NovelToon NovelToon
Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Permen

Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.

Tapi takdir berkata lain.

Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.

Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Puluh Empat

Kabar itu disampaikan langsung oleh Bibi Zhang.

"Nyonya," kata Bibi Zhang sambil berdiri di depan gerbang Paviliun Timur dengan ekspresi tenang, "Nyonya Tua memerintahkan agar semua anggota keluarga menghadiri jamuan malam ini. Mohon Nyonya datang tepat waktu."

Saat itu, Lin Xiao sedang memandangi pohon begonia di halaman. Mendengar perkataan itu, ia menoleh.

"Jamuan keluarga? Dalam rangka apa?"

"Keluarga Selir Zhou datang berkunjung. Nyonya Tua berkata, karena ada tamu, sebaiknya diadakan jamuan untuk menyambut Nyonya Zhou."

Menyambut Nyonya Zhou.

Lin Xiao mengangguk. "Baik, aku akan datang tepat waktu."

Setelah Bibi Zhang pergi, Qingxing menjulurkan kepala dari dalam kamar dengan wajah tegang.

"Nyonya... makan malam nanti pasti tidak mudah."

"Aku tahu." Lin Xiao menepuk kelopak bunga yang menempel di tangannya. "Di permukaan, Nyonya Tua mengadakan jamuan ini untuk menyambut Nyonya Zhou. Namun sebenarnya, beliau ingin melihat reaksi semua pihak. Selir Zhou, Kediaman Kedua, dan aku... semua kartu yang ingin beliau lihat akan terbuka di meja makan."

Qingxing langsung cemas.

"Lalu apa yang akan Nyonya lakukan?"

"Mau bagaimana lagi?" jawab Lin Xiao santai. "Makan."

Ia masuk ke kamar dan berganti pakaian.

Jepit rambut emas hadiah dari Nyonya Tua dipakainya, dipadukan dengan sepasang anting mutiara dan jubah biru muda yang biasa ia kenakan. Tidak terlalu mencolok, tetapi juga tidak tampak sederhana.

Qingxing yang berdiri di samping memperhatikannya sambil berkata pelan, "Nyonya, pakaian ini sangat cocok untuk Anda."

"Terima kasih."

Lin Xiao merapikan kerahnya di depan cermin perunggu.

"Ayo berangkat."

Jamuan keluarga diadakan di aula samping kediaman utama.

Sebuah meja bundar besar dipenuhi berbagai hidangan. Nyonya Tua duduk di kursi utama, dengan Nyonya Zhou di sebelah kirinya dan Nyonya Kedua di sebelah kanannya. Di bawah mereka duduk para nyonya dan menantu dari cabang keluarga lainnya.

Selir Zhou duduk di samping ibunya. Ia mengenakan pakaian merah muda pucat dan riasan tipis. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa hari sebelumnya.

Ketika Lin Xiao masuk, sebagian besar orang sudah duduk.

Begitu ia melangkah masuk, semua mata tertuju padanya, seolah-olah puluhan lampu sorot menyala bersamaan.

Tanpa mengubah ekspresinya, ia berjalan menuju tempat duduknya dan memberi hormat kepada Nyonya Tua.

"Menantu datang terlambat."

"Tidak terlambat." Nyonya Tua mengangguk. "Duduklah."

Baru saja ia duduk, Nyonya Kedua tersenyum dan berkata,

"Qingyue hari ini terlihat sangat menawan. Dulu kau jarang berdandan, tetapi sekarang semakin pandai memilih pakaian."

Sekilas, perkataan itu terdengar seperti pujian.

Namun sebenarnya, itu adalah pengingat bagi semua orang: dulu kau tidak seperti ini, perubahanmu akhir-akhir ini terlalu besar.

Lin Xiao mengangkat cangkir tehnya dan menyesap sedikit sebelum tersenyum.

"Bibi Kedua terlalu memuji. Dulu aku memang tidak terlalu mengerti soal ini. Sekarang, setelah bertambah beberapa tahun usia, aku justru merasa harus lebih memperhatikan penampilan. Tidak mungkin selamanya tampil berantakan dan mempermalukan kediaman Marquis."

Senyum Nyonya Kedua sedikit membeku.

Kalimat "bertambah beberapa tahun usia" terdengar ringan, tetapi usia Nyonya Kedua hampir dua puluh tahun lebih tua daripada Lin Xiao.

Menantu dari Kediaman Ketiga yang duduk di dekat mereka menunduk sambil minum teh, berusaha keras menahan tawa.

Nyonya Tua melirik Lin Xiao. Ada sesuatu yang berkilat di matanya sebelum ia memalingkan pandangan.

Hidangan terus berdatangan, dan gelas-gelas arak pun terisi.

Nyonya Tua mengangkat cangkirnya dan mengucapkan beberapa kata sambutan, intinya menyambut kedatangan Nyonya Zhou dan berharap seluruh keluarga hidup rukun.

Semua orang mengikuti dan menyesap arak mereka. Jamuan pun resmi dimulai.

Nyonya Zhou duduk dengan tenang di samping Nyonya Tua. Senyum di wajahnya hangat dan sopan, tampak seperti seorang kerabat biasa yang datang berkunjung.

Namun Lin Xiao memperhatikan sesuatu.

Saat duduk, pandangan Nyonya Zhou berhenti pada dirinya selama dua detik, satu detik lebih lama dibanding saat memandang orang lain.

Selir Zhou di sisi lain makan dengan tenang dan jarang berbicara.

Tetapi ketika sumpitnya bergerak menuju salah satu hidangan, ia sengaja menghindari semangkuk daging rebus kecap yang berada di depan Lin Xiao.

Detail itu sangat kecil.

Namun Lin Xiao melihatnya.

Selir Zhou sedang menghindarinya.

Bukan karena takut, melainkan karena seseorang telah memperingatkannya untuk berhati-hati.

"Qingyue."

Tiba-tiba, Nyonya Tua membuka suara.

"Bagaimana keadaan tubuhmu akhir-akhir ini? Apakah kau cocok dengan sup tonik yang kukirim beberapa hari lalu?"

Sekali lagi, semua mata tertuju pada Lin Xiao.

Ia meletakkan sumpitnya dan menjawab dengan tenang,

"Terima kasih atas perhatian Nyonya Tua. Sup itu sangat enak. Setelah meminumnya, tubuhku terasa jauh lebih hangat."

"Bagus kalau begitu." Nyonya Tua mengangguk. "Nanti akan kusuruh dapur mengirim beberapa mangkuk lagi."

"Terima kasih, Nyonya Tua."

Tangan Nyonya Kedua yang memegang gelas arak sedikit menegang.

Senyumnya masih ada, tetapi di balik senyum itu, ada sesuatu yang tampak sangat tegang.

Lin Xiao tidak memandangnya.

Ia tahu bahwa Nyonya Tua sengaja menyinggung soal sup itu malam ini.

Beliau sedang memberi peringatan kepada Nyonya Kedua.

Beliau ingin semua orang tahu bahwa sup yang dikirim kepada Lin Xiao telah diminum habis dan tidak menimbulkan masalah apa pun.

Nyonya Zhou mengangkat cangkirnya. Pandangannya berpindah dari Lin Xiao ke Nyonya Kedua, lalu kembali lagi.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Namun, ekspresinya berubah sesaat.

Lin Xiao kembali menyesap sup di hadapannya.

Jamuan ini tampak seperti makan malam keluarga biasa.

Padahal, semua orang diam-diam memperhatikan ke mana sumpit orang lain bergerak dan berapa kali mereka mengangkat gelas.

Satu tatapan, satu kalimat, satu gerakan kecil, semuanya adalah informasi bagi orang-orang yang cukup cermat.

Lin Xiao menghabiskan makan malam itu tanpa banyak bicara.

Tetapi ia berhasil membuat semua orang melihat satu hal.

Ia masih duduk di sana, wajahnya cerah dan nafsu makannya baik-baik saja.

1
Trie Broto
critanya penuh teka-teki...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!