Lin tian seorang remaja yang tinggal bersama ayah nya seorang pemabuk. suatu hari tiba tiba ayah nya berbicara dan mengasih warisan keluarga untuk anak nya dapat berkultivasi. seperti pepatah mengatakan "di balik kekuatan hebat terdapat musuh yang kuat"
Mampu kah Lin Tian bertahan dari banyak nya musuh yang datang.
mari kita cari tau bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26:Teknik Pedang Angin Puyuh
Menara Kitab Suci bagian dalam terasa begitu sunyi dan agung. Aroma kertas kuno, kayu cendana, dan aroma samar giok spiritual berpadu menenangkan jiwa. Di lantai pertama dan kedua, ratusan murid luar dan dalam tampak sibuk membolak-balik gulungan kitab dengan wajah serius. Namun, begitu Lin Tian melangkah menuju tangga batu yang menuju ke lantai tiga, sepasang penjaga berbaju zirah hitam legam langsung menghadangnya.
"Lantai tiga hanya diperuntukkan bagi para Tetua dan Murid Inti. Tunjukkan tokenmu, Anak Muda,"
ucap salah satu penjaga dengan suara berat yang dialiri Qi yang kuat.
Lin Tian tanpa sepatah kata pun mengeluarkan Token Murid Inti Tingkat Pertama berwarna perak dengan guratan awan. Melihat token tersebut, kedua penjaga itu terkejut. Mereka segera menarik kembali tombak mereka dan membungkuk hormat.
"Silakan masuk, Kakak Senior Lin."
Begitu menapakkan kaki di lantai tiga, jumlah rak kitab berkurang drastis. Jika di lantai bawah ada ribuan buku, di lantai ini hanya ada sekitar puluhan kotak giok yang melayang di atas formasi mini. Energi spiritual di lantai ini juga jauh lebih protektif, menjaga agar gulungan-gulungan kuno di dalamnya tidak rusak oleh waktu.
Lin Tian berjalan perlahan di antara rak-rak giok tersebut. Jarinya menyentuh satu per satu deskripsi formasi.
‘Teknik Pedang Ombak Membelah’ (Tingkat Bumi Rendah)... ‘Langkah Bayangan Azure’ (Tingkat Bumi Rendah)... ‘Tinju Penghancur Gunung’...
Hampir semua teknik di sini berada di Tingkat Bumi, satu tingkat di atas Tingkat Fana yang biasa digunakan oleh klan-klan kecil di pedesaan. Namun, setelah memeriksa beberapa teknik, Lin Tian menggelengkan kepalanya kecewa. Teknik-teknik ini terlalu kaku dan memiliki terlalu banyak gerakan tidak penting yang justru membuang-buang energi Qi. Bagi Lin Tian yang memiliki pemahaman bertarung yang murni, kesederhanaan dan efektivitas adalah kunci utama.
Tepat saat dia hampir putus asa, mata keemasannya menangkap sebuah kotak giok yang terletak di sudut paling remang-remang di lantai tiga. Kotak giok itu tampak berdebu, dan formasi pelindungnya terlihat sangat redup, seolah-olah telah diabaikan selama ratusan tahun.
Lin Tian mendekat dan membaca papan kayu kecil di bawahnya: ‘Teknik Pedang Angin Puyuh Azure’ (Tingkat Bumi Tinggi - Cacat).
“Peringatan: Teknik ini membutuhkan kontrol Qi yang luar biasa ekstrim dan kecepatan meridian yang tidak masuk akal. Karena baris kelima dan ketujuh dari metode sirkulasinya telah hilang, siapa pun yang nekat melatihnya akan mengalami serangan balik berupa robeknya jalur meridian tangan. Jangan dicoba!”
Melihat peringatan itu, Lin Tian justru menyunggingkan senyum tipis. Bagi orang lain, teknik cacat ini adalah racun yang mematikan. Namun, bagi dirinya yang memiliki 72 meridian tersembunyi yang terbuka sempurna dan Fisik Suci Yang Terbalik yang kebal terhadap serangan balik energi biasa, teknik ini justru adalah wadah yang sempurna.
Lin Tian meletakkan tokennya pada formasi pelindung. BZZZT. Formasi itu terbuka, dan sebuah gulungan kulit kambing kuno berwarna hijau kusam jatuh ke telapak tangannya. Dia membukanya perlahan, membiarkan kesadarannya merekam setiap detail aksara dan gambar sirkulasi energi di dalamnya.
Di dalam benaknya, Cincin Ruang Angkasa Roh Abadi tiba-tiba bergetar samar. Energi abu-abu dari cincin itu mengalir ke dalam ingatan Lin Tian, membantu menganalisis bagian yang cacat dari teknik pedang tersebut. Hanya dalam hitungan belasan tarikan napas, cincin kuno itu telah menyempurnakan bagian baris kelima dan ketujuh yang hilang, mengubah teknik pedang cacat itu menjadi teknik yang utuh, bahkan kualitasnya melonjak mendekati Tingkat Surga Rendah!
‘Luar biasa!’ batin Lin Tian bergejolak. Teknik Pedang Angin Puyuh Azure yang telah disempurnakan ini berfokus pada manipulasi angin puyuh spiritual yang tajam di sekeliling bilah pedang. Ini adalah kebalikan dari Teknik Pedang Tirani miliknya yang berat; teknik ini mengutamakan kecepatan ekstrim, ketajaman mutlak, dan serangan bertubi-tubi tanpa henti. Jika digabungkan, Lin Tian akan memiliki serangan yang tidak hanya seberat gunung, tetapi juga secepat kilat.
Setelah mengembalikan gulungan tersebut ke tempatnya, Lin Tian tidak membuang waktu lagi. Dia segera turun dari menara dan kembali menuju Puncak Azure Heaven untuk memulai latihannya. Dia hanya memiliki waktu tiga hari sebelum pertarungannya dengan Song Jian.
Selama dua hari berikutnya, Puncak Azure Heaven dipenuhi oleh suara siulan angin yang teramat sangat tajam. Di pelataran Paviliun Azure Spirit, bayangan Lin Tian bergerak menari dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang. Setiap kali dia mengayunkan pedang besarnya yang dilapisi Qi emas, pusaran angin hijau-emas setajam pisau tercipta di udara, mencabik-cabik batu-batu besar di sekitarnya menjadi serpihan halus.
"Tebasan Angin Puyuh: Seribu Potongan!"
Lin Tian menderu pelan. Dalam sekali ayunan melingkar, puluhan bilah angin spiritual melesat maju, memotong lurus sebuah pohon kuno setebal pelukan tiga orang dewasa hingga tumbang seketika tanpa menimbulkan suara keras—potongannya begitu halus dan rapi.
Di hari ketiga, Lin Tian menghentikan latihannya. Dia mandi, berganti pakaian jubah putih awan peraknya yang bersih, lalu menyarungkan kembali pedang besarnya di punggung. Matanya berkilat dengan ketajaman yang mengerikan. Selama dua hari ini, dia tidak hanya menguasai teknik pedang baru, tetapi kultivasinya juga telah menguat dengan kokoh di Ranah Pemurnian Meridian Level 3.
Sementara itu, di bagian bawah kompleks sekte, Arena Pertarungan Utama telah dipadati oleh ribuan murid. Song Jian sudah berdiri di tengah arena batu dengan pedang giok birunya yang terhunus, memancarkan aura penuh percaya diri. Di tribun penonton, bahkan beberapa Tetua Dalam tampak hadir, penasaran ingin melihat apakah sang "Bakat Emas" benar-benar seekor naga atau hanya seonggok pujian kosong yang akan dihancurkan oleh senioritas sekte.
"Apakah Lin Tian ketakutan? Mengapa dia belum datang?"
bisik para murid dengan cemas saat waktu pertarungan hampir tiba.
Tepat saat matahari mencapai puncaknya, sesosok remaja berjubah putih dengan lambang awan perak berjalan masuk ke area arena dengan langkah yang teramat santai. Lin Tian telah tiba, siap untuk memotong kesombongan Song Jian di depan seluruh pasukannya.
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉