NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Orang Disabilitas
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.

Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. ​Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Nadia mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap Roy. Pria di hadapannya ini adalah orang baik, ia pria yang selalu merangkul siapapun tanpa memandang status sosial. Namun, kebaikan Roy justru menjadi bahan bakar utama dari seluruh neraka yang dialami Nadia saat ini, Tamara melakukan semua kekejaman ini karena cemburu dan iri melihat kedekatan Roy dengannya.

​Nadia merogoh pulpen dan buku catatan kecilnya dari saku, jemarinya yang dingin menari di atas kertas dengan gerakan cepat dan terburu-buru.

​[Roy, tolong jangan campuri urusanku. Aku baik-baik saja.]

​Roy membaca tulisan itu lalu menggeleng tegas, "Mana bisa aku diam saja, Nad? Ini kejahatan! Kamu mahasiswa paling berprestasi di angkatanmu, kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini. Dengar, sebagai Wakil Ketua BEM, aku punya akses untuk membawa masalah ini ke Rektorat, aku bisa minta BEM melakukan investigasi dan pasang badan buat kamu!"

​Nadia membelalakkan matanya, hatinya menjerit ketakutan. Jika Roy makin ikut campur dan membawanya ke tingkat BEM, Tamara pasti akan semakin mengamuk. Kekuasaan keluarga Tamara tidak menyentuh BEM, tapi Tamara bisa dengan mudah meremukkan hidup Nadia yang sudah tidak punya apa-apa lagi ini. Bahkan Resya saja sudah diancam keselamatan keluarganya.

​Nadia meremas buku catatannya, lalu kembali menulis dengan huruf-huruf kapital yang tercetak tebal dan tegas:

​[Tolong, Roy! Jangan lakukan apa-apa, tolong jauhi aku! Cuma itu uang bisa kamu bantu buat aku]

​Roy tertegun membaca tulisan itu, dadanya terhimpit melihat tatapan mata Nadia yang memohon. Bukan memohon perlindungan, melainkan memohon agar Roy menghilang dari hidupnya.

​"Kenapa, Nad? Kenapa aku harus menjauhi kamu?" suara Roy tertahan.

​Nadia tidak menulis lagi, ia hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan membungkukkan badannya dalam-dalam sebagai bentuk permohonan terakhir lalu berbalik dan berlari kecil menuju angkot yang baru saja berhenti di tepi jalan. Ia masuk tanpa menoleh lagi ke belakang, meninggalkan Roy yang berdiri terpaku di trotoar dengan sejuta pertanyaan yang menggantung di kepalanya.

​Tanpa disadari oleh mereka berdua, di seberang jalan, berdiri sebuah mobil sedan hitam. Di dalam mobil itu, Erika sedang menyandarkan tangannya di jendela yang terbuka.

​Erika tersenyum licik sambil memperhatikan layar ponselnya. Jemarinya baru saja menekan tombol kamera berkali-kali, mengabadikan setiap momen interaksi emosional antara Roy dan Nadia, mulai dari saat Roy memegang lengan Nadia, hingga raut wajah khawatir Roy saat Nadia meninggalkannya.

​"Dapat lo, bisu," bisik Erika penuh kemenangan.

​Dengan beberapa sentuhan di layar, Erika melampirkan foto-foto tersebut dan mengirimi pesan singkat kepada Tamara.

​Erika: [Foto]

Erika: [Lihat nih, Ra! Si bisu udah kena masalah tapi masih sempat-sempatnya ketemuan sama Roy di luar gerbang. Roy sampai kelihatan khawatir banget sama dia, kelihatannya si bisu ngadu yang enggak-engggak!]

​Hanya dalam hitungan detik, balasan dari Tamara masuk.

​Tamara: [Bagus, berarti pencabutan beasiswa aja belum cukup bikin dia kapok]

​Keheningan rumah sederhana di dalam gang sempit itu kini terasa begitu menekan. Tidak ada lagi suara sapaan hangat dari Ibu Sintia, tidak ada lagi ketukan pintu dari Ayah Herman yang membawakan teh manis hangat saat Nadia belajar hingga larut malam. Yang tersisa hanyalah bayangan masa lalu dan hawa dingin yang merayap di setiap sudut ruangan.

​Nadia duduk di tepi ranjang kecilnya. Di atas meja belajar, terhampar dua lembar kertas berstempel resmi yaitu surat pencabutan beasiswa.

Di bawah remang lampu kamar yang berkedip, Nadia memandangi surat pencabutan beasiswa itu dengan tatapan kosong. Namun, tatapan kosong itu perlahan berganti menjadi pijar keheningan yang membara.

​Nadia mengepalkan tangannya, ia mengusap sisa air mata di pipinya hingga kering. Menyerah sama saja dengan mengkhianati perjuangan Ayah dan Ibunya. Jika beasiswa dicabut, maka ia harus membayar biaya kuliahnya sendiri. Ia adalah perempuan yang kuat dan tangguh, keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti belajar.

​Malam itu juga, Nadia membuka laptop tuanya dan mulai menyusun lamaran pekerjaan. Ia melamar ke puluhan lowongan lepas secara online, dari desainer grafis freelance, ilustrator, hingga penata letak buku. Ia mengabaikan rasa lelahnya dan terus bekerja hingga fajar menyingsing, selama ia masih memiliki jemari untuk berkarya dan otak untuk berpikir, ia tidak akan membiarkan Tamara atau siapa pun merebut masa depannya.

​Keesokan harinya, dengan ketetapan hati yang sudah bulat, Nadia melangkah menuju kampus. Ia berniat menemui bagian keuangan untuk meminta kejelasan mengenai skema cicilan pembayaran mandiri agar ia tidak perlu memutus kuliahnya.

​Namun, begitu langkah kakinya melewati gerbang utama universitas, suasana kampus terasa sama sekali berbeda. Kampus yang biasanya riuh dengan aktivitas mahasiswa kini mendadak hening begitu sosok Nadia melintas, sebelum kemudian dipenuhi oleh bisik-bisik beracun dan tatapan menjijikkan dari setiap pasang mata.

​Di papan pengumuman utama, di dinding-dinding selasar gedung, hingga di papan tulisan tiap ruang kelas, terpampang cetakan foto-foto berukuran besar. Foto-foto itu memperlihatkan interaksinya dengan seorang pria yang entahlah Nadia pun tidak tahu, foto itu telah disunting secara kejam dengan narasi fitnah yang amat menjijikkan.

​"MAHASISWA BEASISWA TUNAWICARA MENJUAL DIRI DEMI UANG."

​Tidak berhenti di situ, tangkapan layar percakapan rekayasa yang seolah-olah memperlihatkan Nadia menjual karya orang lain juga tersebar luas di grup-grup obrolan kampus.

​Nadia berjalan dengan dada terpukul keras, memandangi poster-poster fitnah tersebut. Beberapa mahasiswa secara terang-terangan tertawa dan melempar sisa sampah botol plastik ke arah langkah kakinya.

​"Dasar bisu nggak tahu diri! Sudah miskin, cacat pula!" teriak seorang mahasiswa dari lantai atas selasar, disusul sorakan riuh dari yang lainnya.

​Nadia menundukkan kepalanya, terus berjalan menuju gedung fakultas meski remasan di tas ranselnya bergetar hebat. Ia menguatkan hatinya, merapalkan mantra bahwa ia harus bertahan demi masa depannya.

​Namun, kehancuran sesungguhnya menunggu di dalam ruang kelas. ​Ketika Nadia melangkah masuk ke kelasnya, seluruh pasang mata menatapnya dengan jijik. Pak Dadan, dosen pengampu matakuliah metode desain hari itu, langsung menghentikan penjelasannya. Pria itu menatap Nadia dengan wajah merah padam oleh rasa amarah dan kekecewaan yang sangat mendalam.

​"Nadia! Mau apa kamu ke sini?" bentak Pak Dadan tanpa memedulikan kondisi fisik Nadia.

​Nadia tertegun, jemarinya bergerak panik membuat isyarat bertanya. "Saya mau mengikuti perkuliahan, Pak...."

​"Nggak usah pura-pura polos! Nama fakultas ini sudah tercoreng gara-gara kelakuanmu! Berita mengenai kecurangan akademik dan tindakan tidak bermoralmu sudah sampai ke meja para dosen! Kampus ini tempat orang-orang berpendidikan dan beretika, bukan tempat untuk orang yang menjual kemalangan fisik demi belas kasihan!" Pak Dadan memotong gestur tangan Nadia dengan kibasan tangan yang sangat kasar.

​Seisi kelas tertawa puas menyusikan hinaan dari sang dosen, ​Pak Dadan menunjuk pintu keluar dengan jari bergetar.

"Keluar dari kelas saya! Saya tidak sudi mengajar mahasiswa yang merusak integritas akademis!" usir Pak Dadan.

.

.

.

Bersambung.....

1
Raisha
kluarga dari pihak Nadia apa gak di kabari & undang ya Thor,kok gak di ceritain? bibinya apa kabar, jadi mo jual rumahnya Nadia? serasa dia ahli warisnya aja,main jual rumah ayahnya Nadia sembarangan, dah kena karmanya lom bik?
Aidil Kenzie Zie
lumayan katanya tapi sampai ludes🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ada yang masih kangen nich 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ah akhirnya Aksa mau juga 🥰🥰🥰
erviana erastus
rajin pulang kerumah aksa eh 🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
anak kuliahan klo ada hutang minta bukti. hutang klo asal ngomong gk ada hitam di atas putih itu sama aj nipu😒
falea sezi
moga aja nadia
erviana erastus
ih aksa 🤣 tuh kan terpesona kamu sama nadia makax jgn sok² nolak gtu 🤭 demi apa coba tetiba mau tidur dirumah 🤣
Raisha
moduuuuuuss...kamu dah gak bisa tahan pengin dekat² Nadia kan meski otakmu menolak tp hatimu berkata lain😂😂...untungnya papamu tau & ngerti apa yg kamu inginkan,makanya kamu gak boleh tinggal di rumahnya lagi...sabar Aksa, tunggulah sampai waktunya tiba
Naufal Affiq
buat emosi bacanya
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
lanjut kak,seru ceritanya
erviana erastus
kalo jodoh nggak kemana kan aksa🤣
Rizky Manik
Aksa, kau yg ngajak Nadia nikah ya awas aja kalo kau gkbisa cintai Nadia, bakal kukutuk kau jadi batu😏🤣
Raisha
kalimatnya typo lg Thor🙏🤭....bukan "...teman anak Papa..." harusnya "...anak teman Papa..." krn yg othor tulis itu artinya temannya anak Papa pdhal Nadia kan anak temannya Papa,gitu kan maksudnya? Maaf kalo salah 🙏😃
elaretaa: Siap Kak, nanti author revisi lagi ya🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sartini 02
bagus ceritanya dan selalu ditunggu
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Raisha
sampai di bab ini,masih banyak typo Thor 🙏...seperti kalimat "....dg balapan kemeja hitam yg tergulung....", artinya kata "balapan" itu apa?🤔,aku kurang faham. Maaf ya Thor 🙏😃
Raisha: sama² Thor.... terimakasih untuk ceritanya ini, semangat nulisnya ya Thor 🙏😍😂
total 2 replies
Evi Rachmawati
wadidaw aska... uangku banyak....
Aidil Kenzie Zie
E e e Aksa dijodohkan sama perempuan bisu nggak mau ini malah jadi pahlawan terus 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!