Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Akibat Buruk bagi Sang Penagih
Malam semakin larut di Desa Sungai Hitam. Suasana dingin mencekam menyelimuti halaman rumah tua keluarga Lin, di mana bau bau belerang, garam hitam, dan minyak ritual membakar udara malam.
Master Mo melangkah anggun ke tengah halaman rumah dengan tongkat tembaga berujung tengkorak besi di tangan kanannya. Di sekelilingnya, empat anak buah berjubah abu-abu sibuk menaburkan lingkaran garam hitam dan memasang jimat pemecah segel berlarut tinta merah di delapan penjuru teras.
"Bocah desa yang menyedihkan," gumam Master Mo dengan nada dingin penuh hinaan. "Menggunakan ilmu pengikat tingkat rendah untuk menakut-nakuti preman jalanan. Mari kita lihat seberapa bertahan dinding ini di hadapan [Jurus Pemecah Jiwa Tujuh Bintang] milikku."
Tuan Wang, yang berdiri agak jauh di samping mobil SUV hitamnya, menyeringai lebar. Rasa takut yang sempat menderanya kini berganti menjadi hasrat balas dendam yang membara.
"Hancurkan saja rumah ini sampai rata dengan tanah, Master Mo! Nanti Tuan Besar di kota yang akan menanggung semua konsekuensi hukumnya!" seru Tuan Wang sambil mengepalkan tangannya.
Namun, tepat sebelum Master Mo sempat mengangkat tongkat tembaganya untuk memulung energi ghaib...
Sfx: Langkah... Langkah... Langkah...
Suara derap langkah kaki yang teratur dan tenang terdengar memecah keheningan jalanan berkerikil di luar pagar rumah.
Seluruh orang di halaman seketika menoleh.
Dari balik kegelapan malam, sosok Lin Fan berjalan perlahan. Jaket tebalnya ternoda oleh sisa-sisa abu ghaib dari Lembah Hitam, namun sepasang matanya menyala merah terang yang tajam, menusuk kegelapan bagaikan mata seekor pemangsa puncak. Di belakangnya, Chen Meng berdiri di dekat pagar kayu dengan napas terengah-engah, bersiap memantau keadaan.
"Lin... Lin Fan?!" Tuan Wang berteriak panik, refleks mundur setengah langkah ke balik tubuh para premannya. "Bocah sialan itu sudah kembali!"
Master Mo menyipitkan matanya, mengamati Lin Fan dengan fitur sensoris ghaibnya sendiri. Namun, betapa terkejutnya Master Mo saat ia menyadari bahwa ia sama sekali tidak bisa membaca arus energi dalam tubuh Lin Fan. Di mata Master Mo, Lin Fan tampak seperti sebuah jurang hitam tak berdasar yang bisa menelan apa saja.
"Kamu pemilik rumah ini?" tanya Master Mo dengan suara berat, mencoba menutupi getaran cemas yang mendadak muncul di tenggorokannya. "Bocah muda, berlututlah dan serahkan surat tanah rumah ini sekarang juga sebelum aku menghancurkan jiwa dan ragamu!"
Lin Fan menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan garis batas [Pagar Perlindungan Rumah]. Ia menatap Master Mo, Tuan Wang, dan para penagih utang dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Kalian merusak pintuku," kata Lin Fan pelan, namun suaranya bergema menembus telinga setiap orang dengan tekanan ghaib yang berat. "Kalian juga menakut-nakuti ibu dan adikku."
[Mata Iblis: Mengidentifikasi Niat Buruk Target]
[Nama: Master Mo & Tim Penyihir Kota]
[Tingkat Niat Buruk: 100% (Upaya Penghancuran Segel & Pembunuhan Rohani)]
[Rekomendasi Sistem: Aktifkan 'Pagar Iblis Tingkat Satu - Formasi Pasak Jiwa' Untuk Eksekusi Balasan Sempurna]
Lin Fan mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, ukiran lambang [Batu Inti Delapan Arah] yang baru saja didapatkannya dari Lembah Hitam menyala keemasan, memancarkan denyut radiasi ghaib yang membuat tanah di bawah kaki Master Mo bergetar hebat.
Sfx: Bzzzzzt... DUUMMM!
"Apa... apa itu?!" jerit salah satu anak buah Master Mo ketakutan saat melihat lingkaran rune keemasan raksasa merekah dari bawah halaman rumah Lin Fan!
"Master Mo! Tanah di bawah kita membara!" seru preman lainnya yang ketakutan.
Wajah Master Mo mendadak pucat pasi. Pengalamannya bertahun-tahun di dunia ghaib kota besar membuatnya langsung mengenali jenis aura di depannya. Ini bukan sekadar ilmu pengikat dukun kampung—ini adalah [Aura Kontrak Iblis Kuno] yang sudah lenyap ratusan tahun lalu!
"Tidak mungkin... Kamu... Kamu Pengikat Kontrak Pagar Utama?!" pekik Master Mo histeris. "Cepat mundur! Semuanya mundur sekarang!"
Namun semuanya sudah terlambat.
Lin Fan menggenggam jemarinya kuat-kuat.
"Pagar Iblis Tingkat Satu: Pantulan Tekanan Jiwa!" seru Lin Fan dengan nada menggelegar.
Sfx: CRRRRK... CRASH!
Lingkaran garam hitam dan jimat-jimat pemecah segel yang dipasang oleh Master Mo dan timnya seketika meledak menjadi debu merah!
Di saat yang sama, gelombang tekanan ghaib yang maha dahsyat meluncur keluar dari struktur dinding rumah keluarga Lin, memantulkan seluruh niat jahat dan ilmu pemecah jiwa yang sempat dipancarkan oleh Master Mo kembali sepuluh kali lipat lebih kuat!
Sfx: ARRGGGHHH!
Master Mo memuntahkan semburan darah segar dari mulutnya saat tongkat tembaga berujung tengkorak besinya meledak hancur berkeping-keping di dalam genggamannya! Tulang-tulang jari tangannya patah seketika oleh hantaman energi balasan tersebut.
Empat anak buah berjubah abu-abu jatuh terjerembab ke atas tanah, memegangi kepala mereka yang menjerit histeris akibat tekanan jiwa yang merusak saraf otak mereka. Mereka terkapar mengerang dalam siksaan trauma mental parah yang tak tertahankan!
Sfx: Bruk! Bruk! Bruk!
Hanya dalam hitungan detik, seluruh tim penyihir terhebat yang disewa oleh konsorsium kota tumbang tanpa sempat menyentuh selembar kayu pun dari rumah Lin Fan!
Tuan Wang terduduk lemas di atas tanah basah. Celana jas mewahnya basah oleh urine karena rasa takut yang luar biasa. Ia menyaksikan bagaimana Master Mo—sosok yang dianggap sakti di kota—kini berguling-guling di tanah memuntahkan darah hitam sambil memohon ampun.
"Jangan... jangan bunuh aku... tolong..." ratap Tuan Wang dengan bibir gemetar hebat, merangkak mundur mendekati ban mobilnya.
Lin Fan melangkah mendekati Tuan Wang, menatap pria paruh baya itu dari atas dengan tatapan penuh keangkuhan dan kepastian.
"Kembali ke kotamu," bisik Lin Fan dingin, suaranya seperti bisikan iblis dari kedalaman jurang.
"Sampaikan pada juraganmu di konsorsium itu... jika ada satu lagi orang suruhan mereka yang berani menginjakkan kaki di Desa Sungai Hitam untuk mengganggu keluargaku, aku tidak hanya akan menghancurkan jiwa mereka... aku akan mencabut seluruh akar bisnis mereka di kota sampai tak bersisa."
Tuan Wang mengangguk-angguk histeris tanpa berani menatap mata Lin Fan.
"I-Iya! Saya mengerti! Saya akan sampaikan! Tolong ampuni nyawa saya!" jerit Tuan Wang ketakutan.
Dengan bersusah payah, Tuan Wang menyeret tubuh Master Mo dan anak buahnya yang tak sadarkan diri ke dalam mobil SUV dan mobil Van, lalu tancap gas melarikan diri meninggalkan Desa Sungai Hitam dengan kecepatan penuh, meninggalkan kepulan debu malam yang pekat.
Halaman rumah tua keluarga Lin kembali hening.
Chen Meng melangkah mendekati Lin Fan dengan napas lega namun masih dibayangi rasa takjub yang mendalam.
"Lin Fan... mereka benar-benar pergi... dan tidak akan berani kembali lagi dalam waktu dekat," kata Chen Meng pelan.
Lin Fan menyapu pandangannya ke sekeliling halaman rumahnya, lalu mengangguk tipis.
[Seluruh Ancaman Langsung Berhasil Dieliminasi]
[Menerima Poin Energi Vital Balasan: +15%]
[Status Pagar Utama Tahap 3: Membutuhkan Material Ke-2 (Darah Serigala Kuno)]
[Batas Waktu Gerhana Bulan Merah: 13 Hari 18 Jam 20 Menit]
Meskipun ancaman manusia dari kota berhasil dipukul mundur, batas waktu dari sistem terus berjalan tanpa ampun.
Door depan rumah terbuka pelan. Ibu Lin Fan dan Lin Mei keluar dengan langkah gemetar. Ibu Lin Fan menatap Lin Fan dengan mata berkaca-kaca, memeluk anak laki-lakinya itu dengan erat.
"Lin Fan... kamu tidak apa-apa, Nak? Ibu sangat takut..." bisik ibunya penuh kepasrahan.
Lin Fan membalas pelukan ibunya dengan hangat, mengelus punggung wanita yang sangat dicintainya itu.
"Aku tidak apa-apa, Bu. Orang-orang jahat itu sudah pergi dan mereka tidak akan pernah berani mengganggu kita lagi," janji Lin Fan tulus. "Sekarang Ibu dan Lin Mei masuklah dan istirahatlah yang nyenyak. Rumah kita sudah benar-benar aman."
Setelah menenangkan ibu dan adiknya hingga mereka kembali tidur di dalam rumah, Lin Fan berdiri di teras rumah bersama Chen Meng.
Malam makin kelam, membawa aroma perburuan berikutnya yang jauh lebih berbahaya.
"Chen Meng... besok malam, kita harus memasuki bagian paling dalam dari Hutan Terlarang," ucap Lin Fan memecah keheningan. "Perburuan bahan kedua baru saja dimulai."