Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Baling-baling helikopter berputar pelan hingga akhirnya berhenti sepenuhnya. Pintu helikopter terbuka. Anton melangkah keluar, lalu Clara menyusul di belakangnya. Angin laut Samudra Pasifik malam itu bertiup kencang dan dingin.
Di depan mereka, geladak kapal pesiar Leviathan dijaga dengan ketat. Anton melihat enam orang penjaga berdiri di sekitar area pendaratan. Mereka memakai seragam taktis serba hitam tanpa logo perusahaan, rompi antipeluru, dan memegang senapan serbu HK416.
Clara merapatkan kerah mantelnya. Tangannya terlihat sedikit gemetar saat dia berjalan di samping Anton menuju pintu masuk kapal.
"Tunjukkan undangan kalian," kata salah satu penjaga yang bertubuh paling besar. Dia melangkah maju dan menghalangi jalan masuk.
Clara membuka tasnya. Dia mengeluarkan sebuah kartu logam berwarna hitam polos dan menyerahkannya kepada penjaga itu. Penjaga tersebut memasukkan kartu ke sebuah alat pemindai genggam kecil. Alat itu berbunyi bip hijau pendek.
"Tuan Anton dari Star Technology," penjaga itu membaca teks di layar pemindainya. Dia kemudian menatap Anton. "Anda tidak boleh membawa senjata api, bahan peledak, atau alat komunikasi pemancar sinyal satelit pribadi ke dalam area kapal. Silakan lewati gawang detektor logam ini."
Anton berjalan melewati gawang pemindai keamanan. Tidak ada bunyi peringatan yang keluar. Clara mengikutinya di belakang dan juga lolos dari pemindaian.
Penjaga itu mengangguk dan menggeser tubuhnya ke samping. Pintu baja besar di belakang helipad terbuka secara otomatis.
Anton dan Clara masuk ke dalam. Di dalam, suasananya sangat berbeda dari luar. Lorong kapal ini dilapisi karpet merah tebal dan dindingnya memiliki ornamen lampu-lampu terang. Mereka berdua berjalan menuju area lobi utama kapal.
Lobi itu sangat luas. Ada puluhan orang di sana. Beberapa orang duduk di sofa sambil minum, beberapa lainnya berbicara dalam kelompok kecil dengan suara pelan.
Anton mengaktifkan Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 2 miliknya. Matanya memindai ruangan. Melalui kemampuannya, dia melihat beberapa tamu di ruangan ini ternyata membawa senjata kecil berbahan polimer khusus yang bisa lolos dari detektor logam di luar tadi. Anton juga melihat sekilas aliran data dari ponsel pintar milik para tamu, tapi dia mengabaikan informasi itu karena tidak membutuhkannya sekarang.
Terdengar suara pecahan kaca dari arah meja bar di sudut lobi.
Anton menoleh. Seorang pria botak dengan bekas luka memanjang di pipi kanannya baru saja membanting gelas ke lantai. Pria itu berteriak dalam bahasa Rusia kepada petugas bartender. Dua orang pengawal berbadan besar berdiri tepat di belakang pria botak tersebut.
Pria botak itu membalikkan badan. Matanya melihat ke arah Anton dan Clara yang baru saja memasuki lobi. Dia menatap Clara sebentar, lalu berjalan mendekati mereka. Dua pengawalnya ikut berjalan mengikuti dari belakang.
"Orang-orang baru," kata pria botak itu dalam bahasa Inggris dengan aksen Rusia yang tebal. Dia berhenti tepat di depan Anton. "Aku belum pernah melihat wajah kalian berdua di Leviathan sebelumnya. Seorang anak muda dan seorang wanita karir." Dia tertawa.
Clara mundur setengah langkah, memposisikan dirinya sedikit di belakang Anton.
"Namaku Sergei," kata pria itu. "Biasanya orang baru harus membayar biaya perkenalan kepadaku jika ingin duduk tenang di lobi kapal ini."
Anton menatap Sergei. Dia kembali menggunakan kemampuannya. Pandangan Anton menembus jas yang dipakai Sergei. Di balik saku jas sebelah kiri, Sergei memang menyembunyikan sebuah pistol kecil berbahan polimer. Kemudian, Anton memindahkan pandangannya ke saku celana Sergei dan melihat sebuah perangkat komunikasi terenkripsi. Mata Anton dengan cepat menyadap dan membaca isi pesan terakhir yang masuk di perangkat tersebut. Pesan itu berisi laporan kegagalan pengiriman senjata di pelabuhan Vladivostok yang terjadi tiga jam yang lalu.
Anton menatap lurus ke mata Sergei tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
"Sergei," balas Anton dengan suara datar. "Dua puluh kontainer senjatamu baru saja disita oleh otoritas pelabuhan Vladivostok tiga jam yang lalu. Pembelimu dari kartel Sinaloa sedang mencarimu sekarang untuk meminta uang mereka kembali. Aku sarankan kau pergi mengurus masalah itu daripada meminta uang receh dariku di sini."
Wajah Sergei langsung berubah pucat. Bekas luka di pipinya terlihat lebih menonjol karena otot rahangnya menegang keras. Dua pengawalnya segera memegang pinggang mereka, bersiap untuk mencabut senjata.
Sergei mengangkat tangannya dengan cepat, memberi isyarat agar kedua pengawalnya berhenti bergerak. Matanya menatap Anton dengan tatapan waspada. Sergei bingung dari mana pemuda di depannya ini mendapat informasi yang sangat rahasia dan baru saja terjadi itu.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Sergei. Nada suaranya tidak lagi terdengar meremehkan.
"Bukan urusanmu," jawab Anton. "Sekarang minggir dari jalanku."
Sergei menatap Anton selama beberapa detik tanpa bicara. Dia lalu mendengus, bergeser menyingkir dari jalan, dan berjalan cepat menuju lorong lain sambil mengeluarkan alat komunikasi dari saku celananya. Dua pengawalnya mengikutinya pergi.
Clara menghela nafas. "Bagaimana Anda tahu informasi tentang kontainer senjata miliknya?" tanyanya pelan kepada Anton.
"Aku tahu banyak hal," jawab Anton singkat.
Seorang staf kapal berseragam merah menghampiri mereka. "Tuan Anton? Silakan ikut saya. Kamar suite Anda sudah disiapkan. Acara lelang utama akan dimulai besok malam di aula dek bawah."
Anton mengangguk. Dia mengikuti staf itu menyusuri lorong panjang kapal. Tujuan utamanya datang ke tempat ini hanya satu, yaitu mendapatkan Inti Meteorit Astral. Dia tidak mempedulikan tamu-tamu lain di kapal ini, kecuali jika mereka mencoba menghalangi rencananya di acara lelang besok.