Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Baskara Group 07.30 PM.
Bagi Kirana Larasati pagi hari itu adalah waktu yang sangat sakral. Saat sudah jam segini ruang kerjanya harus sewangi aromaterapi lavender, batre tablet lipatnya harus sudah terisi penuh, serta kopi hitam tanpa gula kesukaan bosnya harus sudah ada di atas meja utama dengan suhu pas, 80 derajat Celsius.
Kirana berdiri tegak di depan meja utama yang berukuran besar berbahan kayu jati mahal. Dia merapikan letak kacamatanya yang sedikit merosot lalu memastikan penampilannya sudah sempurna sebelum melihat ke arah jam tangan digitalnya.
Jam itu menunjukkan pukul 07.55 pagi, tepat lima menit lagi sebelum masuk jam kerja. Detik berikutnya keheningan di lantai teratas gedung Baskara Group hancur berkeping-keping.
Wuuussssshh!
"AWAS, KIRAANAAA! REMNYA BLOONG! JANGAN DI SITU, MINGGIIIIRRR!"
Terdengar sebuah teriakan melengking dan bergema dari arah koridor. Belum sempat Kirana berkedip atau menggeser kakinya, pintu ganda ruangan CEO yang terbuat dari kayu mahoni mahal telah dibuka paksa. Sebuah kursi roda kantor berbahan impor seharga puluhan juta membelah ruangan, dan baru berhenti setelah menabrak pinggiran sofa dengan suara yang sangat keras.
BRUK...
Di atas kursi roda itu, duduklah Raditya Baskara yang merupakan CEO Baskara Group, pewaris tunggal tahta tertinggi di perusahaan raksasa itu. Dia sudah berusia 28 tahun tapi jiwanya seperti tertinggal di taman kanak-kanak.
Radit mengenakan kemeja putih mahal rancangan desainer ternama, namun kancing atasnya sengaja di biarkan terbuka. Dasinya yang bermotif ayam jago melingkar miring di lehernya. Dan yang paling parah, di tangan kanannya ada sebuah mainan ayam karet berwarna kuning dengan paruh merah menganga.
"Hahaha! Rekor baru, Ra! Gila, dari meja lift sampai kesini cuma butuh waktu dua belas detik!" ucap Radit bangga dengan napasnya yang sedikit terengah-engah. Lalu dia mengangkat ayam karetnya ke udara seperti seorang atlet yang baru saja memenangkan medali emas.
Kweeekk!!
Bunyi mainan yang di pegang oleh Radit.
Kirana sama sekali tidak bergeming, tubuhnya tidak bergeser satu senti pun dari posisi semula. Wajahnya tetap data sedatar tripleks yang baru keluar dari mesin cetak, dan tidak ada ekspresi panik sedikit pun. Dia hanya mengalihkan pandangan matanya dari jam tangan langsung ke arah bosnya yang masih terduduk di atas kursi roda dekat sofa.
Dengan langkah yang sangat anggun, tenang, dan terukur, Kirana berjalan mendekati Radit. Ia menyodorkan tablet lipatnya dengan gerakan profesional yang kaku.
"Selamat pagi, Pak Raditya" ucap Kirana dengan nada suara yang begitu monoton, datar, dan stabil, mirip seperti suara robot asisten virtual yang ada di ponsel.
"Laporan keuangan kuartal kedua untuk divisi retail sudah saya unggah ke dalam sistem internal. Dan saya mohon izin untuk mengingatkan Bapak kalau kursi kerja seharga puluhan juta yang Bapak kendarai itu baru saja diganti minggu lalu karena roda yang sebelumnya patah akibat aktivitas yang sama" lanjutnya.
Radit mendongak, menatap sekretaris pribadinya yang selalu tampak seperti patung berjalan, lalu dia menghela napas panjang yang sangat dramatis, dia menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi sambil memandangi langit-langit ruangan.
"Kirana oh Kirana... hidupmu itu terlalu kaku, heran saya. Kadang-kadang saya mikir, kamu ini sebenarnya manusia atau manekin di toko baju?" ucap Radit sambil memutar kursi roda menghadap Kirana. Dia mendekatkan mainan ayam karet tadi tepat di depan wajah Kirana, lalu memencetnya lagi.
Kweeeek!
"Senyum sedikit kenapa, sih? Minimal otot di wajahmu itu bergerak biar nggak karatan. Saya ini baru saja mencetak rekor baru di koridor kantor, lho. Kamu nggak mau memberikan ucapan selamat ke saya?" ucap Radit.
"Saya digaji oleh perusahaan untuk memastikan seluruh urusan administrasi, dan jadwal harian Bapak berjalan dengan lancar. Bukan untuk menjadi suporter balap kursi yang sering Bapak lakukan" jawab Kirana tanpa berkedip sedikit pun. Jarinya dengan lincah menggeser layar tablet, mengganti dokumen yang ditampilkan. "Pukul sembilan nanti, Bapak ada rapat koordinasi penting dengan para investor utama dari Korea Selatan mengenai proyek joint venture. Saya sangat menyarankan Bapak untuk merapikan kancing kemeja dan dasi bermotif. Unik. Milik Bapak sekarang juga" lanjutnya.
Radit menunduk melihat dasinya sendiri, lalu terkekeh tanpa rasa bersalah.
"Kamu bilang dasi ini unik? Aduh, Ra, ini namanya fashion! Biar para investor dari Seoul itu tahu kalau CEO Baskara Group adalah seseorang yang memiliki pribadi hangat, ramah lingkungan, dan sangat mencintai satwa apalagi yang berjenis unggas. Siapa tahu mereka mau investasi peternakan ayam setelah ini?" ucap Radit dengan percaya dirinya.
Radit berdiri dari kursi roda, berjalan menuju meja kerjanya yang luas sambil bersiul santai. Namun, saat langkahnya melewati Kirana, sifat usilnya mendadak kambuh, dengan gerakan secepat kilat, Radit meletakkan mainan ayam karet tadi ke atas tumpukan dokumen yang sudah ditata rapi oleh Kirana.
"Itu hadiah pagi dari saya untuk kamu. Biar kalau kamu sudah mulai bosan melihat angka-angka triliunan yang bikin pusing itu, kamu bisa memainkannya. Anggap saja sebagai terapi pelepas stres" ujar Radit sambil mengedipkan sebelah matanya dengan senyum jahil namun sangat manis hingga dapat di pastikan bisa melelehkan hati para model papan atas, tapi yang jelas untuk Kirana.
Kirana menurunkan pandangannya melihat ayam karet yang kontras berada di atas map dokumen penting itu selama tiga detik, lalu kembali menatap mata Radit dengan sorot mata sedingin es di Antartika.
"Terima kasih atas perhatian Anda, Pak. Namun batin saya masih cukup sehat, dan saya sama sekali tidak membutuhkan benda bersuara ayam itu untuk menyelesaikan laporan audit saya" ucap Kirana.
"Ah, kamu benar-benar nggak asyik! Kaku seperti kanebo kering!" Radit mengerucutkan bibirnya pura-pura merajuk.
Radit kemudian duduk di kursi kebesarannya yang berada di balik meja berlapis kayu jati, lalu meraih cangkir berisi kopi hitam yang sudah disiapkan Kirana sejak tadi. Ia menyeruput perlahan untuk menikmati kehangatannya.
"Hmm, tapi harus saya akui, kopimu memang paling juara di dunia ini, Ra. Dingin, pekat, dan pahit, rasanya persis seperti tatapan matamu ke saya pagi ini" ucap Radit.
Kirana sama sekali tidak menanggapi sindiran bernada candaan itu. Baginya, meladeni perdebatan tidak bermutu dengan Raditya Baskara di pagi hari adalah sebuah pemborosan energi.
"Jika sudah tidak ada instruksi tambahan lagi, saya mohon izin untuk kembali ke ruangan saya Pak. Masih banyak dokumen yang harus segera saya sotir"ujar Kirana sambil membungkukkan sedikit tubuhnya secara formal.
"Iya, iya, silakan kembali ke tempat pertapaanmu nona kaku" ucap Radit melambaikan tangan acuh tak acuh lalu dia pun mulai sibuk membuka laptop kerjanya.
Kirana berbalik dengan gerakan presisi, melangkah keluar ruangan dengan ritme ketukan sepatu hak tinggi yang konstan. Namun, baru saja telapak tangannya menyentuh gagang pintu yang tebal itu, suara bariton Radit kembali memanggilnya.
"Oh iya Ra! Ada satu hal lagi yang sangat penting" ucap Radit.
Kirana menghentikan langkahnya, menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh setengah badan.
"Ya, Pak? Ada lagi yang bisa saya bantu?" ucap Kirana.
Radit menyeringai usil, senyum yang selalu membuat Kirana merasa ada bahaya besar yang mengancam ketenangan hidupnya.
"Nanti jam dua siang, kamu harus ikut saya makan di luar. Ada wartawan senior dari Executive Magazine yang mau melakukan wawancara eksklusif tentang profil saya. Dan kamu tolong pakai baju yang agak bagusan nanti ya, jangan setelan yang warnanya abu-abu monyet atau hitam mendung seperti itu terus. Saya bosan melihat sekretaris saya mirip tiang listrik di hari hujan" ucap Radit.
Kirana menarik napas dalam-dalam lewat hidungnya, menahannya di dada selama beberapa detik untuk meredam gejolak batinnya, lalu mengembuskannya perlahan dari mulut.
"Sabar, Kirana. Ingat cicilan rumah ibumu masih lima tahun lagi. Jangan resign sekarang" bisik Kirana dalam hati mencoba menenangkan diri.
"Baik Pak Raditya. Saya akan mempersiapkan diri dan merapikan jadwal Anda untuk siang nanti" jawab Kirana dengan suara yang tetap terkontrol sempurna, sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu ruangan itu rapat-rapat.
Kirana tidak pernah tahu, bahwa keputusan untuk mengiyakan ajakan makan siang bersama wartawan tersebut akan menjadi awal dari sebuah bencana besar yang siap menjungkirbalikkan hidupnya yang super teratur dan damai menjadi penuh kekacauan romantis.