NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Sepanjang perjalanan mengitari los-los pasar untuk membeli karung tepung, gula, hingga kelapa parut, Sari hanya diam seribu bahasa.

Tidak ada lagi pertanyaan kritis tentang logika bisnis, tidak ada lagi senyum tipis, apalagi gurauan instan.

Langkah kakinya konstan di belakang Arka, layaknya robot yang kehilangan program.

Setelah semua belanjaan terikat rapi di jok belakang motor bebek, Arka seperti biasa berniat mengajaknya makan malam.

Malam ini, ia menghentikan motornya di depan sebuah warung tenda penjual ayam bakar yang aromanya mengepul gurih, menggugah selera siapa saja yang lewat.

Arka turun dari motor, lalu menoleh ke arah Sari yang masih berdiri kaku.

"Mbak mau paha atau dada?" tanya Arka lembut, mencoba mencairkan kebekuan di antara mereka.

"Aku tidak lapar. Kamu saja yang makan," jawab Sari datar, nyaris tanpa emosi.

Tanpa menunggu respons Arka, Sari langsung melangkah masuk ke dalam tenda, menarik kursi plastik di sudut paling ujung.

Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sepasang headset, menyumbat kedua telinganya, dan memutar lagu dengan volume yang cukup keras.

Ia sengaja menciptakan barikade tak kasat mata agar terputus dari dunia luar, terutama dari pria di depannya.

Arka menghela napas panjang, menyadari kesalahannya.

Namun, ia tetap memesankan satu porsi nasi dengan paha ayam bakar dan segelas teh manis hangat untuk wanita itu.

Arka kemudian berjalan mendekat, duduk di kursi tepat di hadapan Sari.

Ia menatap wajah Sari yang memalingkan pandangan ke arah jalanan.

"Mbak, saya minta maaf soal yang di pasar tadi," ucap Arka tulus, matanya menatap bersalah. "Saya tidak bermaksud—"

Namun, kalimat Arka menggantung di udara. Sari yang sedang mendengarkan lagu sama sekali tidak mendengarnya, atau lebih tepatnya, memilih untuk mengabaikan gerak bibir pria itu sepenuhnya.

Sorot matanya kosong, menatap lalu lalang kendaraan di luar tenda.

Tak berselang lama, pelayan datang membawa dua piring ayam bakar yang mengepul hangat dengan sambal terasi yang menggoda.

Arka menggeser piring paha ayam bakar itu tepat ke hadapan Sari.

Ia memberi isyarat tangan, memohon agar Sari melepas headset-nya. "Ayo, Mbak, dimakan dulu. Nanti sakit."

Sari perlahan melepas satu sisi headset-nya, hanya untuk mendengar apa yang dikatakan Arka.

Matanya turun, menatap lekat-lekat sepiring nasi dan paha ayam bakar di depannya.

Kruuuk...

Dinding perutnya berbunyi pelan. Sejak subuh tadi diisi nasi campur sate usus dan setelahnya terkuras untuk membersihkan rumah serta berjalan memutari pasar induk, tubuhnya jelas berteriak meminta asupan energi. Perutnya benar-benar keroncongan.

Namun, ego dan luka di hatinya jauh lebih besar daripada rasa laparnya.

Harga diri seorang Sari Maheswara tidak semurah itu untuk dilunakkan hanya dengan sepiring ayam bakar setelah dijatuhkan di depan umum.

Sari memilih untuk melipat tangannya kembali, membiarkan hidangan lezat itu mendingin tanpa menyentuhnya sama sekali.

Arka menatap piring di hadapan Sari yang sama sekali tidak tersentuh.

Aroma gurih bumbu olesan ayam bakar yang bercampur sambal terasi itu seolah menguap sia-sia di antara kebekuan mereka.

Arka tahu betul, makin ia memaksa Sari malam ini, makin tinggi dinding pertahanan yang dibangun oleh wanita itu.

Arka menghela napas pendek, lalu mengangkat tangannya ke arah penjual.

"Mas, tolong dibungkus saja semuanya, ya. Dua-duanya," panggil Arka.

Pelayan dengan cekatan memindahkan dua porsi ayam bakar tersebut ke dalam kotak kertas dan membungkusnya dengan kantong plastik.

Setelah membayar total tagihan, Arka bangkit berdiri sembari menjinjing bungkusan makanan.

"Ayo, Mbak, kita pulang," ajak Arka pelan.

Sari tidak menjawab. Ia hanya melepas headset dari telinganya, menggulungnya dengan rapi, lalu berjalan mendahului Arka menuju motor bebek tanpa sepatah kata pun.

Sepanjang sisa perjalanan membelah angin malam yang dingin, Sari tetap menjaga jarak, tidak membiarkan ujung pakaiannya menyentuh punggung Arka.

Sesampainya mereka di rumah kontrakan yang sudah bersih, atmosfer canggung itu kian terasa pekat.

Sari melangkah masuk, langsung melepaskan jaket jin yang membungkus tubuhnya dan menyampirkannya di sandaran kursi kayu.

Perutnya masih terasa melilit karena lapar, dan hatinya masih teriris mengingat bentakan Arka di pasar induk tadi.

Namun, jiwa profesional seorang Sari Maheswara tidak membiarkannya mangkir dari tanggung jawab.

Ia sudah berjanji untuk membantu Arka memproduksi kue subuh ini, dan ia akan menepatinya, terlepas dari seberapa hancur perasaannya saat ini.

Tanpa menunggu instruksi dari Arka, Sari langsung melangkah menuju dapur dengan langkah tegas.

Ia mengambil timbangan digital kecil milik Arka, lalu menarik karung tepung terigu yang baru saja mereka beli di pasar.

Dengan kedua telapak tangan yang masih terbalut kasa putih, Sari mulai menyendok dan menimbang tepung dengan teliti, menyesuaikan takaran sesuai dengan catatan resep yang terempel di dinding dapur.

Arka yang baru saja meletakkan bungkusan ayam bakar di atas meja makan hanya bisa terpaku di ambang pintu dapur.

Ia memandangi punggung Sari yang bergerak kaku namun fokus menimbang bahan baku.

Ada rasa bersalah yang teramat besar bergejolak di dada Arka melihat bagaimana wanita kota itu tetap memilih membantunya di tengah luka hati yang belum terobati.

Jarum jam dinding merayap menuju pukul sebelas malam.

Suara jangkrik di luar kontrakan kalah oleh deru uap dari kukusan kue yang mulai memanaskan ruangan.

Atmosfer dapur terasa sangat pekat dan mencekam, hanya diisi oleh bunyi alat-alat dapur yang beradu.

Arka mulai memeras kelapa parut. Kedua lengannya yang kekar bergerak ritmis memeras santan kental ke dalam baskom.

Matanya sesekali melirik Sari, dipenuhi rasa bersalah yang makin menumpuk melihat wanita itu terus bungkam sejak mereka menginjakkan kaki di rumah.

Di sebelahnya, Sari fokus membuat adonan untuk kue klepon dan dadar gulung.

Kulit tangannya yang terbalut kasa terasa luar biasa perih karena tidak sengaja terkena tetesan air daun suji yang pekat, namun ia menahan ringisannya kuat-kuat.

Ia melipat kulit dadar gulung dengan gerakan cepat dan presisi, seolah sedang meluapkan emosi terpendam ke adonan tersebut.

Di sisi lain meja, Arka mulai mencetak kue putu ayu dengan menaruh kelapa parut di dasar

cetakan, lalu menuang adonan hijau di atasnya.

Jarak mereka begitu dekat, namun terasa seperti terpisahkan oleh dinding es raksasa yang mustahil untuk ditembus.

Arka akhirnya tidak tahan lagi dengan keheningan yang menyiksa ini.

Ia mematikan kompor sejenak, lalu melangkah ke meja makan untuk mengambil bungkusan ayam bakar yang sudah mendingin.

"Mbak, ayo makan dulu. Ini sudah malam sekali. Tubuhmu bisa tumbang kalau terus begini," ucap Arka. Suaranya melembut, penuh permohonan.

Sari bahkan tidak menoleh sedikit pun. Tangannya tetap sibuk memilin bulatan klepon dengan rapi.

"Makanlah. Aku tidak lapar." Suaranya terdengar sangat dingin, datar, dan tanpa ekspresi.

Arka yang juga lelah secara fisik dan mental mulai tersulut oleh rasa frustrasinya sendiri karena merasa tidak dimaafkan.

Ia meletakkan kembali bungkusan makanan itu ke atas meja dengan hentakan pelan yang menimbulkan suara prak.

"Baiklah! Kalau Mbak Sari tidak mau makan, aku juga tidak akan makan malam ini!" gertak Arka, berharap Sari akan luluh dan mengasihani tubuhnya yang juga kelelahan.

Sari menghentikan gerakannya sesaat. Ia menoleh perlahan, menatap Arka dengan sorot mata CEO-nya yang sangat tajam, dingin, dan menusuk—tatapan yang biasa ia gunakan untuk menciutkan nyali para rival bisnisnya.

"Ya, terserah," jawab Sari singkat dan acuh tak acuh.

Jawaban itu justru menjadi pukulan telak yang membalikkan gertakan Arka.

Sari kembali melanjutkan pekerjaannya mencetak bulatan klepon tanpa peduli.

Arka mengembuskan napas kasar, memijat pangkal hidungnya yang mendadak berdenyut retak karena pusing.

Malam makin larut, perut mereka sebenarnya sama-sama keroncongan, namun tidak ada satu pun yang mau mengalah demi sebuah ego dan harga diri.

Produksi kue subuh terus berjalan di bawah ancaman kelelahan fisik yang bisa membuat salah satu dari mereka tumbang kapan saja sebelum fajar menyingsing.

1
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!