NovelToon NovelToon
ISTRI PENGGANTI

ISTRI PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Binar jingga08

ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Matahari baru saja naik setinggi galah, menyinari pagar besi tempa berukir rumit yang mengelilingi kediaman keluarga Yhosep. Rumah itu tampak seperti istana dongeng dari luar—dinding berwarna krem yang selalu bersih, taman luas penuh bunga mawar impor, dan kolam air mancur yang percikannya terdengar merdu di telinga siapa pun yang lewat. Namun bagi Adelia, yang sudah dua puluh satu tahun menghabiskan hidupnya di dalamnya, bangunan megah ini bukanlah tempat berlindung dan berbagi kasih sayang. Ini hanyalah sangkar berlapis emas, tempat ia dipaksa hidup dalam bayang-bayang sejak ia masih kecil.

Ia berdiri di depan cermin kecil di sudut kamarnya. Ruangan ini terletak di bagian paling ujung lantai atas, dulunya adalah ruang penyimpanan barang bekas sebelum diubah menjadi tempat tidurnya. Langit-langitnya agak miring, jendelanya kecil dan menghadap ke tembok tetangga, sehingga cahaya matahari jarang sekali bisa masuk dengan leluasa. Satu-satunya perabot besar di sini adalah lemari kayu tua yang pintunya sudah agak berdecit jika dibuka. Semua baju yang tersusun di dalamnya bukanlah pilihannya, dan tentu saja bukan dibeli khusus untuknya. Itu semua adalah sisa pakaian Adelin yang sudah dianggap tak lagi layak dipakai oleh kakaknya yang gemar berganti penampilan setiap musim.

Adelia menyentuh lengan kemeja katun yang ia pakai sekarang. Jahitan di bagian mansetnya sudah mulai renggang, dan ada sedikit noda samar yang tak hilang meski sudah dicuci berkali-kali. Tapi ia tak pernah mengeluh. Ia sudah terbiasa. Selama kain itu masih bisa menutupi tubuhnya, ia sudah cukup bersyukur.

Di atas meja belajar yang permukaannya penuh goresan—bekas milik Adelin dulu sebelum diganti dengan meja kerja marmer yang lebih mewah—terpajang beberapa lembar kertas yang dilipat rapi. Satu di antaranya adalah transkrip nilai kuliahnya yang nyaris sempurna, dengan predikat lulus terbaik di jurusan Teknik Informatika. Yang lain lagi adalah surat penerimaan program magister di universitas ternama dengan beasiswa penuh, yang baru saja ia terima kemarin sore. Jantungnya berdegup kencang setiap kali menatap tulisan itu. Selama bertahun-tahun ia belajar diam-diam, memanfaatkan waktu saat seluruh penghuni rumah sedang tidur atau pergi ke acara sosial, karena di rumah ini ia tak pernah dianggap penting. Kecerdasannya, prestasinya, impiannya—semuanya seolah tak terlihat oleh orang tuanya. Hanya ada satu nama yang selalu dipuji, satu nama yang selalu dibanggakan, dan satu nama yang seolah menjadi satu-satunya kebanggaan keluarga Yhosep: Adelin Yhosep.

Tiba-tiba suara ketukan keras terdengar di pintu, disusul suara ibunya yang melengking dari luar, membuat Adelia tersentak dan segera menyembunyikan surat-surat berharganya ke dalam laci paling bawah.

"Adelia! Kamu masih melamun di dalam sana? Cepat turun! Kakakmu butuh bantuanmu!"

Dada Adelia terasa sesak seketika. Ia meraih inhaler asma yang selalu ia taruh di saku baju, menekannya sekali perlahan untuk menenangkan napasnya yang mulai memburu. Ia tahu, begitu suara ibunya terdengar setajam itu, ia tak boleh terlambat sedetik pun. Ia segera berjalan membuka pintu, lalu melangkah cepat menuruni tangga menuju lantai dasar.

Ruang tamu utama sudah berubah menjadi ruang persiapan yang sibuk. Dua penata rias, tiga penjahit, dan asisten pribadi Adelin bergerak lincah mengelilingi kakaknya yang sedang duduk tenang di depan cermin besar setinggi dinding. Adelin tampak memesonakan dengan gaun sutra berwarna merah marun yang menyempurnakan kulitnya yang putih bersih. Wajahnya memang sangat mirip dengan Adelia—banyak orang bahkan sering mengira mereka saudara kembar jika melihat sekilas—tapi kesan yang terpancar dari wajah mereka sungguh berbeda. Adelin memancarkan aura percaya diri berlebihan, bahkan sedikit sombong, dengan dagu yang selalu diangkat tinggi. Sedangkan Adelia selalu menundukkan pandangannya, takut tatapannya menyinggung siapa pun.

"Kamu datang juga," ujar Belinda dengan nada datar, tanpa menoleh sepenuhnya ke arah anak keduanya. "Ambil gaun yang ada di atas kursi itu, bawa ke ruang ganti, lalu siapkan sepatu berhak tinggi nomor tiga puluh delapan. Hati-hati ya, itu koleksi khusus dari desainer Paris. Kalau sampai ada yang kusut atau lecet, kamu tahu sendiri konsekuensinya."

Adelia mengangguk patuh. "Baik, Bu."

Ia berjalan mendekat untuk mengambil gaun itu, namun baru saja tangannya menyentuh kain yang lembut dan mahal itu, tiba-tiba Adelin menepisnya dengan kasar.

"Pelan-pelan saja bodoh!" bentak Adelin tajam, matanya menatap tajam pantulan Adelia di cermin. "Jangan pakai kuku kotormu itu merusak kain ini. Kamu pikir sembarangan orang boleh menyentuh barang-barangku?"

"Maaf, Kak..." cicit Adelia, menarik tangannya kembali seolah tersengat listrik. Hatinya perih, tapi ia menahan agar air matanya tak jatuh. Ia sudah mendengar kalimat serupa ribuan kali.

Belinda hanya menghela napas pelan, seolah kelakuan Adelin itu hal yang wajar. "Sudah, sudah. Adelin benar, kamu harus lebih berhati-hati. Cepat bawa saja sekarang, nanti wartawan sudah datang."

Baru saja Adelia hendak berbalik, suara ketukan pintu depan terdengar. Pelayan membukakan pintu, dan beberapa orang masuk dengan membawa kamera profesional serta alat perekam. Itu adalah tim media yang diundang khusus untuk meliput persiapan sesi foto Adelin untuk majalah mode terkemuka sekaligus menyebarkan berita pertunangannya yang sebentar lagi akan digelar.

Wajah Belinda langsung berubah total. Senyum manis terukir sempurna di bibirnya saat ia menyambut para tamu itu, seolah ia lupa bahwa beberapa saat lalu ia baru saja memarahi anaknya sendiri.

"Selamat datang, silakan masuk. Maaf ya sedikit berantakan karena kami sedang bersiap-siap," ujarnya ramah.

Adelia tertegun sejenak di tempatnya berdiri, masih memegang ujung gaun itu. Saat ia hendak melangkah pergi, mata ibunya menangkap gerakannya. Wajah Belinda langsung mengeras. Ia berjalan mendekat dengan langkah cepat, lalu berbisik dengan nada dingin yang menusuk tulang:

"Kamu langsung ke kamar sekarang. Jangan muncul di mana pun selama ada tamu di sini. Jangan sampai ada kamera menangkap wajahmu. Ingat ya, Adelin adalah satu-satunya putri kami yang dikenal publik. Kami tidak punya anak lain. Kalau kamu terlihat, kamu akan membuat kami malu seumur hidup."

Kata-kata itu seperti palu godam yang menghantam dada Adelia berkali-kali. Ia menelan ludah dengan susah payah, menatap manik mata ibunya yang tak menyisakan sedikit pun kasih sayang. "Ibu... apakah aku benar-benar tidak berhak ada di sini?" tanyanya lirih, hampir tak terdengar.

Belinda mendengus sinis. "Berhak? Kamu ada di sini saja sudah cukup. Jangan menuntut lebih. Sekarang pergi!"

Adelia berbalik perlahan, berniat kembali naik ke lantai atas, tapi pertanyaan salah satu wartawan membuat langkah kakinya terhenti di tengah tangga.

"Maaf Bu Yhosep, banyak netizen yang penasaran. Beberapa orang pernah melihat sosok yang sangat mirip dengan Nona Adelin di sekitar rumah ini. Apakah benar Anda memiliki anak lain selain Adelin?"

Suasana sejenak hening. Adelia menahan napas, berharap—meski tahu harapan itu sia-sia—bahwa ibunya akan berkata jujur. Tapi harapan itu hancur seketika saat mendengar jawaban ibunya yang tenang dan pasti.

"Ah, itu pasti hanya kesalahpahaman. Saya dan suami hanya memiliki satu putri tercinta, yaitu Adelin. Tidak ada yang lain."

Tak lama kemudian, suara Adelin terdengar renyah dan penuh keyakinan, seolah tak ada beban sama sekali di hatinya. "Benar sekali. Saya anak tunggal. Kedua orang tua saya sangat mendukung karir saya, dan saya pun sangat beruntung bisa memiliki mereka sepenuhnya."

Seketika itu juga, dunia Adelia terasa gelap gulita. Ia memeluk erat gaun di pelukannya, merasakan matanya mulai memanas. Ia terus berjalan naik ke atas, langkahnya berat seolah diikat batu besar. Di belakangnya, ia masih bisa mendengar pujian demi pujian yang dilontarkan kepada kakaknya, pujian yang seharusnya tak hanya milik Adelin jika saja dunia mau melihatnya sedikit saja.

Sesampainya di kamar kecilnya, Adelia menutup pintu rapat-rapat dan bersandar di belakangnya. Ia membiarkan air matanya jatuh tanpa suara, menekan bibirnya agar tak ada isakan yang lolos. Ia tahu betul posisinya di rumah ini: ia adalah rahasia yang harus disembunyikan, noda yang harus dihapus dari sejarah keluarga Yhosep.

Dulu, saat ia masih kecil, ia sering bertanya-tanya pada dirinya sendiri: apa salahnya? Mengapa wajahnya yang mirip dengan kakaknya justru menjadi alasan untuk dikucilkan? Mengapa kecerdasannya dianggap sebagai ancaman, bukan kebanggaan? Mengapa setiap kali ia berusaha menunjukkan prestasi, ia malah dimarahi karena "mencoba menyaingi Adelin"?

Dulu ia pernah berpikir mungkin suatu hari orang tuanya akan berubah. Mungkin suatu hari mereka akan melihatnya, mengenali namanya, dan memanggilnya "Adelia" dengan nada sayang. Tapi semakin ia tumbuh dewasa, semakin ia sadar bahwa harapan itu hanyalah mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan.

Ia berjalan menuju jendela kecil, menatap ke arah taman yang indah di bawah sana. Dari kejauhan ia bisa melihat ayahnya, Adam Yhosep, baru pulang dari kantor dan langsung memeluk Adelin dengan bangga. Ayahnya yang dingin dan tak pernah menatapnya lebih dari tiga detik, tampak begitu lembut saat bersama kakaknya.

"Apakah aku harus menghilang saja agar semuanya tenang?" bisiknya pelan pada dirinya sendiri.

Namun kemudian ia teringat pada dua orang yang selalu ada untuknya, yang tak pernah memandangnya sebagai bayangan siapa pun: Julian dan Tama. Sahabat yang sejak kecil selalu melindunginya, yang tahu betul betapa kejamnya perlakuan keluarga Yhosep padanya, dan yang selalu mengingatkannya bahwa ia berharga. Ia juga teringat surat beasiswa itu di laci mejanya. Masih ada masa depan yang bisa ia kejar, meski harus ia jalani sendirian.

Adelia menghapus air matanya dengan punggung tangan, menarik napas panjang, lalu mengeluarkan inhaler sekali lagi. Ia harus kuat. Ia harus bertahan di sini sedikit lebih lama, sampai waktunya tiba untuk pergi dan menjadi dirinya sendiri—menjadi Adelia Yhosep yang sebenarnya, tanpa harus menyembunyikan wajah dan namanya lagi.

Di rumah yang sama, di bawah langit yang sama, dua orang dengan wajah serupa memulai hari mereka dengan nasib yang tak bisa berbeda lebih jauh. Satu dikelilingi cahaya dan pujian, sementara yang lain terpaksa menyusup ke dalam kegelapan, menunggu waktu yang tak diketahui kapan akan datang.

1
Tere Rere
watak Adelin menurun dari kedua orang tuanya yg otaknya cuman separuh 😡
Tere Rere
bersyukur masih ada Tama dan Julian di saat Adelia terpuruk🥹
Tere Rere
GYANTARA bangke😡
Tere Rere
Adelin jahat banget😡😭
Tere Rere
Adelin sialan😡
Tere Rere
ao ao😍🤭
Binar Jingga
Huhuhu 🥹
Tere Rere
yg pengen nangis cuslah baca ISTRI PENGGANTI karya Binar jingga. nyesek banget jadi Adelia🥹
Binar Jingga: Wah terimakasih kak atas supportnya🥹🤗
total 1 replies
Tere Rere
Adelia🥹
Hasbia n Hasbia nn
pusing bcanya😮‍💨
Binar Jingga: Pusing kenapa kak?🙏🏻
total 1 replies
Tere Rere
ada orang tua yang sangat jahat seperti si Belinda dan YHOSEP ini/Sleep/
Binar Jingga: Huhuhu jahat yah…. Semoga ini terjadi cuman d dalam novel saajaa
total 1 replies
tia
jangan banyak omong suami durhaka 😁
Binar Jingga: Mohon bersabar😂🤣🤣🤣
total 1 replies
tia
jgn mao kembali dulu Adelia ,,,biarkan di hukum penyelan 😁
tia
kapok suami durhaka 😁
tia
keluar gila banget
tia: siap thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!