NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
​Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
​Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Kebangkitan di Bawah Hujan Darah

​Langit di atas Kota Daun Musim Gugur bergemuruh hebat. Kilatan petir menyambar-nyambar, merobek tirai awan hitam pekat, seolah-olah langit sendiri sedang menumpahkan murka. Hujan turun menderu, membasahi bumi dengan dingin yang menusuk tulang.

​Di sebuah halaman belakang yang kumuh dan terabaikan di sudut kediaman Keluarga Lin, seorang pemuda terbaring diam bersimbah darah. Pakaiannya compang-camping dipenuhi lumpur, dan napasnya telah sepenuhnya berhenti. Pemuda ini adalah Lin Chen, tuan muda ke-13 dari Keluarga Lin yang terkenal seantero kota sebagai "Sampah Terbesar". Ia terlahir dengan meridian buntu, membuatnya tidak bisa menyerap energi spiritual sedikit pun.

​Namun, tepat ketika guruh meledak di langit, jari tangan pemuda yang sudah mati itu tiba-tiba berkedut.

​Kelopak matanya terbuka perlahan.

​Tidak ada lagi keputusasaan, ketakutan, atau kepengecutan di sorot mata itu. Yang ada hanyalah kedalaman yang menyerupai jurang tak berdasar, dan ketajaman yang bisa membelah lautan serta menghancurkan bintang.

​"Aku... belum mati?"

​Suaranya serak dan parau, tenggelam di tengah suara rintik hujan. Ia memaksakan diri untuk duduk, menahan rasa sakit luar biasa yang menggerogoti sekujur tubuh fana tersebut. Ia menatap telapak tangannya yang rapuh, lalu memindai ingatan asing yang tiba-tiba mengalir deras ke dalam lautan jiwanya seperti ombak pasang.

​"Lin Chen... Namanya juga Lin Chen. Berusia lima belas tahun, meridian cacat, dan baru saja dipukuli sampai mati oleh sepupunya sendiri hanya karena menatap seorang gadis dari keluarga cabang." Pemuda itu tertawa dingin. Tawanya penuh dengan sarkasme yang menusuk. "Sungguh kehidupan yang menyedihkan dan menyedihkan."

​Dia bukanlah Lin Chen yang asli. Atau lebih tepatnya, jiwa di dalam tubuh ini kini adalah entitas yang jauh lebih menakutkan.

​Lima ratus tahun yang lalu, ia adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri tegak di puncak Alam Dewa. Ia adalah penguasa mutlak yang membuat ribuan dewa berlutut hanya dengan satu hunusan pedang. Namun, tepat ketika ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi melalui teknik terlarang, ia dikhianati.

​Lin Chen menutup matanya. Ingatan dari kehidupan masa lalunya kembali membakar dadanya seolah baru terjadi kemarin.

​Ia ingat dengan sangat jelas bagaimana pedang es milik Dewi Teratai Salju—wanita yang paling ia cintai—menusuk jantungnya dari belakang. Ia juga ingat bagaimana saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam, menyegel ruang di sekitarnya dengan formasi kuno agar jiwanya tidak bisa melarikan diri untuk bereinkarnasi.

​"Lin Chen, jangan salahkan kami. Warisan Kehampaan ini terlalu besar untuk kau kuasai sendiri. Serahkan padaku, dan aku akan memastikan namamu dikenang," kata-kata Dewi Teratai Salju masih menggema dengan racun kemunafikan di telinganya.

​"Teratai Salju... Naga Hitam..." Lin Chen mengepalkan tinjunya erat-erat. Kuku-kukunya menusuk daging telapak tangannya, meneteskan darah segar yang bercampur dengan air hujan. "Kalian mengira telah menghancurkan jiwaku, namun langit berkehendak lain! Karena aku, Lin Chen, telah kembali ke dunia ini, aku akan memastikan kalian membayar setiap tetes darahku dengan lautan darah kalian sendiri!"

​Menekan amarah di hatinya, Lin Chen segera memeriksa kondisi tubuh barunya. Ia mencoba mengedarkan energi spiritual, namun seketika alisnya berkerut tajam.

​Meridian di tubuh ini tidak hanya buntu sejak lahir, tapi di kedalaman Dantian-nya, terdapat gumpalan energi dingin yang mematikan. Seseorang telah dengan sengaja menanamkan racun dingin ke dalam tubuhnya sejak ia masih bayi! Ini bukan cacat bawaan, ini adalah sabotase yang kejam.

​Seseorang di keluarga ini benar-benar tidak ingin pemilik tubuh aslinya berlatih kultivasi.

​"Hanya racun dingin tingkat rendah dan meridian yang disumbat secara paksa. Apa kau pikir trik murahan semacam ini bisa menghentikan langkah seorang Kaisar Pedang?"

​Lin Chen tersenyum sinis. Ia duduk bersila di tengah hujan lebat, mengabaikan udara dingin yang menusuk. Ia memanggil ingatan tentang metode kultivasi terlarang yang ia peroleh di kehidupan sebelumnya—sebuah teknik purba yang menjadi alasan utama mengapa ia dikhianati.

​Sutra Pedang Kehampaan.

​"Bentuk tubuh sebagai pedang, jadikan meridian sebagai sarung pedang. Biarkan energi spiritual langit dan bumi menjadi bilahnya yang tak terkalahkan!"

​Seketika, aliran udara di sekitar Lin Chen berubah drastis. Hujan lebat yang turun tepat di atas kepalanya mendadak terbelah menjadi dua, seolah-olah ada pedang tak kasat mata yang melindunginya. Energi spiritual yang sangat tipis di udara malam perlahan-lomba masuk ke dalam pori-porinya.

​Di bawah kendali jiwanya yang setingkat Kaisar, energi itu dikompresi menjadi pedang-pedang Qi sekecil jarum yang langsung menusuk ke dalam meridiannya yang tersumbat.

​KRAK!

​Suara sesuatu yang pecah terdengar samar dari dalam tubuh Lin Chen. Rasa sakitnya jutaan kali lipat lebih mengerikan daripada disayat pisau hidup-hidup. Tubuhnya bergetar hebat, pori-porinya mulai mengeluarkan darah kotor, namun Lin Chen tidak mengeluarkan suara erangan sedikit pun. Ekspresinya setenang air di danau mati, seolah rasa sakit itu bukan miliknya.

​Satu meridian terbuka...

Dua meridian...

Tiga meridian!

​Hanya dalam waktu satu jam, dua belas meridian utamanya yang selama lima belas tahun tersumbat total, kini hancur terbuka. Energi spiritual kotor bercampur cairan hitam berbau busuk merembes keluar dari kulitnya, membawa serta racun dingin yang selama ini mendekam di Dantian-nya.

​Lin Chen perlahan membuka matanya. Ada kilatan cahaya keemasan berbentuk pedang kecil yang melintas di kedalaman pupilnya. Udara di sekitarnya berdesir.

​Ia telah melangkah ke Ranah Kondensasi Qi Tingkat 1.

​Meski ini adalah tingkatan terendah dalam dunia kultivasi, fondasi yang dibangun oleh Sutra Pedang Kehampaan membuatnya memiliki Qi yang seratus kali lebih murni daripada kultivator pada tingkat yang sama.

​BRAAAK!

​Pintu kayu lapuk di halaman kumuh itu tiba-tiba ditendang hingga hancur berkeping-keping. Tiga orang pemuda mengenakan jubah abu-abu khas murid luar Keluarga Lin masuk sambil tertawa merendahkan.

​"Hahaha! Coba lihat, Kakak Lin Wei, si sampah ini ternyata masih bernapas! Padahal aku yakin tendanganmu tadi sudah menghancurkan organ dalamnya."

​Pemuda yang berjalan di tengah, Lin Wei, bertubuh besar dan berwajah angkuh. Ia meludah ke tanah yang becek. "Ternyata nyawa si cacat ini lebih alot dari anjing jalanan. Hei Sampah! Karena kau masih hidup, merangkak kemari, berlututlah dan jilat lumpur di sepatuku. Jika kau melakukannya dengan baik, mungkin aku akan bermurah hati membiarkanmu hidup hari ini!"

​Dua antek di samping Lin Wei tertawa terbahak-bahak, bersiap untuk menyaksikan hiburan rutin mereka menyiksa tuan muda tak berguna tersebut.

​Lin Chen bangkit berdiri perlahan. Hujan telah sepenuhnya reda, menyisakan hawa dingin sisa badai. Ia menepuk kotoran di pakaiannya, lalu menatap ketiga orang itu. Tatapannya sangat datar, tanpa emosi sama sekali, namun entah mengapa membuat bulu kuduk Lin Wei dan kedua temannya mendadak meremang. Tatapan itu seperti dewa kematian yang sedang melihat tiga bongkah daging mati.

​"Kau... menyuruhku berlutut?"

​Suara Lin Chen terdengar pelan, namun terbawa jelas oleh angin malam. Udara di halaman itu tiba-tiba anjlok ke titik beku.

​"Bahkan langit dan bumi pun tidak berhak menyuruhku berlutut. Kau pikir kau siapa, semut rendahan?"

​Lin Wei tertegun sejenak mendengar nada bicara yang begitu sombong dari si sampah yang biasanya hanya bisa menangis minta ampun. Wajahnya seketika memerah karena marah. Sebagai kultivator Ranah Kondensasi Qi Tingkat 2, dihina oleh orang cacat adalah penghinaan tak termaafkan.

​"Kau mencari mati, Sampah! Karena kau menolak bersujud, aku akan mematahkan kedua kakimu agar kau berlutut seumur hidupmu!"

​Lin Wei melesat maju seperti serigala buas. Tinjunya dilapisi oleh energi spiritual tipis berwarna putih, diarahkan langsung ke dada Lin Chen dengan niat untuk menghancurkan tulang rusuknya. Ini adalah teknik bela diri dasar Keluarga Lin, Tinju Pemecah Batu.

​Melihat tinju yang mendekat dengan cepat, Lin Chen bahkan tidak berkedip. Di matanya, gerakan Lin Wei penuh dengan celah, lambat seperti siput yang sedang merayap.

​Tepat ketika tinju itu hanya berjarak satu inci dari dadanya, Lin Chen bergerak.

​Ia memiringkan bahunya sedikit, membiarkan tinju Lin Wei meleset menyapu udara kosong. Pada saat yang bersamaan, tangan kanan Lin Chen meluncur keluar bagai kilat. Dua jarinya dirapatkan membentuk pedang, dan dengan presisi yang mengerikan, ia menusukkan jarinya tepat ke persendian bahu kanan Lin Wei.

​CRAT!

​"AARGHHH!"

​Jeritan melengking merobek keheningan malam. Tubuh besar Lin Wei terhempas ke belakang dan jatuh berdebum ke tanah berlumpur. Ia memegangi bahu kanannya yang kini terkulai lemas; urat nadinya telah diputuskan dengan rapi hanya oleh tusukan dua jari.

​Dua antek di belakangnya membeku di tempat, mulut mereka ternganga lebar. Mata mereka melotot seolah baru saja melihat hantu. Lin Wei, seorang kultivator Kondensasi Qi Tingkat 2, dikalahkan hanya dengan satu gerakan oleh Lin Chen yang tidak memiliki kultivasi?

​Lin Chen melangkah maju dengan tenang. Sepatunya menginjak genangan air berdarah. Ia berdiri menjulang di atas tubuh Lin Wei yang sedang meronta kesakitan di tanah, menatapnya dengan tatapan merendahkan dari seorang raja yang memandang serangga.

​"Kembali dan beri tahu tuanmu, anjing yang menggigit tanpa melihat siapa tuannya, hanya akan berakhir sebagai makanan cacing," ucap Lin Chen dengan suara dingin yang menusuk jiwa. "Mulai malam ini, siapapun yang berani merendahkan namaku di Keluarga Lin... akan membayar dengan nyawa."

1
Eddy S
kecewa cerita tanpa kelanjutan episode nya
Anonim: sabar lah bos ya kali langsung tamat
total 1 replies
Eddy S
pasti cerita ga ada kelanjutan nya 🤣🤣🤣cape deh
Albiner Simaremare
lanjut thor
Zero_two
👍👍👍👍
Zero_two
Dewi teratai udah terpesona sama 'kekuatan' terpendam si naga hitam kayaknya/Doge//Doge//Doge//Blush/
Romansah Langgu
Mantap thor,,, bar bar..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!