✦ JERAT TIGA SISI ✦
"Pilih dengan bijak, Azira Anandya Gunawan. Menikahi CEO pilihan Papahmu, lari ke pelukan sahabat doktermu, atau kembali menjadi milikku seperti dulu?"
Azira terjebak di antara tiga pria yang memiliki cara berbeda untuk mengurungnya.
Sisi Pertama — Baskara Yudistira Prayoga. Pria berjas mahal yang angkuh. Ia memandang Azira sebagai kewajiban kontrak, namun tatapan matanya perlahan mulai menuntut hak yang lebih dari sekadar status.
Sisi Kedua — Farhan Nalendra. Pria berjas putih dengan senyum hangat yang selalu menyembuhkan luka Azira. Sosok yang kini berani melangkah keluar dari friendzone demi melindungiku.
Sisi Ketiga — Gavin Mantiez. Dan yang paling berbahaya... teman masa kecil Azira sekaligus mimpi buruk yang kembali dengan tatapan penuh kepemilikan gila.
Tiga pria, tiga cara mencintai yang ekstrem, dan satu hati milik Azira yang diperebutkan. Siapakah yang akhirnya akan mendampingi AZira di garis akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reruntuhan Sangkar dan Alarm yang Berdering Sunyi
Pagi pertama setelah badai Laut Utara benar-benar berlalu membawa rasa asing yang merayap halus di dada Azira.
Sinar matahari pagi yang hangat perlahan menembus celah gorden jendela kaca besar penthouse mewah itu, memantulkan cahaya keemasan di atas permukaan lantai marmer yang kini tak lagi terasa sedingin biasanya.
Di atas ranjang ukuran king size yang megah dan empuk, Azira mengerjapkan matanya perlahan. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya adalah langit-langit kamar yang tinggi arsitektural, disusul oleh aroma kopi hitam jenis arabika yang pekat serta wangi roti panggang mentega yang menguar dari arah meja kecil di sudut ruangan.
Saat ia mencoba mendudukkan tubuhnya yang masih terasa sedikit lemas dan kaku, ia menyadari Baskara tidak lagi mengenakan setelan jas bisnis tiga potong yang kaku dan mengintimidasi.
Pria itu berdiri diam di ambang pintu balkon kamar. Ia hanya mengenakan kemeja linen putih longgar yang dua kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka, menampilkan kesan kasual yang sangat tampan namun tetap memancarkan aura dominan yang kuat.
"Kau sudah bangun?" suara bariton Baskara memecah keheningan pagi, bergetar rendah dan terdengar jauh lebih lembut dari biasanya.
Azira mengangguk kecil, gerakannya masih agak canggung. Tangannya perlahan bergerak meraba syal krem yang masih melingkar longgar di lehernya, memberikan rasa hangat yang familier. "Sejak kapan kau berdiri di sana?"
Baskara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah mendekat dengan ritme kaki yang tenang, membawa secangkir teh chamomile hangat yang uapnya masih mengepul tipis, lalu meletakkannya dengan perlahan di atas meja nakas di samping ranjang Azira.
Pria itu mendudukkan dirinya di tepi kasur, menatap lekat pergelangan tangan Azira yang masih terbalut perban putih bersih. Ada kilat kepedihan yang pekat dan rasa protektif yang melintas cepat di manik mata elangnya, sebelum akhirnya ia berhasil menguasai diri dengan sempurna.
"Farhan meneleponku subuh tadi," ujar Baskara tiba-tiba, memecah keheningan dengan informasi yang membuat gerakan tangan Azira yang hendak meraih cangkir teh mendadak terhenti di udara.
"Farhan? Apa yang dia katakan? Apa dia baik-baik saja?" tanya Azira cepat. Ada nada kecemasan yang teramat sangat dan tak bisa ia sembunyikan dalam suaranya untuk sang sahabat sejati.
"Dia mengajukan surat mutasi kerja darurat ke sebuah rumah sakit misi kemanusiaan di pedalaman Papua," jawab Baskara datar, namun sepasang matanya terus mengamati setiap riak reaksi emosional di wajah Azira dengan saksama.
"Dia pergi dengan penerbangan pertama pagi ini. Farhan sengaja tidak menghubungi atau menemuimu langsung, karena dia tahu... kau pasti akan menangis dan menahannya untuk pergi."
Mendengar kabar tersebut, dada Azira terasa seolah dihantam oleh sebuah gada besi tak kasat mata. Udara di sekitarnya mendadak terasa mencekat. Air matanya merebak tanpa bisa dibendung lagi, menetes lambat membasahi punggung tangannya yang gemetar hebat.
Farhan—sahabat masa sekolahnya yang sudah menemaninya dari sejak setelan baju putih biru, menjadi rumah tempatnya pulang saat dunianya hancur—telah memilih untuk mengasingkan diri ke ujung negeri demi menyembuhkan luka batinnya sendiri.
Pria berjas putih itu memilih mengalah secara mutlak dan kesatria setelah menyadari bahwa seluruh ruang di hati Azira kini telah sepenuhnya jatuh ke dalam dekapan hangat Baskara Yudhistira Prayoga.
Baskara tidak menunjukkan kemarahan atau cemburu melihat air mata Azira yang menetes untuk pria lain kali ini. Dengan kebesaran hati seorang pria sejati yang telah memenangkan pertempuran terdalam, Baskara mengulurkan tangan kanannya yang kekar, menarik lembut tubuh Azira yang rapuh ke dalam pelukan dadanya yang bidang.
Ia membiarkan Azira terisak pelan di bahunya, menumpahkan seluruh rasa bersalah, penyesalan, dan kehilangan atas kepergian sang dokter.
"Farhan adalah pria yang hebat, Azira," bisik Baskara lirih, tepat di sela rambut vanila Azira yang harum.
"Dan aku menaruh rasa hormat tertinggi pada keputusannya sebagai sesama pria. Aku berjanji seumur hidupku... aku tidak akan pernah membuat pengorbanan dan langkah mundurnya dari hidupmu menjadi sia-sia."
Satu minggu kemudian, suasana di gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tampak luar biasa riuh dan padat. Kilatan lampu kamera dari belasan media massa papan atas saling berdesakan di koridor luar yang bising.
Hari itu adalah sidang vonis pertama untuk kasus konspirasi kriminal penculikan tingkat tinggi, penggelapan, dan pembekuan aset yang melibatkan Shafira Gunawan dan anak kandungnya, Sendy.
Azira duduk di dalam ruang sidang utama yang steril dan dijaga ketat oleh tim keamanan serta jajaran pengacara hukum terbaik dari Prayoga Group. Di sampingnya, Baskara duduk dengan tegap. Tangan besarnya yang hangat menggenggam erat jemari Azira di bawah meja kayu, menyalurkan kekuatan mutlak yang membuat batin Azira tetap tegak berdiri menghadapi sisa-sisa masa lalunya.
...****************...
Di kursi pesakitan, Tante Shafira dan Sendy tampak mengenakan rompi tahanan berwarna oranye mencolok. Penampilan kedua wanita yang biasanya gila hormat dan glamor itu kini hancur berantakan. Wajah mereka kuyu, pucat pasi, dan tidak ada lagi sisa keangkuhan sosialita kelas atas yang biasa mereka pamerkan di karpet merah.
"Menyatakan terdakwa satu, Shafira Gunawan, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana konspirasi penculikan berencana dan percobaan pembunuhan bersama pihak ketiga..." suara hakim ketua menggema tegas, memotong pasokan oksigen di dalam ruangan yang sunyi, sebelum akhirnya memukul palu sidang dengan keras.
"...dan menjatuhkan hukuman pidana penjara selama lima belas tahun tanpa remisi."
Sendy menjerit histeris dan menangis meraung-raung di kursinya saat mendengar hukuman ibunya, sementara Tante Shafira sendiri langsung jatuh pingsan dari tempat duduknya, tubuhnya meluncur ke lantai marmer yang dingin.
Wanita paruh baya itu tidak sanggup menerima kenyataan bahwa sisa hidupnya yang gila harta kini harus membusuk di dalam sel beton yang gelap dan pengap.
Saat petugas keamanan menyeret tubuh lemas Tante Shafira keluar dari ruang sidang, wanita paruh baya itu sempat tersadar sejenak. Ia mendongakkan kepalanya, menatap Azira dengan mata melotot yang dipenuhi oleh kilat dendam yang teramat pekat.
Namun, sebelum mata licik itu sempat mengintimidasi batin anak tirinya, Baskara langsung menggeser tubuh tegapnya yang tinggi besar.
Sang CEO memblokade total pandangan Shafira dengan aura mengancam yang begitu mematikan, membuat nyali Shafira menciut ketakutan setengah mati sebelum akhirnya pintu besi ruang tahanan menutup.
Setelah ruang sidang mulai kosong dan riuh media perlahan menjauh ke area lobi utama, Azira dan Baskara melangkah keluar melalui pintu khusus jalur evakuasi VIP. Namun, di koridor luar yang sunyi dan remang, langkah kaki Azira mendadak terkunci rapat.
Seorang pria paruh baya berdiri bersandar di dinding koridor dengan tubuh yang tampak jauh lebih kurus, ringkih, dan bergetar dari ingatan Azira.
Itu... Papah. Ayah kandungnya sendiri. Tidak ada lagi jas desainer Italia yang mahal, rambut klimis yang rapi, atau sorot mata berwibawa yang biasa ia tunjukkan sebagai Komisaris Utama Gunawan Grup. Pria itu tampak menua sepuluh tahun dalam semalam; pakaiannya kusut, dan wajahnya dipenuhi garis-garis penyesalan yang mendalam.
Melihat Azira keluar, pria paruh baya itu melangkah maju dengan ragu-ragu. Sepasang matanya merah dan berkaca-kaca, menatap anak kandung yang selama belasan tahun ini ia sia-siakan demi ambisi korporat.
"Azira..." suara Papah bergetar parau, hampir tercekat sepenuhnya di tenggorokan.
Baskara langsung memasang posisi protektif, maju setengah langkah dan menatap tajam pria paruh baya itu dengan pandangan dingin yang mengintimidasi—mengingat dengan jelas rekaman tamparan keras yang pernah mendarat di pipi Azira tempo hari.
Namun, Azira dengan lembut menyentuh lengan Baskara, meremasnya pelan sebagai memberi isyarat bahwa ia ingin menghadapi Papahnya sendiri untuk terakhir kali.
Baskara menarik napas dalam, lalu mundur satu langkah, namun sepasang mata elangnya tetap mengawasi dengan tingkat kewaspadaan penuh.
Papah tiba-tiba melakukan hal yang tak terduga. Ia menjatuhkan kedua lututnya ke atas lantai koridor pengadilan yang dingin, berlutut langsung di hadapan anak perempuannya. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi, meluruhkan seluruh sisa-sisa harga diri ego kelaki-lakian yang ia miliki selama ini.
"Papah... apa yang Papah lakukan? Berdirilah, Pah," cicit Azira, batinnya bergejolak hebat dan tersayat melihat pemandangan menyedihkan itu.
"Maafkan Papah, Azira... Papah mohon maafkan Papah, Nak," ratap Papahnya dengan suara serak, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya yang gemetar.
"Papah sudah buta... Papah sudah menjadi ayah yang paling bajingan di dunia ini. Selama ini Papah terprovokasi oleh semua hasutan busuk Shafira. Wanita ular itu... dia terus-menerus meracuni pikiran Papah setiap hari, mengatakan kalau kamu anak pembangkang, anak pembawa sial, dan hanya ingin menghancurkan bisnis keluarga..."
Pria paruh baya itu mendongak dengan mata basah, menatap Azira dengan pandangan memohon yang amat sangat.
"Shafira yang mendesak Papah untuk terus menekanmu, Azira. Dia yang membuat Papah tega menamparmu malam itu karena dia ingin menguasai aset kontrakmu. Papah begitu bodoh karena takut jatuh miskin sampai tega menjual anak kandung Papah sendiri demi saham korporat... Papah menyesal, Nak. Papah benar-benar menyesal..."
Azira mematung di tempatnya berdiri, air matanya perlahan menetes membasahi pipi. Rasa sakit akibat tamparan Papahnya tempo hari seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa iba yang mendalam melihat kehancuran pria yang telah membesarkannya.
Ia menyadari bahwa Papahnya hanyalah korban manipulasi psikologis tingkat tinggi dari kelicikan Shafira yang haus akan harta.
Azira melangkah maju satu langkah, lalu perlahan membungkuk, memegang kedua pundak Papahnya yang gemetar untuk membantunya berdiri tegak kembali.
"Berdirilah, Pah. Azira sudah memaafkan Papah sejak badai di laut itu selesai," bisik Azira sangat lembut, menyeka air mata di pipi Papahnya dengan ujung jemarinya yang hangat.
"Azira tidak membenci Papah. Cukup tata kembali hidup Papah dengan benar, tanpa ada keserakahan lagi setelah ini."
Papahnya memeluk erat putrinya untuk pertama kali setelah bertahun-tahun kehilangan kehangatan keluarga, menangis penuh rasa syukur karena kebesaran hati Azira yang luar biasa luas.
Di belakang mereka, Baskara menatap adegan tersebut dengan rahang yang perlahan melunak. Ia meraba syal krem di kantong jasnya, menyadari bahwa jerat luka masa lalu Azira dengan Papahnya kini sudah benar-benar pulih dan selesai dengan damai melalui sebuah keikhlasan.
"Semua serpihan masa lalumu yang merusak sudah dibersihkan total, Sayang. Sangkar lamamu sudah hancur tak bersisa," bisik Baskara lembut saat menuntun Azira menjauh setelah berpamitan dengan Papahnya, membawa Azira masuk ke dalam mobil limusin hitam yang telah menanti di pelataran luar.
Semua jerat kelam yang mengikat hidup Azira kini telah dipotong habis oleh hukum, keikhlasan, dan kekuasaan absolut milik Baskara.
...----------------...
[ALARM KEWASPADAAN BARU: Bayang-Bayang yang Mengintai]
Namun, di balik pintu limusin hitam yang tertutup rapat, kedamaian itu hanyalah lapisan tipis di atas permukaan air yang bergolak.
Saat Azira menyandarkan kepalanya di bahu Baskara dengan mata terpejam karena kelelahan emosional, ponsel khusus bersandi enkripsi militer milik Baskara di balik saku jasnya kembali bergetar pelan.
Baskara tidak mengeluarkan ponsel itu. Dengan gerakan yang sangat terlatih, ia menekan tombol interkom nirkabel di telinganya yang tersembunyi di balik kerah kemeja.
Suara Bagas, kepala intelijen Prayoga Group, langsung menyusup masuk dengan nada yang sangat rendah namun sarat akan ketegangan yang pekat.
"Tuan Muda, analisis forensik dari Rumah Sakit Jiwa Grogol telah selesai. Ini buruk. Jejak hilangnya Gavin Manzies mengarah pada faksi 'The Obsidian Consortium'—kartel finansial gelap berbasis di Eropa Utara. Mereka tidak hanya menebus Gavin, tapi mereka juga baru saja membeli sisa-sisa saham Manzies Group yang dibekukan di pasar gelap."
Rahang kokoh Baskara seketika mengeras sempurna. Sorot matanya yang tadi sempat melunak untuk Azira, kini mendadak drop menjadi sangat dingin, kaku, dan mematikan layaknya es kutub.
"Mereka sedang mempersiapkan senjata baru," lanjut Bagas lewat interkom.
"Gavin tidak sedang dirawat, Tuan Muda. Intel kami di pelabuhan Amsterdam melaporkan bahwa pria berjas hitam itu membawa Gavin ke sebuah fasilitas pelatihan privat. Gavin sengaja dibebaskan untuk menjadi ujung tombak yang akan menghancurkan perimeter Prayoga Group dari dalam. Target mereka... tetap Nona Azira."
Baskara memejamkan matanya sejenak, mengunci rapat-rapat informasi mematikan ini di dalam kepalanya. Alarm kewaspadaan tingkat merah kini berdenting sunyi di dalam seluruh urat sarafnya. Ia melirik ke arah Azira yang tertidur pulas di sampingnya, tangan wanita itu masih menggenggam erat ujung kemejanya.
Baskara mempererat dekapannya pada tubuh Azira, menyelimuti wanita itu dengan mantel hitamnya yang hangat. Di balik kaca limusin yang diguyur hujan kota Jakarta.
Baskara menatap lurus ke depan dengan tatapan elang yang siap membunuh siapa saja. Sangkar lama Azira memang sudah hancur, namun Baskara sadar... sebuah medan perang yang jauh lebih besar dan berbahaya berskala internasional baru saja membentang di hadapan mereka, dan ia bersumpah akan meratakan siapa pun yang berani mengusik kedamaian wanitanya.