Lady suka uang.
Lady juga cinta uang!
But, jika Lady disuruh memilih antara Ace atau uang, maka jawabannya sudah pasti Ace, karena bagi Lady, Ace adalah sumber uangnya. Simple kan jawabannya..
Menikah dengan Ace adalah salah satu hal yang tak pernah terlintas di pikiran Lady. Menikah dengan cowok galak yang memiliki tingkat kesabaran setipis tisu. mungkin juga lebih tipis dari tisu, gak tau deh.
Andaikan saja cowok itu tidak kaya raya serta berwajah jelek, maka mustahil Lady mau menerima perjodohan paksa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon capr.gurlll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 31
Lady mengerjap beberapa kali saat melihat seorang gadis berpita pink yang sedang meminum sekotak susu di depan mobilnya.
"Yuna?" panggil Lady menghampiri sosok gadis tersebut.
Yuna menoleh, menatap wajah cantik Lady yang selalu membuatnya merasa kagum. "Halo," sapanya, membuat Lady tersenyum lebar.
"Ngapain lo jongkok di situ?" tanya Lady.
"Tadi, Leon nyuruh aku buat nungguin kamu di sini. Katanya, dia mau pergi sebentar sama teman-temannya karena lagi ada urusan penting."
Pasti Leon mau menyuruh dirinya agar mengantar Yuna pulang, kan? Lady sudah bisa menebak isi otak kakaknya yang berduit banyak itu. "Masuk aja ke mobil gue, dia nitipin lo ke gue."
Yuna mengernyit ragu. "Gitu? Emangnya nggak apa-apa?"
Nggak apa-apa banget malah. Lady itu tipikal orang suka memanfaatkan keadaan. Jadi, setelah ini dia pasti akan meminta jatah shopping kepada Leon sebagai imbalannya.
Oh my god. Lady. You are the best!
Lady kemudian merangkul pundak Yuna dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
Lima menit berlalu. Di sepanjang perjalanan, kuping Lady hanya dipenuhi oleh alunan-alunan cerita Yuna yang mulutnya tidak berhenti mengoceh sejak tadi.
"Mereka emang selalu ngebully aku karna aku miskin terus jelek," cerita Yuna, membuat Lady melirik prihatin kepadanya.
"Kalau mereka ngebully lo lagi, lawan aja. Bilang kalau Leon itu cowok lo dan dia nggak bakal tinggal diam kalau lo sampai kenapa-kenapa. Pokoknya, lo nggak boleh takut sama mereka dan lo juga harus ngelawan. Kalau perlu, bakar aja Si Rebecca sekalian. Mutilasi juga nggak masalah."
Yuna menganggukkan kepalanya. "Makasih, ya, sarannya. Nanti aku coba," ucapnya diangguki oleh Lady.
"Ngomong-ngomong, kok lo bisa sekolah di SMA Sanjaya, sih? SPP-nya perbulan, kan, mahal banget sampai jutaan."
Yuna tersenyum tipis mendengar pertanyaan tersebut. "Aku jalur beasiswa."
Beberapa saat berlalu, kini mobil putih Lady terlihat mulai memasuki sebuah pemukiman kumuh yang jalannya penuh lobang.
Tak lama kemudian, Pajero putih itu pun akhirnya berhenti saat mereka sudah tiba di tempat yang dituju.
"Ini rumah lo?" tanya Lady yang dijawab anggukan oleh Yuna.
Lady menatap miris sebuah rumah tua yang sudah lapuk di seberang jalan.
Rumah dengan atap yang bocor, dinding putih yang penuh coretan, serta ukurannya yang sempit. Rumah yang sudah menjadi tempat tinggal Yuna sejak gadis itu lahir sampai sekarang.
"Makasih, Dy." Yuna tersenyum manis sambil melepas seat beltnya.
"You're welcome."
*
*
Lady menghela nafas jengah dan mematikan televisi di depannya itu.
Sore ini, Lady merasa sangat sunyi. Tidak ada satupun hal yang bisa dia lakukan. Shopping? Dia baru shopping kemarin bersama Zena.
Lady lalu berjalan ke balkon kamarnya yang terbuka. Gadis itu menghirup udara segar diluar sana sambil melihat-lihat sekeliling kompleksnya.
"Kayaknya, jalan-jalan bakal enak deh," ucap Lady tersenyum lebar.
Lady lalu berlari dengan semangat menuju ke kolam ikan untuk menghampiri si galak Ace. Jalan-jalan sore dengan suami pasti akan seru.
"Ace!" panggil Lady kepada Ace yang sontak membuat cowok itu langsung menoleh kepadanya.
Ace lalu kembali fokus memberi makan ikan-ikannya tanpa menghiraukan Lady.
"Ace," panggil Lady sambil ikut berjongkok di sebelah Ace.
"Apaan?"
"Ajakin gue jalan-jalan, dong. Udaranya lagi segar nih, gue juga bosan di rumah mulu," ajak Lady dengan semangat 45.
Ace menggeleng. "Entar gue masih ada urusan."
"Ace, gue cuman mau jalan-jalan doang. Gitu doang masa lo nggak mau ngasih, sih? Pelit amat." Lady yang kesal lantas berbalik membelakangi Ace.
"Bukannya gitu, tapi entar malam gue juga masih ada urusan."
"Halah emang pelit lo. Dari dulu mah apa yang gue minta emang nggak pernah lo kasih."
Ace mengangkat sebelah alis tebalnya. Apa kata Lady barusan? Apa yang Lady minta nggak pernah dirinya kasih? Eh, setiap lo minta duit, gue langsung ngasih ke lo tanpa nanya duitnya mau dipakai buat apa!
"Led, entar malam gue harus pergi ke dealer. Gue mau beli motor baru." Ace mencoba memberi penjelasan kepada Lady yang keras kepala.
Lady melirik Ace di belakangnya. "Lo mau beli motor baru?" tanyanya. Ace mengangguk.
Lady kemudian berbalik. Ditatapnya wajah Ace dengan antusias seraya tersenyum manis kepada cowok ganteng itu. "So, gimana kalau gue pinjam mobil lo aja?"
Ace tertawa remeh. "Emang lo tau cara ngebawa mobil gue?"
"Tau, dong."
"Nggak."
Ace berdecak dan kembali membelakangi Ace. "Beneran pelit banget lo sama istri sendiri."
"Gue bukannya pelit, tapi kalau sampai mobil gue lecet gim-"
"Halah banyak omong lo. Pelit mah pelit aja," gerutu Ace.
Lagian apa susahnya, sih, kalau cuman menjamin mobil aja? Lady tadinya udah ngajakin Ace jalan-jalan, tapi cowok itu nggak mau. Sekarang, dia mau minjam mobil Ace, tapi cowok itu juga tidak mau.
"Gue mau aduin lo ke Mommy. Lo pelit banget sama gue. Pokoknya lo nggak ada hati jadi su-"
"SIALAN! KERAS KEPALA AMAT LO JADI CEWEK! KALAU GUE BILANG NGGAK BISA, BERARTI NGGAK BISA!" bentak Ace yang sudah tidak tahan mendengar gerutuan Lady.
Lady menatap ke arah lain. Matanya jadi berkaca-kaca kalau dibentak cuman karena hal sepele.
Ace mah nggak asik. Dikit-dikit langsung marah.
"Nggak tau, ah. Gue malas ngomong sama lo. Lo mah taunya cuman marahin gue doang," ucap Lady.
Lady berdiri dan meninggalkan Ace yang masih sibuk memberi makan ikan-ikannya. Gadis itu masuk ke dalam kamar.
"PELIT LO PELIT. GUE ADUIN KE MOMMY GUE LO!" gerutu lady dan membanting pintu kamarnya.
*
Pukul 7 malam, Ace terlihat sudah rapi dengan setelan kaos abu-abu polos dan celana jeans hitamnya. Jangan lupakan juga sepatu Converse serta sebuah kalung titanium favoritnya yang sudah terpasang rapi di badannya.
Lady yang sedang berbaring di atas kasur lantas sesekali melirik Ace yang sedang menyisir di depan cermin.
"Oh my god, sok ganteng banget," cibir Lady.
Ace menatap sekilas Lady di atas kasur saat mendengar omongan gadis itu. Sudah dari tadi Lady ngoceh mulu.
"Iyyuwwh, sok ganteng banget," gumam Lady lagi. Ace menghela panjang nafasnya.
"Lo bisa diam nggak, sih?" tegur Ace. Lady menenggelamkan wajahnya di bantal. Dirinya sudah tidak mau menatap wajah jelek Ace lagi.
"Nggak usah sok ganteng, muka lo kayak begal," ujar Lady pelan, namun masih terdengar oleh Ace.
Oke, Ace. Sabar. Lo itu harus jadi suami yang sedikit pengertian kalau ngehadapin bini keras kepala apalagi manja kayak Lady.
"Led" panggil Ace kepada Lady yang masih asik menenggelamkan wajahnya di bantal.
"Woi!"
"Lady?"
"Budek lo, ya?!"
"LADYANNE PUTRI MAESA!"