Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Yang Tak Bisa Dijelaskan
Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk melalui jendela kamar Niel. Pria itu sudah terbangun sejak satu jam yang lalu, tetapi pikirannya masih dipenuhi sosok seorang gadis yang baru ditemuinya kemarin.
Aluna.
Nama itu terus berputar di benaknya.
Niel menatap secangkir kopi hitam di atas meja kerja. Biasanya, ia selalu memulai hari dengan membaca laporan perusahaan. Namun pagi ini, satu halaman pun belum berhasil ia baca.
Ponselnya berdering.
"Tuan Niel, rapat dimulai lima belas menit lagi," suara Darren terdengar dari seberang.
"Aku segera turun."
"Baik, Tuan."
Niel mengakhiri panggilan, tetapi sebelum keluar kamar, ia kembali teringat senyum Aluna saat memperkenalkan diri.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis.
"Aneh..."
__________________________________________
Ruang rapat yang luas dipenuhi para petinggi perusahaan.
Satu per satu laporan dipresentasikan dengan serius. Semua mata sesekali tertuju kepada Niel, menunggu tanggapan dari pemimpin mereka.
Namun hari itu, Niel hanya diam.
"Tuan Niel?"
Suara salah satu direktur membuatnya tersadar.
"Maaf, bisa diulangi?"
Beberapa orang saling bertukar pandang. Itu adalah pertama kalinya mereka melihat Niel kehilangan fokus di tengah rapat.
Setelah rapat selesai, Darren berjalan menyusulnya hingga ke lorong.
"Tuan, Anda terlihat sedang memikirkan sesuatu."
Niel menghentikan langkahnya.
"Darren."
"Ya?"
"Kalau ada seseorang yang baru sekali kita temui, tetapi terus memenuhi pikiran kita... menurutmu kenapa?"
Darren terdiam beberapa saat.
Sebagai orang yang telah bekerja bersama Niel selama bertahun-tahun, ia tahu atasannya bukan tipe pria yang mudah tertarik kepada seseorang.
"Saya tidak tahu pasti, Tuan."
"Tapi terkadang... hati mengenali seseorang lebih cepat daripada ingatan."
Niel mengernyit.
"Omong kosong."
Darren hanya tersenyum kecil.
"Mungkin saja."
__________________________________________
Sementara itu, Aluna sedang menyusun buku-buku baru di toko tempatnya bekerja.
"Aduh, berat juga."
Ia mengangkat satu kardus berisi novel hingga napasnya sedikit terengah.
"Pelan-pelan!" seru Siska sambil menghampiri.
"Aku bisa kok."
Siska menggeleng.
"Sejak kemarin kamu kelihatan melamun terus."
Aluna tertawa kecil.
"Kelihatan ya?"
"Banget."
Aluna menghela napas pelan.
"Aku cuma kepikiran seseorang."
"Eh?"
Siska langsung membulatkan mata.
"Cowok?"
Aluna buru-buru menggeleng.
"Bukan begitu."
"Terus?"
"Aku juga nggak tahu. Rasanya... aneh."
"Aneh gimana?"
"Setiap ingat wajahnya, dadaku jadi hangat. Tapi di saat yang sama, rasanya juga sesak."
Siska memandangi sahabatnya beberapa saat.
"Lalu... siapa namanya?"
"...Niel."
Siska tersenyum jahil.
"Wah, baru sehari sudah hafal nama."
"Ih, Siska!"
Mereka tertawa bersama, membuat suasana toko kembali hangat.
___________________________________________
Menjelang sore, Niel duduk di dalam mobil.
"Tuan, kita langsung ke kantor pusat?" tanya sopir.
Niel memandang keluar jendela.
Di kejauhan, ia melihat papan nama toko buku yang sama seperti kemarin.
Ia terdiam beberapa detik.
"Lewat sana."
"Baik, Tuan."
Mobil berhenti tidak jauh dari toko.
Niel turun dengan langkah tenang, meski dalam hati ia sendiri tidak mengerti mengapa kedua kakinya membawanya ke tempat itu lagi.
Bel pintu toko berbunyi pelan saat ia masuk.
Aluna yang sedang merapikan rak spontan menoleh.
Tatapan mereka kembali bertemu.
"Kamu..." ucap Aluna pelan.
"Halo."
Niel menghampiri rak novel.
"Aku... ingin mencari buku."
Aluna tersenyum ramah.
"Genre apa yang kamu suka?"
Pertanyaan itu membuat Niel terdiam.
Sejujurnya, ia hampir tidak pernah membaca novel.
Namun entah mengapa, ia menjawab,
"Apa pun yang kamu rekomendasikan."
Aluna berpikir sejenak, lalu mengambil sebuah novel dari rak paling atas.
"Kalau begitu... coba yang ini."
Saat Aluna menyerahkan buku itu, jemari mereka kembali bersentuhan.
Dalam sekejap...
Sebuah kilasan memenuhi benak mereka.
Suara tawa.
Langkah kaki yang berlari.
Seorang pria menggenggam tangan seorang gadis di tengah hujan.
Lalu...
Semuanya menghilang.
Aluna refleks memegang kepalanya.
"Nggak apa-apa?" tanya Niel dengan nada penuh kekhawatiran.
"Aku... cuma sedikit pusing."
"Aku juga."
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.
Perasaan asing itu kembali muncul.
Bukan canggung.
Melainkan... rindu.
Padahal mereka baru saling mengenal.
Di luar toko buku, sebuah sedan hitam berhenti di pinggir jalan.
Seorang pria bertubuh tegap turun sambil mengenakan kacamata hitam.
Ia memandangi Niel dari balik kaca etalase.
"Lama tidak bertemu... Tuan Niel."
Pria itu menyunggingkan senyum tipis.
"Ternyata kabar yang kudengar benar."
Ia kembali masuk ke dalam mobil.
"Jangan lakukan apa pun dulu," ujarnya kepada pengemudi.
"Aku ingin melihat... apakah pria sehebat Niel masih berbahaya meski telah kehilangan semua ingatannya."
Mobil itu melaju perlahan, meninggalkan toko buku tanpa diketahui siapa pun.
Sementara di dalam toko, Niel dan Aluna masih berdiri berhadapan.
Tak ada satu pun dari mereka yang menyadari...
Bahwa seseorang dari masa lalu Niel baru saja kembali menginjakkan kaki di kota itu.
___________________________________________
Lanjutan
Suasana toko kembali tenang setelah beberapa pelanggan keluar.
Aluna masih berdiri di balik meja kasir, sesekali melirik ke arah Niel yang tampak serius membolak-balik halaman novel yang baru saja ia pilih.
"Kamu benar-benar suka baca?" tanya Aluna, memecah keheningan.
Niel mengangkat pandangan.
"Sejujurnya... tidak."
Aluna mengernyit heran.
"Lalu kenapa beli novel?"
Niel menutup buku itu perlahan.
"Karena yang merekomendasikan kamu."
Jawaban singkat itu membuat Aluna terdiam. Pipi gadis itu memanas tanpa alasan yang jelas.
"Kamu selalu bicara sejujur itu?"
"Hanya kalau memang itu kenyataannya."
Aluna terkekeh pelan.
"Aneh."
"Apa yang aneh?"
"Kamu baru kenal aku, tapi bicaranya seperti kita sudah lama berteman."
Niel tidak langsung menjawab.
Ia sendiri juga mempertanyakan hal yang sama.
Setiap berada di dekat Aluna, semua sikap dinginnya perlahan menghilang. Seolah ada tembok dalam dirinya yang runtuh sedikit demi sedikit.
"Aku juga tidak tahu," ucapnya akhirnya. "Rasanya... aku nyaman."
Kalimat itu membuat Aluna menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang muncul di wajahnya.
Tak lama kemudian, ponsel Niel bergetar.
Darren.
"Tuan, saya sudah menunggu di luar."
Niel melirik layar, lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku.
"Aku harus pergi."
Aluna mengangguk pelan.
"Terima kasih sudah mampir."
Niel melangkah menuju pintu, tetapi sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh.
"Aluna."
"Ya?"
"Boleh... aku datang lagi besok?"
Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana, tetapi entah mengapa membuat jantung Aluna berdegup lebih cepat.
Ia tersenyum tipis.
"Kalau memang mau beli buku... tentu saja boleh."
Niel ikut tersenyum.
"Baik. Sampai besok."
Bel pintu kembali berbunyi saat ia keluar dari toko.
Aluna memperhatikan punggung pria itu hingga menghilang di balik keramaian jalan.
Tanpa sadar, tangannya menyentuh dada sendiri.
"Kenapa rasanya... seperti sedang menunggu seseorang yang sudah sangat lama pergi?"
Di luar, Darren membukakan pintu mobil untuk Niel.
"Tuan."
Niel masuk ke dalam mobil tanpa mengalihkan pandangan dari toko buku itu.
"Besok..." gumamnya pelan.
"Aku akan datang lagi."
Mobil hitam itu perlahan melaju meninggalkan tempat tersebut, sementara takdir kembali mulai merajut benang merah yang pernah terputus di antara dua hati yang saling mencari.
________________bersambung________________