Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian yang Tak Pernah Kuinginkan
"Aku berangkat bulan depan."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi bagi Nandin, kalimat itu terasa seperti petir yang menyambar tepat di atas kepalanya.
Sendok yang sedang ia gunakan untuk mengaduk sayur lodeh berhenti di tengah jalan. Uap panas dari panci mengepul ke wajahnya, tetapi yang terasa dingin justru dadanya.
"Apa?" tanyanya pelan.
Wisnu menghela napas panjang sambil memainkan ponselnya.
"Aku udah daftar kerja ke Korea." ujarnya tanpa melihat Nandin.
Nandin menatap suaminya beberapa detik.
Ia menunggu.
Menunggu Wisnu tertawa dan mengatakan kalau itu cuma bercanda.
Sayangnya tidak.
Lelaki itu tampak serius.
"Korea?" ulang Nandin.
"Iya."
"Kenapa tiba-tiba?" timpalnya sedikit emosi.
Wisnu akhirnya meletakkan ponselnya.
"Karena aku capek hidup begini terus."
Kalimat itu menusuk tanpa permisi.
Rumah kontrakan kecil yang mereka tempati memang jauh dari kata mewah.
Atapnya kadang bocor saat hujan.
Dinding belakangnya mulai lembap.
Kulkas mereka bahkan sudah rusak sejak tiga bulan lalu.
Tapi selama ini Nandin selalu berpikir mereka baik-baik saja.
Setidaknya mereka masih bersama.
"Aku lagi hamil, Mas." seru Nandin mencoba menahan suaminya.
"Aku tahu." Wisnu menjawab enteng.
"Usia kandunganku baru empat bulan."
"Aku juga tahu."
Nandin menggigit bibir.
Lalu kenapa rasanya Wisnu begitu mudah mengucapkan keinginannya untuk pergi?
Di dalam perutnya, ada calon anak mereka.
Meski belum terasa gerakannya, setiap malam Nandin selalu mengelus perutnya sambil mengajak bayinya berbicara.
Kadang ia membayangkan wajah anak mereka.
Kadang ia membayangkan Wisnu akan menjadi ayah yang baik.
Tapi sekarang...
Lelaki itu justru ingin pergi ke negara lain.
"Kalau aku melahirkan gimana?" ujarnya.
"Kamu bisa sendiri."
Jawaban itu keluar begitu saja.
Seolah tidak ada yang salah.
"Astaga mass." Nandin membatin kecewa.
Seolah melahirkan adalah hal sederhana yang bisa dilakukan tanpa rasa takut.
Mata Nandin langsung berkaca-kaca.
Namun sebelum ia sempat bicara, suara seseorang terdengar dari depan rumah.
"Wisnu!"
Mereka berdua sama-sama menoleh.
Ibu Sri.
Ibu mertua Nandin.
Perempuan itu masuk tanpa mengetuk pintu.
Seperti biasa.
"Apa sudah bilang ke Nandin?" tanyanya.
Wisnu mengangguk.
"Sudah."
Ibu Sri tersenyum puas.
"Bagus."
Nandin langsung mengerti.
Jadi ini bukan ide Wisnu seorang diri.
Pantas saja.
Sejak awal, ibu mertuanya memang yang paling bersemangat soal Korea.
"Bu, memang harus sekarang?" tanya Nandin hati-hati.
Senyum di wajah Ibu Sri langsung memudar.
"Memangnya kenapa?"
"Nandin lagi hamil."
"Perempuan hamil itu biasa." sindir bu Sri.
Jawaban itu membuat Nandin tercekat.
Ibu Sri duduk di kursi plastik ruang tamu sambil melipat tangan.
"Kamu pikir ibu dulu nggak pernah hamil?"
"Bukan begitu, Bu."
"Lagian Wisnu pergi buat masa depan."
Nandin hampir tertawa miris mendengarnya.
Masa depan siapa?
Karena yang ia lihat selama ini, justru ibu mertuanya yang paling sering meminta uang.
Setiap bulan.
Tidak pernah terlambat.
Padahal Wisnu hanya bekerja di pabrik mebel dengan gaji pas-pasan.
Kadang mereka harus menghemat beras menjelang akhir bulan.
Kadang Nandin diam-diam mengurangi lauk agar uang belanja cukup.
Namun setiap kali Ibu Sri meminta uang, Wisnu selalu mengirim.
Tanpa pernah menolak.
"Nanti kalau Wisnu kerja di Korea, orang-orang kampung juga tahu kalau anak saya sukses."
Nah.
Itulah kalimat yang sebenarnya.
Bukan soal masa depan.
Bukan soal keluarga.
Bukan soal bayi yang sedang dikandung Nandin.
Melainkan gengsi.
Mata Nandin menunduk.
Dadanya terasa sesak.
Sangat sesak.
"Aku nggak setuju, Mas."
Akhirnya kalimat itu keluar.
Wisnu langsung mengangkat kepala.
"Apa?"
"Aku nggak mau kamu pergi." ungkapnya melunak berharap kali ini suaminya mendengarkannya
Suasana mendadak sunyi.
Bahkan suara kipas angin tua di sudut ruangan terdengar jelas.
"Aku takut."
Nandin menggenggam ujung bajunya.
"Aku hamil."
"Jangan egois." tegas Wisnu.
Seketika Nandin terdiam.
Egois?
Ia?
"Aku cuma minta kamu tetap di sini."
"Justru kamu yang egois," kata Wisnu. "Aku kerja buat keluarga."
Nandin ingin bertanya.
Kalau benar untuk keluarga, kenapa ia merasa tidak pernah diajak berdiskusi?
Kenapa keputusan sebesar ini sudah dibuat tanpa mempertimbangkan dirinya?
Kenapa sejak awal semua orang hanya bicara soal keberangkatan Wisnu, bukan soal kondisi istrinya yang sedang mengandung?
Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
Tak keluar.
Malam itu Nandin menangis diam-diam di kamar.
Wisnu sudah tertidur.
Atau mungkin pura-pura tidur.
Ia tidak tahu.
Yang jelas lelaki itu tidak memeluknya.
Tidak mengusap kepalanya.
Tidak mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Nandin menatap langit-langit kamar yang kusam.
Perlahan tangannya bergerak ke perut yang mulai membuncit.
"Halo, Nak..."
Air mata hangat mengalir ke pelipisnya.
"Ibu takut."
Suaranya bergetar.
"Sangat takut."
Ia tidak tahu kalau di dalam rahimnya bukan hanya satu bayi yang sedang tumbuh.
Ada dua kehidupan kecil yang kelak akan menjadi alasan terbesar ia bertahan hidup.
Dan malam itu...
Tanpa disadari siapa pun...
Takdir mulai membuka jalan menuju penderitaan panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Kepergian Wisnu bukan sekadar perjalanan mencari kerja.
Itu adalah awal dari kehancuran yang belum mampu dibayangkan oleh Nandin.
Sebuah kehancuran yang suatu hari nanti akan merenggut suami, anak-anak, kewarasan, bahkan harga dirinya.
Dan saat semuanya benar-benar hancur...
Nandin harus memilih.
Menyerah.
Atau bangkit sendirian.