NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Benteng Terakhir

BAB 22: Benteng Terakhir

​Kata-kata Devano yang begitu berkuasa bergaung di dalam ruangan, meninggalkan rasa ngeri sekaligus terhina yang teramat dalam di benak Luna Maharani. Lembaran cek dengan nominal angka fantastis itu masih tergeletak di atas pangkuan rok hitamnya, terasa begitu berat dan kotor.

​Dengan sisa-siga tenaga yang ada pada tubuhnya yang masih dirongrong demam tinggi, Luna mengangkat tangannya yang gemetar. Dia mengambil lembaran cek tersebut, lalu meletakkannya kembali ke atas meja kaca milik Devano dengan gerakan yang teramat pelan namun tegas.

​Luna mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang yang kelam di hadapannya.

​"Saya menolak, Tuan Devano," lirih Luna. Suaranya yang serak terdengar begitu tegap, disokong oleh sisa-sisa martabat yang mati-matian dia pertahankan. "Uang ini terlalu mahal jika harganya adalah kebebasan saya. Dan tidak pantas... sangat tidak pantas jika seorang pria dan wanita tinggal satu atap di dalam apartemen pribadi tanpa ada ikatan apa pun. Saya memang miskin, Tuan. Keluarga saya memang memiliki utang pada Anda. Tetapi saya masih memiliki harga diri sebagai seorang wanita."

​Uhuk! Luna terbatuk kecil, memegangi dadanya yang terasa sesak. Wajah pucatnya semakin pias, menahan denyutan di kepala yang kian menyiksa.

​Mendengar penolakan terang-terangan itu, Devano justru menyunggingkan senyuman tipis yang teramat sinis dan meremehkan. Pria bertubuh tegap itu menegakkan tubuhnya, melipat tangan di dada sembari menatap Luna dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang dipenuhi cibiran murni.

​"Harga diri?" cibir Devano, suaranya baritonnya terdengar sangat dingin dan menusuk batin. "Lucu sekali mendengar kata itu keluar dari mulutmu, Luna. Di mana harga dirimu yang agung itu saat malam itu di hotel? Aku bisa mengambil kesucianmu dengan begitu mudah tanpa ada paksaan yang berarti. Dan sekarang, setelah semuanya terjadi, kamu baru mau bicara soal kepantasan satu atap tanpa ikatan?"

​Deg.

​Hantaman kalimat itu seketika membuat leher Luna seperti tercekik. Pasokan udara di sekitarnya seolah menguap begitu saja. Dada Luna naik turun dengan ritme yang cepat dan tidak beraturan, menahan rasa perih yang teramat luar biasa bagai dihantam ribuan belati tak kasat mata.

​Luna mencengkeram ujung blus sutra dusty rose-nya hingga kukunya memutih. Dia ingin sekali berteriak di depan wajah tampan pria kejam ini. Dia ingin mengatakan dengan jujur bahwa malam itu... dia tidak menolak bukan karena dia wanita murahan yang bisa dibeli dengan uang. Dia tidak menolak karena dia sudah mencintai Devano sejak lama—sejak pria itu masih menjadi kakak iparnya, sebuah rasa bersalah terlarang yang dia pendam rapat-rapat dalam keheningan demi menghormati pernikahan kakaknya.

​Luna menyerahkan segalanya malam itu karena kebodohan hatinya yang mencintai pria yang salah. Namun, kata-kata itu hanya mampu tertahan di tenggorokannya yang terasa panas. Jika dia mengatakannya sekarang, Devano pasti hanya akan menganggap perasaannya sebagai bualan licik lainnya untuk mencari simpati. Akhirnya, Luna hanya bisa diam seribu bahasa, membiarkan air mata kepasrahan kembali meluluri pipi kuning langsatnya dalam keheningan yang menyayat hati.

​Tok! Tok! Tok!

​Pintu jati besar ruang kerja CEO tiba-tiba diketuk dari luar dengan ketukan yang cukup terburu-buru, sebelum akhirnya terbuka.

​Dika melangkah masuk ke dalam ruangan dengan wajah yang dipenuhi rasa panik dan khawatir yang tidak bisa disembunyikan lagi. Setelah mendengar gosip dari staf luar bahwa Luna pingsan di dalam ruangan CEO, Dika tidak bisa lagi menahan egonya yang sempat kecewa kemarin. Rasa kemanusiaan dan kepeduliannya yang dalam pada Luna mengalahkan rasa sakit hatinya akibat makian Bu Rahma semalam.

​"Tuan Devano, maaf saya lancang masuk tanpa izin," ucap Dika tegas, namun pandangan matanya langsung beralih menatap lekat ke arah sofa, tempat di mana Luna duduk dengan wajah pucat dan mata yang basah oleh air mata. Jantung Dika mencos melihat kondisi Luna yang begitu memprihatinkan. "Saya mendengar Mbak Luna pingsan saat rapat tadi. Sebagai rekan kerja yang kemarin mengantarnya, saya ingin memastikan apakah Mbak Luna perlu dibawa ke rumah sakit sekarang?"

​Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi sangat tegang dan mencekik.

​Devano membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Dika dengan sepasang mata elang yang seketika berkilat penuh amarah dan ego teritorial yang terusik hebat. Pria berkemeja hitam itu melangkah maju dua langkah, memposisikan tubuh tegap setinggi seratus delapan puluh lima sentimeter miliknya tepat di depan sofa, secara fisik menghalangi pandangan Dika dari tubuh ringkih Luna.

​"Pak Manajer Dika," desis Devano dengan suara yang teramat rendah, dingin, dan penuh dengan penekanan yang berbahaya. Aura alpha male yang dominan seketika menguar memenuhi seisi ruangan. "Sejak kapan divisi keuangan memiliki tugas tambahan untuk mengurusi kesehatan asisten pribadi saya? Urusan medis Asisten Luna sudah ditangani oleh dokter pribadi perusahaan beberapa jam lalu."

​Dika tidak gentar. Dia menegakkan bahunya, membalas tatapan tajam sang CEO dengan pandangan mata yang tak kalah kokoh. "Saya hanya khawatir, Tuan. Kondisi Mbak Luna kemarin sangat buruk, dan saya rasa tidak adil jika dia dipaksa bekerja berlebihan dalam kondisi demam tinggi seperti ini."

​"Adil atau tidak di dalam ruangan ini, adalah mutlak di bawah kuasa saya, Pak Dika," potong Devano kejam, senyuman iblis yang manipulatif kembali terukir di sudut bibirnya saat dia melirik Luna di belakang tubuhnya. "Dan Anda tidak perlu repot-repot mengkhawatirkannya lagi. Karena mulai detik ini, segala hal yang berkaitan dengan Luna Maharani... adalah urusan pribadi saya."

1
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!