NovelToon NovelToon
Menjalani Cinta Terlarang

Menjalani Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MCT 29

" Ibu beneran mau balik hari ini?" Antika bergelayut manja di lengan Ibu mertuanya.

"Iya sayang. Ibu harus kembali. Ibu juga sudah kangen ingin ke makam bapak."

"Aku pasti kesepian kalau Ibu udah nggak di sini." Raut sedih tergambar jelas di wajah Antika saat ini.

"Sayang, kan , ada Pak Maus dan Bi Minah yang akan menemanimu. Juga ada Pak Slamet yang selalu jaga di pos depan."

"Ya, itu kan beda, Bu. Nggak bakalan sama seperti ibu."

"Ya kalau sama berarti itu memang ibu kan?'" Indira mencoba mengajak Antika bercanda meski terasa garing.

"Ibuuuuuu." tingkah manja Antika membuat Indira tertawa. Hatinya lega gini Antika bisa kembali manja dan ceria seperti dulu.

"Lagipula kalau ibu terus-terusan di sini nanti Ibu akan mengganggu kalian. Kalian tidak akan bisa leluasa bermesra-mesraannya kan."

Indira bermaksud menggoda Antika agar dia semakin manja dan tertawa, tetapi justru gadis itu menjadi salah tingkah. Indira memahami gelagat itu. Jadi mereka sudah benar-benar membuka diri. Dalam hati Indira merasa sangat bahagia.

"Ehem, ehem!" Deheman Aldri membuat kedua makhluk cantik ciptaan Illahi itu pun menoleh kepadanya. "Meskipun Ibu di sini kami juga tetap bisa bermesraan."

"Al!"

"Darling."

Ibu mertua dan menantu kompak memekik karena malu mendengar pernyataan Aldri. Pria itu pun tak sanggup menahan tawa melihat ekspresi kedua insan istimewa baginya.

"Iiih Darling ini apa-apaan sih?"

"Hahaha kenapa malu, Sayang? Kita kan sudah menikah wajar kalau bermesraan."

"Ya nggak gitu juga. Nggak enak masak ngomong gitu sama ibu. Tetap aja aku malu."

"Sudah, sudah. Terserah kalian saja. Ibu ikut senang kalau kalian juga senang. Itu yang terpenting." Indira menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah anak dan menantunya.

"Terima kasih, Bu. Kami mohon doa ibu. Sejujurnya saya pun masih belum puas ditemani di Jakarta. Tapi, Saya tidak akan menahan ibu. Apapun keinginan Ibu saya pasti akan mendukung sepenuhnya."

"Terima kasih, Nak." Indira memandang wajah putranya dengan rasa haru.

" Saya yang seharusnya berterima kasih, Bu." Indira berkaca-kaca lalu mengangguk.

" Sudah siap semuanya, Bu?"

"Iya, Al sepertinya sudah semua."

" Maafkan ibu harus merepotkan Pak Maus. Tapi, Ibu benar-benar tidak berani naik pesawat, Al. Takut jatuh. Haduh ngeri." Indira bergidik membayangkan kecelakaan yang sering dialami maskapai penerbangan.

"Tidak apa-apa, Bu. Lagi pula sampai di sana nanti Pak Maus bisa libur sehari baru kembali ke Jakarta. Saya paham, Bu. Kalau Ibu tidak berani ya tidak usah dipaksakan. Toh masih banyak alat transportasi yang bisa digunakan." Aldri tersenyum.

Indira mendekati sang putra dan memeluknya erat.

"Hati-hati di jalan, Bu. Jangan lupa kabari kami segera saat sampai di sana."

"Iya, Nak. Pasti itu. Jaga diri kalian baik-baik. Jangan memendam sendiri apapun yang mengganjal di hati lekas dikomunikasikan. Kalian sudah cukup dewasa untuk memahami itu."

" Kami mengerti, Bu."

Kini giliran Antika yang mendapatkan pelukan Indira. "Jaga diri baik-baik, ya sayang. Kalau ada apa-apa jangan takut hubungi ibu, ya. Semoga Tika selalu sehat dan bahagia."

"Aamiin. Iya, Bu. Ibu juga jaga kesehatan. Aku sayang banget sama ibu." mata Antika mulai berkaca-kaca.

"Ibu juga sayang sekali sama Antika. Antika adalah anugerah terindah dalam kehidupan kami." Indira mengusap air mata yang menetes juga di pipi Antika.

"Baiklah, ayo kita berangkat Pak Maus."

"Inggih, siap, Bu. Monggo." Pak Maus membuka pintu mobil agar Indira bisa memasukinya.

" Ibu berangkat ya, Nak. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumsalam." Antika dan Aldri melambaikan tangan. Keduanya menyaksikan mobil yang mulai menjauh.

"Huft. Sepi, deh." Antika Magelang nafas dan menunjukkan wajah sedihnya.

Aldri yang melihatnya seperti itu tersenyum dan spontan memeluk Antika dari belakang. Gadis itupun terkejut.

"Darling! Ih, bikin kaget aja."

"Kamu cantik kalau seperti itu."

"Seperti apa?"

"Ngomel, ngambek, manyun."

"Iihh, Darling udah, ah, sebel."

Antika hendak melepaskan diri, tetapi Aldri justru menggendongnya ala bridal. Bola mata Antika membulat sempurna. Ia hanya mampu memandang kedua mata suaminya tanpa mampu berucap sepatah kata pun.

Degh!

Duh Gusti mau apa darling gendong aku? apa dia mau.... Ah, nggak nggak nggak nggak mungkin kan? Ini masih pagi. Tapi kan, nggak apa-apa juga pagi. Aduuuuuh, Tika kenapa otakmu jadi mesum seperti ini.

Di saat pikiran Antika bermonolog tanpa ia sadari Aldri sudah membawanya ke kamar. Aldri menidurkan Antika perlahan. Kedua mata mereka kini bertemu. Tatapan Aldri tak dapat diartikan hanya detak kedua jantung mereka yang kini berdentum tanpa jeda.

"Dar- Darling." suara Antika terdengar lebih mirip desahan di telinga Aldri bukannya sebuah bisikan.

" Tika." Suara Aldri tampak berat dan serak.

"Hem."

"Boleh kah aku.... menyentuhmu?"

Aaarrghhh! Darling kenapa tanya gitu? Tapi, tapi aku belum siap-siap. Aduh gimana ini? Kalau nolak apa dia bakalan marah? Kalau nggak nolak nanti dia kecewa nggak? Aku merasa belum layak. Bahkan aku masih bau dapur.

Aldri melihat tak ada respon dari Antika. Hatinya sedikit kecewa. Ya, tapi memang salahnya terlalu terburu-buru. Aldri sama sekali tak bisa mengontrol keinginannya saat hanya berdua saja dengan Antika. Ia mencoba legowo dan mulai berdiri. Namun, iya sangat terkejut ketika kedua tangan Antika meraih lehernya untuk mendekati wajah Antika.

"Tika."

Tanpa berpikir panjang, Antika mendekatkan kedua wajah mereka. Ia memejamkan mata lalu mengecup lembut bibir Aldri. Sikap nya merupakan jawaban jelas atas pertanyaan Aldri.

Aldri pun memiliki keberanian untuk melakukan lebih. Dari kecupan lembut hingga keciuman yang lebih dalam lebih intens membuat keduanya mendesak. Aldri mulai mengecup perlahan telinga Antika lalu menuju ke lehernya yang harum.

Antika makin mendesah lirih kedua tangannya berpindah ke lengan kekar Aldri. Tangan itu meremas kedua lengan Aldri dengan kuat menyalurkan hasrat yang seakan meledak dalam diri Antika. Gadis itu memejamkan mata menikmati sensasi yang menjalani tubuhnya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Tangan Aldri dengan gemetar mencoba membuka kancing pertama baju Antika. Sinar mentari pagi yang masuk melalui jendela menampakan kulit Antika yang begitu halus dan putih. Aldri tak dapat menahan diri lagi. Ia membuka kancing kedua dan ketiga. Kedua matanya terpaku menatap keindahan ciptaan Tuhan yang hanya dimiliki kaum hawa. Aldri mengecup kedua tulang selangka Antika membuat gadis itu menggigit lembut bibir bawahnya. Aldri turun ke bawah mengecup pertengahan antara kedua buah dada Antika membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya lebih keras.

Aldri mulai membuka semua kancing baju Antika hingga paling bawah. Ia menyibak perlahan baju tersebut. Antika yang merasa malu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aldri tersenyum melihat reaksi Antika hingga membuatnya tak sabar. Ia kemudian mengecup kedua punggung tangan Antika dan perlahan gadis itu melepas kedua tangannya.

Mereka saling memandang dan kembali ke aktivitas awal. Bibir keduanya bersatu kembali memunculkan sensasi yang lebih dari sebelumnya. Kini keduanya saling membalas ciuman panas itu. Ketika tangan Aldi berusaha melepas bra Antika di punggung gadis itu terdengar suara ketukan di pintu kamar.

1
Ar-Rasyid Fikri
semangat berkarya Thor 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!