Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Bara
TING ... TONG ...
Luna sedang mengepel lantai saat suara bel pintu rumahnya berbunyi. Ia segera meletakan alat pel dan berjalan ke arah pintu.
TING ... TONG ...
"Ya sebentar," ucap Luna dengan nada sedikit keras, tetapi tetap terdengar lembut.
Luna menghentikan langkahnya di depan pintu lalu memutar kunci. Tangannya terulur menarik handle pintu. Saat pintu terbuka, Luna terdiam sambil memerhatikan laki-laki di hadapannya. Laki-laki itu memakai kemeja warna hitam yang nampak pas dan memperlihatkan tubuhnya yang kekar. Kaca mata hitam yang laki-laki itu pakai, membuat Luna tidak bisa melihat wajahnya secara langsung.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Luna.
Bukannya menjawab, laki-laki itu justru menghela napas sebelum membuka kaca matanya.
"Dua tahun tidak bertemu apa kamu sudah tidak mengenaliku, Luna?" tanya laki-laki itu.
Luna menyipitkan mata, mencoba memperjelas penglihatannya.
"Papa ...?" tanya Luna ragu.
Jujur saja Luna sedikit tidak percaya laki-laki yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Bara, ayah mertuanya. Pasalnya penampilannya sangat berbeda. Lebih tampan dan tubuhnya lebih kekar. Dulu saja ia merasa Bara terlalu muda untuk ia panggil papa dan sekarang Luna merasa lebih canggung lagi.
"Apa kamu akan membiarkan aku berdiri terus di sini?"
"Oh, maaf, Pa."
Luna bergeser, memberikan jalan untuk Bara. "Silahkan masuk, Pa."
"Kamu tinggal di sini, Luna?" tanya Bara sambil melihat sekeliling, seolah sedang memerhatikan setiap detail rumah itu.
"Iya, Pa. Kata mas Raka bisnisnya sedang tidak bagus. Makanya kami memilih tinggal di rumah yang lebih kecil," jawab Luna. "Kami sudah tinggal di sini hampir dua tahun. Tempatnya sangat nyaman."
Bara berhenti melangkah, lalu berbalik melihat ke arah Luna dengan tatapan penuh arti.
"Raka bilang seperti itu?" tanya Bara.
"Iya, Pa."
Bara tidak bicara lagi, ia memilih untuk duduk di sofa yang ada di dekatnya. Laki-laki itu duduk dengan bersandar pada sandaran sofa dan meletakkan satu kakinya di atas pangkuannya. Tatapannya sedikit dingin, tetapi masih tersisa kelembutan.
"Aku ambilkan minum dulu." Luna lantas pergi ke dapur, kembali beberapa saat kemudian dengan membawa secangkir kopi.
"Silahkan, Pa." Luna meletakan kopi di hadapan Bara.
"Duduklah, sini." Bara menepuk sisinya, memberikan isyarat pada Luna untuk duduk di sebelahnya.
Luna mengangguk, lalu duduk di samping Bara tanpa ragu meskipun ada sedikit kecanggungan.
Sementara Bara diam sambil memerhatikan Luna. Tubuh menantunya nampak kurus, wajahnya yang dulu cantik terlihat nampak lusuh. Lingkaran hitam di bawah matanya memperlihatkan rasa lelah yang tak terucap.
"Papa apa kabar? Kenapa pulang tidak kasih kabar dulu?" tanya Luna.
"Jika aku memberitahu lebih dulu, aku tidak akan tahu apa yang sedang terjadi," jawab Bara.
"Maksud, Papa?" tanya Luna.
"Lupakan saja." Bara tidak memberikan jawaban pasti membuat Luna semakin bingung. Ia justru lebih memilih menikmati kopi yang dibuat oleh menantunya itu.
"Apa Raka tidak mengurusmu dengan baik? Kamu terlihat kurus sekali? Aku bahkan hampir tidak mengenalimu," tanya Bara.
Luna mengulas senyum tipis, senyum yang terlihat jelas dipaksakan.
"Tidak, Pa. Dia sangat baik padaku," jawab Luna. "Kami hanya sedang berhemat saja."
"Hemat?" Bara nampak sekali tidak suka dengan jawaban Luna. "Memang berapa uang yang dia kasih ke kamu dalam sebulan."
Luna tidak langsung menjawab.
"Luna, katakan padaku."
"Ti-tiga juta, Pa," jawab Luna sedikit tergagap lantaran takut dengan tatapan Bara.
"Tiga juta?" Bara memijit pangkal hidungnya. Ia marah mendengar nominal yang diberikan Raka pada Luna. Uang dengan jumlah itu lebih sedikit dari harga sepatunya.
"Pa, Papa kenapa?" tanya Luna.
"Apa uang dengan jumlah itu cukup untukmu?" tanya Bara.
"Cu-kup, Pa," jawab Luna.
"Jujur padaku," desak Bara.
Luna mengangguk. "Sebenarnya tidak, Pa. Tapi aku tidak mau membebani mas Raka."
Bara mengepalkan kedua tangannya, matanya menyala karena amarah. "Apa yang sebenarnya dilakukan oleh anak itu?" batinnya.
"Papa pasti lelah. Biar aku antar ke kamar atau Papa mau makan dulu? Aku akan masak untuk Papa?" tawar Luna berusaha untuk menghentikan topik pembicaraan itu.
Bukannya menjawab, Bara justru berkata hal lain. "Tanganmu kenapa?"
"Oh ini." Luna melihat pergelangan tangannya yang terluka. "Tadi waktu aku masak tidak sengaja terkena minyak panas."
"Ck, Luna ... kamu ceroboh sekali."
Luna justru terkekeh melihat reaksi Bara.
"Apa ini lucu?" Tanpa banyak bicara, Bara membungkuk, meniup luka di tangan Luna.
Tindakan Bara justru membuat Luna menangis. Bukan karena sakit, tetapi terharu dengan tindakan mertuanya itu. Raka bahkan tak sebaik itu padanya. Mungkin dulu iya. Luna bahkan lupa kapan terakhir kali Raka begitu perhatian padanya.
"Sakit?" tanya Bara lembut dan penuh perhatian.
Luna menggeleng. "Tidak."
"Kenapa menangis?"
"Papa baik banget sama aku."
"Ck, dasar bodoh." Bara membawa Luna masuk ke dalam pelukannya. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Untuk beberapa saat, Luna terdiam merasakan kehangatan dari pelukan ayah mertuanya. Namun saat ia menyadari satu hal, Luna menarik diri dan menghapus air matanya sendiri.
"Ini sudah waktunya makan siang. Aku masak dulu," ucap Luna.
"Aku sudah pesan makanan. Kamu istirahat saja. Aku ada sedikit pekerjaan," ucap Bara.
"Iya, Pa."
Luna pergi dari ruangan itu, kembali menyelesaikan pekerjaan rumah yang sebelumnya ia tinggalkan. Bara melihatnya, tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras, amarahnya bagai bom waktu yang siap meledak kapan pun.
Bara mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. "Cari tahu apa yang dilakukan anak sialan itu."
Bara lantas mengakhiri sambungan telepon itu secara sepihak tanpa memberikan kesempatan pada lawan bicaranya untuk sekedar mengucapkan salam. Setelah itu, Bara memilih untuk menyusul Luna.
"Ngapain?" tanya Bara.
Luna menoleh dengan senyuman tipis yang tergambar di bibirnya.
"Cuci piring, Pa," jawab Luna.
"Kamu membersihkan rumah ini sendiri?" tanya Bara.
"Iya, Pa. Rumahnya tidak terlalu besar, jadi ... sayang saja jika harus bayar pembantu. Lagi pula aku juga tidak ngapa-ngapain di rumah."
"Hufff." Bara tidak bertanya lagi, ia mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya dan mengeluarkan sebuah kartu. Setelahnya memberikan kartu itu pada Luna. "Setelah makan pergilah keluar. Beli apa pun yang kamu mau."
Luna terdiam sambil memerhatikan kartu di tangannya. "Amex? Kartu non limit," batinnya.
"Pa, ini ... aku tidak bisa menerimanya."
"Pegang kartunya. Anggap ini hadiah dariku."
"Tapi —"
"Ck." Bara berdecak, tanpa permisi menekan pinggang Luna membuat tubuh mereka berdekatan nyaris tidak ada jarak.
Reflek Luna meletakkan kedua tangannya di depan dada Bara, menahan agar tubuhnya tidak terlalu menempel dengan tubuh ayah mertuanya itu.
"Aku sangat benci penolakan, Luna," ucap Bara pelan nyaris seperti bisikan. Suaranya yang tegas seolah tak memberikan kesempatan bagi Luna untuk membantah.
"Baik, Pa. Aku akan menerimanya."
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man