Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon
"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."
Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.
Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.
Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.
Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Sisik yang Gatal
Sisa-sisa malam Sabtu Kliwon meninggalkan rasa lelah yang teramat sangat di rongga dada Sekar. Pagi itu, matahari sabtu terbit dengan malas, tertutup awan mendung abu-abu yang menggantung rendah di langit kota. Kamar Sekar tidak lagi sedingin semalam, dan bangkai ular hitam bermata merah yang sempat tergeletak di dekat lemari sudah lenyap tanpa bekas.
Namun, ketakutan itu tidak benar-benar pergi. Ia hanya berganti wujud.
Sejak melangkah keluar dari tempat tidur pukul enam pagi tadi, ada sensasi ganjil yang berdenyut di punggung kanan Sekar. Tepat di bawah tulang belikatnya.
Awalnya, itu hanya terasa seperti gigitan nyamuk yang sepele. Sebuah rasa gatal yang samar. Namun, seiring berjalannya waktu dan jarum jam yang merayap menuju angka sembilan, rasa gatal itu mulai bermutasi. Rasa gatal itu merayap di bawah kulit, bergerak-gerak seperti ada ratusan semut kecil yang berbaris dan menggeliat di dalam dagingnya.
"Shh... akh," Sekar meringis, tangannya bergerak ke belakang, mencoba menggaruk area tersebut di balik kaus katun longgarnya.
Bukannya mereda, garukan itu justru memicu sensasi lain yang membuat Sekar terlonjak. Panas. Kulit di punggung kanannya mendadak terasa seperti ditempeli plat besi panas yang baru diangkat dari perapian. Rasa bakarnya tidak membakar pakaiannya, melainkan menusuk lurus ke dalam, membakar saraf-saraf di dalam tubuhnya.
Didorong oleh rasa sakit yang kian menghebat, Sekar bergegas menuju kamar mandi. Dia mengunci pintu rapat-rapat. Dengan tangan yang gemetar menahan perih, dia menyibak kaus longgarnya ke atas dan memutar tubuhnya menghadap cermin gantung yang buram.
Mata Sekar membelalak.
Sejak lahir, Sekar memiliki sebuah tanda lahir di punggung kanan bawah belikat. Hanya sebuah bercak kecokelatan samar berbentuk oval berdiameter sekitar lima sentimeter, yang selama dua puluh dua tahun ini tidak pernah mengganggunya. Ibu selalu bilang itu hanya tanda lahir biasa, tanda bawaan rahim.
Namun apa yang dilihatnya di cermin hari ini sama sekali tidak biasa.
Warna tanda lahir itu telah berubah menjadi cokelat tua kehitaman, pekat dan kontras dengan kulit kuning langsatnya yang pucat. Dan yang paling mengerikan adalah teksturnya. Permukaan kulit di area tanda lahir itu tidak lagi halus. Kulitnya mengeras, menebal, dan terbelah menjadi fragmen-fragmen kecil yang tersusun rapi, tumpang tindih satu sama lain membentuk pola geometris yang sangat spesifik.
Tekstur sisik.
Sekar menyentuhnya dengan ujung jari telunjuk kirinya. Kulit itu terasa dingin, kasar, dan kaku—persis seperti menyentuh punggung reptil purba. Saat jemarinya menekan pelan, rasa gatal yang hebat kembali meledak dari dalam, disertai sensasi geli yang ganjil, seolah jaringan kulit baru itu sedang dipaksa tumbuh dan mekar dengan cara merobek jaringan kulit manusianya secara perlahan dari dalam.
"Enggak... ini enggak mungkin," bisik Sekar, suaranya bergetar hebat di dalam kamar mandi yang pengap.
Dia menyalakan keran, meraup air dingin, dan membasuh punggungnya dengan kasar. Dia berharap ini hanya halusinasi, atau mungkin reaksi alergi kosmetik yang parah. Namun, setiap kali air dingin menyentuh pola sisik itu, air tersebut seolah langsung menguap karena hawa panas yang memancar dari sana. Pola sisik itu justru tampak makin tegas, berkilau hitam samar di bawah cahaya lampu kamar mandi yang temaram.
Sesuatu yang gaib telah bangun di dalam tubuhnya. Sesuatu itu mulai bermanifestasi ke dunia fisik.
Pikiran Sekar langsung melayang pada bisikan misterius semalam: "Sabtu Kliwon-ku..." Apakah wujud sisik ini adalah tanda kepemilikan yang mulai dicapkan ke tubuhnya?
"Sekar? Kamu di dalam, Nduk?" Suara ketukan dari luar pintu kamar mandi mengejutkannya. Itu suara Ibu.
Sekar buru-buru menurunkan kausnya, merapikan rambutnya yang agak berantakan, lalu membuka pintu. Dia berusaha keras menyembunyikan ekspresi ketakutan di wajahnya.
Ibu berdiri di depan pintu dengan wajah yang tampak jauh lebih tua dan lelah dari usianya. Lingkar hitam di bawah mata Ibu menunjukkan bahwa wanita itu juga tidak tidur semalaman. Pandangan Ibu langsung menyapu tubuh Sekar, tajam dan penuh selidik, sebelum akhirnya tertuju pada punggung kanan Sekar yang sedikit membungkuk menahan perih.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Ibu, suaranya terdengar penuh kecurigaan.
"Enggak apa-apa, Bu. Cuma... punggung Sekar agak gatal," jawab Sekar jujur, berharap Ibu akan memberikan penjelasan atau setidaknya menunjukkan kepedulian yang menenangkan.
Mendengar kata 'gatal', raut wajah Ibu mendadak berubah drastis. Warna kulitnya perlahan memucat, dan cengkeraman tangannya pada kain daster yang dikenakannya mengencang. Ibu melangkah mundur satu tapak, menatap Sekar seolah-olah anak kandungnya sendiri telah berubah menjadi sosok yang asing dan berbahaya.
"Ibu... kenapa?" Sekar melangkah mendekat, namun Ibu justru makin mundur.
"Jangan digaruk," bisik Ibu dengan suara ketakutan yang tertahan. "Jangan sesekali kamu garuk sampai berdarah, Sekar. Biarkan saja. Kalau kamu lawan... dia akan marah."
"Siapa yang marah, Bu?! Apa yang sebenarnya terjadi sama Sekar?!" tuntut Sekar, air mata frustrasi mulai menetes di pipinya. Rasa sakit di punggungnya dan sikap misterius Ibunya membuat kewarasannya perlahan terkikis.
Namun, Ibu tidak menjawab. Wanita itu memalingkan wajah, berjalan cepat menuju dapur tanpa memedulikan tangisan putrinya, meninggalkan Sekar sendirian dalam badai kebingungan dan rasa perih yang kian membakar di punggungnya.
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sekar harus segera bersiap pergi ke kampus untuk menyelesaikan urusan tugas kuliahnya. Meskipun tubuhnya menolak, menetap di rumah tua yang pengap ini bersama Ibu yang mendadak menutup diri justru terasa jauh lebih menyiksa.
Sekar mengenakan kemeja berbahan tebal dan longgar untuk menutupi tanda lahirnya, serta jaket denim untuk memastikan tidak ada satu orang pun yang bisa melihat atau tidak sengaja menyenggol punggung kanannya. Sepanjang perjalanan di atas angkutan kota, rasa gatal itu terus berdenyut konstan, seolah-olah ada sesuatu di balik kulitnya yang sedang bernapas, ikut berdetak seirama dengan detak jantungnya sendiri.
Dia tidak pernah menduga, bahwa rasa perih di punggungnya itu bukan sekadar penyakit atau kutukan yang pasif.
Sesuatu yang bersarang di dalam tubuhnya itu memiliki kesadaran sendiri. Dan siang ini, di tengah keramaian koridor kampus yang bising, entitas itu akan menunjukkan taringnya untuk pertama kali kepada siapa pun yang berani mengusik ketenangan 'miliknya'.
Koridor gedung Fakultas Ilmu Budaya siang itu terhitung ramai. Suara derap sepatu bersahutan dengan riuh obrolan mahasiswa yang berkumpul di depan mading dan ruang administrasi. Namun bagi Sekar, seluruh keriuhan itu terasa seperti dengung lalat yang jauh. Fokusnya sepenuhnya terenggut oleh rasa panas yang kian menjalar dari punggung kanan, merambat naik ke pundak hingga ke pangkal lehernya.
Setiap kali dia melangkah, kain kemeja dan jaket denim yang dipakainya terasa seperti amplas kasar yang menggesek luka bakar terbuka. Sekar berjalan agak membungkuk, memeluk map berkasnya erat-erat ke dada, mencoba menahan ringisan agar tidak menarik perhatian orang.
"Sekar!"
Sebuah suara bariton yang terlampau akrab membuat langkah Sekar terhenti di dekat belokan menuju tangga darurat. Sekar memejamkan mata sesaat, merutuki nasib sialnya. Begitu dia berbalik, sosok Rian sudah berdiri di sana.
Rian adalah mahasiswa tingkat akhir dari fakultas sebelah yang sudah berbulan-bulan mengejar Sekar. Lelaki itu bertubuh jangkung, atletis, dan terkenal dengan tabiatnya yang bebal serta tidak suka menerima penolakan. Beberapa kali Sekar menolak ajakannya jalan secara halus hingga kasar, namun Rian selalu menganggapnya sebagai "jual mahal".
"Kebetulan banget ketemu di sini. Nomor telponku kenapa kamu blokir lagi sih, Kar?" Rian melangkah maju, langsung memotong jalur jalan Sekar. Wajahnya menampilkan senyum yang dipaksakan, namun matanya memancarkan ego yang terusik.
"Aku sibuk, Rian. Tolong minggir, aku harus ke ruang dekanat sekarang," jawab Sekar datar. Suaranya terdengar bergetar, bukan karena takut pada Rian, melainkan karena menahan gelombang rasa gatal dan panas di punggungnya yang mendadak berdenyut dua kali lebih cepat.
Deg. Deg. Deg.
Anehnya, bersamaan dengan kemunculan Rian, pola sisik di punggung Sekar bereaksi. Rasa gatalnya mendadak hilang, berganti dengan sensasi getaran halus yang dingin, seolah-olah sesuatu yang tertidur di dalam sana langsung menegakkan kepalanya, waspada.
"Sebentar dong, jangan buru-buru. Kita perlu ngomong," Rian menolak bergeser. Dia justru maju satu langkah lagi, mengikis jarak di antara mereka hingga Sekar bisa mencium bau parfum maskulin Rian yang menyengat. Bau yang entah kenapa membuat perut Sekar mendadak mual.
"Enggak ada yang perlu diomongin, Rian. Permisi." Sekar mencoba bergeser ke kanan, namun Rian bergerak cepat mengadang.
"Kar, kamu jangan keterlaluan ya!" Nada suara Rian meninggi, mulai tidak sabar karena merasa harga dirinya diinjak-injak di koridor yang mulai sepi itu. "Aku cuma mau ngajak ngomong baik-baik!"
Sebelum Sekar sempat menghindar, tangan kanan Rian terangkat. Dengan kasar dan posesif, Rian mencengkeram pundak kanan Sekar—tepat di atas batas di mana tanda lahir misterius itu merayap naik.
Detik itu juga, waktu seolah melambat.
Tepat saat kulit telapak tangan Rian menekan pundak Sekar, meskipun terhalang oleh dua lapis kain tebal—kemeja dan jaket denim—sebuah reaksi mengerikan terjadi. Sekar merasakan sensasi seperti ada aliran listrik bertegangan tinggi yang meledak dari punggungnya, menghantam tangan Rian.
Cessssssssss!
Suara daging yang dipanggang di atas bara api terdengar begitu nyaring di koridor sunyi itu.
"AAAKKKHHHHHHGGG!!!"
Rian menjerit histeris. Lengkingan suaranya begitu melengking, penuh dengan rasa sakit yang teramat sangat, hingga gema jeritan itu memantul di dinding-dinding koridor. Lelaki bertubuh besar itu langsung jatuh berlutut di lantai semen, memegangi pergelangan tangan kanannya yang mendadak gemetar hebat.
Sekar terperangah, melangkah mundur hingga punggungnya membentur loker besi. Dia menatap Rian dengan mata membelalak ketakutan.
Dari telapak tangan Rian yang digunakan untuk menyentuh Sekar, asap putih tipis mengepul ke udara. Bau hangus yang pekat—perpaduan antara kulit yang terbakar dan aroma anyir yang aneh—langsung memenuhi indra penciuman. Kulit telapak tangan Rian melepuh parah dalam hitungan detik. Kulitnya mengelupas merah kehitaman, membengkak, dan dipenuhi gelembung-gelembung air besar seolah-olah dia baru saja menggenggam besi cair yang membara.
"Panas! Panas banget! Tangan gua... tangan guaaa!" Rian mengerang, bergulingan di lantai koridor sambil memegangi tangannya yang hancur. Wajahnya pucat pasi, dibanjiri keringat dingin dan air mata menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
Beberapa mahasiswa dan seorang dosen yang mendengar jeritan itu langsung berlari keluar dari ruangan terdekat.
"Ada apa ini?! Astaga, Rian! Kenapa tanganmu?!" tanya Pak Satrio, dosen administrasi yang mendapati Rian dalam kondisi mengenaskan.
"Dia... dia bawa sesuatu, Pak! Dia pakai apa di badannya?!" Rian menunjuk ke arah Sekar dengan tangan kirinya yang gemetar, matanya memancarkan horor yang murni. "Tangan saya melepuh pas megang dia! Panas... seperti dibakar api setan!"
Semua mata di koridor itu mendadak tertuju pada Sekar.
Sekar berdiri mematung. Kepalanya berputar gila. Dia menatap telapak tangannya sendiri, lalu meraba pundak kanannya. Jaket denim dan kemejanya sama sekali tidak robek, tidak terbakar, bahkan tidak terasa panas dari luar. Namun, tepat di balik kain itu, Sekar bisa merasakan dengan sangat jelas: pola sisik di punggungnya perlahan-lahan mereda, kembali tenang dan dingin, seolah-olah kepuasan yang ganjil baru saja mengalir di dalam aliran darahnya.
Sesuatu di dalam dirinya baru saja menyerang Rian. Bukan untuk menyakiti Sekar, melainkan untuk melindunginya. Sebuah perlindungan yang teramat posesif, agresif, dan mematikan.
"Sekar, apa yang terjadi?" Pak Satrio melangkah mendekati Sekar dengan tatapan penuh selidik dan kewaspadaan.
"S-saya... saya enggak tahu, Pak. Saya enggak melakukan apa-apa. Rian cuma... tiba-tiba teriak," bisik Sekar, suaranya nyaris hilang.
Tanpa menunggu pertanyaan lebih lanjut, didorong oleh rasa panik yang memuncak karena menjadi pusat perhatian, Sekar membalikkan badan. Dia berlari sekencang-kencangnya meninggalkan koridor, menghiraukan panggilan Pak Satrio dan jeritan Rian yang perlahan menjauh di belakangnya.
Dia terus berlari keluar dari gedung fakultas, menembus rintik hujan gerimis yang mulai turun membasahi bumi. Di bawah langit yang kian menggelap, Sekar mendekap dadanya yang naik-turun tidak beraturan.
Rasa gatal di punggungnya kini benar-benar lenyap, digantikan oleh sensasi hangat yang merayap naik, mengelus tengkuknya dengan lembut—persis seperti belaian tangan gaib yang tak kasat mata. Bersamaan dengan itu, wangi bunga kenanga kuno yang matang kembali menyeruak samar dari pori-pori kulitnya, bercampur dengan aroma tanah yang basah oleh hujan.
Sekar tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Entitas yang mengklaim dirinya pada malam Sabtu Kliwon itu tidak lagi bersembunyi di balik bayang-bayang kolong ranjang. Ia telah menyatu di dalam dagingnya, mengawasi setiap gerak-geriknya, dan siap menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh apa yang telah menjadi 'miliknya'.