Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin Dekat
Sudah empat hari berlalu, namun tak ada satu pun pesan yang saling bertukar di antara mereka. Entah karena kesibukan atau sekadar gengsi yang menahan, Yena dan Juvan tak saling berkabar selama empat hari penuh. Hati Yena terasa sepi setiap kali membuka ponsel, namun ia selalu menutupnya kembali dengan napas panjang, berusaha menyangkal bahwa ia merindukan suara atau sekadar sapaan singkat dari pemuda itu.
Sore itu, matahari mulai condong ke barat saat Yena menyetir mobilnya pulang dari kampus. Pikirannya melayang tak tentu arah, hingga seketika pandangannya tertuju pada sosok yang berjalan tertatih di tepi jalan raya. Mengenakan seragam putih abu-abu yang sedikit berantakan, kepalanya tertunduk menatap aspal di bawah kakinya.
Jantung Yena seketika berdegup kencang. Itu... itu Juvan!
Yena segera menginjak rem, meminggirkan mobilnya tepat di samping sosok pemuda itu. Ia melonggarkan pintu dan segera melangkah turun menghampiri Juvan dengan langkah cepat. Semakin dekat, semakin jelas terlihat keadaan pemuda itu.
Sudut bibir Juvan terluka dan sedikit berdarah, sementara pipi kirinya tampak memar kebiruan. Seragamnya kusut dan kancing bagian atasnya terlepas. Jelas sekali, seolah-olah ia baru saja selesai berkelahi atau bertengkar hebat dengan seseorang.
Melihat keadaan itu, hati Yena seakan diremas perih. Ia tak peduli pada orang yang lewat di sana. Langkahnya dipercepat hingga ia berdiri tepat di hadapan Juvan, menatapnya dengan tatapan cemas dan tak percaya.
"Juvan..." panggil Yena lirih namun terdengar jelas di telinga pemuda itu. "Apa yang terjadi padamu?!"
Juvan yang mendengar suara itu mendongak perlahan. Saat melihat sosok Yena berdiri di hadapannya dengan wajah penuh kekhawatiran, matanya membelalak seketika. Wajahnya yang pucat dan terluka tampak terkejut tak menyangka akan bertemu dengan Yena di saat-saat seperti ini.
Tanpa aba-aba, tangan Yena bergerak seketika menyentuh lembut wajah Juvan. Jari-jemarinya yang halus menyentuh sudut bibir yang terluka dan pipi yang memar itu dengan penuh kehati-hatian, seakan takut sedikit saja menambah rasa sakit di sana. Tatapan matanya penuh kekhawatiran, meneliti setiap luka yang tampak di wajah tampan itu.
"Ini sama sekali bukan luka biasa, Juvan..." ucap Yena pelan namun tegas.
"Ikut aku, aku akan membawamu ke rumah sakit untuk diperiksa."
Juvan buru-buru menahan pergelangan tangan Yena yang sedang memeriksa lukanya, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.
"Tidak perlu, Kak Yena. Terima kasih sudah khawatir. Tapi ini benar-benar hanya luka biasa, tidak parah. Tidak perlu sampai ke rumah sakit."
Melihat keteguhan hati Juvan, Yena akhirnya mengalah. "Baiklah... kalau begitu, biar aku yang mengobatinya. Ayo ikut aku ke apotek di depan sana."
Tanpa menunggu jawaban, Yena menarik pelan tangan Juvan menuju apotek tak jauh dari sana. Setelah membeli obat-obatan yang dibutuhkan, mereka pun duduk berdampingan di bangku panjang di depan apotek.
Yena membuka pelan tutup botol cairan pembersih luka, lalu melulurkan kapas ke dalamnya. Dengan sangat hati-hati dan lembut, ia mendekatkan wajahnya, membersihkan darah kering dan kotoran di sudut bibir serta pipi Juvan. Napas hangat Yena sesekali menyentuh kulit wajah Juvan, membuat pemuda itu menahan napas seketika.
Anehnya, Juvan sama sekali tidak merasakan perih atau rasa sakit sedikit pun. Matanya terpaku lekat pada wajah Yena yang kini berada sangat dekat dengannya. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat betapa indahnya garis wajah gadis itu, bulu matanya yang panjang dan lentik, serta bibir mungilnya yang sedikit mengerut serius karena fokus mengobati lukanya.
Jantung Juvan berdegup kencang tak karuan, berpacu liar di dalam rongga dadanya. Seluruh perhatiannya tersedot sepenuhnya pada wajah Yena, hingga ia lupa bahwa lukanya sedang diolesi obat. Rasa apa pun hilang, tergantikan oleh rasa hangat yang meluap-luap di dadanya. Di matanya, saat ini hanya ada Yena. Hanya Yena yang terlihat begitu cantik, begitu menenangkan, dan begitu berharga di matanya.
Setelah selesai mengoleskan obat, Yena menatap wajah Juvan lekat-lekat dengan tatapan penuh tanya sekaligus khawatir. Jari lentiknya perlahan menyentuh bagian pipi yang memar itu pelan.
"Kenapa bisa sampai memar-memar begini, Juvan?" tanyanya lembut namun terdengar jelas kekhawatirannya. "Dan... kenapa kamu berjalan kaki sendirian di jalan begini? Di mana motormu?"
Juvan menunduk sejenak, lalu menghela napas pelan sebelum kembali menatap Yena dengan wajah tenang.
"Motorku sedang rusak, Kak... dibawa ke bengkel tadi pagi," jawabnya pelan.
"Jadi aku memutuskan pulang ke rumah dengan berjalan kaki saja. Kupikir tidak apa-apa..."
Juvan terdiam sejenak, menatap lurus ke manik mata Yena sebelum melanjutkan dengan suara yang sedikit berubah menjadi berat.
"Tapi saat sedang berjalan di jalan yang sepi... tiba-tiba ada dua orang asing yang entah dari mana datangnya, langsung menghampiriku tanpa sepatah kata pun. Mereka langsung mengeroyokku berdua. Aku mencoba melawan, semampuku... alhasil aku babak belur seperti ini. Mereka pergi begitu saja tanpa mengambil apa pun. Seolah-olah... mereka memang sengaja datang untuk melukai aku."
Yena terbelalak mendengar penuturan itu, jantungnya seketika mencelos takut. Tangannya refleks menekan pelan dada, napasnya tercekat di tenggorokan.
"Apa? Dikeroyok dua orang asing? Sengaja melukaimu?" seru Yena tak percaya, matanya membelalak penuh kekhawatiran dan amarah yang mulai tumbuh.
"Siapa yang begitu kejam padamu? Juvan... kamu tidak apa-apa kan? Mereka tidak menyakiti bagian tubuh yang lain?"
Jari lembut Yena perlahan bergerak mengelus pipi Juvan yang memar itu dengan penuh kehati-hatian, seakan takut lukanya semakin perih. Tatapan matanya begitu lembut dan penuh rasa iba, membuat Juvan seakan lupa bernapas.
"Rasanya pasti sakit ya..." gumam Yena pelan, suaranya terdengar begitu dekat dan menenangkan. Ia menatap lekat mata Juvan, seakan ingin melihat apa yang tersembunyi di balik sana.
Ditatap sedemikian rupa, wajah Juvan seketika memerah padam. Ia tak kuasa menahan rona malu yang menjalar hingga ke telinga. Perlahan ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajah yang mulai terlihat gelisah. Padahal di dalam dadanya, jantungnya berpacu liar tak karuan, berdegub hebat seakan hendak melompat keluar. Ia sama sekali tak tahan ditatap sedalam itu oleh Yena—tatapan yang begitu hangat, begitu perhatian, dan begitu memikat hingga membuat seluruh kesadarannya seakan melayang tak tentu arah.
Melihat Juvan hanya menunduk diam tanpa sepatah kata pun, kekhawatiran Yena semakin memuncak. Tangannya tetap menyentuh lembut wajah pemuda itu, menatapnya dengan pandangan yang tak lepas sedikit pun.
"Juvan? Kok diam saja?" tanyanya lembut namun penuh kekhawatiran.
"Sakit ya? Bagian mana yang terasa sakit?"
Pertanyaan itu seketika membuat Juvan mendongak perlahan. Wajahnya masih memerah padam, namun ia segera menggeleng kuat sambil tersenyum tipis berusaha meyakinkan gadis di hadapannya.
"Tidak apa-apa, Kak... sungguh," jawabnya cepat dan tegas. "Ini hanya luka biasa. Tidak terlalu sakit. Kakak tidak perlu khawatir berlebihan."
Mendengar jawaban itu, napas Yena perlahan teratur kembali. Namun saat ia menatap wajah Juvan yang masih tampak menahan rasa sakit, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di dalam hatinya sendiri.
Aku kenapa sih... kok bisa sekhawatir ini sama dia? batin Yena bergumam penuh kebingungan. Dia hanya teman yang baik... seharusnya aku tidak perlu merasa secemas ini. Tapi kenapa... setiap melihatnya terluka, hatiku terasa ikut perih seakan lukaku sendiri?
Yena menarik napas panjang pelan, mencoba menenangkan kegelisahan yang tak biasa itu. Namun jantungnya tetap berdebar tak tenang, seakan menolak setiap kali ia berusaha menyangkal perasaannya sendiri.
"Kak Yena... ternyata sekhawatir itu padaku..." batin Juvan bergumam lembut.
"Dia begitu cemas melihatku terluka, begitu lembut saat menyentuh wajahku..."
Juvan memejamkan mata sejenak, seakan ingin mengulang kembali perasaan hangat yang tadi menyelimuti dirinya.
Sentuhan tangannya... begitu lembut dan menenangkan. Membuatku merasa sangat nyaman, seakan rasa sakit ini hilang seketika. Rasanya... aku ingin terus berada di sampingnya. Selalu...
Jantungnya berdegup kencang seketika saat sebuah pemikiran tiba-tiba melintas begitu saja di benaknya, membuatnya tertegun dan menahan napas.
"Apa... jangan-jangan... aku suka ya sama Kak Yena?"
Pipi Juvan memerah padam merona hebat saat menyadari kenyataan itu sendiri. Namun pertanyaan lain seketika muncul menyusul, membuatnya kembali menunduk bingung dan penuh keraguan.
"Tapi... bagaimana dengan perasaannya? Apakah Kak Yena juga merasakan hal yang sama denganku? Apakah dia juga menyukaiku... seperti aku menyukainya?"
Juvan menghela napas panjang pelan, lalu menatap langit sore yang mulai memerah. Di dalam hatinya, ia berharap—bahwa perhatian dan kelembutan yang ditunjukkan Kak Yena tadi bukan sekadar rasa kasihan atau kepedulian biasa. Melainkan sesuatu yang lebih dari itu.
"Juvan" panggil yena sambil memegang pundak juvan
Juvan lalu menoleh ke arah yena.
"Udah sore,pulang yuk " ucap Yena tegas namun lembut sambil berdiri dan meraih tangan Juvan.
"Sekarang aku antar pulang. Naik mobilku saja."
Juvan seketika menggeleng cepat sambil berdiri pelan. "Tidak perlu, Kak Yena. Rumahku tidak jauh dari sini. Aku bisa pulang sendiri dengan baik. Kakak juga pasti lelah setelah seharian di kampus."
"Kamu menolak?" potong Yena menatap tajam namun tak benar-benar marah.
"Lihat kondisimu begitu. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu berjalan sendirian?"
"Tapi Kakak... sungguh tidak perlu repot-repot..." Juvan masih berusaha menolak dengan sopan, namun wajahnya yang pucat dan lukanya jelas menunjukkan ia tak dalam keadaan baik.
Yena menghela napas panjang, lalu menatap lurus ke mata Juvan dengan pandangan yang tak bisa ditolak.
"Jangan banyak bicara lagi. Aku akan merasa tenang hanya setelah melihatmu sampai di rumah dengan selamat. Ayo... jangan membuatku cemas sendirian di sini."
Melihat keteguhan dan kekhawatiran yang begitu tulus di mata Yena, Juvan akhirnya tak kuasa menolak lebih lama. Ia menunduk sejenak, lalu mengangguk pelan dengan senyum lembut yang terukir di bibirnya.
"Baiklah... kalau Kakak bersikeras begitu," ucapnya pelan menyerah. "Terima kasih... sudah begitu peduli padaku."
Yena pun tersenyum lega. Dengan lembut ia menuntun lengan Juvan menuju mobilnya, lalu membukakan pintu dan memastikan pemuda itu duduk dengan nyaman di dalamnya. Hatinya terasa sedikit lebih tenang, namun di sudut sanubarinya, pertanyaan yang sama kembali berputar—kenapa ia begitu tak tega melihat Juvan terluka?
Mobil melaju tenang membelah jalanan sore yang mulai sepi. Di dalam kabin, suasana terasa damai namun diselingi detak jantung yang tak kunjung tenang. Yena menyetir dengan fokus, namun sesekali matanya melirik ke arah penumpang di sampingnya. Juvan duduk tenang menatap lurus ke depan, kedua tangannya saling bertaut di pangkuan, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Sesekali ia menoleh ke arah Yena, namun saat pandangan mereka hampir berpapasan, ia buru-buru memalingkan wajah dengan pipi yang memerah samar.
Perjalanan yang terasa singkat itu pun akhirnya sampai di depan rumah Juvan. Yena mematikan mesin, lalu menoleh sepenuhnya ke arah pemuda itu.
"Sudah sampai," ucapnya lembut sambil menatap wajah Juvan yang masih tampak pucat.
"Masuklah. Istirahat yang cukup. Jangan banyak bergerak dulu agar lukanya cepat kering."
Juvan membuka pintu perlahan, lalu melangkah turun. Ia berdiri sejenak di samping mobil, menatap wajah Yena yang masih duduk di dalam. Rasa berterima kasih yang sedemikian besar membuncah di hatinya, bercampur dengan rasa sayang yang semakin mendalam.
"Terima kasih banyak, Kak..." ucapnya pelan namun penuh ketulusan, matanya menatap lekat mata Yena. "Terima kasih sudah bersusah payah mengantarku pulang. Dan terima kasih... sudah begitu peduli padaku. Aku tidak akan melupakannya."
Yena menatapnya lekat dari balik kaca yang sedikit terbuka. Senyum tipis terukir di bibirnya, menenangkan sekaligus menghangatkan hati Juvan.
"Sama-sama, Juvan. Sekarang cepat masuk ke dalam ya. Jangan lupa istirahat. Kabari aku kalau sudah merasa lebih baik."
"Iya... Kakak juga hati-hati di jalan pulang." Juvan melambaikan tangan pelan, tak beranjak sedikit pun dari tempatnya. Ia berdiri di sana, menatap mobil itu perlahan melaju menjauh hingga tak lagi terlihat, sebelum akhirnya berbalik melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang penuh kehangatan dan rasa bahagia yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.