NovelToon NovelToon
TALI MERAH & TEH TARIK

TALI MERAH & TEH TARIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Jam di dinding kafe sudah menunjuk angka empat lewat lima belas menit, tapi bangku meja nomor tujuh masih kosong. Biasanya suara ketukan sepatu atau sapaan ramah Arjun sudah terdengar dari depan pintu, tapi hari ini suasananya sepi saja. Aku sempat melirik ke arah jalan berkali-kali, heran karena selama ini cowok itu nggak pernah terlambat sedetik pun.

Baru saja aku mau membereskan gelas kosong, suara pintu berbunyi cepat. Arjun masuk sambil mengatur napas, bajunya sedikit berdebu dan keringat mengucur pelan di pelipisnya, tapi senyumnya yang khas itu tetap ada, melebar pas matanya bertemu denganku.

"Maaf ya, telat banget hari ini. Ada urusan yang nggak bisa ditinggal, jadi nggak sempat kabarin," katanya sambil menggaruk kepala, terlihat bersalah banget.

Aku menaruh gelas kembali ke nampan, mendekat sedikit. "Nggak apa-apa kok. Cuma aku jadi penasaran deh, sebenernya kamu ngapain aja seharian? Udah lama kita ngobrol, tapi aku baru sadar kalau aku sama sekali nggak tau kamu kerja apa atau punya usaha apa. Tiap kali ketemu pasti pas lagi santai aja di sini."

Arjun tertawa pelan, matanya berbinar seolah menunggu pertanyaan itu keluar dari mulutku sejak lama. Dia menatapku dengan tatapan bangga yang sering kulihat kalau dia sedang bercerita soal asal-usulnya.

"Kamu nanya juga akhirnya. Kirain bakal disimpan buat tebakan sampai kapan-kapan," jawabnya santai. "Ayo ikut aku sebentar yuk? Tempatku nggak jauh dari sini, cuma jalan kaki lima menit. Sekalian aku mau ambil barang, aku tunjukin tempatku sehari-hari. Biar kamu nggak penasaran lagi aku ngapain aja."

Aku melirik ke arah kasir, bosku lagi asyik ngobrol sama pelanggan lain di sudut ruangan. Kelihatannya aman kalau izin sebentar. Setelah bilang permisi, kami pun berjalan berdua keluar kafe.

Arjun berjalan di sebelahku, langkahnya santai sambil menunjuk deretan ruko di seberang jalan.

"Di keluarga aku, hampir semua laki-lakinya punya usaha sendiri. Kakek dulu pedagang rempah, bapak juga meneruskan itu. Jadi ya... aku ikut jejak mereka aja. Aku punya toko rempah kecil di sana," ceritanya sambil menunjuk sebuah bangunan berwarna oranye lembut di ujung jalan.

"Pedagang rempah? Jadi jual bumbu masak gitu?" tanyaku penasaran, membayangkan toko biasa yang berisi kantong-kantong plastik.

Arjun menggeleng cepat sambil tersenyum. "Bukan cuma bumbu masak biasa lho, Aira. Di toko aku lengkap banget. Ada rempah asli langsung dari ladang, bahan buat wewangian, bunga kering, sampai bahan bikin dupa atau minyak wangi kayak yang aku pakai waktu itu. Bagi kami orang India, rempah itu bukan sekadar bumbu makanan. Itu harta, itu warisan yang dijaga ketat mutunya. Dulu bangsa-bangsa luar negeri aja rela berlayar jauh-jauh demi dapetin barang ini, tau nggak?"

Belum sempat aku jawab, kami sudah sampai di depan toko itu. Papan namanya tertulis Toko Rempah Surya, ditulis dengan huruf yang melengkung indah, ada sedikit ukiran ornamen khas yang bikin tempat itu kelihatan beda dari toko lain di sebelahnya.

Begitu pintu dibuka, aroma hangat langsung menyapa hidungku. Wangi sekali, campuran kayu manis, cengkeh, kunyit, dan aroma bunga yang kental tapi menenangkan. Mataku langsung terbelalak melihat isi tokonya. Di rak-rak kayu yang tersusun rapi, ada toples-toples kaca besar berisi bubuk, biji-bijian, dan daun kering dengan warna-warni yang cerah banget. Merah menyala, kuning terang, hijau tua, oranye lembut. Semuanya tertata apik, bikin mata enggan berkedip.

"Wah... cantik banget Arjun. Warnanya cerah-cerah gini, kayak masuk ke dunia lain rasanya," kataku takjub sambil berputar pelan melihat sekeliling.

Arjun tersenyum puas melihat reaksiku. Dia berjalan masuk ke dalam, lalu mengambil sejumput bubuk merah menyala dari salah satu toples, menunjukkannya ke arahku.

"Kamu lihat nggak? Di budaya kami, warna itu nggak cuma buat hiasan. Semuanya punya arti. Ini namanya bubuk Kumkum, warnanya merah pekat gini. Merah itu simbol kekuatan, keberanian, dan cinta yang besar. Biasanya dipakai buat hiasan di dahi atau di benda ibadah, biar hati selalu kuat dan berani. Terus yang kuning cerah ini, bubuk kunyit. Warnanya terang banget kan? Artinya kebahagiaan, kemakmuran, dan kesucian. Kalau ada perayaan atau pesta di India, rumah pasti dihias sama warna-warni kayak gini. Biar suasananya ceria, biar hidupnya juga berwarna, nggak kelabu aja."

Dia menaruh kembali bubuk itu, lalu mengambil sehelai kain sutra yang tergantung di sudut ruangan. Kain itu bermotif bunga-bunga, berpadu warna emas dan merah yang mewah tapi tetap lembut.

"Kakek aku dulu selalu bilang, 'Arjun, apa pun yang kamu kerjakan, ingat dua hal: jujur dan kualitas. Rempah yang bagus bakal dicari orang terus, sama kayak sifat manusia. Kalau hatinya baik dan tulus, bakal dicari dan dihargai orang selamanya'," ucapnya sambil melipat kain itu pelan-pelan, seolah sedang memegang benda paling berharga.

Dia menatapku yang masih sibuk mengamati isi toko.

"Jadi ya, sehari-hari aku di sini. Ngatur barang, beli langsung ke petani biar asli, ngecek kualitasnya satu-satu. Kadang capek sih, apalagi kalau lagi banyak pesanan dari luar kota. Tapi rasanya puas banget. Rasanya kayak aku lagi menjaga warisan kakek dan bapak. Di sini aku belajar banyak hal, Aira. Belajar sabar, belajar teliti, dan belajar menghargai apa yang kita punya, sebesar atau sekecil apa pun itu."

Aku mengangguk pelan, mulai ngerti kenapa Arjun selalu punya pandangan yang dalam dan cara bicara yang tenang. Ternyata bukan cuma dari cerita, tapi dari kesehariannya merawat barang-barang berharga ini dia belajar jadi orang yang hati-hati dan menghargai sesuatu.

"Pantas saja kamu beda ya... ternyata emang dibesarkan di lingkungan yang penuh makna gini," kataku jujur.

Arjun tersenyum malu-malu, mengusap pelan permukaan rak kayu di sebelahnya.

"Semua orang punya cerita masing-masing kan? Cuma ceritaku kebetulan banyak hubungannya sama budaya dan kebiasaan orang India aja. Dan... aku senang banget bisa cerita ini semua ke kamu. Rasanya ada bangga tersendiri kalau kamu mau dengerin dan ngerti sedikit-sedikit tentang aku dan asal-usulku."

Dia melirik jam di dinding, lalu berjalan ke arah pintu.

"Yaudah, ayo kita balik lagi. Nanti kamu dimarahin bosmu lho hilang lama banget. Tapi ingat ya, ini tempat rahasia aku. Kalau kamu kangen atau mau cari aku pas nggak ada di meja tujuh, ya cari aja di sini. Pasti ada."

Aku tertawa sambil mengangguk setuju. Keluar dari toko itu, langkahku terasa lebih ringan. Ternyata Arjun bukan cuma cowok yang suka minum teh tarik dan bercerita indah, dia punya dunianya sendiri yang berwarna, beraroma, dan penuh tanggung jawab.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!