"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"
....
Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 #Kepanikan di pagi hari
Gibran masih berdiri mematung di teras rumah sewa Bening. Setelah termenung cukup lama menatap pintu kayu yang terkunci rapat, pria itu akhirnya memutar tubuhnya, melangkah lebar menuju mobil yang sudah menunggunya di halaman.
Begitu memasuki kabin mobil, pandangan mata Gibran memancarkan tekad yang tak lagi bisa digoyahkan.
"Toni," panggil Gibran dengan suara rendah yang amat dingin.
"Iya, Pak Gibran?" sahut Toni dari balik kemudi, menatap sang atasan lewat cermin tengah.
"Cari pria yang ada di kamar hotel bersama Bening tujuh tahun lalu," perintah Gibran tegas, setiap suku katanya dipenuhi keandalan seorang pemimpin. "Bagaimanapun caranya, bawa dia ke hadapanku secepatnya. Jika Bening menolak membuka mulutnya, aku yang akan memaksa pria itu memberi penjelasan."
"Baik, Pak. Saya akan mengerahkan seluruh tim penyidik internal malam ini juga," jawab Toni sigap.
Gibran menyandarkan punggungnya, menatap ke luar jendela yang gelap. 'Aku tidak akan membiarkan kebohongan ini terus mengurung kita, Bening...' batinnya bertekad.
.
.
Sementara itu, di balik pintu rumah yang tertutup rapat, Bening tak punya waktu untuk meratapi nasibnya lebih lama. Meski dadanya sesak oleh kepedihan dan mata memerah akibat tangisan, ia harus profesional. Pesanan kue ulang tahun dan kue basah pelanggan harus selesai esok pagi.
Tanpa memedulikan rasa lelah dan pusing yang mulai merayapi kepalanya, Bening berkutat di dapur sepanjang malam. Ia mengaduk adonan, memanggang, hingga merapikan hiasan krim tanpa memejamkan mata sedikit pun sampai fajar menyingsing.
Saat matahari pagi mulai menyelinap lewat celah jendela dapur, daya tahan tubuh Bening mencapai batasnya. Rasa pusing yang amat hebat mendadak menghantam pandangannya. Gelombang mual dan pening membakar kesadarannya, membuat pandangannya mendadak gelap gulita.
BRUK.
Tubuh Bening ambruk, tergeletak lemas tak berdaya di atas lantai dapur yang dingin, tepat di bawah meja adonan.
Tepat pukul enam pagi, pintu kamar perlahan terbuka. Kaivandra yang baru saja terbangun mengucek matanya yang masih sembap. Bocah kecil itu melangkah keluar kamar mencari keberadaan sang ibu.
"Mama... Mama di mana?" panggil Kai dengan suara serak khas bangun tidur.
Tak ada sahutan. Kai melangkah menyusuri lorong menuju area dapur. Namun, begitu matanya menatap ke bawah meja dapur, jantung bocah kecil itu seolah berhenti berdetak.
"MAMA...!" jerit Kai histeris.
Kai berlari kencang mendekati tubuh Bening yang tergeletak kaku di lantai. Dengan tangan gemetar, Kai memeluk dan menggoyang-goyangkan bahu mamanya penuh kepanikan.
"Mama... Mama kenapa?! Mama bangun, Ma! Huhu... Mama...!" Kai menangis histeris, air matanya kembali menetes deras.
Melihat mamanya sama sekali tidak merespons, kepolosan Kai menuntunnya untuk bertindak. Bocah itu berlari kecil mengambil ponsel miliknya sendiri di kamar. Jemari mungilnya dengan cepat mengusap layar, mencoba menghubungi Tante Erika. Namun, panggilan itu tak tersambung.
Dalam kepanikan yang membuncah, pikiran Kai hanya tertuju pada satu nama lagi. Dengan tangisan yang makin pecah, Kai menekan nomor ponsel papanya. Dalam ponsel miliknya itu memang hanya ada 3 kontak Bening, Erika dan yang terbaru adalah nomor Gibran.
Hanya dalam hitungan detik, panggilan itu langsung diangkat.
"Papa...! Hawa... Papa, Mama tidak bangun-bangun! Mama pingsan di lantai, Pa!" jerit Kai panik di sela isakannya.
Di kediaman Aditama, Gibran yang semalaman tidak bisa tidur tenang dan baru saja meminum kopi puncaknya di ruang tengah, seketika berdiri tegak. Jantungnya berdegup kencang mendengar jeritan sang putra.
"Kai, dengarkan Papa! Tenang ya, Nak... Papa akan segera ke sana sekarang juga! Papa jalan sekarang!" sahut Gibran cepat mencoba menenangkan, sambil bergegas mengambil kunci mobil dan jasnya.
Wira Aditama yang sedang duduk di sofa ruang tengah melihat kepanikan luar biasa di wajah putranya dan sempat mendengar suara tangisan Kai dari pengeras suara ponsel.
"Gibran! Ada apa?" tanya Wira dengan suara tegas. "Apa cucuku terluka? Wanita miskin itu memang tidak becus mengurus anak!"
Gibran menghentikan langkahnya sejenak, menatap sang ayah dengan pandangan kaku.
"Kaivandra baik-baik saja, Pa," ujar Gibran singkat dan dingin, tanpa berminat memberi penjelasan lebih jauh sebelum berbalik dan berlari keluar rumah.
Wira menyipitkan matanya, menghembuskan napas berat seraya mengeluarkan aura ketidaksukaan yang amat pekat. 'Jika bukan Kaivandra yang kenapa-kenapa... jadi Bening yang pingsan? Dan Gibran sepeduli itu sampai panik luar biasa?'
Wira meremas pegangan kursi kayunya. Ini bahaya. 'Gibran tidak boleh terlibat terlalu dalam lagi dengan wanita itu!'
"Toni cepat!" Teriak Gibran sembari berjalan keluar rumah menuju mobilnya.
Gibran Sendiri yang mengemudi dan membiarkan Toni ikut duduk di kursi kemudi. Hanya butuh waktu beberapa menit bagi Gibran untuk membelah jalanan pagi dengan kecepatan tinggi. Mobil sedan hitam itu berhenti mendadak di pelataran rumah sewa Bening. Tanpa memedulikan mesin mobil yang masih menyala, Gibran melompat keluar dan berlari kencang menerobos pintu depan yang tak terkunci.
Di area dapur, pemandangan menyayat hati menyambut penglihatannya. Kaivandra sedang berlutut di lantai sambil terus menangis histeris, berusaha sekuat tenaga menggoyangkan bahu ibunya yang tak bergeming.
"Mama... bangun, Ma... Huhu..."
"Kai!" panggil Gibran dengan suara bergetar.
Pria itu berlutut, merengkuh tubuh Bening ke dalam dekapannya. Jantung Gibran serasa berhenti berdetak saat merasakan betapa pucatnya wajah Bening dan betapa dinginnya suhu tubuh wanita itu. Tanpa membuang waktu, Gibran membopong tubuh lemas Bening di kedua tangannya, mengangkatnya dengan penuh kehati-hatian.
"Pak Gibran, biar Den Kai saya yang tuntun!" sahut Reno, asisten kepercayaan Gibran yang ikut bergegas masuk.
Reno dengan sigap menggandeng tangan mungil Kai yang masih sesenggukan, membimbing bocah kecil itu menyusul langkah lebar Gibran menuju mobil. Kai didudukkan di kursi depan di samping Reno yang mengemudi, sementara Gibran memangku kepala Bening di kursi belakang, menyapu pelipis mantan istrinya dengan cemas.
Di tengah deru mesin mobil yang melaju kencang menuju rumah sakit, Kaivandra menoleh ke belakang dengan mata bulatnya yang sembap oleh air mata.
"Papa..." bisik Kai dengan suara serak menahan sesak. "Mama... Mama masih bisa bangun lagi, kan, Pa?"
Gibran mengabaikan gejolak kecemasan hebat yang mencengkeram dadanya sendiri. Ia memaksakan sebuah senyuman tenang, menatap putranya lurus-lurus demi memberikan rasa aman.
"Pasti bisa, Sayang... Tenanglah, ya? Mama pasti akan baik-baik saja," jawab Gibran lembut, mengusap bahu kecil Kai dari belakang.
Setibanya di Rumah Sakit, Bening langsung dilarikan ke dalam ruang penanganan darurat. Di luar ruangan, Gibran berlutut di depan Kai, mengusap air mata yang masih tersisa di pipi mungil putranya.
"Mama sedang diperiksa dokter di dalam. Jangan menangis lagi ya, Jagoan," bisik Gibran menenangkan, mendekap tubuh kecil itu rapat-rapat.
Tak berapa lama kemudian, pintu ruang pemeriksaan terbuka. Dokter melangkah keluar sambil melepas stetoskopnya. Gibran langsung bangkit berdiri dengan raut wajah panik.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Gibran cepat.
Dokter tersenyum tipis mencoba menenangkan. "Tenang, Pak Gibran. Tidak ada hal yang mematikan atau serius. Ibu Bening hanya mengalami kelelahan yang sangat ekstrem dan kurang tidur. Tubuhnya ambruk karena kekurangan energi. Kami sudah memasangkan cairan infus dan vitamin untuk memulihkan kondisinya."
Huuuh...
Gibran menghembuskan napas lega yang amat panjang, seolah beban berat baru saja terangkat dari dadanya.
Saat Gibran menuntun Kaivandra masuk ke dalam ruang rawat inap, Bening perlahan mulai membuka kelopak matanya yang terasa amat berat.
"Argh..." Bening mengerang pelan, memegangi kepalanya yang masih dihantam rasa pusing yang luar biasa hebat. Pandangannya yang samar-samar perlahan menyesuaikan dengan cahaya lampu ruangan beraroma antiseptik itu. "Aku... aku di mana...?"
"MAMA...!"
Jeritan riang Kaivandra memecah keheningan. Bocah kecil itu berlari kencang mendekati ranjang, memanjat sedikit dan langsung melingkarkan lengan mungilnya di leher Bening.
"Mama sudah bangun! Kai senang banget Mama sudah bangun... Jangan pernah tinggalkan Kai lagi, Ma!" bisik Kai menangis lega, menempelkan pipinya di dada Bening.
Bening tersenyum haru, mengusap lembut rambut putranya dengan tangan kanan yang tak terpasang jarum infus. "Maafkan Mama ya, Sayang... sudah membuat Kai cemas dan menangis..."
Namun, saat Bening mendongakkan kepalanya sedikit, pandangannya tertambat pada sosok pria tinggi berkarisma yang berdiri kaku di samping ranjangnya. Gibran. Pria itu menatapnya dengan raut khawatir yang tersirat jelas dari balik mata tegasnya.
'Jadi... yang membawaku ke rumah sakit ini Mas Gibran?' batin Bening bertanya-tanya dengan dada yang berdesir. 'Kenapa dia bisa sepeduli ini padaku? Ah... mungkin ini semua hanya karena permintaan Kai... dia hanya tidak ingin melihat putranya bersedih.'
Sedetik kemudian, ingatan Bening mendadak tersentak hebat. Matanya membelalak lebar. Astaga! Kue pesanan pelanggan!
"Kuenya...!" jerit Bening panik.
Tanpa memedulikan rasa pusing yang masih berputar-putar di kepalanya, Bening mencoba menyingkap selimut dan berinisiatif untuk segera bangkit dari ranjang.
"Bening! Jangan bertindak bodoh!" potong Gibran cepat, melangkah maju dan menahan kedua bahu Bening dengan tegas namun lembut, memaksanya untuk kembali berbaring.
Dada Gibran terasa teriris melihat wanita ini masih memikirkan pekerjaan di saat fisiknya sendiri hampir hancur. "Pikirkan kesehatanmu dulu! Kesehatanmu jauh lebih penting dari kue-kue itu!"
"Tapi Mas... itu pesanan orang!" sahut Bening dengan nada memohon, matanya berkaca-kaca menahan panik. "Kue-kue itu harus diantar pagi ini! Kalau terlambat, pelanggan bisa marah besar dan tidak akan pernah percaya padaku lagi... itu mata pencahariaanku untuk Kai, Mas!"
Gibran menatap Bening dalam-dalam, sorot matanya melunak dipenuhi rasa penyesalan dan tanggung jawab.
"Dengarkan aku," ujar Gibran dengan nada menenangkan yang begitu kokoh. "Aku yang akan mengurus semuanya. Aku akan mengantar kue-kue yang sudah selesai di rumahmu, dan aku sendiri yang akan mengganti rugi penuh atas kekurangan pesanan yang belum sempat kamu selesaikan. Kamu tidak perlu memikirkan apa pun lagi. Istirahatlah."
Bening tertegun membisu, menatap wajah kaku Gibran yang kini memancarkan rasa perlindungan yang sudah lama sekali tidak ia rasakan.
Gibran mengalihkan pandangannya pada sang putra, menepuk pelan bahu Kai. "Kai... Papa pergi keluar sebentar untuk mengurus pekerjaan Mama, ya? Kai tolong jaga Mama di sini."
"Iya, Papa! Kai akan jaga Mama baik-baik!" sahut Kai mantap sambil menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
ga bakal ketauan ortu sendiri