NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Pasien Bermasker Itu

"Silakan turunkan celananya, Pak. Sampai lutut."

Pria di depan Keisha tidak bergerak.

Pendingin ruangan poli urologi RSUD Bandung berdengung pelan. Bau antiseptik menempel di udara, bercampur aroma gel ultrasonografi yang baru saja Keisha tuang ke wadah kecil. Di samping ranjang periksa, sepasang sarung tangan lateks membungkus jemarinya yang ramping.

Seharusnya tak ada yang aneh.

Keisha sudah menangani belasan pasien sejak siang. Ia terlalu lelah untuk mempermasalahkan seorang laki-laki dewasa yang mendadak kaku hanya karena diminta membuka celana.

"Pak?" Keisha mengangkat wajah dari kartu pasien. "Celananya diturunkan. Saya perlu memeriksa bagian bawah."

Pria itu akhirnya menatapnya.

Sebagian besar wajahnya tertutup masker hitam. Yang terlihat hanya sepasang mata gelap, alis tegas, dan garis tulang hidung yang membuat masker medis di wajahnya tampak seperti penyamaran, bukan perlindungan kesehatan. Kemeja hitamnya digulung sampai siku. Urat di punggung tangannya menonjol saat ia meletakkan sebuah amplop hasil pemeriksaan di meja.

"Bagian bawah yang mana?" tanyanya.

Suaranya rendah. Tenang, tetapi dinginnya membuat ujung tengkuk Keisha meremang.

Keisha menahan napas. Pasien gugup biasanya mengulur waktu dengan bertanya. Ada yang pura-pura batuk, ada yang mendadak ingin ke toilet, bahkan ada yang mengajak bicara soal cuaca. Laki-laki ini rupanya memilih menatap dokter seperti sedang menginterogasi tersangka.

Ia menunjuk ranjang periksa dengan dagu.

"Area genital. Berdasarkan catatan ini, ada keluhan nyeri dan iritasi sebelum tindakan sirkumsisi. Saya harus memastikan tidak ada infeksi atau pembengkakan. Setelah itu baru dokter penanggung jawab menentukan jadwal tindakan."

Mata pria itu menyipit.

"Sirkumsisi?"

"Sunat dewasa," jelas Keisha, tetap profesional. "Tenang saja. Bukan Anda satu-satunya pasien dewasa yang datang untuk itu."

Sunyi jatuh selama dua detik.

Lalu pria itu bertanya, "Anda yakin saya datang untuk disunat?"

Keisha melirik kartu di tangannya. Baris keluhan utama tampak jelas. Nyeri, kemerahan, kesulitan menarik kulup. Tidak mungkin ia salah baca.

"Saya tidak membuat diagnosis dari firasat, Pak."

"Tapi Anda mulai memeriksa tanpa menanyakan nama saya."

Sindiran itu tepat mengenai titik yang tidak ingin disentuh Keisha.

Ia memang belum melakukan verifikasi dua identitas. Sejak pagi sistem antrean sempat bermasalah, printer label macet, dan dua dokter senior dipanggil untuk operasi darurat. Suster Ningrum menyelipkan kartu pasien berikutnya ke tangannya sambil berlari ke ruang tindakan. Keisha hanya sempat melihat nomor antrean sebelum laki-laki bermasker ini masuk.

Kesalahan kecil, pikirnya. Bisa diperbaiki sekarang.

Namun sorot mata pria itu membuat sisi keras kepala Keisha bangun lebih cepat daripada kewarasannya.

"Kalau Bapak masih sempat berdebat, berarti rasa sakitnya belum terlalu parah." Ia menarik tirai di sekeliling ranjang periksa. "Silakan. Saya tidak akan melihat sebelum Anda siap."

"Anda selalu memerintah pasien seperti ini?"

"Hanya pasien yang susah diajak bekerja sama."

Ada sesuatu berkilat di mata gelap itu. Bukan malu. Bukan pula takut. Lebih mirip peringatan.

Keisha berbalik membelakanginya dan menata lampu pemeriksaan. Bunyi logam sabuk yang terlepas terdengar dari belakang. Disusul gesekan ritsleting yang diturunkan perlahan.

Tangannya berhenti di atas gagang lampu.

Astaghfirullah.

Kenapa suara ritsleting bisa terdengar sekeras itu?

Keisha menelan ludah, lalu mengingatkan diri sendiri bahwa ia dokter. Tubuh manusia adalah anatomi. Kulit, pembuluh darah, jaringan lunak. Tidak ada yang patut membuat wajahnya panas.

"Sudah," kata pria itu.

Keisha berbalik.

Kemeja hitam itu masih rapi di tubuhnya. Celana panjangnya telah turun sampai paha, memperlihatkan pinggang sempit dan garis otot perut yang masuk ke balik boxer hitam. Ia belum menurunkannya sampai lutut seperti yang diminta, tetapi pemandangan itu sudah cukup membuat otak Keisha kehilangan semua istilah medis selama satu detik penuh.

Pria itu tinggi. Terlalu tinggi untuk ranjang periksa yang tersedia. Bahunya lebar, perutnya keras, dan tubuhnya tak menunjukkan tanda seseorang yang menghabiskan hidup di balik meja. Di bawah kain boxer yang ketat, tonjolan maskulin itu tampak berat dan terlalu nyata untuk diabaikan.

Tatapan Keisha membeku sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya.

"Ada masalah, Dokter?"

Suara rendah itu menariknya kembali ke bumi.

"T-tidak." Keisha buru-buru menatap kartu pasien. "Turunkan sedikit lagi."

Alis pria itu terangkat.

"Sedikit lagi?"

Panas merambat dari leher Keisha sampai telinganya. Ia mengangkat dagu, berusaha menyelamatkan sisa wibawa di balik jas putih yang sudah kusut.

"Saya harus melihat seluruh area yang dikeluhkan. Kalau masih tertutup, bagaimana saya memeriksanya?"

"Saya juga ingin tahu bagaimana Anda akan memeriksa keluhan yang tidak saya miliki."

"Bapak belum diperiksa. Jangan menyimpulkan sendiri."

Pria itu mengembuskan napas melalui hidung. Kedua tangannya berhenti pada pinggang boxer. Ia tidak menariknya turun. Sebaliknya, ia menatap Keisha seolah sedang memberinya kesempatan terakhir untuk menyadari kebodohannya sendiri.

Keisha salah mengartikan diam itu sebagai ketakutan.

Nada suaranya melunak sedikit. "Tidak akan lama. Saya hanya melakukan inspeksi visual dan palpasi ringan. Kalau nyeri, bilang."

Ia mengambil wadah gel.

Setetes cairan bening jatuh ke sarung tangannya.

Mata pria itu mengikuti tetesan tersebut, lalu kembali menatap wajah Keisha. "Gel itu untuk apa?"

"Membantu pemeriksaan supaya tidak menimbulkan gesekan berlebihan."

"Anda berniat menyentuh saya dengan itu?"

"Pak, ini poli urologi." Keisha menghela napas, meski dadanya mulai berdebar tidak karuan. "Saya tidak mungkin memeriksa dari jarak dua meter."

Pria itu tertawa pendek.

Bukan tawa ramah. Bunyi itu lebih mirip seseorang yang baru menemukan hal paling tidak masuk akal dalam hidupnya dan belum memutuskan apakah harus marah atau menghancurkannya.

Keisha menarik bangku kecil mendekat. Roda bangku berdecit di atas lantai. Kini wajahnya sejajar dengan pinggang pria itu.

Jarak yang tadi terasa aman lenyap.

Aroma bersih dari tubuh laki-laki itu menembus bau antiseptik. Ada wangi sabun, sedikit aroma kayu, dan panas tubuh yang terasa bahkan sebelum ujung sarung tangan Keisha menyentuh kulitnya.

Ia mengulurkan tangan.

Jemari pria itu menutup pergelangan tangannya lebih dulu.

Gerakannya cepat, terukur, dan begitu kuat hingga Keisha tak sempat menarik napas. Gel dingin di sarung tangannya hampir tumpah. Telapak tangan pria itu panas, kontras dengan kulitnya yang mendadak dingin.

"Sebelum Anda lanjut," katanya pelan, "sebutkan nama pasien di kartu itu."

Keisha berkedip.

"Data pasien bersifat rahasia."

"Kalau itu data saya, seharusnya Anda bisa menyebutkannya kepada saya."

"Saya sedang menjaga privasi."

"Atau menutupi bahwa Anda tidak tahu siapa yang berdiri di depan Anda?"

Keisha membuka mulut. Tak ada jawaban yang keluar.

Pria itu melepaskan pergelangan tangannya. Bekas panas dari jemarinya tertinggal seperti gelang tak kasatmata.

Pada saat bersamaan, tirai tersibak keras.

"Dok Keisha!"

Suster Ningrum masuk dengan napas terengah. Wajahnya pucat. Di tangan kanannya ada kartu pasien lain, sementara tangan kirinya menggenggam lembar antrean yang terlipat.

Pandangan sang suster jatuh pada Keisha yang duduk di bangku, sarung tangan berlumur gel terangkat di udara. Lalu pada pria bermasker dengan celana terbuka sampai paha.

Mulutnya menganga.

"Ya Allah," bisiknya.

Keisha bangkit terlalu cepat hingga bangkunya terjungkal. "Ada apa?"

"K-kartunya tertukar, Dok." Suster Ningrum mengangkat kedua kartu dengan tangan gemetar. "Pasien untuk pemeriksaan pra-sirkumsisi masih di luar. Yang ini pasien kontrol batu ginjal. Nomor antreannya berdekatan, lalu sistem mencetak ulang dua label sekaligus. Saya... saya memberikan kartu yang salah."

Tidak ada suara selain dengung pendingin ruangan.

Keisha menatap kartu di tangannya. Menatap kartu yang dibawa Ningrum. Menatap amplop hasil pemeriksaan yang sejak tadi diletakkan pria itu di atas meja.

Di sudut amplop tercetak jelas: CT saluran kemih dan hasil urinalisis.

Batu ginjal.

Bukan sirkumsisi.

Jantung Keisha seolah jatuh menembus lantai.

Pria itu menutup ritsleting celananya perlahan. Sekali lagi, bunyinya terdengar kejam di ruangan yang sunyi.

"Jadi," ucapnya setelah memasang sabuk, "saya datang untuk membahas batu ginjal, lalu dokter Anda meminta saya membuka celana dan hampir menyentuh alat kelamin saya dengan gel."

Suster Ningrum menunduk dalam-dalam. "Maaf, Pak. Ini kesalahan alur kami. Saya akan melapor kepada kepala ruangan dan membuat laporan insiden."

Keisha memejamkan mata satu detik.

Ia bisa menyalahkan sistem. Bisa menyalahkan kartu yang tertukar, jadwal yang kacau, atau Suster Ningrum yang tergesa. Namun satu kalimat pria itu terus berputar di kepalanya.

Anda mulai memeriksa tanpa menanyakan nama saya.

Itu kesalahannya.

Keisha melepas sarung tangan, membuangnya ke tempat limbah medis, lalu berdiri tegak. Wajahnya panas, tetapi ia memaksa matanya bertahan pada tatapan laki-laki itu.

"Saya minta maaf. Kartunya memang salah, tapi saya juga lalai melakukan verifikasi identitas sebelum pemeriksaan. Saya akan menulis laporan insiden dan mengikuti evaluasi rumah sakit."

Mata pria itu turun sekilas ke wajahnya yang memerah. "Hanya itu?"

Keisha menggigit bagian dalam pipinya. "Apa Bapak mengalami cedera?"

"Harga diri saya baru saja dibaringkan di ranjang periksa."

Suster Ningrum terbatuk, buru-buru menutup mulut.

Keisha ingin menghilang ke dalam lemari instrumen. Sayangnya, harga dirinya sendiri menolak mati dengan tenang.

"Saya belum menyentuh bagian itu," balasnya. "Secara objektif, tidak ada tindakan invasif yang terjadi."

"Anda kecewa?"

"Bukan begitu maksud saya!"

Untuk pertama kalinya, mata pria itu benar-benar menunjukkan senyum. Hanya matanya. Masker hitam itu masih menutupi ekspresi lain, membuat ejekannya terasa lebih berbahaya.

Keisha menarik napas panjang. "Kalau memang saya salah, saya yang akan bertanggung jawab. Saya tidak akan lari."

"Bertanggung jawab?"

"Ya. Komplain, laporan, evaluasi, apa pun prosedurnya."

Ia mengucapkannya terlalu cepat. Terlalu mantap. Seakan kata bertanggung jawab bisa menambal semua lubang yang baru saja terbuka di lantai profesionalismenya.

Pria itu mengambil ponsel dari saku.

Keisha mengernyit. "Bapak mau menelepon bagian pengaduan?"

Ia tidak menjawab.

Ponsel terangkat. Kamera mengarah lurus ke dada Keisha.

Klik.

Keisha refleks menutupi dadanya, lalu sadar yang dipotret bukan tubuhnya, melainkan kartu identitas yang tergantung pada tali biru di lehernya.

Nama lengkap. Nomor induk pegawai. Unit kerja.

Semuanya masuk ke layar ponsel pria itu.

"Hei, Anda tidak boleh memotret identitas tenaga medis sembarangan!"

Pria itu menurunkan ponsel dan memeriksa hasil fotonya dengan tenang. "Keisha Kusumo."

Cara ia menyebut nama itu membuat kulit di tengkuk Keisha menegang.

"Hapus fotonya."

"Bukankah Anda bilang tidak akan lari?"

"Saya tidak lari. Tapi ada prosedur untuk mengajukan komplain."

"Bagus." Ia memasukkan ponsel kembali ke saku. "Saya suka prosedur."

Suster Ningrum melangkah ke samping, membuka jalan. Pria bermasker itu berjalan menuju pintu, berhenti tepat di hadapan Keisha, lalu menunduk sedikit. Jarak mereka menyusut sampai Keisha kembali mencium aroma kayu yang tenang dari tubuhnya.

Tatapan gelap itu menahan matanya.

"Tunggu tanggung jawabmu, Dokter Keisha."

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!