Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Ketukan di Pintu Bambu
Malam itu, kabut turun sangat tebal di lereng Leuweung Larangan. Angin gunung berembun membawa bau tanah basah bercampur aroma anyir pandan yang menyengat hidung Dawala. Pemuda berhidung panjang itu melangkah terburu-buru, giginya gemeletuk karena hawa dingin yang menusuk tulang.
"Pot, kéla Pot! Perasaan kuring mah teu genah ini teh," bisik Dawala, menarik ujung kain sarung Si Cepot yang berjalan santai di depannya.
Si Cepot menghentikan langkahnya. Tubuhnya yang kekar dengan wajah merah khasnya berbalik. Ia menyeringai, mencoba mengusir rasa keueung (merinding/takut) yang mulai merayap di tengkuknya sendiri.
"Maneh mah, Wala, badan saja yang jangkung tapi nyali leutik teuing! Sudah dekat kampung ini teh. Tuh, lihat gapura bambunya," sahut Cepot sambil menunjuk ke depan menggunakan tangkai pipa rokoknya.
Namun, Kampung Pasir Batang malam itu sunyi senyap seperti kuburan. Tidak ada satu pun lampu cempor yang menyala di teras rumah panggung warga. Daun-daun jati kering bergesekkan ditiup angin, terdengar seperti bisikan orang mati.
Saat mereka melewati pohon beringin kembar di gerbang kampung, Dawala tiba-tiba mematung. Matanya menangkap sekelebat kain putih kusam melambai-lambai di dahan atas. Kain itu bergerak bukan karena angin, tapi karena ada sesuatu yang sedang berayun dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah.
“Hi-hi-hi-hi…” Suara tawa melengking, lirih namun sukses membuat bulu kuduk merinding, terdengar dari kegelapan pohon."Pot... i-itu naon, Pot?!" Dawala gagap, jarinya gemetar menunjuk ke atas beringin.
Cepot menengadah. Senyum banyolnya langsung lenyap. Di atas sana, sebongkah kepala wanita tanpa tubuh, dengan bagian dalam perut yang menjuntai gelantungan sambil meneteskan darah segar, sedang menatap mereka. Matanya merah menyala. Itu adalah penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal."Lumpat, Wala! Tong rarat-reret deui!" teriak Cepot.
Mereka berdua lari tibuburanjat menuju rumah panggung terdekat, menggedor pintu bambu dengan panik. Di belakang mereka, suara tawa melengking itu semakin mendekat, diiringi bau busuk bangkai yang menyengat.
"Burukeun, Wala! Bantu gedor pantonya!" teriak Cepot. Napasnya sudah memburu hancur-hancuran.
Dawala memukul-mukul pintu bambu itu dengan sikutnya. Di belakang mereka, suara kepakan lambung dan usus mahluk Teluh itu terdengar makin dekat. Bau amis darah makin pekat. Angin malam mendadak berputar kencang, menerbangkan daun-daun kering di halaman rumah panggung tersebut.
Hi-hi-hi-hi...Mahluk itu sudah melayang tepat di atas kepala mereka. Lidahnya yang panjang menjulur ke bawah, meneteskan liur berlendir yang berbau busuk."
Aduh, kumaha ini Pot?! Nyawa urang berdua bisa tamat di sini!" jerit Dawala pasrah.
Klek!
Pintu bambu tiba-tiba terbuka sedikit. Sebuah tangan yang kurus kering dan keriput mendadak menjulur keluar. Tangan itu mencengkeram baju Cepot dan Dawala, lalu menarik mereka berdua masuk ke dalam rumah dengan kekuatan yang luar biasa besar.Brak!
Pintu langsung ditutup kembali dan dipalang menggunakan balok kayu tebal.
Dug! Dug! Dug!
Sesuatu menabrak pintu dari luar dengan keras. Suara garukan kuku tajam terdengar mencakar-cakar dinding bambu luar rumah. Sreeet... sreeet... Suasana di dalam rumah mendadak mencekam."
Jangan berisik. Ulah gandeng," bisik sebuah suara parau dari kegelapan.
Cepot dan Dawala menahan napas. Di dalam rumah panggung itu sangat gelap. Hanya ada cahaya remang-remang dari sebuah cawan tanah liat berisi minyak kelapa dan sumbu kecil di pojok ruangan. Bau kemenyan bakar menusuk hidung mereka.
Saat mata mereka mulai terbiasa dengan kegelapan, mereka melihat sesosok orang tua berpakaian serba hitam sedang duduk bersila. Wajahnya dipenuhi kerutan, jalurnya cekung, dan matanya buta sebelah. Di depannya, berjejer beberapa buah golek (boneka kayu) berwarna kuning langsat yang tidak memiliki wajah."
A-Aki siapa?" tanya Cepot berbisik, berusaha sopan meski lututnya masih ngadegdeg (gemetar).
Orang tua itu mendongak. Mata butanya yang berwarna putih seolah menatap langsung ke arah Cepot."Panggil saja Aki Sasmita," jawabnya lirih. "Kalian beruntung bisa selamat dari Teluh malam ini. Tapi ingat, mahluk itu tidak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang dia cari."
Aki Sasmita kemudian mengambil salah satu golek kuning tak berwajah itu. Menggunakan sebilah pisau kecil, sang Aki mulai mengukir wajah pada boneka kayu tersebut. Anehnya, setiap kali pisau itu menggores kayu, terdengar suara rintihan samar dari luar rumah.