hanya ingin mencoba.”
Rayden menatap wanita itu lama. Ia tidak tahu apakah harus menganggapnya serius atau tidak. Namun satu hal yang pasti … Wanita ini jelas tidak terlihat seperti seseorang yang melakukan sesuatu karena uang.
Rayden akhirnya berkata pelan, “Anda mungkin akan menyesal, Nona.”
Queen hanya tersenyum lebih lebar. “Mungkin.”
Lalu ia berkata tenang, “Tapi aku tetap ingin mencobanya.”
Rayden menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Sekali lagi, tatapannya menilai, mengukur, mencoba menebak apakah wanita di hadapannya ini hanya bercanda … atau benar-benar serius.
Koridor lantai eksekutif malam itu sangat sepi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.
“Nama Anda?” tanya Rayden akhirnya.
Queen mengangkat alis tipisnya. “Langsung ke wawancara?”
Rayden tidak tersenyum. “Jika Anda benar-benar serius, saya perlu tahu dengan siapa saya berbicara.”
Queen memperhatikannya sejenak, lalu menjawab santai. “Queen.”
“Queen…—?”
“Queen Lexian.”
Rayden mengangguk pelan, menyimpan nama itu dalam ingatannya. “Dan Anda datang ke gedung ini untuk…?”
“Menemui seorang teman,” jawab Queen ringan. Tak berniat menjelaskan lebih lanjut tentang dirinya yang salah alamat.
“Baiklah, Nona,” Rayden akhirnya mengambil keputusan. “Jika Anda berubah pikiran, ini kesempatan terakhir untuk pergi.”
Queen menatapnya lurus. “Aku tidak akan berubah pikiran secepat itu.”
Rayden menatapnya beberapa detik lagi, lalu menghela napas pendek. “Baiklah.” Ia berbalik menuju pintu besar di belakangnya. “Tunggu di sini.”
Queen menyandarkan punggungnya ke dinding lagi dengan santai. “Baik.”
Rayden pun membuka pintu ruang kerja Nial dan masuk kembali.
Di dalam ruangan, Nial sudah duduk di kursinya. Ia sedang membaca sesuatu di layar tablet di tangannya. Namun begitu Rayden masuk, pria itu langsung mengangkat pandangannya.
“Ada hal lain yang perlu ditanyakan?”
“Emm, itu ... begini Tuan....”
Alis Nial sedikit terangkat. “Ada apa?”
Rayden berhenti beberapa langkah dari meja. “Ada seorang wanita di luar.”
Tatapan Nial berubah sedikit lebih tajam. “Cepat sekali, Rayden.”
Rayden menahan napas sejenak sebelum menjawab. "Dia tidak sengaja mendengar sebagian percakapan kita.”
Keheningan turun di ruangan itu. Nial menatapnya tanpa ekspresi. “Dan?”
“Dia menawarkan diri.”
Beberapa detik berlalu. Tidak ada perubahan besar di wajah Nial, tetapi Rayden tahu bosnya sedang berpikir.
“Apa alasannya?”
“Rasa penasaran dan ingin mencoba, katanya.”
Nial menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Nama?”
“Queen Lexian.”
Tatapan Nial tetap tenang. “Menurutmu?”
Rayden berpikir sejenak. “Dia tidak terlihat seperti seseorang yang melakukan ini karena uang.”
“Semua orang punya alasan.”
“Benar, Tuan.”
Nial mengetuk meja dengan ujung jarinya sekali. “Dia tahu siapa aku?”
“Tidak secara langsung.”
Hening.
Rayden menunggu. Beberapa detik kemudian, Nial akhirnya berkata, “Bawa dia masuk!”
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰