Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pintu lift VIP di lobi utama gedung PT Medika Raya terbuka dengan suara denting yang pelan.
TING.
Rizky melangkah keluar lebih dulu dengan wajah tenang yang tidak menunjukkan emosi apa pun.
Di belakangnya, Hendra Kusuma berjalan gontai dengan bahu merosot dan wajah yang menua sepuluh tahun lebih cepat.
Tangan kanan mantan direktur itu masih terkulai kaku tidak berdaya akibat tusukan jarum akupuntur Rizky di atap tadi.
Di tengah lobi yang luas itu, Indah Sari sudah duduk menanti di sofa kulit panjang berwarna hitam.
Apoteker cantik itu tidak datang sendirian siang ini.
Tiga orang pria paruh baya memakai jas rapi duduk di sebelahnya dengan koper-koper dokumen terbuka di atas meja.
Mereka adalah tim pengacara elit kelas atas yang dipinjamkan langsung oleh Darmawan Kusuma.
"Kau agak lama di atap tadi Rizky, aku hampir menyuruh satpam untuk mengecek ke atas," sapa Indah berdiri menyambut rekan bisnisnya.
Rizky tersenyum tipis dan menarik kursi kosong di seberang meja kaca tersebut.
"Aku harus berdiskusi sedikit soal masa depan dengan Pak Hendra di atas sana Nona Indah."
"Dan sepertinya diskusi kami berdua berjalan sangat lancar dan mencapai kesepakatan yang menguntungkan."
Indah melirik ke arah Hendra yang kini terlihat seperti gelandangan linglung yang salah masuk ke gedung mewah.
Tatapan mata Hendra kosong dan ia terus memegangi tangan kanannya yang lumpuh dengan tangan kirinya yang gemetar.
"Silakan duduk Pak Hendra, semua berkas peralihan kepemilikan sudah kami siapkan dengan sangat rinci," ucap Indah tanpa nada simpati sedikit pun.
Hendra menjatuhkan dirinya ke atas sofa dengan sisa tenaga yang ia miliki hari ini.
Seorang pengacara berjas abu-abu menyodorkan setumpuk dokumen tebal yang sudah ditandai dengan stiker penunjuk.
"Ini adalah surat pelepasan seratus persen saham PT Medika Raya beserta seluruh aset pabrik dan tanahnya Tuan Hendra."
"Anda hanya perlu menandatanganinya di bagian bawah setiap halaman yang kami tandai ini," jelas pengacara itu dengan nada profesional.
Hendra menatap tumpukan kertas itu dengan mata berkaca-kaca menahan tangis penyesalan yang terlambat.
"Aku tidak bisa memegang pena, tanganku masih lumpuh total," rintih Hendra dengan suara parau.
Rizky menyodorkan sebuah pena tinta mahal ke arah tangan kiri Hendra yang masih bisa bergerak.
"Gunakan tangan kirimu Hendra, tanda tangan jelek pun tetap sah di mata hukum asalkan kau sadar melakukannya."
Hendra menelan ludahnya susah payah menerima pena itu dengan tangan kirinya yang gemetar hebat.
SREK SREK SREK.
Suara goresan pena di atas kertas terdengar sangat menyayat hati bagi sang mantan penguasa farmasi tersebut.
Setiap lembar yang ia tandatangani adalah bukti hilangnya kekayaan, kekuasaan, dan masa depannya di kota ini.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Hendra untuk merelakan seluruh kerja keras hidupnya berpindah tangan ke pemuda udik di depannya.
Pengacara itu segera mengambil kembali dokumen tersebut dan merapikannya ke dalam koper khusus.
"Proses legalitas sudah selesai sepenuhnya Nona Indah, PT Medika Raya kini resmi menjadi anak perusahaan dari Klinik Bintang Abadi."
Indah menghela napas panjang dan tersenyum sangat lebar memandang Rizky yang duduk santai menyilangkan kakinya.
"Terima kasih banyak atas bantuan tim pengacara Bapak Darmawan, kami sangat berhutang budi," ucap Indah tulus.
Rizky lalu berdiri dan menatap Hendra yang masih terduduk lemas meratapi nasibnya di sofa.
"Urusan kita sudah selesai Hendra, kau boleh pergi dari gedung milikku ini sekarang juga."
Hendra mendongak menatap Rizky dengan pandangan kosong penuh keputusasaan.
"Ke mana aku harus pergi Rizky? Rekeningku sudah diblokir dan rumahku juga termasuk dalam aset perusahaan ini."
"Itu bukan urusanku Hendra, kau bisa mulai belajar tidur di kolong jembatan seperti gembel yang sering kau hina dulu."
Rizky memberikan isyarat tangan dan dua orang satpam gedung yang baru sadar akan pergantian bos langsung mendekat.
Mereka menarik lengan Hendra dan menyeret pria paruh baya yang menangis meraung-raung itu keluar dari lobi menuju jalanan yang panas.
"Kejam sekali mulutmu itu Rizky, tapi aku harus mengakui kalau dia memang pantas mendapatkannya," komentar Indah menatap kepergian Hendra.
"Di dunia bisnis ini Nona Indah, belas kasihan pada musuh yang serakah hanya akan menjadi bom waktu di masa depan."
Rizky merapikan jaketnya dan mengajak Indah berjalan keluar dari gedung yang kini telah resmi menjadi milik mereka tersebut.
"Mari kita kembali ke klinik Indah, ada banyak hal yang harus kita rayakan malam ini."
Malam harinya, suasana di Klinik Bintang Abadi sudah sepi dari pasien karena jam operasional telah berakhir.
Namun di ruang istirahat lantai dua, suara tawa dan denting gelas kaca terdengar sangat meriah.
TRING.
Rizky dan Indah saling bersulang menggunakan gelas berisi jus apel dingin segar kesukaan mereka.
Di atas meja, tersaji berbagai macam makanan mewah yang sengaja dipesan Indah dari restoran bintang lima.
"Untuk Raja Obat masa depan, yang berhasil menumbangkan raksasa farmasi dalam waktu kurang dari sebulan," ucap Indah mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
"Dan untuk Ratu Bisnis yang sangat cerdas, yang akan membantuku mengurus semua dokumen memusingkan itu," balas Rizky tertawa renyah.
GLUK GLUK GLUK.
Mereka berdua meminum jus apel itu dengan perasaan sangat lega seolah beban seberat gunung baru saja diangkat dari pundak mereka.
Indah meletakkan gelasnya dan menatap wajah Rizky dari jarak yang cukup dekat di atas sofa.
Pipi putih apoteker cantik itu terlihat sedikit merona merah entah karena udara dingin AC atau karena hal lain.
"Rizky, sejujurnya aku masih merasa seperti sedang bermimpi siang bolong sampai detik ini."
"Dulu aku hanya mengurus klinik kecil warisan keluargaku yang hampir bangkrut karena sepi pasien."
"Dan sekarang, tiba-tiba aku menjadi direktur dari jaringan pabrik farmasi terbesar di kota ini berkat dirimu."
Rizky mengambil sepotong daging ayam panggang dan memakannya dengan santai sebelum menjawab curhatan Indah.
"Kau tidak sedang bermimpi Indah, ini adalah hasil dari keberanianmu mempercayaiku di hari pertama kita bertemu."
"Jika saat itu kau ikut mengusirku bersama satpam bodohmu, mungkin kau tidak akan duduk di sini makan makanan mewah bersamaku."
Indah tersenyum manis dan menyandarkan bahunya sedikit mendekat ke arah lengan Rizky.
"Kau benar Rizky, instingku sebagai seorang apoteker memang tidak pernah salah dalam menilai bibit unggul."
Suasana di ruang istirahat itu mendadak menjadi sedikit canggung namun terasa sangat hangat dan nyaman bagi mereka berdua.
Rizky belum pernah merasakan kedekatan emosional sekuat ini dengan seorang wanita seumur hidupnya yang penuh penderitaan.
Namun di tengah momen romantis yang baru saja akan mekar itu, tubuh Rizky mendadak tersentak kaku.
Jantungnya berdegup sangat kencang karena tato daun hijau di dadanya tiba-tiba berdenyut dengan panas yang menyengat kulitnya.
SST SST.
Rasa panas itu tidak menyakitkan, namun energinya mengalir begitu kuat hingga membuat pandangan Rizky sedikit berkunang-kunang.
"Rizky, kau kenapa? Wajahmu tiba-tiba memucat," tanya Indah panik melihat perubahan drastis pada rekan di sebelahnya.
"A-aku tidak apa-apa Indah, hanya sedikit kelelahan karena kurang tidur semalaman," bohong Rizky menutupi kejadian aslinya.
TING TING TING.
Suara notifikasi mekanis dari sistem terdengar berbunyi tiga kali berturut-turut di dalam rongga kepala Rizky.
Bunyi ini jauh lebih nyaring dari biasanya, menandakan ada sebuah pembaruan informasi yang sangat masif sedang masuk.
Sebuah kotak teks holografis berwarna emas menyala terang menutupi pandangan mata Rizky sepenuhnya.
[Peringatan Sistem: Energi fondasi bisnis telah mencapai tingkat Nasional.]
[Sinkronisasi memori artefak kuno mulai terbuka sepenuhnya.]
Rizky menahan napasnya mencoba membaca deretan kalimat bercahaya itu tanpa mempedulikan Indah yang sedang menatapnya khawatir.
[Informasi Rahasia: Liontin Dewi di dada pengguna hanyalah satu dari tiga pecahan artefak suci yang tersebar di dunia ini.]
[Pecahan kedua telah terdeteksi merespons lonjakan energi dari kesuksesan pengguna hari ini.]
Mata Rizky terbelalak lebar membaca fakta gila yang baru saja disuapkan secara paksa ke dalam otaknya tersebut.
"Tiga pecahan? Jadi kekuatan memanipulasi tanaman yang kumiliki saat ini belumlah sempurna seratus persen?" batin Rizky sangat terkejut.
Teks holografis itu kembali berganti menampilkan sebuah peta buta dengan satu titik merah yang berkedip sangat cepat.
[Lokasi Pecahan Kedua: Hutan Larangan di Pegunungan Selatan. Jarak perkiraan 300 kilometer dari posisi saat ini.]
[Misi Arc 3 Terbuka: Temukan Pecahan Liontin Kedua untuk membuka kemampuan Alkimia Tubuh tingkat dewa.]
Cahaya teks sistem itu perlahan memudar dan menghilang, meninggalkan Rizky yang masih terpaku diam di atas sofa.
Indah mengguncang bahu Rizky dengan pelan untuk menyadarkan pemuda itu dari lamunannya yang aneh.
"Rizky, kau benar-benar membuatku takut, apa kau perlu kuperiksa detak jantungmu sekarang?" tawar Indah sangat cemas.
Rizky segera mengerjapkan matanya dan menghela napas panjang menetralkan keterkejutannya.
"Tidak perlu Indah, aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang, sungguh."
Rizky menatap mata Indah dengan sorot yang kini kembali tajam dan penuh ambisi baru yang membara.
"Indah, sepertinya kita tidak bisa bersantai terlalu lama menikmati kemenangan bisnis ini."
"Ada apa lagi Rizky? Bukankah musuh utama kita sudah hancur lebur hari ini?" tanya Indah sangat kebingungan.
"Urusan di kota ini memang sudah selesai, tapi duniaku yang sebenarnya baru saja memanggilku keluar dari sini."
Rizky berdiri dan menatap ke arah jendela kaca yang menampilkan gemerlap lampu malam ibu kota.
"Besok pagi, siapkan Bang Jali dan semua keperluan ekspedisi, aku harus pergi ke Pegunungan Selatan secepatnya."
Indah hanya bisa menghela napas pasrah melihat sifat gila kerja dari pemuda jenius yang mulai merebut hatinya tersebut.
Perjalanan untuk menjadi Raja Obat ternyata masih sangat panjang dan penuh misteri yang menunggu untuk dipecahkan.