Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Wanita berambut putih yang tidak dikenali
Wang Chan kemudian berhenti di depan sebuah toko senjata. Bangunannya dari kayu jati tua dengan dua pilar merah di depan. Jendelanya dari kaca bening yang cukup langka di kota sekecil ini.
Di etalase kaca itu terpajang beberapa senjata, sebuah pedang lurus dengan sarung berwarna hitam, sepasang pisau kecil, dan sebuah kapak perang yang terlalu besar untuk ukuran toko biasa.
Nama tokonya "Toko Pedang Abadi". Terukir di papan kayu yang digantung di atas pintu dengan aksara emas yang sudah sedikit pudar.
Nama itu terlalu megah untuk toko sekecil itu, tapi Wang Chan tidak peduli.
Wang Chan masuk.
Lonceng kecil di atas pintu berdenting, suara nyaring yang bersih, tidak seperti lonceng murahan yang biasa ia dengar.
"Selamat datang, selamat datang!"
Seorang pria paruh baya dengan perut buncit menyambutnya.
Wajahnya berseri-seri, mata sipitnya menyempit hampir tertutup, kumis tipisnya bergerak-gerak, begitu melihat seorang kultivator masuk.
Pakaiannya dari sutra biru tua dengan bordir benang perak berbentuk awan. Dilihat dari caranya berjalan, pria ini sebenarnya bukan sembarang orang, mungkin kultivator rendah yang sudah pensiun dan membuka toko.
"Kultivator muda, cari senjata magis? Kami punya koleksi terbaru. Pisau terbang dari besi meteor, ringan seperti bulu tapi tajam seperti mimpi. Pedang pendek dari tulang naga, dijamin tidak akan tumpul meskipun dipakai seribu tahun. Atau mungkin—"
"Hanya lihat-lihat," potong Wang Chan.
Wajah pria itu sedikit kendur, senyumnya mengecil, matanya kehilangan kilau antusiasme, tapi tetap tersenyum.
Seorang pedagang sejati tidak akan pernah menunjukkan kekecewaan di depan pelanggan, bahkan pelanggan yang hanya lihat-lihat sekalipun.
"Baik, baik. Silakan lihat."
Wang Chan berjalan menyusuri rak-rak kayu yang berdebu tipis. Senjata-senjata yang dipajang semuanya kelas rendah.
Sebuah pedang lurus tingkat dua dengan retakan kecil di bilahnya. Sebatang tongkat besi tingkat tiga dengan goresan-goresan bekas pertempuran.
Paling tinggi mungkin senjata tingkat tiga, barang-barang yang bahkan Wang Chan dengan dompet tipisnya mungkin bisa beli jika ia mengumpulkan batu sumber selama setahun.
Matanya tertuju pada sebuah belati pendek yang tersimpan di etalase kaca di sudut ruangan. Posisinya sedikit terpisah dari senjata-senjata lain, seperti sengaja ditempatkan di tempat yang lebih terhormat.
Belati itu berwarna gelap, hampir hitam, tapi jika terkena cahaya dari sudut tertentu tampak semburat merah samar di permukaannya, seperti darah yang mengering.
Ukiran di bilahnya sangat halus, hampir tidak terlihat oleh mata telanjang. Bentuknya seperti rangkaian aksara kuno yang bahkan tidak dikenali oleh Wang Chan.
Terlihat biasa saja pada pandangan pertama, tapi Wang Chan bisa merasakan jejak qi yang samar, seperti bisikan angin di telinga, seperti getaran lembut di ujung jari.
'Tingkat empat, mungkin? Atau bahkan tingkat lima?' pikirnya.
Tapi ada yang aneh dari energi itu. Tidak stabil. Bergelombang. Seperti sungai yang mengalir di bawah tanah, tidak terlihat tapi bisa dirasakan getarannya di permukaan.
"Tertarik dengan belati itu, kultivator?" Pria itu langsung mendekat lagi, lebih cepat dari sebelumnya, seperti ikan yang mencium umpan.
Tangannya meraih etalase kaca, membukanya dengan hati-hati, lalu mengeluarkan belati itu, bukan untuk diberikan ke Wang Chan, tapi hanya untuk dipamerkan dari balik kaca.
"Belati itu temuan dari reruntuhan kuno. Kami sendiri tidak yakin tingkatannya, tapi jelas ada energi spiritual di dalamnya. Artefak kuno, kultivator! Mungkin senjata peninggalan dari era sebelumnya. Hanya delapan puluh batu sumber!"
Delapan puluh. Wang Chan hanya punya lima belas batu sumber tingkat rendah dan tiga batu sumber tingkat menengah yang tersisa setelah membayar penginapan.
Bahkan jika ia menjual pakaiannya, ia tidak akan sampai di angka delapan puluh.
Wang Chan mengamati belati itu lebih lama. Matanya menyipit, berusaha membaca lebih dalam.
Ada sesuatu... ada sesuatu di permukaan bilah itu yang tidak beres.
Ukirannya terlalu rapi untuk artefak kuno. Energi spiritualnya terlalu... jinak. Artefak kuno biasanya liar, sulit dikendalikan, sering kali memiliki kesadaran sendiri.
Tapi belati ini diam. Pasif. Seperti belati biasa yang hanya diberi sedikit energi agar terlihat istimewa.
Lalu ia menggeleng.
"Tidak, terima kasih."
Ia keluar dari toko itu tanpa menoleh. Lonceng kecil di atas pintu berdenting lagi, sekali untuk masuk, sekali untuk keluar.
Belati itu menarik, tapi ada sesuatu yang aneh. Seperti ada kesengajaan.
Seperti belati itu sengaja diletakkan di tempat itu, sengaja diberi energi spiritual yang cukup untuk menarik perhatian kultivator level rendah seperti dirinya.
"Mungkin hanya akal-akalan penjual," gumamnya sambil berjalan keluar.
Wang Chan menggeleng. Mungkin kecurigaannya hanya karena kelelahan.
Wang Chan meneruskan perjalanannya, melihat sekeliling dengan lebih saksama dari sebelumnya. Pedagang sayur yang menawarkan.
Tukang daging yang sedang memotong iga babi dengan kapak besar. Seorang pendekar wanita dengan jubah biru melintas di atas atap dengan lompatan ringan.
Cukup lama ia berjalan hingga matahari mulai naik. Embun pagi telah menguap sepenuhnya.
Pedagang-pedagang yang tadi masih sepi kini mulai ramai dikunjungi pembeli.
Wang Chan berhenti pada satu jalan, sebuah persimpangan di pusat Kota Jiang, di mana empat jalan bertemu di sebuah bundaran kecil dengan air mancur batu di tengahnya.
Air mancur itu berbentuk naga melingkar, dengan air jernih memancar dari mulutnya.
Tempat itu ramai, banyak orang. Ibu-ibu dengan keranjang belanja. Anak-anak yang bermain kejar-kejaran.
Pedagang asongan yang menawarkan mainan kayu dan permen gula.
Tapi ada hal aneh yang mengganggunya.
Rasanya seperti ada yang mengawasi. Bukan pengawasan biasa, bukan tatapan sekilas dari orang yang kebetulan melihat.
Ini lebih intens. Lebih fokus. Seperti jarum yang menusuk di antara dua tulang belikatnya.
Ia berbalik.
Pandangannya langsung tertuju pada seorang wanita dari kejauhan yang tersenyum ke arahnya.
Tidak ada keraguan. Tidak ada kemungkinan salah sasaran.
Mata Wang Chan menyipit, jelas sekali senyuman itu ditujukan padanya.
Wanita itu berdiri di seberang jalan, di depan toko kain dengan tirai-tirai sutra berwarna-warni. Tingginya sekitar setinggi dada Wang Chan.
Ia memiliki rambut putih bersih, bukan putih karena uban, tapi putih seperti salju yang baru turun, berkilau di bawah sinar matahari pagi.
Kulitnya juga seputih susu, tanpa cela sedikit pun, seperti porselen mahal yang tidak pernah terkena debu.
Wajahnya sangat cantik, terlalu cantik untuk manusia biasa. Bagai dewi yang keluar dari lukisan, sempurna, bibirnya merah alami tanpa polesan.
Matanya berwarna hijau, hijau zamrud yang langka, yang bersinar di bawah sinar matahari seperti dua batu permata hidup.
Matanya berkedip pada Wang Chan, lambat, disengaja, seperti kucing yang sedang mengamati mangsanya, sambil tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata.
Tubuhnya sempurna.
Di balik jubah putih tipis yang hampir tembus pandang di bagian lengan, terlihat lekuk tubuhnya yang ideal.
Pinggangnya ramping, puncak kembarnya besar tapi tidak berlebihan, seukuran dua buah melon yang montok, tergantung dengan gravitasi yang sempurna.
Setiap kali ia bernapas, dadanya terlihat naik turun dengan irama yang lambat, memikat.
Jubah putih itu tidak bisa sepenuhnya menutupi bentuknya, di bagian dada, kainnya sedikit meregang, memperlihatkan celah tipis di antara kedua payudaranya yang dalam dan menggoda.
Wang Chan merasakan hawa dingin merambat di punggungnya.
Wanita itu kemudian tersenyum sekali lagi, senyum yang membuat bulu kuduk Wang Chan berdiri.
Lalu ia berbalik, dengan anggun, seperti tarian yang tidak selesai.
Wang Chan yang merasa terancam hendak mengejar. Kaki kanannya sudah melangkah maju, Qi di tubuhnya mulai mengalir ke kedua tungkai untuk mempercepat gerakan.
Tapi ia tiba-tiba merasakan sakit di matanya, seperti ditusuk jarum halus, seperti ada pasir panas yang masuk ke dalam kelopak.
"Apa... tiba-tiba," gumamnya.
Tangannya tanpa sadar naik ke wajah, mengucek matanya yang berair.
Saat ia menoleh lagi, wanita itu sudah hilang tersembunyi di antara kerumunan. Seperti kabut pagi yang lenyap ketika matahari naik.
Seperti fatamorgana di padang pasir. Tidak ada jejak, tidak ada sisa energi spiritual yang tertinggal.
Hanya senyum itu yang masih terbayang di benak Wang Chan.
'Sial.'
Wang Chan mengepalkan tangannya. Jantungnya berdegup lebih cepat dari seharusnya. Bukan karena ketakutan, ia tidak takut pada wanita cantik mana pun.
Tapi karena ia tidak bisa membaca wanita itu. Tidak bisa mengukur tingkat kultivasinya. Tidak bisa merasakan apakah ia ancaman atau bukan.
Dan itu. Itulah yang membuatnya paling tidak nyaman.
Ia berdiri di tengah keramaian Kota Jiang, dikelilingi oleh orang-orang yang tidak mengenalnya, dengan rasa dingin menjalar dari ujung rambut hingga ujung jari kakinya.
Ada apa dengan wanita berambut putih itu?
Mengapa senyumnya terasa begitu... akrab?